Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 111


__ADS_3

Malam kembali menyapa peraduan bumi. Kedua pasangan pengantin baru itu sudah berada dalam kamar. Setelah selesai makan malam tadi, mereka berdua memutuskan masuk kamar untuk segera merehatkan badan.


Hampir seharian menjadi ratu dan raja dalam pelaminan sederhana yang digelar tadi siang, membuat Tommy dan Ika sedikit kelelahan. Tetapi segera bugar setelah mengguyur tubuhnya alias mandi.


Tommy selesai dulu mandinya, bergantian disusul Ika yang kemudian menyusul masuk ke kamar mandi juga. Tetapi didalam sana gadis itu tak segera melaksanakan kegiatannya, hanya berdiam diri menatap pantulan dirinya di cermin.


Seketika gadis itu menjadi resah sendiri. Sebagai pengantin baru tentu ia merasakan gugup luar biasa untuk bisa melewati malam pengantinnya itu. Ini adalah pengalaman pertamanya. Mendadak ia menjadi gelisah, takut suaminya itu mengajak ninuninu malam ini juga.


Lama memikirkan, tiba-tiba perutnya terasa sedikit kram. Mungkin efek stres atau kelelahan menurutnya. Perlahan Ika menarik ulur nafasnya berulang-ulang agar terasa sedikit rileks, tetapi yang ada sekarang punggungnya juga terasa sedikit nyeri.


"Ya ampun... Biasalah tubuh. Cuma malam ini saja kok. Setelah itu kata orang akan nikmat." gumamnya seorang diri, sambil mengusap-usap perutnya yang berangsur lebih membaik.


Saat merasa sudah kembali biasa, Ika segera membersihkan diri. Memakai wewangian ditubuhnya begitu sudah selesai dari kegiatan mandinya. Setelah itu Ika keluar dari kamar mandinya, sebelumnya mengintip dulu dari balik pintu itu berharap sang suami tidur lebih dulu.


Rupanya Tommy tengah duduk berselonjor kaki diranjang bagiannya. Tangannya sibuk mengutak-atik ponselnya hingga tidak merasa jika istrinya itu sedang mengintipnya. Perlahan Ika pun memberanikan diri keluar dari kamar mandi itu, setelah sebelumnya berusaha tetap tenang walau sejujurnya masih tidak tenang.


Aktifitas Tommy terjeda begitu hidung pria itu mengendus wangi parfum yang tak asing baginya menyeruak di ruangan itu. Setelah mendongakkan kepala, rupanya wangi itu berasal dari seseorang yang sudah duduk manis didepan kaca riasnya sembari menyisir rambutnya yang panjang tergerai.


Sesaat tatapan keduanya saling bersirobok melalui pantulan cermin itu. Namun segera Tommy mengulaskan senyum kecilnya, demi membuat keadaan sedikit lebih santai, karena sebenarnya Tommy dapat menangkap jelas sorot gelisah itu dari Ika.


Tidak mungkin juga Ika akan berlama-lama duduk didepan cerminnya itu. Ia pun butuh segera tidur. Walau sejujurnya sangat gugup, perlahan Ika mendekat ke ranjangnya dan ikut berselonjor kaki seperti yang Tommy lakukan.


"Wangi sekali." Tommy menyapanya singkat, tetapi sanggup membuat denyut jantung gadis itu meletup-letup lebih cepat.


Jangankan mau membalas senyum manis suaminya itu, yang ada sedari tadi gadis itu hanya menundukkan wajahnya sambil memilin jemarinya sendiri pertanda gugup bercampur malu yang dirasanya.


Tommy mengerti apa yang dirasakan istrinya itu saat ini. Sudah wajar jika semua gadis akan seperti Ika, selalu merasa gugup tiap mau melewati malam pengantinnya.


Padahal sejujurnya Tommy tak akan menuntutnya malam ini atau kapanpun, bila istrinya itu masih belum siap lahir batin menyerahkan kesuciannya itu padanya.


Tetiba wajah gadis itu kembali meringis, merasakan punggungnya kembali nyeri dan membuatnya tak kuat untuk berlama-lama duduk.


"Ada yang nggak enak? Sakit?" tanya Tommy perhatian sekali. Tubuhnya menggeser lebih mendekat ingin memastikan apa yang sebenarnya terjadi dengan istrinya itu.


"Nggak tahu. Tiba-tiba saja punggungku nyeri," balasnya sambil mengusap punggungnya sendiri.


"Mau aku bantu?" tawarnya ambigu.


"Bantu apa?"


"Pijitin."

__ADS_1


"Hah?"


Ika terperangah seketika. Apakah ini juga bagian dari modus para lelaki untuk bisa menyentuh tubuhnya?


"Mau nggak?" Tommy bertanya lagi. Sejujurnya apa yang ditawarkannya itu sungguh-sungguh. Demi melihat raut istrinya yang meringis menahan rasa nyeri itu, terlihat asli sakit, bukan tipuan karena ingin menghindari malam panjang ini.


