Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 67


__ADS_3

Perlahan Resty membuka pintu kamar Alex. Sebenarnya ia tak enak sendiri masuk lagi ke kamar itu seorang diri, tetapi bila melihat kondisi Alex yang butuh pertolongan membuatnya mengesampingkan perasaannya yang mulai berdesir tak karuan.


Terlihat Alex kembali membuka mata saat tahu ada seseorang yang masuk ke kamarnya. Setelah tahu itu Resty, ia malah mengulas senyum tipisnya meski kepalanya terasa cenat cenut.


Resty mendekat kepada Alex. Sungguh ia sangat tidak menyangka jika akan merawat Alex hari ini. Bahkan ia sendiri seakan lupa bahwa pernah berjanji untuk akan mendiaminya saja. Apalagi dengan keberadaan Alex disini, tentu membuat rasa penasarannya semakin menjadi.


"Nih," Satu kata singkat keluar dari mulut Resty. Sedang tangannya mengulurkan segelas air dan sebuah obat yang siap diminum.


Alex bangun dan duduk sambil bersandar didinding kamar. Tangannya meraih apa yang diberi Resty kepadanya. Tanpa mengulur waktu dan bertanya itu obat apa, pria itu langsung saja meminumnya.


"Makasih, Res." ucapnya kemudian.


"Hem," Resty hanya bergumam.


Sesaat keduanya saling terdiam. Alex yang tertunduk dengan wajahnya yang masih pucat, sedangkan Resty sendiri masih berdiri tertegun menatap Alex yang seperti berubah total dari Alex yang sebelumnya.


"Kamu pasti penasaran kan kenapa aku bisa ada disini?" tanya Alex. Kali ini mereka kembali saling bertatapan.


Resty bergeming saja. Tentu ia sangat penasaran. Tetapi ia tak mau memaksa Alex menceritakan itu sekarang. Mengingat kondisinya yang masih sakit, tentu pria itu membutuhkan istirahat yang cukup.


"Aku akan menceritakannya, tapi--"


"Kamu istirahat saja. Nggak usah banyak mikir. Mau cerita iya, nggak mau cerita juga nggak papa. Tapi nggak sekarang kan? Kamu masih sakit begini." ujar Resty, terkesan sudah lebih banyak bicaranya kepada Alex.


Alex menyeringai tipis. Ia sangat senang saat tahu Resty tak lagi acuh kepadanya. Mungkin kemarin itu Resty masih kaget dengan keberadaannya, tetapi bisa saja saat ini berubah seperti biasanya walau nada bicaranya memang agak ketus didengar. Rupanya sakit Alex kali ini membawa hikmah. Membuat hubungan keduanya kembali biasa dan tak lagi seperti orang asing.


"Ngapain senyum-senyum?" Resty bertanya heran.


"Senang aja." sahut Alex singkat.


"Lagi sakit kok bilang senang. Aneh!" Resty mulai salah arti dengan maksud ucapan Alex.


Senyum pria itu semakin merekah, membuat Resty semakin tak habis pikir dengan apa yang sebenarnya terjadi dengannya.


Perlahan Alex kembali merebah. Sepertinya efek obat itu mulai bekerja sehingga membuatnya merasa ingin tidur. Perlahan kedua mata itu terpejam rapat, tetapi tidak dengan mulutnya yang masih bisa bersuara.


"Resty," sapanya pelan.

__ADS_1


Resty tak menyahut, tetapi matanya masih menatap lekat pada Alex yang perlahan mulai terbuai dalam peraduan mimpinya. Dengkuran halus itu samar-samar berbunyi, menandakan jika pria itu sudah benar-benar masuk dalam alam tidurnya.


Perlahan Resty lebih mendekat kepada Alex yang sudah tertidur pulas. Senyum kecilnya seketika terbit, tiba-tiba merasa damai melihat Alex tertidur begini walau kondisinya sedang tidak sehat. Tangannya terulur untuk mengambil selimut tipis yang berada di ujung kaki Alex. Lalu tanpa sungkan lagi gadis itu menyelimuti tubuh Alex dengan begitu lembut. Bahkan telapak tangannya masih mendarat di pipi Alex, sekedar ingin mengecek lagi bagaimana suhu tubuh pria itu yang rupanya masih tak ada perubahan.


"Apa harus dikompres biar cepet turun demamnya?" gumamnya sendiri.


"Tapi masa aku lagi yang mau ngerjainnya, kan ada Ayu?"


