Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 83


__ADS_3

Suasana semakin tegang saat malam itu juga eyang Asih datang ke rumah ketua RT dimana Resty dan Alex sedang diinterogasi disitu. Hingga sampai deru mobil itu tiba didepan halaman rumah si RT, pada saat itu jam sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam.


Tetiba Resty semakin panik melihat eyangnya turun dari mobilnya dengan wajah yang sulit diartikan. Tak kalah tegang dengan apa yang dirasa Alex juga. Pria itu merasa sangat bersalah telah menyeret Resty dalam masalah ini, yang bisa dipastikan juga akan berpengaruh buruk kepada eyang Asih bila tahu bahwa Resty adalah cucunya.


"Assalamu'alaikum..."


Gema salam terucap dari mulut eyang Asih saat ia dan pak Saleh telah berada didepan pintu rumah si RT.


"Wa'alaikum salam..."


Semua yang berada diruangan itu menyahut kompak. Akan tetapi wajah Alex dan Resty sama-sama tertunduk tak berani menatap kepada eyang Asih yang langsung menyorotnya tajam.


"Silahkan duduk, bu Asih." Istri pak RT itu mempersilahkan eyang Asih duduk di kursi yang telah disediakan.


Wanita tua itu langsung duduk, tetapi tatapan matanya sama sekali tak berpaling dari Alex dan Resty. Seakan ingin menguliti mereka saat ini juga, saking gemasnya ia terhadap dua anak manusia yang dimabuk cinta itu.


"Begini bu Asih..."


Kemudian ketua RT itu menceritakan kronologi awal hingga dibawanya Alex dan Resty ke rumah ini. Eyang Asih terlihat tetap tenang saat mendengarkannya, tetapi jangan tanya bagaimana hatinya saat ini. Tunggu saja nanti saat mereka pulang setelah ini.


"Kalau begitu kami mohon maaf, bu Asih. Sampai sempat menuduh yang tidak-tidak dengan cucu Ibu."


Pak RT tersebut langsung mengucap kata maaf setelah tahu kalau mereka berdua adalah cucunya.


"Tidak apa-apa. Saya seharusnya yang meminta maaf. Jika bukan karena kejadian ini, tentu kalian semua sudah tidur nyenyak kan?" Eyang Asih sedikit terkekeh, sengaja agar suasana tidak setegang tadi.


"Kalau begitu kami pamit pak RT." Eyang Asih berpamitan.


Mereka yang berada di rumah itu ikut mengantar wanita tua yang dikenal sebagai saudagar kaya di kampungnya itu sampai masuk kembali ke mobilnya lagi. Sebelumnya eyang Asih telah memasrahkan motor yang dipakai Alex tadi agar diantar besok ke rumahnya kepada pria bernama Slamet tadi.


Perlahan mobil itu telah melaju keluar dari halaman rumah RT tersebut, dan langsung melaju pesat saat tiba di jalanan sepi kampung tersebut.


Saat berada di mobil itu eyang Asih sengaja mendiami mereka, agar mereka bisa intropeksi diri atas kejadian memalukan tadi. Hingga tak terasa mobil yang mereka tumpangi telah masuk ke halaman luas rumah eyang Asih.


Eyang Asih melirik kepada Resty yang terlihat sangat pulas. Mungkin karena kelelahan hingga gadis itu tertidur.


"Biar saya bantu bawa Resty, Eyang." Alex berinisiatif ingin menggendong Resty hingga ke kamarnya.


"Eh, jangan! Nggak usah!" Eyang Asih langsung menolak tegas dengan menyingkirkan tangan Alex dari dekat Resty.


Jleb.


Seketika Alex menelan salivanya penuh rasa entah.

__ADS_1


"Fix! Ibu Asih marah sama aku!" batin Alex bersuara.


"Resty! Resty!" Eyang Asih mengguncang sedikit kasar ke lengan Resty untuk membangunkannya.


Gadis itu hanya bergeliat. Hingga sesuatu yang dari tadi disembunyikannya itu dapat dilihat oleh eyang Asih dengan jelas.


"Astaga!" Wanita tua itu membungkam mulutnya sendiri.


Bagaimana ia tidak kaget setelah melihat bekas gigitan itu kemerlapan dileher Resty.


"Memalukan!" umpatnya sangat kesal.


Bergantian eyang Asih menyorot tajam kepada Alex yang masih belum beranjak. Deru nafasnya berhembus kasar, berusaha mengatur kembali agar tidak dikalahkan oleh emosinya.


