Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 49


__ADS_3

Pagi sudah menyapa bumi dengan cuacanya yang cerah. Terpaan sinar matahari yang bersinar, serta suara kicauan burung yang hinggap dipepohonan menjadi khas suasana pagi yang indah.


Resty sudah duduk didepan kaca rias sembari memolesi wajahnya dengan riasan tipis juga dengan tampilannya yang sederhana. Untuk saat ini ia biarkan rambut panjangnya tergerai begitu saja. Sebenarnya hari ini ia sangat malas untuk ke kampus. Tetapi karena malas akan ditanya kenapa sama papanya, maka terpaksa ia memilih masuk kuliah saja.


Cukup lama gadis itu memandangi pantulan wajahnya di cermin. Matanya yang sedikit sembab akibat menangis semalaman sulit ia samarkan. Semoga saja nanti papanya tidak menyadari akan hal ini. Karena Resty sendiri tak tahu harus beralasan apa jika papanya menanyainya nanti.


Hingga sampai dirinya disusul oleh mak Asna untuk turun sarapan bersama papanya, maka kemudian Resty pun keluar dari kamarnya. Langkah kakinya teramat kentara jika sedang malas beraktifitas. Dan rupanya Tommy langsung tanggap dengan keanehan anak gadisnya itu.


"Kenapa, Nak? Pagi-pagi sudah lemes gitu?" tanya Tommy, disaat Resty sudah duduk disebelahnya.


"Nggak papa, Pa. Lemes karena belum sarapan aja." kilahnya, sambil mengambil nasi dan lauk ke dalam piringnya.


Tommy hanya tersenyum tipis. Biarpun sedikit curiga, apalagi melihat mata Resty yang sembab, tetapi Tommy memilih menahan uneg-unegnya. Nanti setelah selesai sarapan ia akan menanyai apa yang terjadi dengan anak semata wayangnya itu.


Anak dan ayah itu menikmati sarapan paginya dengan suasana hening. Nyaris tidak ada obrolan sekecap pun dari keduanya. Hingga sampai mak Asna selesai membereskan makanan di meja itu, baru setelahnya Tommy mengajak Resty duduk sejenak diruang tengah.


"Papa nggak berangkat kerja?" tanya Resty, melihat Tommy seperti tidak keburu ke kantor.


"Papa bisa berangkat agak siangan." sahutnya, seakan Resty lupa kalau papanya adalah CEO plus ownernya, jadi bisa datang ke kantor jam berapa pun sesukanya.


"Gimana kemarin pas ketemu Ziyyan?"


"Batal." Resty menjawab singkat.


"Batal?"


"Iya, nggak jadi ketemuan, Pa."


Tommy pun mulai manggut-manggut. Ia menduga wajah murung anaknya itu karena hal ini, padahal tidak.


"Kenapa bisa nggak jadi?"


Memang saat Ziyyan mengurungkan janji ketemunya itu lupa untuk mengabari Tommy juga. Pikiran yang panik karena mendengar Ziana begitu membuat otaknya hanya berpikir bagaimana kondisi Ziana saat itu.


"Nggak tahu." Resty mengangkat kedua bahunya.


"Cuma bilang maaf nggak jadi ketemu, gitu aja." lanjutnya.


Tangan Tommy terulur untuk membelai pucuk kepala Resty dengan penuh kasih. Ia semakin yakin jika anaknya tak bersemangat pagi ini karena hal itu.


"Biar nanti papa atur lagi pertemuan kalian." ucap Tommy. Dan Resty hanya terdiam saja tanpa berani protes meski dalam hati bersuara jangan, tidak perlu.


"Oh iya, liburan nanti mau kemana?" Tommy mengalihkan ke topik lainnya agar Resty tidak murung lagi.


Resty hanya menggeleng. "Belum ada rencana mau kemana-mana, Pa."

__ADS_1


"Gimana kalau pergi ke rumah eyang Asih?"


Resty berpikir sejenak. Eyang Asih adalah saudara dari neneknya Resty atau adik bungsu dari ibunya mama Bella. Memang sudah hampir tiga tahunan Resty tidak berkunjung lagi ke satu-satunya saudara yang masih ada dari keluarga mamanya itu. Dan ia pikir usulan dari papanya itu bukan hal buruk juga.


Tak lama kemudian Resty mengangguk setuju.


"Tapi aku mau menginap disitu sampai liburan selesai. Boleh?"


Tommy mengangguk setuju.


"Trus papa disini gimana?"


"Papa sudah berumur begini jangan khawatirin papa lagi. Yang penting kamu disana betah dan senang, papa ikut senang."


"Tetap khawatir lah, Pa. Disini papa bakal sendiri. Cuma ada mak Asna. Coba papa mau nikah lagi, kan nggak kesepian jadi ada yang nemenin papa."


Tommy sedikit tergelak mendengar ucapan Resty yang menyinggung tentang pernikahan lagi. Roman-romannya anaknya itu sangat menginginkannya untuk menikah lagi. Mungkinkah sudah tiba saatnya membuka hati lagi kepada wanita diluar sana?


