Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 35


__ADS_3

"Sayang," sapa Donita, melalui sambungan telpon kepada Alex.


"Hem," balasnya, hanya dengan bergumam malas.


"Aku ingin bicara penting."


"Nanti saja ya, aku masih harus selesaikan tugas kelompok dulu sama team." tolaknya jujur.


Donita menatap nyalang pada kekasihnya yang memang sedang terlihat sibuk dengan tugas kelompoknya. Hanya saja yang membuatnya sebal adalah keberadaan Resty diantara mereka.


Saat ini ia hanya bisa menekan kesabarannya. Biar bagaimana pun bukan suatu kemustahilan Alex bisa satu kelompok tugas dengan Resty, sebab mereka memang satu kelas.


Wanita itu memang sengaja menelpon Alex untuk menyapanya. Padahal sebenarnya ia bisa bercakap langsung dengannya karena jarak antara ia dan Alex berkisar beberapa meter saja.


"Janji ya? Awas kalo ingkar lagi." pinta Donita penuh harap.


"Iya. Janji." Alex menyetujuinya. Karena ia sendiri sebenarnya juga ingin membicarakan sesuatu dengan Donita.


"Mm, kita bertemu di cafe biasanya ya, Sayang."


"Siap."


"Aku tunggu loh."


"Eh, kenapa nggak berangkat bareng saja?" tawar Alex.


Ia berencana nebeng bersama Donita. Sebab kondisinya yang harus irit uang, mengharuskannya untuk pandai pandai mengatur pengeluaran.


"Nggak bisa, Sayang. Satu jam lagi aku ada pemotretan. Kalo kamu berangkat bareng aku, bukannya kamu entar malah bolos masuk kelas." terang Donita.


Alex hanya bisa mendengus pasrah. Ia jadi teringat pesan kedua orangtuanya untuk menjadi anak yang rajin. Meski itu bukan seperti Alex yang biasanya, cuma apa salahnya berubah secara perlahan.


"Baiklah." balasnya kemudian. Lalu sambungan telpon itu ia akhiri dan kembali fokus dengan tugas kelompok yang sedang dirembuk bersama teamnya.


"Uuuh.... Akhirnya beres juga." seru Ika, dengan tarikan nafasnya merasa sangat lega.


Tugas kelompok yang sebenarnya masih akan dikumpulkan besok, dapat rampung sehari sebelumnya. Dan otomatis membuat mereka bisa berleha-leha sejenak dari pada melihat sebagian kelompok yang lain yang masih terlihat sibuk dengan tugas kelompok yang belum kelar.


"Resty, selesai kelas kita ke nonton yuk?" ajak Ika, merasa butuh refreshing otak, padahal tugasnya itu semua dikerjakan oleh Alex seorang.


"Nggak bisa. Pulang dari sini aku ada janji sama kang servis mobilku." tolaknya, apa adanya.


Ika malah melirik sengit kepada Alex. "Gara-gara kamu sih..." selorohnya sebal, teringat kejadian kemarin dengan mobil Resty.

__ADS_1


Pria itu hanya bisa terdiam tanpa pembelaan apa-apa. Mau membela pun ia sendiri sampai sekarang masih belum tahu pasti bagaimana kronologinya.


"Eh, sudah mau masuk kelas nih. Yuk, Ka." ajak Resty.


Ika langsung mengiyakan tanpa banyak omelan lagi. Meski sebenarnya masih merasa sebal dengan pria yang ikut-ikutan mengekor dibelakangnya.


"Hai, Lex." sapa Cello, ditengah-tengah langkah mereka menuju kelas.


Alex berhenti sejenak, menunggu ketiga temannya yang berjalan mendekat kepadanya.


"Liburan ini ada rencana kemana?" tanya Cello. Sedangkan Ryan dan Varo juga menatapnya menunggu jawaban Alex.


"Nggak ada rencana. Liburan sekarang aku bokek parah." akunya.


"Hiis, Kamu! Mana ada anak sultan bokek?" seloroh Varo, merasa ucapan Alex hanya gurauan saja.


"Beneran. Serius malah." Alex sampai mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V.


Ketiga temannya itu hanya terdiam tanpa bisa berkata-kata lagi. Menurutnya bisa saja Alex saat ini masih belum memiliki rencana liburan kemana. Tetapi besok bisa saja ia berubah pikiran.


"Sudah ya, aku masuk kelas dulu."


"Wiih... Kesambet apa kau?" Ryan langsung menggodanya, yang menurutnya Alex lagi kerasukan setan putih.


