Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 112


__ADS_3

Tommy menghentikan aktifitas memijitnya setelah menyadari jika istrinya itu terlelap damai menikmati pijitan lembut darinya. Sepintas pria itu mengatur alur nafasnya yang sebenarnya merasa agak resah selama memijit Ika tadi. Tetapi ia tidak mau egois, walau sebenarnya kepalanya mulai berdenyut pening menahan hasrat terpendamnya yang mulai tergoda.


Pria itu membiarkan saja istrinya tidur dalam posisi tengkurap, walau sebenarnya ingin membantu merubah posisinya agar lebih nyaman, tetapi demi tidak ingin mengganggu tidur lelapnya itu maka Tommy hanya bisa membantu menyelimuti punggungnya.


Segera Tommy mengambil air minum diatas nakas yang memang sudah disediakan oleh Ika sebelumnya. Ia meminum segelas air itu hingga tandas, rasanya sangat haus sekali, suhu tubuhnya terasa sedikit panas, gelenyar aneh yang dirasa dirinya seketika datang begitu saja.


Tommy melirik lagi kepada Ika yang masih sama di posisi sebelumnya. Sepertinya gadis itu sangat nyenyak, efek lelah seharian menjadi pengantin. Padahal pesta pernikahan tadi hanya sederhana saja, apa lagi jika harus menggelar pesta besar-besaran mungkin Tommy akan tepar juga seperti Ika.


Kemudian Tommy beranjak pergi ke kamar mandi lagi. Mencuci muka dengan air dingin mungkin bisa sedikit membantu menghilangkan rasa peningnya itu walau terkesan agak mustahil. Setelah selesai mencuci mukanya itu, Tommy segera keluar dari sana untuk segera tidur.


Pria itu terhenyak sesaat saat menjumpai istrinya itu sudah berubah posisi tidur menjadi telentang. Walau tubuh gadis itu masih terbungkus rata oleh setelan piyama yang dipakainya, tetapi cukup seduktif bagi Tommy.


Sekali lagi pria itu menghela nafas beratnya agar tidak terpancing lagi, begitu sudah terasa bisa dikendalikan lalu pria itu segera merebah di ranjang bagiannya. Tak semudah itu Tommy bisa terlelap, matanya masih nyalang menatap langit-langit kamar. Tiba-tiba merasa apa yang terjadi dengan hidupnya itu adalah sebuah anugerah yang tak pernah ia sangka sebelumnya. Disaat sudah tidak berharap akan membina rumahtangga lagi, justru jodoh itu hadir secara tiba-tiba dengan tiada rencana apa-apa sebelumnya.


Perlahan Tommy memiringkan badannya, menatap intens pada gadis manis yang kini telah sah menjadi pasangan hidupnya. Diam-diam pria itu tersenyum kecil, begitu mudahnya istri kecilnya itu memasuki isi hatinya yang selama ini kosong. Hingga membuatnya bisa jatuh cinta semudah ini kepadanya. Semoga rasa ini selamanya akan selalu ada untuknya. Begitulah pinta hati Tommy sebelum akhirnya pria itu mulai memejamkan matanya.


Belum juga Tommy terlelap tiba-tiba saja Ika bergerak, merubah posisi tidur miring dan tentunya saling berhadapan dengannya. Alhasil pria itu membuka matanya lagi, menikmati keindahan paras ayu istrinya itu lebih lekat lagi.


Semakin dilihat semakin membuat Tommy terlena dengan kemolekan sang istri yang terlihat cantik natural bila sedang tidur begini. Beralih tangan pria itu melukis wajah Ika dengan jarinya, tertahan sejenak saat telunjuknya itu berada di bibir ranum Ika yang menawan.


Gelenyar aneh itu kembali muncul dengan sendirinya. Tommy pria normal, tentunya ia juga merindukan belaian hangat itu setelah bertahun-tahun hanya hidup menduda. Selama ini ia hanya hidup dengan menyibukkan diri di pekerjaannya. Hingga tiada lagi minat untuk mencari pasangan lagi, hanya terfokus dengan kebahagiaan Resty, anak semata wayangnya itu.

__ADS_1


Mengingat Resty, tiba-tiba Tommy jadi kepikiran tentang haruskah ia nambah anak lagi? Sedang usianya saat ini sudah tidak lagi muda, tetapi jika melihat usia istrinya saat ini tentu ia harus membicarakan hal ini kepadanya terlebih dahulu.


Aah, kenapa malah kepikiran nambah anak? Prosesnya saja masih belum. Tommy menghela nafasnya lagi. Begini amat nikah sama gadis muda yang masih orisinil pula. Jadi takut buat menyentuhnya. Coba nikahnya sama janda?


