
Resty keluar menemui kedua orangtua Alex yang menunggunya di ruang tamu. Dan kebetulan sekali gadis itu mengenakan pakaian berwarna senada dengan yang dipakai Alex, padahal sebelumnya mereka tidak merencanakan itu.
Dres selutut berwarna pastel menambah kesan lembut dikulit bening gadis itu. Alex hampir tak berkedip saat mendapati gadisnya begitu anggun saat ini. Hingga sampai Tommy dan Kenzo kompak berdeham nyaring, barulah pria itu sadar dari keterpesonaannya kepada wujud sang kekasih.
Bergiliran Resty menyalimi tangan kedua orangtua Alex dengan takdzim, lalu setelah itu ikut bergabung dengan duduk tepat disebelah sang papa, Tommy.
"Begini, maksud kedatangan kami sekeluarga kesini untuk melanjutkan yang pernah kita bahas tempo hari di rumah ibu Asih," ucap Kenzo sebagai pembukaan.
"Kami mohon maaf apabila sempat membuat Nak Resty dan juga Anda, tersinggung dengan kelakuan kami kemarin. Tetapi hari ini kedatangan kami kesini dengan niat baik, ingin meminang nak Resty untuk menjadi menantu kami, menjadi calon istri anak kami, Alex."
Sejenak Kenzo melirik kepada sang istri, senyum kecilnya tetap mengembang darinya. Beralih melirik kepada sang anak, tetapi jangan ditanya lagi bagaimana auranya sekarang. Sudah tidak jingkrak-jingkrak kegirangan saja sudah bersyukur. Haha...
"Kami tidak mau banyak basa basi lagi. Tentunya kami ingin mendengar jawaban dari nak Resty saat ini juga. Maaf, Nak, jika terkesan mendesak. Anak kami ini kelewat meresahkan. Kalau masih harus menunda jawaban, kami takut dia akan gila."
"Hiss.. Papa!"
Alex tercengang mendengar bayolan papanya, yang ia baru tahu jika papanya itu rupanya juga bisa bercanda receh. Pria itu pikir kalau papanya itu lelaki kaku yang hanya serius kerja dan kerja. Karena memang selama ini kedua orangtua Alex tidak harmonis. Bersyukurnya setelah kedatangan dari Jepang, rupanya kedua orangtuanya lebih harmonis walau sedikit.
Tommy terkekeh kecil, pun demikian dengan Resty. Alex pun ikut nyengir nggak jelas, merasa menjadi bahan lelucon dalam obrolan hari ini. Tetapi jika dipikirkan, mungkin benar kata papanya itu. Alex akan benar-benar gila bila harus digantung jawabannya oleh Resty.
"Mm, menurut papa bagaimana?" Resty balik bertanya kepada Tommy. Menurutnya, bila orangtua lebih merestui dulu, akan lebih lega rasanya untuk Resty memberi jawaban.
Tommy tersenyum hangat. Perlahan kepalanya mengangguk samar, tetapi dapat terbaca jelas oleh Resty. Gadis itu langsung tersenyum riang, merasa sangat senang sang papa mau merestui hubungannya dengan sang pujaan hati ke jenjang yang lebih serius.
"Bagaimana nak Resty?" Sisil pun ikut bertanya tak sabar.
__ADS_1
"Mm--"
Sengaja Resty berpura-pura masih berpikir lama, walau sebenarnya hatinya sudah bersorak "Yes, yes, yes, i'do!"
Alex mulai bergerak gelisah. Pria itu tiba-tiba menjadi galau sendiri melihat sang kekasih kelamaan berpikir. Bermacam pikiran negatif pun mulai hinggap dibenaknya tanpa permisi, membuatnya semakin nervous akan kemungkinan ditolak oleh Resty. Itu bisa jadi kan?
Melihat wajah sang pujaan sudah kentara gelisah, Resty pun tak kuasa untuk mengerjainya terlalu lama. Dengan mantap hati juga dengan kalimat basmalah yang tersemat dalam hati, gadis itu pun akhirnya mengangguk kecil sebagai isyarat bahwa ia telah menerima lamaran itu. Senyum kecilnya terus terulas manis, sebagai tanda bahwa ia sangat senang dengan hari ini.
"Alhamdulillah...."
Kompak Tommy, Kenzo dan Sisil saling menyerukan kalimat syukur itu. Tak luput juga dengan Alex. Andai saja saat ini tidak tertahan malu, mungkin pria itu tak segan akan melakukan sujud syukur didepan mereka.
