Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 22


__ADS_3

"Auww... Auww..."


Alex meringis kesakitan sambil memegang sebelah kakinya yang sengaja diinjak oleh Resty. Sedangkan gadis itu malah tersenyum puas melihat wajah Alex yang memerah efek menahan rasa berdenyut nyeri yang luar biasa.


"Cemen!" ucap Resty, sambil mengacungkan jari tengah miliknya dihadapan Alex.


Kemarin saja saat berkelahi dengan preman itu Alex terlihat sangat keren dan macho. Sekarang hanya diinjak kakinya saja reaksinya lebay sekali menurut Resty.


Tiba tiba saja muncul ide konyol dibenak Resty. Gadis itu pun meraih ponselnya dari dalam tasnya, lalu sengaja merekam Alex yang sedang jingkrak jingkrak sambil memegang kakinya.


"Kalo aku videoin keren juga nih. Bisa aku sebar di grup kelas. Kalo ketua geng The Fly sangat lebay sekali." ucapnya, sambil terus merekam Alex.


"Eh.. Eh.. Stop nggak!" Alex berusaha mengambil handphone Resty, tetapi Resty masih bisa mempertahankannya.


"Makanya jangan main main sama aku. Sekarang kamu pilih, mau aku langsung kirim video ini di grup kelas atau ambil kunci mobilku sekarang. Ayo pilih?"


Resty mulai ancang-ancang siap mengirim video itu di grup kelas mereka. Terlihat wajah gusar Alex, sangat lucu kan jika hal itu tersebar luas di kampus. Bisa-bisa nanti dirinya bakal turun pamor sebagai ketua geng.


"Ah, sial! Lagian kenapa harus berdenyut sekali sih nih kaki?" Alex mengumpat kesal pada diri sendiri yang begitu lemah hanya karena terinjak kakinya.


Melihat Resty yang terus tersenyum puas, seakan sudah menemukan titik kelemahan Alex untuk menggetaknya, tentu membuat Alex seketika menemukan ide untuk balik membalasnya. Bukan sebuah balasan yang menyakitkan untuk Resty, ini hanya sebuah balasan yang mungkin bisa membuat Resty spot jantung saja.


Alex beranjak mengikis jaraknya dengan tatapan devil darinya, membuat Resty mundur perlahan selangkah demi selangkah. Pria itu sengaja memasang wajah marah seakan ingin menerkam mangsanya tiada ampun. Hingga sampai Resty berhenti mundur karena sudah mentok bersandar di dinding.


Dalam sesaat mereka masih saling tatap. Sangat kentara jika saat ini Resty begitu ketakutan. Ia tak menyangka ulah isengnya itu akan membuat Alex semarah ini.


Bibir Resty bergetar ingin mengucapkan sesuatu lagi tapi tiba tiba saja terasa kelu. Sedangkan Alex terus menguncinya dengan tatapan matanya dengan jarak yang begitu dekat.


Sesuatu yang kenyal beraroma permen strawberry sungguh menggoda naluri Alex. Meski tergoda untuk menyicipinya tetapi bukan sekarang waktunya. Ia tak mau menambah kesan dirinya sebagai pria brengsek yang berani berulah disaat ia masih terikat hubungan dengan Donita.


Jakun Alex bergerak naik turun, pertanda sekuat hati menahan diri, hanya bisa menelan saliva sebagai pengganti. Semakin lama hanya saling bertatap membuatnya bertambah yakin jika ia sudah benar benar menyukainya, juga ingin memilikinya.


"A-- Alex," suara Resty masih terbata. Ia pun memberanikan diri mendorong dada Alex dengan kedua tangannya.


"Bahaya! Kenapa Alex jadi begini? Ya ampun... Sumpah! Aku nggak bakal main main lagi sama Alex. Benar benar meresahkan!" Batin Resty mulai tak tenang.


Dug dug dug dug


Detak jantung Resty terasa semakin berdegup melebihi biasanya. Baru kali ini ia seintim ini dengan lelaki. Entah kenapa pula kakinya terasa kaku untuk sekedar bergeser dari kungkungan pria itu.

__ADS_1


Alex masih betah menatap Resty yang sama sekali tiada bosan dipandang. Garis wajahnya yang ayu dan terlihat kalem sungguh menjadi daya pikat tersendiri bagi setiap kaum adam yang melihatnya.


Perlahan Alex pun mencondongkan wajahnya seakan ingin mencium, membuat Resty reflek memalingkan wajahnya ke samping dengan mata yang terpejam rapat.


Alex hanya menyeringai tipis melihat Resty yang begitu. Sebenarnya ia tak berniat mengerjai Resty seperti ini. Hanya saja melihat pipi mulusnya sudah berada didepan mata, membuatnya tergerak untuk menyambanginya.


