
*Flashback on...
Disebuah cafe bernuansa outdor, dengan suara alunan akustik gitar turut mengiringi suasana malam yang syahdu. Disinilah dua pasang anak manusia itu membuat janji temu. Setelah hampir sebulan mereka tak saling bersua, baru kali inilah mereka bisa kembali bersama meski dengan status yang sudah berbeda.
Saat tadi sore Sisil menghubungi Tommy mengajaknya bertemu, setelah gadis itu sudah menjadi tunangan orang lain, bagi Tommy itu tidak masalah. Rasa rindu yang terlampau menumpuk membuatnya nekat mengiyakan ajakan dari Sisil.
Kali ini dua pasang netra itu terus beradu tanpa mau mengalihkannya ke yang lain. Rindu itu tentu juga dirasa oleh Sisil. Tanpa mengungkapkannya saja sorot mata itu sudah mampu mewakili perasaannya.
"Kenzo berencana memutuskan pertunangan ini, Tom." tutur Sisil, setelah sedari tadi hanya saling diam.
"Kenapa? Maksud gue bagaimana ceritanya?" Tommy bertanya penasaran.
Meski tak ditampik hatinya sangat bahagia mendengar Sisil akan segera putus dengan tunangannya itu. Sebab setelah itu dirinya akan mempunyai peluang untuk masuk menggantikan posisi calon pendamping hidup Sisil.
"Kenzo sudah tahu kalau gue-- cintanya sama lo." suara Sisil terdengar pelan diakhir kalimatnya.
Tommy tersenyum simpul. Rona bahagianya begitu kentara dari wajahnya yang penuh senyum. Memang ungkapan seperti inilah yang selama ini ia tunggu dari Sisil. Meski harus melewati drama perjodohan Sisil dengan pria lain, baginya tidak masalah. Asal akhirnya Sisil dan Kenzo benar benar putus tunangan.
"I love you, Pricillia anggita Wirawan." ungkap Tommy, begitu lembut nan menyentuh kalbu.
Tangannya terulur untuk menggenggam tangan Sisil. Netra keduanya tetap saling bertaut penuh arti.
Senyum tipis itu terukir indah dari sudut bibir Sisil. Rasanya sangat bahagia sekali, seperti tak rela menyudahi malam yang terasa begitu indah.
"I love you too, Tommy Septian Hakim." jawab Sisil, masih dengan senyum bahagia menyertainya.
Tommy menarik tangan kanan Sisil. Mencium punggung tangan itu, beralih mencium telapak tangannya juga dengan cukup lama.
"Terimakasih, Sil. Sudah mau menerima gue yang begini. Gue akan menunggu sampai nanti lo sama Kenzo benar benar sudah putus. Setelah itu, secepatnya gue akan temui kedua orangtua lo untuk melamar lo. Eh, terlalu lama. Langsung nikah aja dah.." tutur Tommy panjang lebar. Dan Sisil hanya bisa terkekeh dengan kalimat terakhir yang diungkapkan Tommy itu.
Dering ponsel milik Tommy berbunyi, sejenak dapat mengalihkan pandangan Tommy untuk melihat siapa yang menghubunginya itu.
Deg.
Bella?
Katakan saja Tommy sedang paranoid tiap kali Bella menghubunginya. Kejadian one night itu lah pemicunya. Jelas ini akan menjadi rahasia terbesarnya yang tak boleh terungkap kepada siapapun, terlebih kepada Sisil.
__ADS_1
"Sil, gue jawab telpon dulu ya?" Tommy mulai beranjak berdiri, namun Sisil tak langsung menjawabnya. Tentu sedikit penasaran saja, kenapa harus menjawab telpon itu secara berjauhan.
"Ini teman bisnis gue. Rencananya lusa gue sama dia ada meeting diluar negeri." Dusta Tommy.
Lalu Sisil pun mengangguk paham. Setelahnya Tommy bergegas pergi, lumayan berjarak, hingga terlihat samar samar dari tempat Sisil berada.
Rupanya Bella juga berada di area cafe itu. Awalnya Wanita itu mencari Tommy ke rumahnya dan tidak bertemu. Ini hanya instingnya saja mencari Tommy di cafe ini dan rupanya dugaannya tepat.
Begitu melihat Tommy berdua dengan Sisil, ia pun tak sampai hati memberitahu kabar tidak mengenakkan ini didepan Sisil.
"Ada apa, Bel?" tanya Tommy, begitu mereka sudah saling bertemu.
Bella tak menjawab. Ia hanya mengeluarkan sebuah benda penguji kehamilan dari tas kecilnya. Lalu menyodorkannya tepat didepan Tommy.
Tommy menerimanya. Terlihat ada tanda dua garis merah dari benda pipih itu. Yang artinya saat ini Bella sedang mengandung.
"Lo hamil?" tanyanya, masih sambil mencermati testpack yang dipegangnya.
"Hem," Bella hanya bergumam.
"Janin ini bayi lo, Tom." ujar Bella. Tersirat setitik buliran bening menetes dari sudut matanya.