"Tapi kalau aku nyuruh Ayu--"


Resty melihat wajah Alex lebih intens lagi. Seketika begidik ngeri sendiri saat tiba-tiba pikirannya membayangkan yang aneh-aneh andai ia jadi memasrahkan Ayu saja yang merawatnya.


"Entar tambah kesenengan tuh anak." gerutunya lagi.


"Ma... Mama..."


Lagi lagi Alex mengigau memanggil mamanya. Hingga tanpa sadar menggenggam tangan Resty begitu erat, beranggapan jika tangan itu adalah mamanya.


Resty kembali terdiam. Meski ia masih belum tahu dengan apa yang terjadi, tetapi melihat Alex yang terus mengigau mamanya saat Alex sakit begini ia bisa menebak jika Alex sedang merindukan sosok mamanya saat ini.


"Ah, iya, hape." Resty kembali teringat dengan ponsel milik Alex. Karena ia sudah bertekad akan menghubungi mamanya Alex walau tanpa seijinnya.


Perlahan Resty melepas genggaman tangan Alex. Begitu terlepas gadis itu segera mencari hape milik Alex hingga ke seluruh bagian yang ada di kamar itu, tetapi hasilnya nihil.


"Apa jangan-jangan sudah nggak punya hape?" terkanya kemudian, saat sudah buntu mencari benda itu yang tak kunjung ketemu.


Mengingat keberadaan Alex disini menjadi seorang penjaga di rumah ini, bisa jadi sesuatu yang teramat genting telah benar-benar terjadi pada pria itu.


Resty memilih segera keluar dari kamar itu. Tujuannya sekarang adalah ingin menghubungi Ika. Mungkin sahabatnya itu mendengar kabar apa-apa di kampus, lebih-lebih kabar tentang Alex juga.


Saat belum masuk ke kamarnya, Resty kembali berpapasan dengan Ayu. Membuat langkah kakinya berhenti sejenak untuk sekedar menyapa Ayu.


"Tadi kemana lagi, Yu? Aku cari kamu tapi tiba-tiba pergi lagi."


"Eh, itu Mbak, Ayu-- ke toilet lagi." jawabnya sedikit cengengesan.


"Sepertinya perut Ayu agak nggak beres deh, Mbak."

__ADS_1


"Sudah minum obat?"


"Sudah barusan. Tapi Ayu ijin istirahat setengah hari ini, boleh ya Mbak?" ujar Ayu.


"Ya silahkan. Kalau tahu lagi nggak enak badan, masa masih harus kerja. Santai aja lah, Yu. Aku nggak marah. Ku rasa eyang pasti maklum entar."


Setelah berkata itu Resty kembali melangkah menuju kamar. Dan Ayu juga pergi menuju kamarnya.


Resty segera meraih ponselnya yang tergeletak diatas kasurnya. Mulutnya seketika menganga saat tahu ada belasan panggilan tak terjawab dari Ika, membuatnya langsung menghubungi ulang sahabatnya itu.


"Aduh, kemana aja sih, Res?" cerca Ika, saat mereka kembali bertelponan.


"Iya, Sorry. Tadi aku masih diluar, hape nggak aku bawa. Ada apa, Ka?"


"Ada info penting, Bestie." suara Ika berubah nada, seperti sangat bersemangat akan menceritakan info itu kepada Resty.


"Info penting apa?"


Kali ini Resty membuka jendela kamarnya, dan langsung duduk di papan kayunya.


"Tapi kamu jangan kaget ya?"


"Info apa sih? Bikin tambah kepo aja."


"Sumpah dulu, baru aku mau bilang."


"Penting banget ya, sampe pake sumpah-sumpah segala?"


"Sangat sangat penting. Karena ini menyangkut dengan cowok rese itu."


"Cowok rese?"


Terdengar helaan nafas Ika yang berhembus kasar.


"Iya. Cowok rese seantero kampus kita. Ketua geng nyebelin itu, yang sekarang lagi jatuh kena getahnya. Rasain!" Ika berkata begitu mantap, seakan sedikit puas mendengar kabar itu dari seorang teman yang mengabarinya tadi.


"Maksud kamu siapa, Ka?" Resty mulai sedikit ragu. Ia tahu pria yang dimaksud Ika, tetapi masih belum berani menebak takut hanya salah orang saja.

__ADS_1


"Si Alex, Resty..."


*


__ADS_2