Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 126


__ADS_3

Resty memberengut kesal begitu sudah duduk didepan kaca riasnya. Melihat begitu banyaknya tanda merah hasil karya suaminya yang terpajang hampir di seluruh bagian lehernya, membuatnya sedikit kewalahan sendiri untuk menyamarkan tanda itu dengan bedak foundation yang dipakainya saat ini.


Sedangkan Alex sendiri sedari bangun tidur tadi sudah keluar kamar. Entah kemana pria itu, Resty tidak begitu peduli karena terlampau kesal telah dibuat sibuk didepan cermin sepagian ini.


Ternyata pria itu tengah sibuk membuatkan minuman hangat untuk Resty. Dan mak Asna yang sedari tadi juga berada di dapur sedang menyiapkan sarapan pagi, hanya bisa senyum-senyum sendiri melihat menantu majikannya itu yang tidak merasa sungkan berkecimpung di dapur.


Setelah selesai membuatkan minumannya, Alex pun segera membawanya ke kamar.


"Pagi sayangnya Alex," sapanya sambil lalu meletakkan minumannya itu diatas nakas.


Resty hanya melirik sekilas. Begitu kentara jika sedang bermood kurang baik.


"Pagi-pagi sudah cemberut, hem?" Alex menyapa lagi sambil mendaratkan kecupannya di pipi Resty.


"Bete!" sahutnya manyun.


"Sini aku sun lagi biar betenya hilang."


Dan lagi-lagi Alex mencium pipi Resty hingga tak cukup satu kali.


"Iih... Alex, udah deh! Udah tahu bete gini malah diunyel-unyel. Makin tambah kesal jadinya." Dan Resty pun berpindah duduk ditepian ranjang, diikuti Alex pastinya.


"Apa karena servis semalam kurang hot?" selorohnya tiba-tiba, yang seketika membuat Resty mendelik bertambah kesal.


"Duh, kamu marah beneran, Yang?" Alex mendadak resah beneran melihat tampang Resty yang bertambah manyun.


"Sayang, maaf kalau aku bener ada salah. Janji nggak bakal ngulang lagi. Suer! Tapi ngomong dulu salahku tuh apa?"


Bahkan Alex sampai merubah posisi bersimpuh sambil berpangku di paha Resty. Menatap wajahnya lebih intens, yang tambah lama akhirnya berhasil membuat Resty tersenyum geli demi melihat wajah Alex yang dibuat sok melas.


"Lebay! Berdiri, Yang!" ucapnya sambil mencubit gemas di pipi Alex lalu kemudian kembali lagi duduk didepan kaca rias, melanjutkan aktifitasnya yang belum selesai.


Alex pun selalu mengikuti kemana Resty beranjak. Seperti lem perekat saja, pria itu selalu menempel didekat Resty.


"Kenapa dibedakin?" tanyanya tiba-tiba.


"Ya kali aku biarin begini. Malu tauk!"

__ADS_1


"Tapi aku suka lihatnya, Yang. Beneran deh. Itu tuh stempel kepemilikan dari aku. Hak paten milik Alex seorang. Biarin aja kelihatan sama semua, biar mereka tahu kalau kamu milik aku," ucapnya lagi bernada sedikit posesif, tetapi seketika terkekeh kecil setelah melihat wajah Resty kembali manyun seperti tadi.


"Dih, emang suka ngadi-ngadi kamu ya! Emang kamu mau kalau leher kamu aku giniin juga?"


"Ayo, gas! Aku malah senang banget. Ayo buktiin, jangan hanya ngomong," pria itu malah menyodorkan lehernya kepada Resty. Menantang istrinya membuktikan ucapannya itu.


Siapa sangka ternyata Resty mendekatkan wajahnya pada leher Alex, membuat pria itu seketika menyeringai puas, seakan telah siap dihisap nikmat oleh istrinya itu.


"Ngarep ya...? Weeek....."


Resty sengaja ingin ngeprank, sembari menjulurkan lidahnya, menggoda suaminya yang kepalang sukses dibikin geer pagi-pagi begini.


Tetapi bukan Alex namanya jika pria itu tidak bisa manfaatkan kesempatan. Dengan gerak cepat Alex melummat bibir ranum istrinya begitu rakus, membuat Resty seketika terdiam, pasti kaget mendapatkan serangan mendadak dari suaminya itu.


