
Setelah melewati drama dilarang mandi oleh Resty sore itu, akhirnya Alex baru bisa lepas dari dekapan istrinya tepat saat adzan maghrib berkumandang. Usai membersihkan badan, keduanya sama-sama menggelar sajadah untuk menunaikan kewajiban tiga rokaatnya. Tak lupa keduanya sama-sama memanjatkan doa kebaikan dengan segenap rasa syukur atas kehadiran buah hati mereka di rahim Resty.
"Sayang, kita harus kasi tahu papa mama kabar ini," ucap Alex antusias sekali, sesaat setelah mereka usai sholat.
Resty menggeleng tak setuju.
"Kenapa?" tanya Alex heran.
"Ini masih terlalu kecil. Aku takut mereka terlalu berharap tapi--"
Buru-buru Alex meletakkan satu jarinya di bibir Resty. Hingga wanita itu urung melanjutkan bicaranya.
"Jangan ngomong gitu. Nggak baik," ucap Alex.
Resty akhirnya diam, tetapi sejujurnya ia masih tidak setuju kalau papa dan juga mertuanya tahu kondisinya sementara ini. Biarlah nanti setelah kandungan itu benar-benar sudah kuat di rahimnya barulah Resty akan memberitahunya. Apalagi ia juga masih belum memeriksakan kandungannya itu ke dokter. Hitung-hitung buat surprise juga. Karena seminggu lagi Alex berulang tahun.
"Trus kapan dong ngasi tahu mereka?" tanya Alex lagi.
"Tunggu setelah aku periksa ke dokter. Aku harus pastikan dulu ini baik-baik saja apa tidak," sahut Resty sambil mengusap perutnya yang rata.
Alex tersenyum kecil. Lantas pria itu mulai merebah sambil berbantal paha Resty. Memiringkan badannya untuk bisa mencium perut istrinya.
"Anak papa harus kuat ya, Nak," ucapnya penuh harap.
Resty hanya tersenyum tipis melihat tingkah calon papa yang begitu sumringah sedari tadi. Rasanya wanita itu perlahan mulai menerima kenyataan dengan kehadiran buah cinta di rahimnya saat ini. Melihat suaminya yang terus saja bersabar menghadapi dirinya yang sering berubah moody setelah terdeteksi berbadan dua.
"Kalau begitu besok periksa ya, Yang," ucap Alex lagi.
Resty hanya mengangguk kecil. Jemari tangannya terus saja membelai rambut Alex yang merebah manja di pangkuannya.
"Kira-kira anak kita cowok apa cewek ya, Yang."
"Belum ketemu lah. Paling besok nampaknya masih kecil kayak biji kuaci."
"Ah, kecil sekali?" Alex terheran-heran.
Dan Resty hanya bisa terkekeh melihat respon suaminya yang seperti kebingungan.
Tetapi tiba-tiba saja perut Resty kembali bergejolak. Rasanya ingin muntah lagi, tapi seperti masih tertahan di tenggorokan.
"Mual lagi ya, Yang?" tanya Alex langsung paham begitu melihat perubahan pada wajah Resty.
Resty hanya mengangguk.
"Aku mau minum, Yang. Minta tolong ambilkan air minum hangat," seru Resty yang langsung Alex beranjak keluar kamar untuk mengambil air minum yang diminta Resty.
Tak lama kemudian pria itu datang sambil membawa segelas air hangat permintaan Resty.
"Ini, Yang." Alex segera memberikannya kepada Resty.
__ADS_1
Resty meraihnya, tetapi tak lekas meminumnya, masih mencium-cium aroma minumannya itu.
"Nggak dikasi jeruk nipis ya?" ucap Resty tiba-tiba.
"Nggak. Kan kamu nggak ngomong tadi."
Resty tak jadi meminumnya. Keningnya sudah berkerut saja.
"Mau kasi jeruk nipis?" tanya Alex lagi.
Resty mengangguk dengan wajahnya yang masih cemberut.
Alex mengambil gelas itu dari tangan Resty. Menghela nafas sepenuh dada. Sepertinya setelah ini dirinya harus banyak-banyak stok sabar, sebab menghadapi bumil seperti istrinya itu sering muncul kejutan tak terduga, yang akan menguras tenaga dan juga kesabarannya.
Alex keluar lagi dari kamarnya untuk kembali ke dapur. Di sana pria itu kebingungan mencari jeruk nipis, yang ada hanya jeruk lemon yang tersedia.
Sedangkan mak Asna yang sedari tadi memperhatikan kesibukan Alex itu sudah berusaha menawarkan bantuan, tetapi ditolak secara halus oleh Alex.
Tak ada jeruk nipis, maka jeruk lemon pun jadi. Akhirnya setelah usai dibuat pria itu masuk lagi ke kamarnya.
