Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 55


__ADS_3

Resty dan Ika saling diam saat sudah berada di meja makan untuk menyantap makan malam. Sedangkan Tommy meski sempat dilarang Resty untuk tidak ikut gabung di situ karena Resty khawatir dengan kondisi papanya yang tidak begitu stabil, rupanya Tommy bersikeras dan akhirnya pria itu ikut duduk bersama mereka.


Meski tidak ikut menyantap makan malam ini karena sudah sedikit kenyang telah menghabiskan semangkuk bubur tadi, tetapi Tommy sangat menikmati momen seperti ini. Entah mengapa hatinya merasa tenang dan damai melihat dua gadis yang bersahabat itu berada didepan mata. Senyum kecilnya terus mengembang tanpa disadari, membuat Resty semakin yakin dengan alibinya sendiri jika papanya itu sedang jatuh cinta.


"Mm, maaf aku sudah dulu."


Ika meletakkan sendok dan garpu, menatanya diatas piringnya yang masih sisa separuh makanannya.


"Belum juga habis. Keburu kemana?" ucap Tommy.


"Sudah kenyang, Om."


Resty hanya melirik kecil pada keduanya. Mulutnya masih sibuk mengunyah makanannya, tetapi juga sedang berpikir bagaimana caranya agar keduanya mengaku jika ada memiliki rasa.


"Resty," sapa Tommy.


Resty hanya menatap tanpa membalas, efek mulut yang masih penuh makanan.


"Kapan mau berangkat ke rumah eyang Asih?"


"Nggak jadi, Pa." sahutnya, dengan gelengan kepala meyakinkan.


"Loh, kenapa nggak jadi? Padahal papa sudah menghubungi eyang kalau liburan ini kamu mau lama di sana." ujar Tommy.


"Kalau aku jadi kesana, trus papa sama siapa? Apalagi kondisi papa yang belum pulih betul, makin buat aku khawatir jauh sama papa." jelas Resty.


Lalu meminum air putih karena sudah selesai dengan kegiatan makannya.


"Kan kita sudah sepakat, Res. Ngapain masih khawatirin papa?"


"Sepakat masalah mau cari mama baru?"


Tommy terhenyak saat mendengar ucapan Resty. Kenapa malah membahas hal sensitif ini lagi didepan Ika, sedangkan tadi Resty sempat menggodanya untuk menikah dengan Ika saja.


"Ya sudah. Kalau begitu aku jadi deh ke rumah eyang. Kan papa sudah dapat mama baru buat aku."


Lagi lagi Resty melirik kepada Ika, sehingga membuat sahabatnya itu kembali merasa resah sendiri.


"Kapan papa bilang begitu? Kamu ini senang sekali menggoda papa." balas Tommy.

__ADS_1


Resty kehabisan kata-kata. Ia pun diam kembali, tetapi tatapannya terus mengarah pada Ika dan papanya secara bergantian.


"Masih pantas kok." ucapnya ambigu.


"Aku malah bersyukur kalau papa dapat yang muda dari pada dapat yang tua kayak yang papa pernah bilang. Terasa komplit bisa jadi mama sekaligus sahabat buat aku."


"Astaga, Resty! Kenapa nih anak dari tadi ngegodain aku terus ya? Nggak tahu apa ya, bagaimana rasanya digoda begitu didepan pujaannya. Maafin aku, Om. Anakmu itu terlalu jujur sampai aku nggak bisa lagi sembunyikan rasa ini didepan Om." Batin Ika bersuara.


Ika mengakui jika ia menyukai pria dewasa itu yang terpaut jauh usianya dengannya. Tetapi urusan cinta siapa yang tahu, mau singgah ke siapa pun itu sudah bagian misteri dari rasa cinta itu.


Dan tentang Resty yang sedari tadi terus-terusan menggodanya setelah ketahuan saling berpegangan tangan, siapa yang tak gugup digoda dengan nada dukungan dari anak pria pujaannya?


Debaran jantung Ika pun sedari tadi bergetar hebat. Normal sejenak, lalu berdebar lagi saat Resty lagi lagi menggodanya.


Entahlah apa maksud tujuan Resty menggodanya demikian. Mungkinkah hanya sekedar godaan iseng, atau malah sudah menyalakan lampu hijau kepada keduanya agar mau saling membuka hati masing-masing. Itulah yang membuat Ika masih dilema dengan keadaan ini.


Sebenarnya Resty sendiri tidak keberatan jika memang papanya itu mau dijodohkan dengan Ika. Karena yang ia tahu Ika adalah gadis baik meski terkesan sedikit cerewet, juga bukan seorang player cinta. Selama ia berteman dengan Ika, ia tidak pernah mendapati Ika dekat dengan pria manapun. Ternyata Resty baru menyadari jika selera sahabatnya itu ialah pria dewasa nan mapan seperti papanya.


