Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 65


__ADS_3

Resty meletakkan ponselnya sedikit kesal saat tadi ia selesai ditelpon oleh eyang Asih. Perintah eyang yang menyuruhnya untuk membelikan obat untuk Alex, tentu membuatnya sedikit keberatan. Walau alasan eyang menyuruhnya agar bisa bergerak diluar dan tidak selalu molor di kamar.


Gadis itu keluar dari kamarnya. Ia mendapati rumah itu sudah sepi. Ia pun beranjak mencari keberadaan Ayu, untuk menggatikannya yang berangkat ke apotik.


"Ayu, sibuk ya?" sapanya, setelah bertemu Ayu yang sedang memilah beberapa bumbu rempah di dapur.


"Tidak, Mbak." sahutnya, lalu menghentikan sejenak pekerjaannya.


"Kalau aku minta tolong kamu pergi ke apotik bisa?"


"Bisa. Tapi masalahnya Ayu nggak bisa naik motor, Mbak."


"Memang disini nggak ada ojek apa?"


"Ada sih, Mbak, tapi adanya di gapura batas kampung sana." ujarnya, sambil tangannya menunjuk seakan memberitahu kalau yang dimaksud Ayu tempat mangkal ojeknya sedikit jauh.


"Tetangga sekitar apa nggak ada yang bisa diminta tolong buat anter, Yu?"


Ayu menggeleng. "Jam segini rata-rata sudah pada berangkat ke kebun, Mbak."


Resty mulai berpikir. Sebenarnya ia sendiri bisa mengendarai motor, berhubung sangat malas, jalan terakhir tetap akan mendesak Ayu yang berangkat.


"Nih," Resty mengeluarkan tiga lembar uang kertas merah kepada Ayu.


"Itu buat beli obat sama ongkos ojek, sisanya buat kamu."


Dengan ragu Ayu menerima uang itu. Merasa uang tipsnya lumayan dikantong, Ayu pun memilih patuh dan berinisiatif mengayuh sepeda hingga sampai di pangkalan ojek.


Melihat Ayu yang sudah berangkat, akhirnya Resty menarik nafas lega. Ia pun segera menuju ruang tengah untuk sekedar menonton tivi, karena sebenarnya sedari tadi ia merebah di kamar tanpa kegiatan apa-apa membuatnya bertambah jenuh.


Tivi pun sudah menyala. Bahkan gadis itu menambah volume suaranya semakin nyaring karena ia merasa dirinya hanya seorang diri saja di rumah itu. Begitu menemukan channel tivi yang menyiarkan tontonan musik live, ia malah semakin asyik mendengarnya alih-alih tanpa mau menontonnya.


Tubuhnya merebah santai lagi di sofa empuk yang didudukinya. Jemari tangannya berselancar lagi dilayar ponselnya, mencari sesuatu yang menarik yang bisa dilihat tetapi sama saja semuanya hanya berisikan info tentang kasus petinggi yang lagi viral belakangan ini.


Sesaat ia jadi teringat dengan Ika. Ia pun mencoba menghubungi sahabatnya itu, dan bersyukur panggilannya langsung dijawab oleh Ika.


"Ada apa, Bestie?" tanya Ika.


"Bete." Satu kata itu keluar lancar dari mulut Resty.


"Why?" Ika bertanya lagi, sok-sokan berlogat inggris.


"Liburanku nggak sesuai ekspektasi."


"Kok bisa?"


"Sebal pokoknya!"

__ADS_1


"Iya kok bisa?"


"Tauk ah!"


"Iish, nggak jelas! Nyesel banget ngangkat telpon kamu." Ika balik menggerutu.


"Ada apa sebenarnya? Mau cerita apa nggak? Kalau cuma basa basi mending aku udah nih. Disini lagi riweh soalnya, mana dapat tugas bikin onde-onde lagi. Apes bener deh aku!" Ika membuka sesi curhatannya sendiri.


Gadis itu memang sedang dapat tugas dari Budhe nya untuk belajar membuat kue onde-onde, sekalian buat suguhan orang-orang yang setiap malam datang mengaji di rumah saudaranya yang meninggal tempo hari.


Resty mulai terkekeh mendengar ungkapan sahabatnya itu.


"Res, berisik amat. Kamu lagi dimana?" tanya Ika, saat menyadari suara musik yang terdengar sedikit mengganggu obrolannya.


"Lagi rebahan manja di rumah eyang." sahutnya santai.


"Eyang kamu kemana? Nggak pecah telinga apa dengerin musik sampe segitunya?"


"Nggak ada siapa-siapa di rumah. Dari pada jenuh ya aku nyalain tivi trus dapat musik ini."


Praaaaanggg......


Tetiba suara benda jatuh berasal dari arah dapur. Resty terjengkit duduk, ia menoleh curiga ke sekitarnya.


"Ka, udah dulu ya?" ucapnya, yang tanpa menunggu jawaban dari Ika, ia segera mematikan ponselnya begitu saja.


Begitu sampai di dapur, ia dibuat kaget oleh keberadaan Alex yang sedang mengepel genangan air yang tak sengaja ditumpahkan dari baskom yang dipegangnya.


Sesaat netra keduanya kembali bersirobok, tetapi masih sama dengan mulut yang saling terkunci.