"Kamu ini." Tommy mencuil hidung Resty serasa gemas sendiri.


"Aku serius loh, Pa. Harusnya papa tuh cari calon mama baru dulu, bukan malah atur perjodohanku."


"Kamu keberatan sama perjodohan ini?" tanya Tommy, merasa rencananya ditolak oleh Resty.


"Sekarang kamu maunya apa?" Tommy menjadi bingung sendiri melihat Resty yang hanya diam.


Gadis itu mengangkat wajahnya. "Papa nikah lagi."


Tommy terkekeh sendiri. "Nggak ada calonnya, Sayang." ucapnya, sambil mengacak gemas pucuk kepala Resty.


"Papa aja yang nggak minat cari lagi."


"Nah itu tahu."


Wajah Resty kembali cemberut. Ia memang ingin papanya kembali merasa bahagia dengan mencari pasangan hidup lagi.


"Hei, kok jadi ngambek?"


Resty semakin cemberut. Persis bocil yang lagi merajuk.


"Kamu bahas papa nikah lagi, memangnya ada pandangan calon seperti apa yang cocok buat papa yang sudah nggak muda begini?"


Resty masih bergeming.


"Oke, papa mau cari calon mama baru buat kamu." ucap Tommy, pada akhirnya terpaksa pasrah demi melihat wajah Resty kembali berbinar.

__ADS_1


"Serius, Pa?" Benar saja, aura Resty seketika berubah senang.


Dan Tommy hanya bisa mengangguk, dengan senyum kecil yang terukir dibibirnya.


"Tapi kalau misalnya akhirnya papa dapat yang lebih tua atau lebih muda jauh dari papa, kamu mau?"


"Asal papa senang saja lah, dan wanita itu tulus sayang sama papa aku pasti ikut senang."


Gadis itu menjatuhkan tubuhnya dalam dekapan Tommy. Seketika terlupa akan kesedihan hatinya sendiri, disaat mendengar papanya mau membuka hati kembali dengan wanita lain.


"Ayo, sekarang papa antar kamu ke kampus." Tommy melerai pelukannya, menatap penuh kasih pada netra anaknya.


Resty langsung mengangguk setuju. Sebelum mereka benar-benar beranjak dari tempat itu, Resty mendapat sebuah pesan dari Ziyyan. Pria itu mengajak bertemu lagi dengan Resty. Tetapi kali ini bukan bertemu di kampus lagi, melainkan Ziyyan mengajaknya bertemu di restoran yang sudah ia kirim alamatnya kepada Resty.


Dan gadis itu juga memberitahu kepada Tommy mengenai ajakan Ziyyan itu. Tommy langsung menyetujuinya dan merasa lega karena akhirnya mereka bisa bertemu untuk kemudian bisa saling mengenal.


***


Resty sudah tiba di kampus. Secepatnya ia memasuki ruang kelasnya karena jam masuk makul hari ini sudah hampir dimulai. Gadis itu mendudukkan diri di kursi yang rupanya sudah di tag oleh Ika buatnya. Dua sahabat itu saling melempar senyum setelah kemudian sang dosen hadir untuk mengisi materi makul hari ini.


"Hei, tumben datangnya mepet?" bisik Ika pada Resty.


"He-em, masih ngobrol-ngobrol dulu sama papa tadi." jawabnya, ikutan berbisik.


"Kamu diantar papamu?" Ika begitu berantusias.


Resty hanya mengangguk kecil.


"Kenapa nggak bilang-bilang?"


Resty melirik aneh pada Ika. "Apa urusannya sama kamu?" tanyanya nggak paham.


Ika tak menyahut. Ia malah berpaling menatap ke depan sok fokus mendengarkan penjelasan sang dosen.


Sedangkan Resty masih menatap heran pada sahabatnya itu. Dia lagi ngambek atau bagaimana, Resty semakin tidak paham. Maka kemudian ia pun ikut fokus memperhatikan materi yang diterangkan oleh dosennya didepan.


Kurang lebih sembilan puluh menit akhirnya makul pertama hari ini selesai. Hampir semua penghuni kelas sudah melipir keluar, tak terkecuali Ika yang ikut keluar kelas karena kebelet mau ke toilet.


Tetapi kali ini Resty memilih berdiam diri didalam kelas itu. Tatapannya menyorot bangku kosong yang biasa ditempati Alex. Hari ini pria itu kembali bolos. Semoga bukan karena habis ditolak kemarin Alex bolos hari ini. Sebab jika benar karena hal itu, maka Resty akan merasa semakin bersalah.


Diam-diam lubuk hatinya kembali terenyuh, menyadari betapa rindunya ia ingin melihat wajah Alex walau hanya sekilas. Entahlah, mengapa rasa rindu itu terasa menyesakkan dada. Membuat mata gadis itu tak terasa mengembun lagi, teringat akan hal romantis yang semalam pria itu lakukan padanya.


Mengapa memendam cinta semenyakitkan ini?


*

__ADS_1


__ADS_2