"Hah?" Tommy terperangah tak percaya. Tangannya yang sedang memegang testpack itu seketika bergetar panik.
"Lo yakin, Bel? Itu-- bayi gue?"
Tommy berani bertanya begitu karena ia sudah tahu bagaimana Bella. Pergaulan barat yang mempengaruhi Bella terus terbawa hingga ke negeri sendiri.
"Setelah malam itu gue nggak pernah berhubungan sama siapapun, Tom. Lo yang terakhir. Dan lo sadar kan, kalo malam itu lo lepas tanpa pengaman."
Bella mengusap kasar airmatanya yang tiba tiba saja sudah mengalir deras. Sedangkan Tommy hanya bisa mengacak rambut dengan frustasi. Bagaimana ini bisa terjadi? Sedangkan beberapa menit yang lalu dirinya baru memulai kebahagiaan dengan Sisil?
Brak! Brak! Brak!
Tommy memukul meja itu sangat kasar. Kepalan tangannya terus mendarat dipermukaan meja berbahan kayu itu. Ia pun tak lagi peduli dengan tatapan banyak orang yang memandangnya heran.
Marah. Hanya bisa marah pada diri sendiri. Merutuki nasib diri yang terlampau terjadi karena kekhilafannya yang berujung membuahkan benih.
__ADS_1
Tentu kejadian itu juga sedikit mengalihkan perhatian Sisil. Apalagi sepintas ia mendengar dari orang orang yang kebetulan lewat disebelahnya tentang insiden seorang cewek meminta pertanggungjawaban kepada cowoknya atas kehamilannya, membuat Sisil semakin penasaran saja. Ia pun dengan mantap turut mendekat ke arah keramaian itu.
"Gue barusan sudah datang dari klinik. Sebenarnya gue berniat menggugurkan kandungan ini, tanpa mau membebani lo sebagai ayahnya. Cuma--"
Terlihat Bella menundukkan wajahnya. Derai airmatanya terus mengalir. Seketika saja malam ini Bella menjadi wanita rapuh, tak seperti biasanya yang terkenal sedikit liar.
"Ijinkan gue membesarkan bayi ini, Tom. Lo nggak harus bertanggungjawab. Gue hanya ingin memiliki keturunan. Gue di diagnosa sulit hamil, Tom. Reproduksi gue ada yang bermasalah. Dan bayi ini satu-satunya harapan gue. Kelak bayi ini yang akan menemani gue di masa tua gue."
Tommy menghela nafas beratnya. Sedikit lega saat mendengar Bella tidak menuntut pertanggungjawabannya. Ia pun menatap lekat kepada Bella yang masih menangis tersedu. Nalurinya sedikit tersentuh, hingga tangan itu tergerak untuk mengusap airmata Bella di pipinya.
"Maafin gue, Bel." ucap Tommy.
Antara akan mengangguk dan menggeleng, Bella terus saja bersedih hati.
"Terus bagaimana nanti lo memberitahunya ke keluarga lo?" tanya Tommy. Ia pun sebenarnya sedang memikirkan keluarganya sendiri, andai suatu saat nanti hal ini terbongkar kepada keluarganya.
"Jujur gue bingung, Tom."
Tommy menggaruk kepalanya. Kadang menjambak rambutnya sendiri dengan kasar. Dalam semalam saja sudah ada dua orang wanita yang ia sakiti. Belum lagi nanti jika Sisil mengetahui hal ini. Tetapi masalah Bella ini lebih mendesak. Jika bukan karena perbuatannya itu, tak mungkin akan terjadi seperti saat ini.
Mungkin lebih baik ia harus mengorbankan salah satunya. Sungguh ia tak mau dipandang orang sebagai lelaki yang mau ambil enaknya saja. Lelaki pengecut yang hanya bisa lari dari tanggungjawab adalah suatu hal yang tak ingin ia sanding padanya.
Yah, segenap jiwa raga Tommy sudah mantap dengan keputusannya.
"Gue akan bertanggungjawab, Bel. Gue akan nikahi lo." ucapnya mantap.
Plak.
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Tommy. Sisil menatap penuh amarah pada lelaki yang beberapa menit yang lalu berjanji akan setia menunggunya.
Tommy hanya bisa terdiam tanpa bisa berucap apa-apa lagi. Semua memang salahnya. Mau menjelaskannya pun akan membuat perasaan Sisil lebih tersakiti. Dan bisa jadi Sisil sudah mendengarnya sendiri tentang apa yang di bahas Tommy dan Bella.
"Selamat buat kalian." ucap Sisil untuk yang terakhir kalinya, sebelum akhirnya ia pergi dari tempat itu dengan derai airmata yang tak terbendung lagi.
Memang ucapan itu adalah doa. Baru beberapa menit yang lalu Tommy mengungkapkan ingin langsung menikah, dan juga tentang kebohongannya yang mengatakan lusa akan ke luar negeri. Dan Semua itu akan terwujud nyata. Tommy akan menikah secepatnya, dan kemungkinan menggelar pernikahannya itu di luar negeri, sebab keluarga besar Bella lebih banyak tinggal di luar negeri.
*Flashback off..
__ADS_1