Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 138


__ADS_3

Alex dan Resty begitu khusyuk mendengarkan berbagai rentetan pertanyaan dari wartawan yang mewawancarai Donita. Tetapi rupanya pertanyaan itu masih bukan tentang kehamilannya, melainkan masih seputar kariernya yang digadang-gadang sukses melejit hingga kemungkinan besar akan go international.


Alex yang mendengarnya seketika mendengus kesal. Kalau memang hanya hal ini yang dibahas, suatu kerugian besar Alex datang kesini.


Mendadak ia teringat dengan Cello. Dari dia lah Alex tahu kabar ini, makanya ia pun segera menghubungi Cello lagi.


"Kamu bohongin aku?" cercanya seketika, begitu telponnya itu dijawab oleh Cello.


"Bohong apaan?"


"Hei! Donita disini bukan mau ngakuin bapak dari bayinya Bodo!"


"Wou, woles Bro!" Cello masih berusaha santai meski telah menerima perkataan tak mengenakkan dari Alex.


"Aku tahu hal ini dari Ryan," akunya kemudian.


"Ryan? Ck!" Alex berdecak semakin kesal. Rupanya hal ini bukanlah Cello sebagai orang pertama sumber kepercayaannya.


"Tapi ada yang mencurigakan, Lex," seru Cello kemudian.


Alex hanya bergeming tanpa mau menimpali apapun lagi.


"Varo tiba-tiba nggak ada kabar," ucapnya yang seketika membuat kening Alex berkerut.


"Nggak ada kabar gimana?" tanya Alex mulai penasaran.


"Menghilang."


"Serius?"


"Tiba-tiba ponselnya nggak aktif. Tadi aku sempat mampir ke rumahnya, tapi kata pembantunya sudah semalam Varo nggak pulang."


Alex terdiam sambil berpikir panjang. Setahunya Varo tidak pernah berbuat nekat hingga harus menghilang atau kabur dari rumah. Tetapi memang semenjak Alex menikah, ia memang sudah jarang bergaul dengan ketiga anggota gengnya itu.


"Oke, Cel. Entar aku coba hubungi Varo juga."


Lalu Alex menyudahi sambungan telponnya begitu tak sengaja matanya membentur sosok yang tak asing lagi duduk tak jauh dari mereka duduk. Hanya saja orang itu membelakangi dirinya, jadinya orang tersebut tidak tahu jika ia dan Resty juga ada ditempat ini.


"Sayang," Alex menyapa Resty yang terlihat sibuk sendiri dengan ponselnya.


"Hem," Resty hanya berdeham tanpa mau mengalihkan pandangannya.


"Emmakmu gercep juga," ucap Alex yang seketika membuat Resty menatapnya penasaran.

__ADS_1


"Tuh!" Alex menunjuk dengan dagunya pada sosok wanita seumuran Resty yang datang dengan mengenakan kaca mata hitam juga berkerudung panjang sebagai penyamaran diri agar tidak mudah dikenali orang lain.


Resty mengikuti arah Alex menunjuk. Seketika langsung menepuk gemas lengan Alex setelah menyadari siapa yang dikatakan suaminya itu.


"Emmak.. Emmak! Biar bagaimana pun dia juga emak mertuamu."


"Ya ya ya..." Alex menyahut malas.


Entah mengapa ia masih suka tak terima menjadikan Ika sebagai ibu mertuanya. Walau sebenarnya telah berusaha ikut menghormatinya sebagaimana penghormatan menantu kepada mertua.


"Sayang, aku panggil aja ya? Kasihan duduk sendiri."


Segera Resty mengirim pesan singkat kepada Ika, memberitahunya jika ia juga berada ditempat yang sama. Begitu pesan itu dibaca oleh Ika, wanita itu segera menoleh mencari keberadaan Resty. Setelah ditemukan barulah Ika berpindah tempat bergabung menjadi satu meja dengan anak sambungnya itu.


"Assalamu alaikum, mak Ika," sapa Alex seketika, tentunya dengan nada candaan darinya.


"Wa alaikum salam." Ika menyahut ketus.


Tetapi kemudian memilih mengabaikan keberadaan Alex setelah terlibat obrolan seru bersama Resty. Dalam sekejap mendadak Alex berasa dikacangin. Benar-benar tak dianggap keberadaannya oleh duo bestie itu.


"Btw kamu kok bisa disini juga?" tanya Resty kemudian.


"Aku harus jadi garda terdepan untuk melindungi mas Tommy tersayang," balasnya sedikit jumawa.


"Diem aja kau menantu kurang ajar!" hardik Ika, sungguh gemas sekali harus berhubungan dekat dengan sosok menyebalkan seperti Alex.


