
Tommy berdiri didepan cermin dengan mengenakan jas pengantinnya begitu gagah. Tak terasa momen yang ditunggu itu sudah tiba saatnya. Rasanya waktu bergulir begitu cepat, membuat saat sakral itu sudah berada didepan mata secepat kilat.
Resty menghampiri Tommy yang masih betah menatap pantulan dirinya didepan cermin di kamar Tommy. Beberapa jam lagi pria itu akan berubah statusnya menjadi seorang suami bagi gadis yang bernama Asheeqa Ramdan, atau yang kerap dipanggil Ika.
Resty turut melingkarkan tangannya dipinggang Tommy seraya merebahkan kepalanya pada pundaknya. Ikut menatap bahagia kepada papanya yang akan menikah hari ini juga.
"Aku bahagia sekali, Pa. Rasanya aku benar-benar nggak nyangka kalau papa akan menikah sama sahabat terbaikku. Semoga papa selalu bahagia bersama Ika," ucapnya dengan tulus.
"Aamiin.." Tommy mengamininya sambil tersenyum hangat. Sedang sebelah tangannya mengusap lembut pada pucuk kepala anaknya dengan penuh kasih.
"Dan semoga aku bisa segera punya adik kecil yang lucu, yang comel, biar aku jadi ada temannya entar," selorohnya, seakan lupa jika tak lama lagi dirinya juga akan menyusul menikah. Yang mana ia juga pasti bisa memproses itu-itu sebelum menjadi bayi.
"Eh, kenapa malah bahas adik?" Tommy sedikit kaget, tetapi sebenarnya agak canggung bila harus membahas hal seintim itu dengan Resty.
"Nggak pa-pa. Dari dulu aku juga pingin punya adik kan?"
Tommy hanya bisa menyeringai entah menanggapinya. Jujur ia tak kepikiran ke hal itu setelah memutuskan menikah. Tetapi karena ucapan Resty ini yang menjadi pengingat jika ia memang harus membicarakan masalah anak itu nanti bersama Ika.
Terdengar ketukan dari pintu kamar Tommy, rupanya yang datang adalah eyang Asih. Wanita tua itu sengaja diundang langsung oleh Tommy di hari pernikahannya. Meski sangat kaget karena sebelumnya tidak ada tanda-tanda kabar jika Tommy akan menikah lagi, tetapi sejujurnya eyang Asih sangat senang saat mendengarnya. Karena dari ini berarti Tommy sudah mau membuka hati lagi, setelah sebelumnya kosong melompong tanpa penghuni.
"Eyang," Resty mendekat, memeluknya dengan erat setelah sebelumnya menyaliminya dengan takdzim.
"Baru sampai, Bu?" tanya Tommy, yang kemudian turut bersalaman dengan saudara dari mertuanya yang dulu.
"Iya," ujarnya penuh sumringah.
"Kamu ya?" Eyang Asih menepuk gemas pada lengan Tommy. Masih tak percaya dengan kabar pernikahan ini, apalagi saat tahu siapa calon istrinya itu, eyang Asih semakin dibuat terkagum heran.
"Aku yang menginginkan Resty cepat menikah, tetapi malah kamu yang nikah duluan. Dasar! Nggak mau kalah sama anak." selorohnya yang tentu hanya nada candaan buat Tommy.
"Bukan nggak mau kalah, Bu. Tapi ini sudah takdir dari Tuhan. Siapa yang bisa tebak kalau aku bakalan begini?" Tommy memberikan pembelaannya.
__ADS_1
"Ya... Ya... Selamat ya, Tom. Semoga Allah menjadikan keluargamu sakinah mawaddah wa rahmah."
"Aamiin..."
Tommy, Resty dan eyang Asih sama-sama mengamini dengan mantap.
"Semoga Allah lekas memberimu momongan juga," lanjut eyang Asih.
Tommy terhenyak lagi. Terus terang dirinya tidak begitu yakin jika harus memiliki anak lagi diusianya yang sudah tidak muda lagi.