Suara decapan itu terdengar begitu indah tatkala Resty juga menyambut ciuman nakal dari suaminya. Andai mereka tidak ingat jika pagi ini ada kuliah pagi, alamat akan ninuninu lagi.


Resty sengaja mendorong bahu Alex saat merasa dirinya butuh asupan oksigen. Sejenak mereka pun saling pandang, dan saat pria itu meminta mengulang lagi Resty seketika menggeleng kepala.


"No, Sayang!" tolaknya lembut.


"Lanjut entar malam ya, Yang?" ucap Alex sedikit mengerling nakal yang tentu Resty langsung paham apa maksudnya itu.


"Loh?" Alex membengong saja.


Resty hanya melirik sekilas. Sengaja membiarkan Alex melongo mirip orang yang habis di PHPin. Setelah itu terdengar pintu kamarnya diketuk, membuat Alex memilih beranjak untuk membukakan pintunya.


"Sarapannya sudah siap, Mas." Mak Asna langsung menyapa, begitu Alex sudah berdiri diambang pintu kamarnya.


"Iya, Mak, terimakasih. Setelah ini kami turun." jawab Alex.


"Sekalian mak mau pamit ke pasar. Apa mbak Resty ada mau nitip sesuatu? Atau mas Alex mau nitip apa yang mak bisa belikan di pasar."


Sedari dulu mak Asna memang lebih senang berbelanja di pasar tradisional dibanding dengan supermarket.


"Sayang, kamu mau nitip apa kata mak Asna?" Alex menyapa Resty yang masih belum selesai didepan kaca riasnya.


"Nggak ada," balasnya tanpa menoleh kepada Alex.

__ADS_1


"Nggak ada, Mak. Aku juga nggak ada yang mau aku beli. Sebelumnya makasih banyak ya, Mak."


"Iya, sama-sama."


Lalu setelah itu mak Asna pergi, dan Alex kembali mendekat disamping Resty. Rupanya istrinya itu telah selesai dengan riasan tipis di wajahnya, juga dengan setelan baju berkrah yang sengaja dipakainya saat ini.


Alex pun segera ikut merapikan diri. Tak butuh waktu lama untuk pria itu berbenah diri, lalu kemudian mereka berdua sama-sama keluar dari kamarnya.


"Eh, tunggu, ada yang ketinggalan." Resty ingin masuk lagi ke kamarnya, tetapi langsung ditahan lengannya oleh Alex.


"Biar aku aja yang ambil, Yang," tawarnya setulus hati, demi memperhatikan cara berjalan Resty yang sedikit aneh, membuatnya merasa tak tega melihatnya.


"Serius?"


Alex hanya mengangguk yakin.


"Tolong ambilkan sampah yang ada di kamar mandi. Trus buangin," ujarnya cukup jelas, tetapi pria itu masih tertegun sedikit tak percaya ternyata dirinya bakal disuruh buang sampah. Kirain mau ngambil apaan, hehe...


"Biasanya sih mak Asna yang ngambil, tapi mungkin barusan lupa."


"Baik lah."


"Makasih, Sayang. Aku tunggu dibawah ya, Yang?"


Alex mengangguk saja. Lalu akhirnya pria itu masuk lagi ke kamar dan segera menuju ke kamar mandi, dimana tempat sampah yang dimaksud itu ada disana.


Pria itu seketika tercengang ditempat begitu ia memperhatikan balon ajaib yang dipakainya semalam hanya ada satu. Padahal semalam mereka melakukan permainannya dua kali. Jangan-jangan?


"Duh!"


Alex menepuk keningnya sendiri. Menyadari akan sesuatu yang terlupa ia pakai semalam.


"Semoga Resty nggak nyadar kalo aku lupa makainya," gumamnya resah sendiri. Lalu setelah itu segera keluar dari sana dan turun ke lantai bawah.


Tetapi langkah kakinya terhenti sejenak saat menjumpai istrinya sedang duduk menunggunya di meja makan.


"Nggak mungkin jadi bayi kan?" batinnya resah lagi.

__ADS_1


Bukan karena tak mau jika akhirnya Resty harus hamil akibat lupa makai balon ajaib. Tetapi lebih ke rasa berkhianat kepada istrinya itu. Setelah sebelumnya begitu pede memperlihatkan balon ajaibnya itu didepan Resty semalam, sebelum detik-detik penyatuan badan yang perdana itu dimulai.


*


__ADS_2