Dari dulu ia memang tak pernah baik dengan Alex si tukang jail itu. Oleh karena sebab musabab Resty, sahabatnya jadian dengannya, ditambah lagi keadaan menakdirkannya harus menjadi ibu mertua baginya, mau tidak mau akan sering berinteraksi dengannya.


"Ampun, Mak. Jangan sembarangan mengutuk menantumu yang tampan begini," ucap Alex dengan bayolannya yang pede tingkat provinsi.


Ika langsung muntah angin saat mendengarnya. Tetapi seketika membuat Resty tertawa kecil demi melihat kelakuan dua orang tersayangnya itu.


"Coba kalian begini kalau ada papa. Mm... Kira² reaksi papa gimana ya?"


"Ya jangan sampe tahu lah." Bersamaan Alex dan Ika mengatakannya.


Resty tercengang sesaat. Tetapi kemudian hanya bisa terkekeh lagi seperti sebelumnya.


"Eh, itu--" Alex langsung membulatkan matanya begitu melihat adanya seseorang yang dikenalnya duduk berjejer dengan Donita.


"Apa karena ini Varo tiba-tiba menghilang?" Alex bertanya-tanya dalam hati.


"Eh, bapak-bapak didepan tuh siapa sih? Perasaan ganti-ganti terus cem-cemannya Donita," seloroh Ika tiba-tiba.

__ADS_1


Resty hanya menghedikkan bahunya pertanda entah. Tetapi berbeda dengan sorot mata Alex yang mulai menyala syarat penuh amarah begitu melihat dengan jelas Donita dan lelaki yang Alex kenal sebagai papanya Varo saling bergandengan tangan begitu mesra.


"Shiit!!!" Alex menggebrak mejanya cukup keras. Tetapi kemudian segera beranjak dari tempat itu begitu saja.


Disusul kemudian Resty turut menyusul Alex, Ika pun juga ikut mengejar kemana mereka pergi.


Alex masuk ke mobilnya. Membanting pintu mobilnya dengan keras saat akan menutupnya. Resty ikut masuk, pun demikian dengan Ika yang juga ikut masuk dan duduk di kursi belakang.


"Ada apa, Sayang? Apa yang terjadi?" Resty bertanya selembut mungkin. Dengan mengelus-elus lengannya agar amarah suaminya itu berangsur tenang.


"Kasihan Varo," Alex menjawab, tetapi tangannya mencengkram erat pada setir mobilnya.


"Varo?" Resty dan Ika bertanya bersamaan.


Alex mengangguk lemah. Walau masih tidak yakin dengan apa yang dilihatnya itu, tetapi dari sini Alex sudah bisa mengambil kesimpulannya. Ditambah lagi dengan menghilangnya Varo yang masih belum aktif ketika dihubungi.


"Varo kenapa, Yang?" Resty bertanya lagi.


"Lelaki yang duduk bersama Donita itu adalah papanya Varo," aku Alex yang sudah pasti membuat Resty dan Ika ternganga kaget.


"Apakah kemungkinan ayah dari anaknya Donita adalah--" Ika tak jadi melanjutkan prasangkanya.


"Bisa jadi." Alex menyahut sedikit ragu. Sebelum ia memastikannya dulu dengan Varo, ia tak mau langsung percaya begitu saja.


"Astaga!" Resty membungkam mulutnya sendiri.


Beralih Resty dan Ika saling melempar tatapan. Keduanya sama shock nya mendengar kabar ini. Dan Alex masih terlihat amat gelisah, memikirkan nasib salah satu sahabatnya yang belum ada kabar juga.


"Ya sudah lah, Yang. Kamu tenang dulu. Perlahan kita cari Varo sama-sama. Mungkin saat ini Varo memang sengaja menghindar. Tetapi nanti pasti muncul juga berteman dengan kamu lagi, bareng Cello dan Ryan juga." Resty berusaha menenangkan perasaan suaminya yang mendadak kacau.


"Paling tidak kita sudah benar-benar aman dari serangan wanita tak tahu malu itu. Kalau dia mengakui papanya Varo sebagai ayah biologisnya, bukankah kamu sama mas Tommy akan aman?" ucap Ika.


"Iya sih. Kamu benar juga," sahut Alex kemudian.


"Kalau begitu ayo kita pergi cari makan," usul Ika.


"Nggak masuk kelas, Mak?" Resty ikut-ikutan Alex memanggilnya dengan sebutan emmak.


"Sekali-kali bolos nggak pa-pa dong..."


"Ayo! Gassss...."


Alex langsung menekan pedal gasnya. Langsung tanggap jika soal bolos membolos. Mereka bertiga pun akhirnya pergi mencari tempat makan yang lengkap dengan fasilitas karaokenya. Menyanyi dengan riang meskipun dengan nada yang agak sumbang didengar, adalah solusi cukup baik untuk melepas penat dan beban pikiran selama ini.

__ADS_1


*


__ADS_2