Mendapati Resty yang hanya diam seolah tak mau menanyakan apa yang terjadi, Alex pun kembali melanjutkan aktifitasnya.


Gadis itu memang terkesan angkuh, sebab ia teringat dengan ucapannya sendiri yang berjanji akan puasa ngomong bila nanti kembali bertemu dengan pria yang sebenarnya masih bertahta kuat di singgasana hatinya saat ini.


Melihat Alex sudah sedikit minggir dari arah lemari pendingin, Resty pun melangkah pelan untuk sekedar mengambil air dingin karena merasa tiba-tiba haus. Karena tubuh dan pikiran yang kurang singkron, maka insiden kecil itu terpaksa terjadi tanpa permisi.


Tubuh Resty sedikit oleng saat tak sengaja menginjak lantai basah yang membuat kedua kakinya sedikit hilang keseimbangan. Beruntungnya ada Alex ditempat itu, yang dengan sigap pria itu menahan tubuh Resty agar tidak mencium lantai.


"Kamu nggak papa, Res?" tanya Alex, begitu cemas.


"Sudah tahu mau jatuh masih nanya nggak papa." gumamnya kesal, yang masih bisa didengar oleh Alex.


Resty segera menarik tubuhnya dari dekapan Alex. Kulit keduanya sempat bersentuhan, dan dari itu Resty tahu kalau suhu tubuh Alex masih cukup hangat.


"Kamu minggir dulu, biar aku keringkan lantainya." ucap Alex, dengan suaranya yang masih terdengar lemas.


"Biarin kering sendiri entar. Sudah sana, aku mau ambil minum." sergahnya, semakin terdengar jutek, sedikit mendorong tubuh Alex yang dirasa menghalangi dari kulkas yang ditujunya.

__ADS_1


Alex langsung menahan lengan Resty. Tatapannya menyorot tajam tepat di manik hitam gadis itu. Rasanya sudah tak kuat mendapati respon ketus dari Resty kepadanya.


Resty berusaha melepas tangan Alex yang terasa semakin erat memegangnya. Aliran suhu hangat yang beralih menjadi panas, terus saja dirasa Resty dari kulit Alex.


Menyadari reaksinya tetap sia-sia, Resty pun akhirnya pasrah dan kemudian hanya saling beradu pandang dengan Alex.


Melihat Resty yang mulai diam, Alex melepas cengkramannya. Tetapi netra tajamnya masih menghunus, bagai cukup dengan itu saja sudah membuat Resty melunak sejenak.


"Aku minta maaf, Res." ucapnya kemudian.


"Maaf, kalau keberadaanku disini buat kamu jadi nggak nyaman." lanjutnya.


Resty masih bergeming. Sekuat hati ia mencoba untuk tak terbuai oleh tatapan elang pria itu yang seakan siap menerkam mangsanya kapan saja.


"Aku-- aku akan segera pergi kalau kamu--"


Alex tak bisa melanjutkan bicaranya. Kepalanya yang terasa pusing lagi membuatnya tak betah lama-lama berdiri. Ia pun melangkah tertatih sambil mencari pegangan disekitar untuk bisa duduk di kursi yang kebetulan ada tak jauh di dapur itu.


Dengan dasar rasa prikemanusiaan, Resty membantu menarik kursi itu lebih dekat kepada Alex. Dan pria itu segera duduk, juga langsung menjatuhkan kepalanya untuk sekedar merebah di meja dapur sambil berbantalkan kedua lengannya yang terlipat.


"Kalau sakit kenapa keluyuran ke sini?" tanya Resty pada akhirnya.


"Mau ambil minum. Tapi nggak sengaja nyenggol baskom itu." sahutnya, masih dengan posisi semula.


"Ck!"


Meski mulut berdecak, tetapi Resty berjalan mengambilkannya air minum.


"Nih," ucapnya, meletakkannya sedikit keras.


Alex mengangkat wajahnya. Ia meraih gelas berisi air itu, tetapi keningnya seketika berkerut saat tahu air minum yang diambil Resty ternyata air minum dingin.


Ia pun beranjak berdiri, berniat mau mengambil sendiri air hangat dari dispenser.


"Mau kemana lagi?" tanya Resty heran.


"Ambil air minum yang hangat." balasnya, sambil mulai mengayunkan kakinya bersiap melangkah.


"Sudah, biar aku yang ambil." cegah Resty.


Gadis itu segera melangkah dan menekan tombol air panas dari dispenser itu. Sebelumnya gadis itu memastikan suhu airnya agar tidak terlalu panas saat diminum. Merasa sudah pas, Resty membalik tubuhnya ke belakang.


Terlihat disana senyum Alex yang mengembang manis dari bibirnya. Netranya menjadi lembut bagai tatapan orang yang begitu merindu kepada sang kekasih. Disadari atau tidak, sudut bibir Resty seketika tertarik turut mengulas senyum. Seakan membalas rasa rindu itu yang hanya hati mereka yang tahu bagaimana sesaknya menahan rindu tanpa bisa tercurahkan oleh sebab dinding gengsi yang membenteng kokoh dari keduanya.


"Mbak..."


*

__ADS_1


__ADS_2