
Ryan berhenti mengikuti Varo manakala melihat sahabatnya itu di hentikan oleh sekelompok orang yang langsung ia kira adalah orang jahat yang akan mencelakai Varo. Pria itu berlari mendekat kepada Varo bermaksud ingin menolongnya. Sialnya rupanya orang-orang itu adalah polisi yang memang mengintai Varo. Alhasil Ryan yang tidak tahu menahu itu ikut di bawa ke kantor polisi.
Di dalam mobil polisi itu Ryan hanya bisa menatap iba kepada Varo yang terlihat jauh berbeda. Wajahnya yang kusam tak terurus dengan rambut yang di biarkan berantakan. Juga penampilannya yang sudah acak-acakan layaknya anak jalanan.
Keduanya sama-sama diam tanpa saling berbicara. Hanya tatapan mata mereka seperti mengisyaratkan kerinduan mendalam. Lama menghilang tiada kabar, sekali bertemu malah begini kenyataannya.
Saat ini mereka sudah berada di kantor polisi untuk di mintai keterangan. Dari situ Ryan baru tahu jika Varo adalah salah satu konsumen obat-obatan terlarang yang sudah lama di intai oleh polisi. Tujuan menangkap Varo tak lain hanyalah ingin mengorek info siapa bandarnya.
Sedangkan Ryan sendiri ikut di bawa polisi itu karena polisi menduga ia juga satu komplotan dengan Varo.
"Iya, saya memang temannya, tapi saya bukan pemakai, Pak," ucap Ryan saat di interogasi oleh polisi yang menanganinya.
Tetapi polisi itu tidak langsung percaya pernyataan Ryan. Mereka masih mencerca segala pertanyaan yang bisa membuatnya tersudut dan mengakui perbuatannya.
"Benar, Pak. Saya berani sumpah. Detik ini juga saya berani tes urine kalo bapak tidak percaya," tantang Ryan dengan lantang.
Sedangkan Varo yang memang sudah ketangkap basah di ketahui membawa barang bukti, hanya bisa duduk pasrah di pojokan dengan kedua tangan yang terborgol. Sedari tadi pria itu hanya menundukkan wajahnya. Sama sekali tidak mau menatap Ryan yang sesekali terus melihatnya dari tempatnya duduk.
"Kenapa kamu bisa begini, Va?" batin Ryan merasa kecewa.
Sebangsat-bangsatnya mereka dulu, tetapi mereka bersih dari yang namanya obat-obatan terlarang maupun segala jenis miras. Bahkan merokok pun mereka tidak. Benar-benar hidup bersih dan sehat. Tetapi sekarang yang terjadi kepada Varo sungguh miris.
"Baiklah. Bawa dia ke belakang," titah polisi itu menyuruh rekannya untuk membawa Ryan tes urine di belakang.
"Tunggu, Pak," seru Ryan lagi.
"Ada apa? Sudah mau ngaku, hah?"
"Bukan. Ee... Itu, boleh saya menghubungi teman saya biar mereka bisa jadi jaminan kalau saya ini benar-benar bersih?"
"Seharusnya begitu. Tetapi yang harus kamu hubungi itu orang tua kamu, bukan malah teman."
__ADS_1
"Saya yatim piatu, Pak. Tapi kalau bapak minta saya menghubungi mereka, ayo ke kuburan mereka," seloroh Ryan.
Dan polisi itu hanya bisa menggeleng gemas mendengar pernyataan Ryan. Kemudian polisi itu mengijinkan Ryan untuk menghubungi salah satu temannya untuk datang ke kantor polisi. Maka Cello lah yang Ryan hubungi saat itu.
Sedangkan Cello yang saat itu sedang dalam perjalanan merasa heran mengapa Ryan memberinya sharelock arah ke kantor polisi. Meski sangat curiga, tetapi akhirnya Cello sampai juga di kantor polisi sesuai yang Ryan kirim alamatnya.