"Aamiin..." Resty mengamininya paling kencang.
"Hei, kok malah bengong?" Eyang Asih menepuk lengan Tommy.
"Apa kamu nggak berencana mau nambah anak?"
Tommy hanya bergeming.
"Aduh, Bu. Tolong jangan bahas itu dulu ya?" pinta Tommy, mendadak nggak enak sendiri membahas masalah nambah anak yang seharusnya hal ini hanya patut dibicarakan bersama Ika saja.
"Akadnya jam berapa? Kita harus siap-siap nih? Dari tadi malah ngobrol terus." Tetiba Alex sudah berdiri diambang pintu kamar Tommy sambil melipat tangan didada.
"Duh, ini lagi. Calon manten yang ini nggak sabaran banget. Resty, entar giliran kamu yang nikah, paling dia yang paling nggak sabaran." Eyang Asih mengumpat canda kepada Alex.
"Ya nggak lah, Eyang. Aku orangnya penyabar dan penyanyang kok. Ita kan, Sayang?" Alex mencari pembelaan kepada Resty.
Tetapi kekasihnya itu hanya mencebikkan bibir, sembari menggandeng lengan Tommy untuk kemudian keluar dari kamar itu dan bersiap-siap berangkat menuju rumah Ika, dimana akad nikahnya itu berlangsung dikediaman Ika.
"Om Tommy keren banget!" Alex sengaja memujinya, sebelum oapa mertuanya itu masuk ke mobil.
"Bisa aja kamu, Lex," balas Tommy.
__ADS_1
"Sumpah cakep beneran, Om." Alex sampai mengacungkan dua jempolnya kepada Tommy. Memang dasar mantu tiada sungkan-sungkannya sama mertua sendiri.
"Pantas saja mama pernah suka sama om Tommy. Usianya sudah begini, masih terlihat cakep banget." batin Alex bermonolog kagum.
Kemudian rombongan pengantin itu masuk ke mobil masing-masing. Melaju dengan pelan tetapi lancar. Hingga kemudian tiba dikediaman mempelai wanita saat acara ijab kabulnya itu masih sekitar lima belas menit lagi akan digelar.
Suasana pernikahan yang sejatinya akan digelar secara sederhana saja, tetapi bagi seorang pengusaha seperti Ramdan suasananya masih terlihat sedikit mewah. Walau yang diundang hanya kerabat terdekat saja, tetapi cukup kompak untuk bisa hadir semua pada acara pernikahan yang sangat mendadak ini.
Saat akan tiba detik-detik ijab kabul itu terucap, Ika keluar dari kamar riasnya. Riasan MUA pilihan, juga dipadu padankan dengan kebaya modern yang melekat ditubuh gadis itu, membuat semua mata memandang takjub.
Lebih-lebih Tommy yang terus menatapnya sehingga nyaris tak berkedip. Hingga sampai Ika sudah ikut duduk disampingnya, pria itu masih betah memandangi Ika yang berubah total tampilannya dari Ika yang ia tahu. Seakan memancarkan kedewasaan darinya, Ika juga terlihat sangat kalem dari biasanya.
"Ehem."
Penghulu yang bersiap memimpin acara ijab kabul itu sampai berdeham dibuat-buat, demi mengembalikan fokus Tommy padanya.
Tommy segera menatap kikuk pada bapak penghulu yang sudah tersenyum hangat kepadanya. Hingga sampai ucapan sakral itu terucap, Tommy melafadzkannya dengan lantang juga dengan satu tarikan nafasnya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Asheeqa Ramdan binti Ramdan Wijaya dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
"Bagaimana saksi?"
Sah!
Sah!
"Barokallahulakuma wa baroka alaikuma fii khoir..."
*
Duh, papa Tommy sudah selesai nih nikahnya. Kalian Readersku nggak ada yang mau nitip kado apa buat papa Tommy sama Ika?
__ADS_1
Kadonya tuh ya... Bisa bunga, kopi, like, vote. Eh, itu kan maunya othor yaak....🙈