
Sekitar setengah jam sebelum eyang Asih kembali pulang...
Resty masih terdiam saat Alex menanyakan tentang adakah harapan baginya untuk bisa mendapatkan rasa cinta dari gadis pujaannya itu. Bahkan yang membuat Alex semakin yakin untuk menggapai rasa itu kembali ketika Resty tidak menolak saat pria itu membawa tangannya ke dalam genggaman hangatnya.
Semakin erat genggaman itu, semakin membuat Resty menjadi salah tingkah. Perlahan wajah gadis itu tertunduk, rona pipinya mulai memerah tak bisa lagi menyembunyikan getaran hati itu dari Alex. Sebuah rasa yang sejatinya masih melekat kuat, kali ini merekah kembali oleh pesona pria itu yang bagai penyejuk rasa hatinya yang mulai gersang.
"Res, kok diem aja?" Alex mengusap lembut punggung tangan Resty.
Sebenarnya pria itu sudah gemas ingin mengecup tangan lembut itu dengan sayang. Tetapi harus ia tahan, mengingat gadis pujaannya itu sudah ada calon tunangan. Bahkan jika mau digambarkan, posisi Alex saat ini sudah seperti orang ketiga saja. Berani menggenggam tangan Resty, yang ia tahu bahwa gadis itu sudah ada yang punya.
"Gini aja deh, gimana kalau kamu cerita tentang calonmu itu?"
Seketika Resty mengangkat wajahnya dan menoleh kepada Alex.
"Ngapain ceritain itu sih?" batin Resty menggerutu kesal.
Meski Resty sudah bulat tekad mengakhiri perjodohan itu, tetapi untuk sekedar menceritakan kisah itu rasanya sangat malas sekali bagi Resty.
"Mm-- Lebih cakep mana aku sama dia?" lanjutnya, sedangkan pria itu kini sengaja mengerlingkan sebelah matanya menatap Resty.
Persetan Resty akan menganggapnya sebagai cowok kepedean, karena Alex sendiri sudah sangat penasaran bagaimana kelanjutan perjodohan Resty dengan Ziyyan.
Resty menghela nafasnya sebentar. Tiba-tiba muncul ide untuk mengerjai Alex. Siapa suruh mengungkit hal yang malas Resty bahas.
Perlahan gadis itu menarik tangannya dari genggaman tangan Alex. Senyum kecilnya terukir manis, membuat pria itu semakin penasaran dengan apa yang akan dijawab olehnya.
"Mau tahu beneran apa cuma kepo nih?" Resty balik bertanya. Sedikit memainkan perasaan Alex tidak masalah kan?
"Mau... Tahu... Sekali!" Alex menekankan perkataannya.
"Buat apa sih nanya-nanya gantengan mana?"
"Buat perbandingan lah." Alex langsung membalas mantap.
Kening Resty berkerut indah. "Perbandingan bagaimana?"
"Kalau ternyata masih lebih keren aku, berarti kamu salah pilih. Tapi kalau kamu bilang lebih keren dia, itu tandanya kamu harus cuci mata lagi. Karena urutan manusia tertampan masih aku yang pegang." ujarnya, dengan tingkat kepedean yang melambung tinggi.
"Dih, pede amat kau!" Resty sedikit terkekeh.
Dan Alex hanya menyeringai tipis. Dari awal ia sudah bermuka tebal kepada Resty demi bisa memancing pendapat Resty tentang Ziyyan.
"Oke. Tapi janji jangan marah ya?" ucap Resty pada akhirnya.
Alex langsung mengangguk.
"Mm-- Menurutku sih.."
Resty pura-pura berpikir. Sesekali ia melirik kepada Alex yang masih menunggu jawabannya itu.
__ADS_1
"Lebih cakep calonku itu." Resty menjawab dengan mantap dan tegas. Lengkap dengan senyumnya yang melengkung indah.
Alex terhenyak sesaat. Ia terlihat berpikir, masih sambil tak membuang tatapan matanya dari Resty.
"Dari segi mana aku kalah sama dia?"
"Semuanya." Resty menyahut singkat, tetapi satu kata itu sangat menohok dihati Alex.
"Sial! Resty beneran udah suka sama bang Ziyyan." umpatnya dalam hati.
"Selamat ya.." ucap Alex, sedikit mulai tak bergairah.
Tiba-tiba Alex mengulurkan tangannya kepada Resty, membuat gadis itu terdiam sejenak. Apakah secepat ini membuatnya mati semangat didepannya?
Resty tak langsung membalas uluran tangan Alex. "Selamat buat apa dulu nih?"
"Selamat atas pilihanmu itu."
"Bagaimana pun aku memang kalah setahap sama bang Ziyyan. Dia lulusan luar negeri, sudah siap kerja pula. Nah aku? Urusan kuliah saja masih gantung mau lanjut apa tidak. Mama papa masih belum ada kabar sama urusan kantor. Aaah... Apes sekali sih nih hidup!" Batin Alex mengomel sendiri.
Plak.
Resty sengaja menangkis uluran tangan Alex, hingga menimbulkan bunyi seperti tepukan.
Alex yang kebetulan tengah melamun sendiri, seketika terjengkit saat gadis itu menepuk tangannya.