"His... his... nih otak! Udah syukur Tom, kamu bisa dapat perawan," monolognya, mengumpat dirinya sendiri.


Ika bergerak lagi menggeser lebih mendekat kepada Tommy. Entah gadis itu sadar atau memang benar-benar sedang nyenyak, tetapi Tommy sangat senang. Tak akan membuang kesempatan pria itu lantas melingkarkan tangannya pada pinggang Ika, menariknya agar lebih merapat ditubuhnya.


Deru nafas Tommy kembali keluar diatas normal, merasakan benda kenyal itu menekan dadanya. Sungguh berhasil memancing hasratnya hidup kembali, saat tiba-tiba saja tiada sadar Ika mengendus-ngendus dadanya dengan wajahnya.


Tangan Tommy menahan wajah Ika yang mengendus dikiranya guling yang dipeluknya saat ini.


"Plis, By. Jangan menggodaku," gumam Tommy, yang seketika membuat Ika terbangun dan mengerjapkan matanya berulang-ulang.


Entah siapa dulu yang memulai. Kedua indra perasa itu sudah saling beradu saja. Saling bertautan menyesap manisnya madu kasih dari bibir mereka. Membelit lidah dengan begitu lihai dan semakin nikmat. Ika yang memang pernah pacaran saat SMA dulu, tentu sedikit banyak memiliki pengalaman dalam hal bertukar saliva. Membuat adegan pergulatan nikmat itu semakin menuntut dan begitu menggairahkan.


Sesaat mereka saling melepaskan untuk mengambil asupan oksigen. Tatapan keduanya sudah dipenuhi kabut gairah. Apalagi ketika ibu jari Tommy mengusap lembut bibir ranum Ika yang merekah telah dihisap madunya barusan, mereka sama-sama saling tersenyum.


"Apakah boleh malam ini aku menyentuhmu lebih dari ini, By?" pinta Tommy, begitu lembut dengan suaranya yang sudah serak dan berat.


"By?" Ika mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


"Babby," terang Tommy.


Senyum kecil Ika seketika terbit. Sangat senang mendapati panggilan sayang dari suaminya itu. Perlahan Tommy membelai pucuk kepala Ika, kemudian mendekatkan wajahnya untuk mengecup kening istrinya itu cukup lama.


"Silahkan, Mas. Aku istrimu. Yang sudah halal kamu sentuh kapanpun kamu mau," ucap Ika, saat Tommy kembali menatapnya intens.


Tommy tersenyum riang begitu mendengarnya. Rupanya menaklukkan istri kecil sepertinya tidak perlu banyak drama, karena memang dari awal gadis itu yang lebih dulu menyukainya.


Sekali lagi pria itu membawa Ika dalam pagutan nikmat pada bibir mereka. Bahkan lebih panas dari sebelumnya. Karena kini pria itu sudah berhasil melepas satu persatu kancing piyama di tubuh Ika, saat pergulatan lidah itu masih saling membelit dalam kenikmatan tiada tara.


Tommy melepasnya lagi. Nafasnya masih memburu, sudah dikuasai naffsu diri yang membuat gelora tubuhnya terasa panas. Ika sadar betul dengan tubuh atasnya yang berhasil dikoyak oleh Tommy. Spontan saja gadis itu menyilangkan tangannya didadanya, merasa malu pastinya.


"Jangan ditutup, ini indah," ucap Tommy sambil mengangkat tangan Ika yang menghalagi gundukan gunung kembar yang masih terhalang dengan kain pembungkusnya.


Tommy masih mengungkung tubuh Ika. Menatap penuh kabut gairah, hingga tiada sungkan mendaratkan kecupannya ditempat yang berbeda dari tubuh Ika. Dua gundukan kenyal itu yang sedang di eksplor oleh Tomny saat ini. Mendarat begitu lembut, hingga berhasil membuat Ika mendesah tertahan dan tiada sadar mencengkram rambut Tommy, menekannya agar lebih dalam lagi permainannya.


Tommy menyeringai tipis menatap wajah Ika yang merona dan begitu menggoda. Pria itu melepas kaosnya begitu saja, memamerkan otot perutnya yang keras pada istri kecilnya yang refleks menutup mata dengan kedua tangannya.


Bulu-bulu halus yang tumbuh di perut bawah Tommy, tertata lurus hingga ke pusat inti milik pria itu. Membuat Ika tertegun lebih lama. Menelan ludah sedikit resah, saat dengan nyata melihat sesuatu yang keras itu menonjol dari balik celpen yang Tommy kenakan saat ini.


"Oh tidaaaak....."

__ADS_1


*


__ADS_2