Plak.


Tepukan keras mendarat di paha Resty, hingga membuat gadis itu terbangun seketika.


"Ah, sudah sampai ya?" ucapnya, sambil mengerjapkan matanya melihat situasi sekitar.


"Apa ini, Res?" tanyanya geram, sambil menunjuk leher Resty dengan gemas.


Resty bergeming dan tertunduk malu.


Eyang Asih menyuruh Resty segera keluar dari mobil, dan gadis itu langsung patuh tanpa banyak bicara. Kilau matanya sangat jelas menandakan eyangnya itu teramat marah saat ini.


Hingga sampai mereka sama-sama masuk ke rumah itu, eyang Asih langsung berlalu begitu saja.


"Pssst.... Sayang.."


Alex memanggil Resty sebelum gadis itu masuk ke kamarnya.


Resty menoleh.


"Maafin aku," ujar Alex kepada Resty.


Resty hanya mengangguk.


"Rasanya aku bakal dapat kartu merah dari eyang. Duh! Soal yang ini aku beneran khilaf. Maaf ya..." Alex berkata sambil menunjuk lehernya sendiri.


"Kamu sih!" Resty langsung manyun.


Seketika gadis itu langsung masuk ke kamarnya, meninggalkan Alex yang masih tercengang ditempat.

__ADS_1


Gadis itu langsung menuju ke kamar mandi dan bercermin di sana.


"Astaga! Dasar Alex!" umpatnya kesal. Tetapi seketika tubuhnya meremang saat teringat akan momen dihisap draculla kelaparan itu.


***


Sisil dan Kenzo sudah tiba di Jakarta. Setelah membaca pesan singkat dari pak Saleh itu, mereka langsung pulang dari Jepang untuk menemui Alex. Saat ini mereka tengah berada dalam mobil yang mengantarnya pulang ke rumah.


"Aku kira dengan kita membuat berita heboh tentang perusahaan akan membuat Alex berubah. Ternyata? Huft!" Sisil menghembus nafasnya dengan kasar.


"Memang dasar selalu bikin ulah tuh anak!" Kenzo ikut menimpali.


"Terus terang aku kepikiran, seperti apa perempuan yang harus dinikahi Alex, Ken."


Kenzo hanya diam. Ia juga merasakan hal yang sama seperti Sisil.


"Duh, tuh anak! Nggak dimana pun selalu bikin ulah."


"Tenang, Sil. Kita jangan terlalu memikirkan itu sebelum kita tahu bagaimana cerita sebenarnya. Coba kamu hubungi pak Saleh lagi. Tanyakan bagaimana ceritanya. Dari itu kita bisa mempersiapkan bagaimana tindak selanjutnya." Kenzo mencoba memberi saran.


Lalu Sisil segera mengubungi Saleh, tetapi telponnya sedang tidak aktif.


"Gimana?" tanya Kenzo.


Sisil menggelengkan kepalanya.


"Kalau begitu kita ke sananya besok pagi saja."


"Besok? Kalau kita telat datang dan sampai Alex dinikahkan juga bagaimana?"


"Nggak mungkin, Sil."


"Ah, kamu selalu mengentengkan masalah Alex!"


Sisil sudah melipat tangannya didada. Kesal bin jengkel sudah menjalar dihatinya, melihat wajah Kenzo yang tetap tenang seperti tak terjadi apa-apa dengan Alex.


Sedangkan Kenzo hanya berani melirik, walau sebenarnya ia sangatlah gemas ingin mencubit pipi istrinya itu. Sebulan lamanya mereka berdua berada di Jepang, rupanya membuat komunikasi mereka sedikit menghangat dari sebelumnya.


Entah mereka sudah memilih jalan damai dengan masalalu atau bagaimana, yang pasti andai Alex melihat mereka akrab begini, pastilah Alex sangat senang. Suatu sikap yang jarang ditemukan antara Sisil dan Kenzo, selama mereka menjalani bahtera rumah tangganya itu.


Tak lama kemudian mobil mereka berhenti didepan rumah milik mereka yang sempat dikabarkan ikut disita pihak Bank kepada Alex. Kenzo turun dengan mantap, diikuti Sisil juga. Rasanya mereka sudah sangat rindu dengan suasana rumah itu. Lalu mereka pun memilih masuk ke dalam untuk lekas beristirahat, dan melanjutkan perjalanan menemui Alex esok pagi.


*

__ADS_1


__ADS_2