Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 07


__ADS_3

Resty membuka handle pintu utama rumahnya dengan malas. Dengan pakaian yang sudah kotor dan pikiran yang terus berpikir tentang keinginannya yang ingin pindah kuliah, membuatnya tak menyadari jika papanya juga berada diruang tamu yang ia lewati.


"Ehem." Tommy sengaja berdeham agak keras, membuat Resty terhenyak dan seketika menoleh ke asal suara papanya.


"Papa," protesnya sambil mengelus dada, karena merasa sangat terkejut dibegitukan oleh Tommy.


"Pakaianmu kenapa? Kok lusuh begitu?" cerca Tommy, meneliti tampilan anaknya yang tidak seperti biasanya.


"Ada yang gangguin kamu di kampus?" Tommy bertanya lagi, tapi kali ini tepat sasaran.


Resty menghentak nafasnya kasar. "Mm, aku bersih bersih dulu ya, Pa." ucapnya, terasa malas untuk menceritakan apa yang terjadi padanya seharian ini, walau sebenarnya ia sangat ingin menumpahkan segala uneg unegnya itu kepada papanya, sosok yang paling mengerti dengannya.


"Kamu berhutang penjelasan sama papa, Sayang." Tommy berkata sambil terus memperhatikan Resty yang sudah menaiki undakan tangga menuju kamarnya berada.


Resty pura pura tak mendengar omongan papanya, makanya ia terkesan acuh dan mengabaikan papanya yang terlihat sangat cemas dengan apa yang terjadi padanya.


"Huft!"


Tubuh Resty terhempas diatas kasur dengan nafas kasar yang berhembus keluar. Matanya menatap kosong ke langit langit kamar. Seketika ia merasa kasihan jika nanti terlalu jujur kepada papanya tentang yang terjadi padanya, karena memang ia tak ingin menambah beban lagi kepada orangtua singlenya itu.


Memutuskan untuk tidak menikah lagi dan hanya merawatnya seorang diri setelah mamanya meninggal, tentu Resty sangat tahu jika papanya itu sangat memprioritaskan dirinya. Bisa saja ia meminta pindah kuliah saat ini juga, sebab Tommy memang sangat memanjakan semua kemauannya. Akan tetapi jika mengingat sosok papanya yang sangat posesive sekaligus over protektif dengannya, tentu Resty kembali memutar otak. Pindah kuliah sudah pasti papanya akan ikut pindah menemani dirinya, kemanapun itu.


Sepintas obrolan Ika kembali terngiang. Ia memang harus kuat dan jangan menjadi perempuan lemah biar tidak selalu ditindas oleh geng The Fly itu. Tetapi untuk melawan kelompok empat pria badung itu tentu bukan solusi terbaik juga, namun mendiamkannya juga bukan pilihan. Aah! Tiba tiba kepala Resty kembali berdenyut pusing jika harus berpikir cara menghindar dan menyelamatkan diri dari gengnya si Alex itu.


"Aaah... Terus aku harus bagaimana? Masa iya aku balik lawan mereka? Entar aku sama mereka, nggak ada bedanya dong?" Kedua kakinya turut menghentak hentak diatas kasur, merasa gemas sendiri dengan dirinya yang tak bisa mengambil sikap untuk melawannya.


"Mama..." rengeknya, sambil meraih ponselnya dari dalam tas kecil miliknya.


Resty membenahi duduknya, jarinya berselancar mencari galeri foto kenangan almarhum mamanya. Mulai dari saat kedua orangtuanya menikah, hingga pada foto saat mamanya mengandung.


Hingga pada Resty menemukan lagi foto dirinya saat masih bayi berada dalam dekapan Tommy, hingga semua foto masa kecilnya yang memang selalu disayang Tommy. Tak terasa setetes air bening itu mengalir dari pelupuk matanya.


"Papa.." serunya, sambil kemudian memeluk ponselnya sendiri.


"I love you, Pa, Ma.." Resty memandangi lagi foto pernikahan kedua orangtuanya sekali lagi.


Andai bisa meminta, Resty sangatlah ingin memiliki keluarga yang utuh. Hidup berdua dengan papanya sebenarnya tidak pernah merasa kekurangan apapun, baik itu kasih sayang. Cuma yang namanya sosok ibu memanglah penting perannya, dan Resty selalu merasa hampa jika seketika teringat lagi tentang mamanya.

__ADS_1


Tok tok tok...


"Mbak Resty," sapaan Mak Asna bersaut seiring ketukan pintu yang berbunyi.