"Coba tengkurap," titahnya kemudian.


Ika masih bergeming. Sorot matanya saling beradu cukup lama. Tetiba Tommy menuntunnya dengan memegangi kedua pundak Ika agar bisa merebah diri.


"Jangan takut, aku nggak akan ngapa-ngapain kamu," ucap Tommy.


"Serius?"


"Seriburius." Tommy terkekeh kecil.


"Nggak percaya. Pasti modus, iya kan?"


Kali ini pria itu malah tertawa kecil, membuat Ika menatap horor padanya.


"Kayaknya aku nggak perlu susah-susah modusin kamu. Paling entar kamu sendiri yang rayu-rayu aku."


"Udah nggak sakit lagi punggungnya?" Tommy meraih tangan Ika dari lengannya yang habis menimpuknya barusan.


"Masih," balasnya jujur.


"Kamu punya cream pereda nyeri nggak?"


"Ada di laci."


Seketika Tommy membungkukkan badannya untuk meraih laci di nakas samping Ika. Tentu saja tubuh Tommy sedikit menindih tubuh Ika, membuat denyut jantung gadis itu kembali berdetak diluar normal.


Saat Tommy berhasil mengambil cream pereda nyeri dari dalam laci itu, ia pun menarik tubuhnya untuk duduk lagi. Rupanya Ika sedang memejamkan matanya rapat-rapat, entah apa yang membuatnya begitu, yang ada Tommy semakin gemas saja kepada istri kecilnya itu.


Sengaja pria itu mencapit hidung mancung Ika dengan jarinya, membuat gadis itu spontan membuka matanya lagi.


"Sudah dapat nih, ayo balik badan." ujarnya, sambil mengintrupsi Ika untuk segera membalik tubuhnya.


"Nggak usah, aku bisa sendiri," Ika mengambil cream itu dari tangan Tommy.


"Nggak usah ngeyel. Belajar menurut sedikit sama suami. Tinggal tengkurep menikmati kok nggak mau." Tommy mulai membuka tutup cream itu.

__ADS_1


Mau tidak mau Ika pun membalik tubuhnya untuk tengkurap. Seketika terhenyak kaget saat tangan pria itu memijit pelan punggungnya, padahal masih ada batas pakaian dari tubuh Ika.


"Gimana? Enak kan?" tanya Tommy, masih terus memijiti punggung istrinya dengan sangat lembut.


Ika hanya bergeming. Akui jika pijitan suaminya itu memang terasa mantap, seperti sudah lihai melakukannya.


"Apa biasa nyeri begini kalau kecapean?"


Ika hanya menggeleng kecil.


"Kayaknya ini tanda-tanda aku mau datang bulan," ujarnya yang otomatis membuat tangan Tommy berhenti memijit.


"Emang sudah waktunya datang?"


"Seharusnya sekarang. Bulan kemarin tanggal 21 aku mens nya," jelasnya, sudah tidak sungkan membahas jadwal rutin tamu bulanannya itu dengan Tommy.


Tommy menghela nafasnya pelan. Seketika ia teringat dengan Resty. Anaknya itu hampir tiap bulan akan merasa nyeri perut tiap mau datang bulan. Berbeda dengan Ika yang gejalanya rupanya tidak sama.


"Boleh aku buka?" Tommy memegang ujung piyama Ika.


"Aku mau olesin creamnya," ucapnya lagi.


Karena Ika tidak segera menjawab, Tommy langsung membukanya tanpa permisi lagi. Punggung mulus berwarna langsat itu tereskplor nyata didepan mata. Membuat naluri pria itu berdesir aneh begitu menyentuh punggung itu.


Sedangkan Ika hanya bisa pasrah dibegitukan. Pada akhirnya semua tetap harus dilewati baik itu malam ini atau entah kapan. Tanpa disangka Tommy mendaratkan kecupan hangatnya di punggung istrinya itu cukup dalam. Hasratnya sedikit tergoda, tetapi tetap harus kuat menahan demi terhindar dari istilah putus permainan ditengah jalan.


Tidak kebayang jika ninuninu itu mulai beraksi, kemudian tamu bulanan itu datang saat bersamaan. Kan nggak lucu?


Kedua kalinya Tommy mencium punggung mulus itu lebih lama. Membuat gadis itu berdesir aneh, merasakan sesuatu yang berbeda yang direspon oleh tubuhnya saat ini.


"Aku cicil dari sini dulu," ucap Tommy kemudian.


"Jadi mijit nggak?" seloroh Ika, yang sebenarnya hanya nada pengalihan agar suaminya itu kembali ke tujuan awal.


"Iya." Tommy menyahut pasrah.


Kemudian pria itu mengolesi cream pereda nyeri itu di punggung Ika, dan lalu memijitnya pelan dan pasti nyaman. Jadilah malam pengantin mereka dilewati dengan aksi peralihan profesi Tommy sebagai tukang pijit dadakan.


Duh, nasib!


*

__ADS_1


__ADS_2