Senyum kecil Resty terbit begitu Alex kembali datang membawa minuman yang dipintanya.
"Terimakasih, Sayang," ucapnya dengan full senyum.
"Sama-sama." Alex membelai pucuk kepala istrinya saat wanita itu akan meminumnya.
Tetapi baru seujung bibir minuman itu dicicipi, Resty tak jadi meminumnya lagi.
"Jeruk nipisnya habis, Sayang," jawab Alex jujur.
Resty meletakkan minuman itu di nakas.
"Perasaan sama-sama kecut." batin Alex berbicara sendiri. Indra penciuman bumil memang terlalu tajam, sampai-sampai tidak bisa dikecoh olehnya.
"Mau aku belikan di luar?" tawar Alex memberi solusi.
Tetapi Resty lagi-lagi menggeleng kepala.
"Beneran?" Alex memastikan lagi.
Resty tidak menyahut. Tetapi kemudian beranjak dari kasurnya, lalu keluar kamar.
"Masa gitu aja ngambek," gumam Alex sambil mengusap tengkuknya terheran-heran.
Kemudian Alex pergi menyusul istrinya. Rupanya wanita itu sedang berada di dapur.
"Mak Asna," panggil Resty.
"Iya, Mbak." Mak Asna yang kebetulan berada tak jauh di area dapur segera menghampirinya.
__ADS_1
Tetapi demi melihat wajah mak Asna yang sedikut lelah, Resty urung meminta bantuannya.
"Nggak jadi, Mak," serunya kemudian.
"Mak Asna istirahat saja." Alex ikut bersuara.
Mak Asna pun hanya bisa mengangguk patuh dan segera pergi menuju kamarnya.
"Kamu mau apa, Yang? Pingin makan apa, biar aku yang belikan," tanya Alex begitu mereka sudah sama-sama duduk di kursi makan.
"Bingung, nggak selera, tapi perut pingin makan," jawab Resty dengan wajah sendunya.
Alex hanya bisa merangkul pundaknya, membawanya dalam dekapan hangatnya. Pria itu paham bagaimana tak nyamannya kondisi bumil pada awal-awal kehamilan.
"Gini amat rasanya hamil," seru Resty lagi.
"Itu sebagian dari nikmat Tuhan, Yang. Kita harus sabar, jalani saja alurnya. Dan kamu nggak perlu sungkan bilang kalau pingin sesuatu."
Resty mengangguk pelan dalam dekapan suaminya.
"Memang ibu hamil bawaannya suka yang kecut-kecut ya, Yang?" tanya Alex lagi, setelah meneliti istrinya doyan mengkonsumsi yang masam-masam. Bahkan minuman pun mintanya dari olahan jeruk nipis.
"Aku nggak tahu juga." Kali ini Resty semakin merapatkan pelukannya.
"Pindah tempat yuk, di sini nggak nyaman."
Alex menuntun Resty untuk duduk di sofa ruang tengah, karena sebelumnya mereka saling berpelukan di kursi makan.
Begitu sudah sama-sama duduk di sofa, Alex mencari posisi nyaman agar Resty mudah memeluknya lagi. Sesaat mereka saling diam. Belaian tangan Alex cukup mampu mengalihkan mood istrinya yang tidak keturutan ingin minum seduhan jeruk nipis hangat.
Semakin lama saling berpelukan, wanita itu mulai mengendus-endus pada dada bidang Alex. Mencari aroma tubuh suaminya yang entah mengapa ia suka bila suaminya itu sedang berkeringat.
"Geli, Yang. Jangan gini ahh..."
Alex menahan kepala Resty yang sepertinya akan mencium pada area ketiaknya.
"Mau aku berkeringat?" tanyanya dengan sorot mata mencurigakan.
Resty menatapnya resah.
Pria itu berdiri. Lalu dengan sigapnya mengangkat tubuh Resty dalam gendongannya.
"Ayo ke kamar. Aku akan bikin kita keringetan," ucapnya dengan mengerling nakal.
"Itu sih maunya kamu." Resty memukul kecil pada pundak Alex. Dan pria itu hanya menyeringai begitu mendapati istrinya paham dengan kode darinya.
Pria itu membawa Resty masuk ke kamarnya. Merebahkan dengan pelan tubuh Resty ke atas ranjang, memberinya kecupan mesra di keningnya sebelum pria itu memulai kegiatan ninuninu yang akan menguras keringatnya.
Keduanya kembali terlena dalam nikmatnya pernikahan. Mengarungi lembah madu kenikmatan dengan penuh cinta.
__ADS_1
"Sayang, pelan-pelan ya..." ucap Resty saat suaminya itu sudah siap menancapkan pusaka kenikmatannya.
*