"Iya, Mak.." Resty lekas mengusap bersih sisa airmatanya.


"Masuk aja, Mak, nggak aku kunci kok.." perintahnya, setelah sebelumnya menyempatkan diri berkaca.


Handle pintu berputar pelan, kepala mak Asna menyembul dari balik pintu kamar Resty.


"Mbak, tuan nyuruh Mak nanya, hari ini mbak mau dimasakin apa?" tanyanya ramah.


Resty berpikir sejenak. "Papa nggak bilang dia mau makan apa gitu sama Mak?"


Mak Asna menggeleng pelan. Sudah kebiasaan Tommy menyuruh mak Asna untuk menanyakan menu yang akan ia masak kepada Resty terlebih dahulu. Karena menurut Tommy apapun yang cocok dan disuka oleh Resty, Tommy akan merasa senang.


"Terserah mak Asna sajalah.." Resty berujar pasrah, karena memang saat ini ia sedang tidak berselera makan.


"Begitu ya, Mbak?" Wajah mak Asna terlihat lesu, tetapi kemudian menutup pintu kayu itu lagi dan kembali melangkah menuju tempat dinasnya alias dapur.


"Bagaimana, Mak?" tanya Tommy, setelah ARTnya itu mulai mengambil bahan keperluan yang akan diolah dari dalam lemari dingin.


Tommy tertunduk sambil berpikir. Tentu ia sangat sedih mendapati putri semata wayangnya itu tak ceria lagi. Jangan jangan memang ada yang tidak beres di kampusnya. Begitulah dugaan Tommy saat ini.


Selang satu jam kemudian, Resty menyusul Tommy yang sudah duduk terlebih dahulu di meja makan. Ayah dan anak itu saling lempar senyum hangat sebelum akhirnya Resty juga turut duduk di kursi kosong sebelah papanya.


"Bagaimana keadaanmu sekarang, Sayang?" Tommy mengawali percakapannya.


"Baik. Aku kan emang nggak sakit, Pa.." sahutnya, merasa aneh dengan pertanyaan papanya.


"Iya, maksud papa masalah yang tadi. Kamu berhutang penjelasan itu sama papa."


"Ooh, yang itu." Resty sedikit mengalihkan diri dengan mulai menyendokkan nasi juga lauk ke dalam piring Tommy.


"Resty.."


Resty menghentikan kegiatannya sejenak, tatapan tajam mata Tommy sebagai pertanda kalau ia benar benar butuh kejujuran anaknya.

__ADS_1


Perlahan Resty duduk lagi. Satu tarikan nafasnya terasa sedikit melegakan.


"Tadi itu aku lagi kena apes, nggak hati hati," Resty sengaja berbohong.


"Maksudnya?"


"Aku tadi lari, kejar kejaran sama Ika, trus nggak sengaja nyenggol teman. Akhirnya minumannya tumpah kena aku."


"Sampe kena rambut gitu basahnya?"


"Iya, kan tadi pas kena nyenggol aku agak bungkuk, Pa.."


"Ya Tuhan... Maafkan aku harus berbohong sama papa." lirihnya dalam hati.


Tommy menghela nafas beratnya, sedikit merasa lega jika benar itu yang menimpa anaknya. Sebab ia sangat tidak terima jika ketahuan ada seseorang yang tidak suka bahkan sampai membully anaknya di kampus.


Melihat Tommy yang hanya terdiam, Resty lanjut mengambil nasi dan lauknya ke dalam piringnya sendiri.


"Papa tadi kenapa pulang awal, bukannya seharusnya masih di kantor?"


"Papa merasa sedikit kurang enak badan," sahut Tommy, sambil kemudian memijit pelan tengkuknya sendiri.


Resty mendorong kursinya ke belakang, lalu melangkah mendekati Tommy dan kemudian berdiri dibelakangnya.


"Aku bantu pijit ya, Pa?" tanpa dijawab, tangan Resty sudah begitu lihai memijiti tengkuk Tommy.


"Sudah lah. Ayo, makan dulu." Tommy menarik tangan Resty, menyuruhnya kembali duduk ditempatnya semula.


Resty langsung menurut, dan ia pun sudah duduk kembali di kursi itu.


"Pa.." sapa Resty, sedikit gugup.


"Hem?" Tommy yang sudah bersiap menyantap makanannya, terpaksa urung lagi.


"Papa menikah lagi, ya?"


"Hah?"

__ADS_1


*


__ADS_2