Cup.


Sebuah kecupan hangat mendarat di pipi Resty. Membuat si pemilik pipi seketika membuka mata lebar, merasakan sesuatu yang lembut mendarat di pipi mulusnya.


"Hmm, Alex...!!"


"Auw... Auw... Auw... Sakit, Ma. Ampun sakit..."


Lagi lagi Alex meringis kesakitan saat tiba tiba mamanya muncul dan langsung menarik telinganya.


"Nakal kamu ya!" ucapnya, sangat gemas melihat anaknya bertingkah dengan anak gadis orang hingga mamanya melihat jelas rona merah itu di diri Resty.


"Iya, Ma. Ampun Mama, lepasin dulu, nanti kupingku bisa lepas."


Mama Alex menyudahi aksi jewer menjewernya, masih dengan tatapan gemas dan sama sekali tak menyangka anaknya itu akan nekat berbuat begitu di rumahnya, tepatnya saat ini mereka sedang berada di ruang tamu.


"Mama kok sudah disini? Bukannya barusan ke kamar? Dapat kado apa dari papa?" cercanya, tentu ini hanya sebagai pengalihan topik saja.


"Kalau mama nggak keluar, pasti kamu akan lebih mesum lagi kan?" Tangan mama Alex terangkat lagi, tetapi Alex lekas menghindarinya.


"Siapa yang mesum, Ma? Sama anak sendiri jangan buruk sangka dong.." Alex beranjak pergi, masih sambil mengusap-usap telinganya.


"Sial! Memalukan sekali dijewer mama didepan Resty. Aaaargh....." Alex bergumam sendiri sambil terus melangkah menuju kamarnya.


"Resty.." sapa mama Alex.


Resty hanya mengangguk kecil, lengkap dengan senyum tipisnya kepada mama Alex.


"Maafkan Alex ya? Tante harap kamu masih mau berteman sama Alex, meski dia kadang suka usil. Tante sudah putus harapan bagaimana caranya biar anak itu nggak berulah lagi di kampus."


"Jadi mamanya Alex sudah tahu kalau Alex sering berulah?" Batin Resty bersuara.


"Tante sering dengar cerita dari teman teman tante, katanya anak seperti Alex itu akan berhenti berulah kalau sudah punya pacar. Jadi.."

__ADS_1


"Tapi Alex sudah punya pacar kok, Tan.." sela Resty, sengaja memotong pembicaraan mama Alex meski ia tahu hal itu sangatlah tidak sopan dilakukan.


"Iya kah? Kok tante nggak tahu? Alex juga nggak pernah cerita sama tante." Mama Alex nampak kaget saat mendengarnya.


Resty mengangguk meyakinkan. "Tante bisa tanyakan langsung sama Alex."


Mama Alex menghela nafasnya. Mungkin lebih baik harus menanyakannya nanti. Kalau perlu membinanya juga. Sebab tadi Alex begitu yakin saat meminta do'a mamanya untuk bisa memiliki Resty. Mungkinkah Alex berniat memiliki dua cinta? Ini tidak bisa dibiarkan.


"Nyonya," Bibi Siti muncul menyapa mama Alex.


"Masakannya sudah siap." tuturnya.


"Minta tolong panggilkan Alex, Bi. Suruh cepat turun." titah mama Alex yang kemudian bibi Siti langsung beranjak menuju arah kamar anak majikannya.


"Ayo, kita makan dulu." ajak mama Alex kepada Resty.


"Terimakasih, Tante. Tapi tidak usah, saya mau langsung pulang saja." tolak Resty.


"Tidak baik menolak rejeki. Ayo!" Seketika mama Alex merangkul Resty, menuntunnya melangkah ke ruang makan.


Lagi lagi Resty merasa tak enak hati untuk menolaknya lagi. Rasanya tak tega saja merusak hari bahagia mama Alex yang sengaja memasak spesial dihari spesialnya juga.


"Duduk sini. Tante ke kamar dulu." ucap mama Alex, setelah menyuruh Resty duduk di kursi meja makan.


Dan kemudian mama Alex beranjak menuju kamarnya, mungkin untuk memanggil suaminya agar segera bergabung juga.


"Mbak," sapa bibi Siti kepada Resty.


Resty menanggapinya hanya dengan tersenyum tipis.


"Mbak pacarnya den Alex ya?"


"Iiish... Kenapa semua orang rumah ini mengira aku pacarnya Alex? Aaah.... Menyebalkan!" batin Resty berteriak memberontak.


"Bukan, Bi." Resty menjawab, juga dengan gelengan kepala meyakinkan.


"Ooh... Pasti masih calon pacar ya?"


"Aah...?"

__ADS_1


*


__ADS_2