Ika juga bukan tipe gadis matrealistis. Terlihat dari kesehariannya yang memang tak pernah membahas harta atau tahta dari pria manapun yang dikenalnya. Itulah termasuk salah satu poin penting yang disuka Resty. Selain ia meyakini jika sahabatnya itu begitu tulus menyukai papanya, meski harus memiliki seorang anak sambung sepertinya.


"Mama Ika," sapa Resty pada Ika.


"Kamu mau kan jadi mama aku?" tanyanya serius.


Ika tercengang. Ia sama sekali tak menduga jika sahabatnya itu akan memintanya langsung didepan Tommy.


Demikian juga dengan yang dirasa Tommy. Pria itu tak kalah kaget mendengar lontaran pertanyaan anaknya kepada gadis muda yang saat ini sedang kebingungan untuk menjawab apa.


Sebenarnya jika memang tidak memiliki rasa apa-apa seharusnya Ika segera menolak tanpa harus berpikir. Tetapi dengan Ika yang hanya diam begitu, membat Tommy sedikit geer dan menduga bisa saja gadis itu memang sedang menaruh hati padanya.


"Resty, bisa kita tidak membahas itu dulu?" pinta Tommy, setelah merasakan perubahan suasana diantara mereka.


"Oke." balas Resty, langsung setuju begitu saja.


Walau sebenarnya sudah tak sabar ingin segera mendapat jawaban dari Ika, tetapi sepertinya ia harus menunda rasa penasarannya itu. Mungkin besok atau lusa Resty akan kembali bicara melalui hati ke hati kepada papanya dan Ika.


Bahkan gadis itu sudah tidak peduli cemoohan orang-orang andai nanti Ika menyetujui permintaannya. Selama Ika mau mencintai papanya dengan tulus, selama Ika mau menerimanya sebagai anak Tommy, selama Ika tidak berubah sikap bila sudah menjadi ibu sambungnya, Resty sudah akan merasa sangat bahagia.


"Aku pulang, Res, Om.." pamit Ika pada akhirnya.

__ADS_1


Tommy mengangguk saja. Tiba-tiba seperti ada yang mengganjal dilidah sehingga membuatnya tercekat untuk membalas ucapannya.


"Mm, aku antar sampe depan." Resty segera beranjak dan ikut menemani Ika hingga pintu keluar.


"Ka," sapa Resty saat sudah berada diteras rumah.


Ika menoleh kikuk. Ia galau takut-takut Resty akan membahas soalan barusan.


"Soal yang aku omongin tadi itu--"


"Cuma bercanda kan? Aku tahu kok, kamu lagi mau menghibur hati papa kamu." Ika segera menyela, dengan mengatakan kemungkinan terburuknya adalah sebuah candaan belaka dari Resty padanya.


Resty menggelengkan kepala.


"Aku serius, Ka." ucapnya kemudian.


"Kenapa harus aku, Res?"


Tentu Ika sangat ingin tahu alasan yang sesungguhnya.


"Karena aku tidak yakin jika papa memilih wanita lain untuk jadi istrinya."


"Siapa tahu papa kamu sudah ada calon, tapi kamu nggak tahu."


"Kalau yang itu aku tidak yakin. Lagian kata mak Asna sama pak Benny dari dulu papa nggak pernah dekat dengan wanita manapun, kecuali--"


"Kecuali?" Ika terpancing rasa penasaran dengan perkataan Resty.


"Kecuali dengan almarhum mamaku. Hehe...." ucap Resty.


Seketika Ika bernafas lega. Sudah pasti Tommy tidak mudah melupakan sosok mamanya Resty, sebab dari berita yang ia tahu kalau mamanya Resty meninggal satu jam setelah melahirkan Resty.


"Udah lah, Res, aku mau pulang." pamit Ika pada akhirnya.


"Wokey. Hati-hati ya, mama Ika." balas Resty, sekali lagi menyebut mama kepada gadis yang berbeda beberapa bulan saja dengan usianya.


Ika tak menyahut. Sudut hatinya terasa berdesir saat mendengar Resty menyebutnya mama Ika.


Saat melihat Ika sudah masuk ke dalam taksi yang menunggunya, Resty kembali masuk ke rumah. Mengobrol santai dengan papanya adalah tujuannya sekarang. Sekaligus menyerempet sedikit bahasan tentang permintaannya yang tadi.

__ADS_1


*


__ADS_2