Pria itu langsung bergegas masuk ke kantor itu dan langsung menemui Ryan yang sudah duduk tak semangat karena terlalu lama menunggunya. Sudah pasti banyak pertanyaan yang di tanyakan langsung kepada Ryan mengapa bisa ada di situ, tetapi setelah mendengar penjelasannya, pria itu hanya bisa menghela nafas penuh kecewa tetapi juga iba kepada nasib temannya, Varo.
Saat ini Ryan sendiri sudah di perbolehkan pulang, karena hasil tes urine yang di jalaninya negatif dari hal-hal yang berbau obat-obatan terlarang. Dan mereka berdua kini tengah mengobrol serius di parkiran.
"Apa kita perlu menghubungi mamanya Varo?" tanya Ryan merasa kasihan kalau harus membiarkan Varo berada di kantor polisi tanpa ada orang yang datang mengunjunginya.
"Tapi aku nggak punya nomor telponnya. Kamu ada?" jawab Cello.
Ryan menggeleng saja.
"Aku cuma punya nomor telpon papanya," tutur Cello.
"Aku coba dulu deh," ujar Cello sambil mendial nomor telepon papanya Varo.
"Yakin, Cel?" Ryan nampak ragu.
Papanya Varo saja suka main perempuan, hingga endingnya sampai menghamili Donita. Bisa jadi papanya Varo tidak akan peduli kepada Varo, itu menurut Ryan.
Tak di sangka rupanya panggilan telepon dari Cello di jawab oleh papanya Varo. Dan setelah pria itu menyampaikan masalah Varo itu, papanya Varo mengatakan akan langsung menemui Varo saat ini juga.
Keduanya sama-sama tersenyum lega setelah mendengar papanya Varo akan datang. Tetapi meski begitu mereka tak lantas pulang sebelum melihat papanya Varo benar-benar datang.
Setelah di tunggu hampir satu jam, papanya Varo akhirnya datang juga. Sebelum masuk ke kantor polisi itu, papanya Varo lebih dulu bertanya kepada Cello dan Ryan mengenai kronologis tertangkapnya Varo. Begitu tahu yang sebenarnya, baru lah papa Varo masuk ke kantor polisi itu.
Barulah setelah itu Cello dan Ryan bisa pulang dengan lega. Dan semoga saja keinginan papanya Varo yang menginginkan putranya itu agar di rehabilitasi saja dapat di setujui oleh pihak berwajib.
__ADS_1
Saat perjalanan pulang itu Cello dan Ryan kembali menuju ke rumah Alex. Cello yang harus menjemput pacarnya di rumah itu, sedangkan Ryan yang punya janji akan datang pada acara tasyakuran tadi, terpaksa mengganti datang petang ini.
Beberapa saat kemudian, mereka berdua telah tiba di rumah baru Alex dan Resty. Keduanya langsung di sambut gurat penasaran Alex dengan menanyai mereka bagaimana Varo sekarang.
"Ya mau gimana lagi. Varo sendiri juga salah. Kita do'akan saja setelah ini Varo bisa mengambil hikmahnya." ucap Alex. Setelah tadi Ryan sudah bercerita kepadanya mengenai kondisi Varo saat ini.
Sedangkan Cello memilih segera pamit untuk segera mengantar pulang Ratu sebelum telat pulang ke rumahnya. Dan Ryan sendiri masih betah di rumah baru Alex sambil berbicara serius mengenai masa depan mereka kelak.
"Resty mana?" tanya Ryan setelah cukup lama mengobrol, istrinya Alex itu tidak nampak batang hidungnya.
"Dia tidur duluan," jawab Alex.
"Masih belum malem kok udah tidur?"
Lalu Ryan melihat jam di layar ponselnya yang rupanya waktu menunjukkan lebih dari setengah delapan malam.
"Buat ngumpulin tenaga dulu biar kuat entar," tutur Alex.
"Maksudnya?"
"Ah, situ nggak peka emang. Pantas saja masih jones. Hahaha...."
*
Mm... Masalah Varo sudah. Masalah Donita pun juga sudah. Berarti tinggal nunggu novel ini ending insyaallah akhir bulan ini.
Jangan lupa mampir di:
Cinta Milik Keanu
Setelah Kau hianati.
__ADS_1
Othor tunggu ya.....