"Woi, ada mangsa baru." seloroh Cello begitu saja, saat tak sengaja melihat seorang mahasiswi melintas disampingnya.


Ryan dan Varo sama-sama tersenyum devil. lalu tak lama setelah itu mereka bertiga melancarkan aksi usilnya. Menjahili dan menggoda target yang dirasa pasti seru menurut mereka.


Waktu berlalu begitu cepat. Hingga tak terasa kelas terakhir telah usai. Dan tidak ada yang menyangka kalau Alex seharian ini benar benar menjadi mahasiswa rajin dan tekun. Bahkan dosen Budi sendiri sampai menatap heran melihat kelakuan mahasiswa badungnya yang ada kemajuan walau masih sehari ini. Dan semoga saja pria itu bisa terus berubah hingga sampai lulus nanti. Itulah harapan besar yang terbesit dihati pak Budi.


Resty pulang dijemput oleh Benny, sang sopir pribadi keluarganya. Sedangkan Ika terus melanjutkan acara menontonnya dengan teman yang lain. Dan Alex berencana menemui Donita yang rupanya sudah menunggu dirinya di cafe tempat biasa mereka bertemu.


Pria itu terpaksa nebeng tumpangan di mobil Cello, saat tadi tak sengaja melihat Cello akan keluar dari kampus. Selama perjalanan itu Alex sedikit bercerita kepada Cello tentang keadaan dirinya yang sekarang. Karena memang dari ketiga temannya itu, Alex hanya lebih akrab dengan Cello dibanding keduanya.


"Aku kalau jadi kamu paling sudah stress." tutur Cello, saat sudah selesai mendengar curhatan Alex mengenai penarikan semua fasilitas miliknya.


"Untungnya aku bukan kamu."


Dan Cello hanya bisa berdecih, walau sebenarnya yang dikatakan Alex ada benarnya.


Bayangkan saja, biasa hidup serba ada, lalu secepat membalik tangan berubah drastis menjadi melarat dan harus menumpang hidup dengan orang, siapa yang tidak frustasi memikirkannya?


Tetapi rupanya Alex tidaklah begitu. Ia terlihat sangat tenang, walau sebenarnya juga merasa tidak tenang memikirkan bagaimana nasib papa mamanya andai tidak bisa menyelesaikan masalah perusahaan yang sudah dirintisnya dari jaman berkembang menjadi lebih berkembang seperti sekarang.

__ADS_1


"Aku turun didepan, Cel." ucap Alex, begitu melihat cafe yang ia tuju sudah didepan mata.


Cello berhenti sesuai permintaan Alex. Sebelumnya ia juga melihat kalau ada Donita di cafe itu juga.


"Janjian nih?" godanya kemudian.


Alex hanya menyeringai sekilas. Lalu setelah itu ia keluar dari mobil itu, dan Donita melihatnya saat Alex turun dari mobil Cello.


"Kamu telat hampir setengah jam." Donita mulai mengintrupsi sebal saat Alex sudah duduk didekatnya.


"Maaf, tadi aku masih cari tumpangan dulu." akunya, yang seketika membuat kening Donita mengernyit penuh tanya.


"Memangnya mobil kamu kemana?"


"Nggak ada."


"Motor?"


"Nggak ada juga."


"Nah trus?"


"Trus apa? Ya aku nggak punya apa-apa sekarang."


"What?!"


Donita membulatkan kedua matanya. Tentu ia sangat kaget mendengar itu, hanya ia masih tak mau langsung mempercayainya sebelum mendapatkan bukti yang real.


"Kamu bercanda kan, Sayang?" tangan Donita terulur menyentuh tangan Alex, membawanya masuk kedalam genggaman tangannya.


"Aku serius, Ta."


Donita malah tersenyum, menanggapi apa yang disampaikan Alex sekedar candaan belaka.


Tak lama setelah itu seorang waiters datang membawa makanan dan minuman yang sudah dipesan oleh Donita sebelumnya.


"Jangan minta aku yang bayar ya, aku harus irit uang." seloroh Alex seketika.


Lagi lagi sukses membuat Donita ternganga tak percaya. Apa benar Alex sudah bangkrut?


Sedangkan Alex langsung saja mengeksekusi makanan didepannya, sengaja dibuat seperti orang yang sangat kelaparan. Hingga membuat wanita yang sedari tadi sibuk mencermatinya itu mendobrak meja dengan cukup keras.


Brak!

__ADS_1


*


__ADS_2