"Itu sudah batal kok." Resty kembali bersuara.
"Maksud kamu perjodohan kamu sama bang Ziyyan nggak jadi?"
Saking kagetnya hingga membuat Alex keceplosan menyebut nama Ziyyan.
"Kamu tahu kak Ziyyan?" Resty langsung bertanya.
Alex mulai kebingungan. Tangannya menggaruk-garuk tengkuknya sendiri pertanda kesulitan mencari alasan lain, demi tidak terbongkarnya hubungan yang sebenarnya antara dirinya dengan Ziyyan. Sebab jika seandainya Resty tahu kalau Ziyyan masih kakak saudara sepupu dengannya, ia takut gadis itu akan merasa sungkan dan canggung untuk didekatnya lagi.
"Lex, jawab dong!"
"Iya, aku tahu. Tapi nggak kenal."
Berdusta adalah jalan ninja bagi Alex sekarang. Semoga saja Resty berhenti bertanya tentang Ziyyan lagi. Tetapi jika memang akhirnya Resty masih bertanya, lihat saja entar. Alex sudah ancang-ancang menyiapkan jurus penutup mulut agar gadis itu berhenti bertanya.
"Tahu dimana sama kak Ziyyan?" Resty bertanya lagi.
"Satu." Alex mulai berhitung dalam hati.
"Maksudku, kamu sama kak Ziyyan pernah ketemu dimana?"
"Dua." Sudut bibir Alex mulai menyeringai nakal.
__ADS_1
"Alex, dijawab dong!" Resty mulai sedikit dongkol didiamkan begitu oleh Alex.
Tetapi Alex malah memainkan sebelah alisnya naik turun.
"Atau kamu sebenarnya sudah kenal ya sama kak Ziyyan, tapi kamu--"
Mmmmph
Mmmmph
Mulut Resty terbungkam seketika oleh sebuah kecupan bibir Alex yang mendarat tanpa permisi. Pria itu sengaja melakukan itu, meski tidak akan tahu seperti apa konsekuensi dari gadis itu setelah ini. Tak peduli Resty akan marah atau bagaimana. Yang ia rasa saat ini bibir itu masih menempel dibibir ranum milik Resty.
Resty masih terdiam. Bagai terkena sengatan listrik yang membuatnya tak lagi bisa menggerakkan badan walau sedetik. Denyut jantungnya pun bagai seketika mati, efek terlalu kaget mendapati kenyataan first kiss nya telah dicuri oleh Alex.
Ketika Alex ingin menuntut lebih dalam dengan mengomando agar bibir Resty terbuka sedikit, saat itu lah gadis itu tersadar dari lenanya sendiri. Seketika Resty mendorong bahu Alex, masih dengan tatapan resahnya yang kentara terbaca.
Pria itu hanya menyeringai tipis saat Resty hanya mematung menatapnya. Rupanya jurus pamungkasnya itu begitu ampuh untuk membungkam mulut gadisnya agar tak lagi membahas Ziyyan.
Saat Resty masih terdiam, perlahan jari jempol Alex menyentuh bibir ranum itu dengan usapan lembutnya.
"Kamu lagi sakit loh, Lex. Apa kamu sengaja mau menularkan virusnya ke aku?"
Akhirnya Resty mulai bersuara, walau sebenarnya tak mudah baginya untuk berkata begitu. Tetapi dengan berkata begitu paling tidak bisa sedikit membuatnya kembali seperti tak terjadi apa-apa.
"Jadi kalau sudah sembuh, boleh cium lagi?"
"Apaan sih! Nggak boleh lah! Pacar aja bukan, main curi ciuman aku. Emang dasar kamu manusia paling menyebalkan!"
Tangan Resty sudah mengepal dan hampir mendarat dibahu Alex, tetapi pria itu lekas sigap dan langsung menangkapnya.
"Kalau begitu, ayo kita pacaran, Res." ujarnya semakin mantap tingkat dewa.
Resty masih bergeming.
"Bukankah sudah tidak ada penghalang lagi buat aku minta kamu jadi pacar aku?"
Bibir bawah Resty digigit kecil, pertanda sedang gelisah sendiri. Antara mau mengiyakan, tetapi masih malu untuk menganggukkan kepalanya.
Perlahan Alex meraih tangan Resty lagi dan membawanya masuk dalam genggaman hangatnya.
"Kalau kamu tetap diam, apa aku boleh menganggapnya kamu mau?"
Kali ini tangan Alex mengangkat dagu Resty, dan terbitlah senyum kecil itu dari bibir Resty untuk Alex.
Alex mengulas senyum lebarnya dengan riang. Walau sangat bahagia dan ingin memeluk tubuh gadisnya itu, tetapi ia menahannya karena takut akan dianggap mau menularkan virus lagi. Yang nyatanya gadis itu memang telah tertular oleh virus cinta Alex yang langsung menyebar luas hingga ke pembuluh darah sekalipun.
Belum lama netra itu saling bertatapan, tiba-tiba Resty menarik tangannya lagi dari Alex. Saat tahu kalau eyang Asih sudah kembali pulang.
*
__ADS_1