"Terimakasih, Sayang, sudah mau menerima lamaran kami. Kami sebagai orangtua tentu berharap semoga kalian bisa langgeng, walau apapun badai yang akan menghadang nanti. Semoga kalian bisa jodoh terus sampai maut memisahkan." ucap Sisil, penuh haru bercampur senang. Apalagi yang tidak menyenangkan bagi orangtua, selain melihat sang buah hati tersenyum bahagia.
"Aamiin..." Resty dan Alex sama-sama mengamininya.
Sisil melirik kecil kepada sang anak, untuk segera menyematkan cincin itu di jari Resty. Dan Alex pun langsung peka, untuk kemudian mengambil cincin itu dan menyematkannya di jari manis sang kekasih.
Lamaran yang terkesan sangat sederhana itu berjalan dengan lancar tanpa halangan apa-apa. Suguhan yang telah disiapkan oleh Tommy dapat mereka nikmati sama-sama dengan tenang. Hingga sampai pada wejangan kecil namun sangat bermanfaat bagi kedua anak mereka, sama-sama terucap dari mulut manis kedua orangtuanya.
Memberi arahan jelas jika menikah itu bukan tentang sebuah keinginan saja, melainkan lebih ke rasa siap menikah bagi keduanya. Siap menghadapi lika-liku bahtera rumahtangga, baik suka maupun duka, siap menerima pasangan kita yang biasanya akan muncul aslinya bila sudah kumpul bersama. Siap dalam hal apapun, karena menikah itu adalah ibadah terpanjang bagi mereka.
Bersyukurnya Alex dan Resty memiliki komitmen kuat demi mempertahankan rasa yang mereka miliki. Dan mulai detik ini pria itu telah berjanji dalam hati, akan merubah perilakunya menjadi lebih baik agar layak menjadi imam bagi Resty hingga til jannah.
Tiba saat kedua keluarga berembug lagi tentang tanggal dan bulan pernikahan mereka, semuanya berjalan lancar sentosa. Sejatinya mereka akan menikah secepatnya tiga minggu mendatang. Walau masih sebatas gelaran pernikahan sederhana, tetapi masing-masing keluarga itu sepakat akan menggelar pernikahan yang lebih mewah bila nanti mereka sudah lulus kuliah.
__ADS_1
Dua calon pengantin itu tak henti-hentinya mengulas senyum kebahagiaan. Mereka kini tengah duduk bersantai ditaman belakang rumah Resty. Sebuah gazebo yang dulu pernah mereka tempati saat masih tiada terjalin hubungan apa-apa, kini beralih menjadi saksi tempat betapa bahagia yang mereka rasa sekarang.
Sedangkan kedua orangtua mereka terlibat obrolan cukup serius didalam. Entah apalagi yang mereka bahas selain masalah pernikahan mereka yang cukup mendadak. Mungkin juga membahas tentang bisnis masing-masing. Sama-sama sebagai pengusaha, otomatis akan berpengaruh juga bagi usaha mereka bila akhirnya dua perusahaan itu bekerjasama karena adanya pernikahan mereka.
Ini bukanlah kisah tentang pernikahan karena bisnis keluarga. Tetapi lebih ke ibarat pepatah lama, sambil menyelam minum air. Begitulah yang dilakukan dua orang pebisnis itu. Walau mungkin nanti kabar miring itu akan didengar oleh anak-anak mereka, tetapi Tommy dan Kenzo sangat yakin jika anak mereka tak akan marah dengan isu itu. Karena semua ini terjadi setelah mereka memutuskan untuk menikah.
"Terimakasih, Sayang, karena sudah membuang ego kamu demi Alex." ucap Kenzo, saat kebetulan sedang berdua saja di ruang tamu di rumah Tommy.
Sisil terjengkit kaget saat mendengar kalimat sayang dari Kenzo.
"Sayang? Iih... Sejak kapan?"
"Sejak sekarang." Kenzo memainkan alisnya naik turun.
"Sumpah. Geli aku, Ken!" Sisil sampai tak sengaja menggeser jarak duduknya dari Kenzo, reaksi tiba-tiba saja.
Tetapi Kenzo tak mau kalah. Pria itu ikut menggeser mendekat lagi kepada sang istri, walau sudah tahu wajah istrinya sudah mengaba-aba penuh waspada.
"Ken!" Sisil menghardik gemas.
"Meresahkan!"
"Jangan bilang kamu lagi puber kedua!" gumamnya was was.
"Gawat!"
__ADS_1
*