Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 41


__ADS_3

"Bang Ziyyan mau kemana?" tanya Ziana, adik perempuan Ziyyan, saat melihat tampilan Ziyyan yang sudah rapi.


Ziyyan hanya tersenyum sekilas. Tangannya sibuk merusuh mengacak rambut Ziana. "Mau nganter adik abang sekolah dong." sahutnya, lalu menarik kursi untuk duduk, melaksanakan sarapan pagi bersama.


"Cih! Cuma nganter sekolah aja gayanya kayak mau ngapelin cewek." cibir Ziana, akan tetapi Ziyyan tidak terlalu menanggapinya lagi.


Sedangkan Zayn yang memang sudah tahu kalau hari ini Ziyyan akan menemui Resty di kampusnya hanya bisa tersenyum simpul. Anak lelakinya itu memang sudah penurut sedari kecil. Apapun yang dimintanya nyaris tidak pernah ada penolakan dari Ziyyan. Termasuk tentang masalah perjodohan ini.


Padahal sebelum Zayn menceritakan tentang rencana perjodohannya itu, ia sudah bertanya dulu kepada Ziyyan tentang apakah ia sudah memiliki pacar sebelumnya. Begitu Ziyyan menjawab tidak punya pacar, maka ia pun melanjutkan rencananya itu.


"Lex, sekalian aku mau anter kamu juga ke kampus." seru Ziyyan, menyapa Alex yang sudah mulai menyantap sarapannya.


"Apa nanti nggak puter arah, Bang?" sahutnya, karena memang jarak sekolah Ziana dan arah kampusnya berlawanan arah.


"Gampang lah. Kamu masuknya jam berapa sih?"


"Agak siangan sih, Bang."


"Sudah ngobrolnya lanjut nanti. Kalo keasyikan ngobrol sekarang, entar Zee telat sekolahnya." Gadis yang masih berseragam putih abu-abu itu protes lagi kepada kakaknya.


"Iya adikku... Bawel amat sih!" Lagi lagi Ziyyan mengacak rambut Ziana dengan gemas.


"Iiiissh... Abang! Jadi berantakan lagi kan rambut Zee." Ziana merapikan rambutnya lagi. Masih dengan tatapan sewotnya kepada Ziyyan.


Ara dan Zayn hanya bisa terkekeh melihat kedua buah hatinya yang masih sama suka saling jail. Sedari kecil Ziana memang kerap cerewet bin bawel. Tidak disangka besarnya pun masih tetap sama. Dan hal itu pula yang membuat Ziyyan semakin gemas dengan adik perempuannya yang sudah beranjak dewasa itu.


Setelah melewati sarapan bersama, mereka semua kembali kepada aktifitas masing-masing. Zayn berangkat kerja ke kantor. Ara masih setia menjadi ibu rumah tangga yang handal. Sedangkan putra sulung pasangan Zayn dan Ara itu terlihat riweh mengurusi adik kecilnya yang merasa keberatan diantar kakaknya ke sekolah karena tidak bisa lagi menaiki motor kesayangannya.


Akhirnya setelah melewati drama pagi hari yang mendadak ramai karena ulah Ziana, Ziyyan berhasil membujuk adik bawelnya masuk ke dalam mobil. Dan langsung melajukannya tanpa mengulur waktu lagi.


Mobil pun melaju pesat ke arah jalan menuju sekolah Ziana. Gadis itu terlihat murung sambil berpangku tangan didada. Ziyyan hanya bisa melirik sekilas dari kaca spionnya, sebab saat ini Ziana memilih duduk di kursi belakang sambil membuang muka ke luar kaca mobil.


"Iya deh, abang janji entar Zee boleh pulang sendiri." ucap Ziyyan pada akhirnya. Perdebatan kecil sebelum masuk ke mobil adalah mengenai Ziana yang keberatan jika harus dijemput lagi oleh kakaknya.


"Awas beneran janji loh!" balas Ziana.


"Emang kenapa sih nggak seneng amat dijemput abangnya pulang sekolah? Udah janjian sama seseorang ya?" Ziyyan tak bosan-bosan terus menggoda Ziana.

__ADS_1


"Tauk ah! Abang juga kenapa kerajinan amat hari ini mau jadi sopir? Mending diem aja di rumah. Kangen-kangenan sama bunda. Atau bantu ayah kek di kantor. Nyebelin! Ganggu rencana Zee aja."


Ziyyan hanya bisa terkekeh mendengar celotehan adik bawelnya itu. Mengenai sindiran Ziana masalah membantu ayahnya di kantor, Ziyyan sudah memang mempersiapkannya, hanya tidak dalam waktu dekat ini.


Baru datang kembali ke negeri sendiri, tentu membuatnya ingin berleha-leha dulu barang sejenak. Misalnya dengan menjelajahi dengan berwisata, atau paling dekat dengan hunting cafe atau resto yang terkenal dikalangan anak muda saat ini.


Sedangkan Alex yang sedari tadi hanya bisa mendengarkan obrolan antara kakak beradik itu, diam-diam merasa iri dan ikut berandai-andai misalnya ia juga memiliki seorang adik pasti tidak akan sepi di rumahnya.


"Seru ya, Bang, kalau punya adik?" tanya Alex, setelah suasana sempat hening sejenak.


"Seru, asal adiknya nggak kelewat bawel kayak Zee." Ziyyan sengaja menyahut begitu demi memancing reaksi adiknya lagi.


"Abang!" Ziana mendaratkan cubitan kecilnya dilengan Ziyyan.


"Auww.... Sakit, Dek." desis Ziyyan, meringis kesakitan.


"Rasain!" Ziana mencebikkan bibirnya.


"Bang, turunin Zee didepan warung bakso itu aja. Awas aja kalo sampe depan pagar." tunjuk Ziana saat melihat warung bakso langganannya yang memang berjarak sekitar lima meter dari depan pagar sekolahnya.


Mobil kembali melesat di perjalanan kota. Tujuan berikutnya adalah kampus Alex. Semalam Ziyyan baru tahu kalau calon tunangannya itu juga satu kampus dengan Alex. Maka dari itu hari ini ia berinisiatif mengantar Alex ke kampusnya karena ada maksud terselubung, guna untuk menemui perempuan yang bernama Resty.


"Kemarin bang Ziyyan janji mau cerita ceweknya." Alex membuka obrolan lagi.


"Aku nggak punya pacar, Lex." akunya santai.


"Ah, masa sih, Bang?"


Ziyyan hanya tersenyum getir kepada Alex.


"Tapi kalau ada yang ditaksir pasti ada dong? Cewek bule ya, Bang?"


"Seleraku masih yang lokal. Cewek lokal itu masih lebih imut dibanding cewek bule." ungkapnya, diikuti anggukan kepala Alex turut mengiyakan juga.


Masalah cewek bule, cewek asli Indonesia, itu semua tergantung selera masing-masing. Paham kan, Readers?


Mobil yang mereka tumpangi melaju dengan pesatnya. Hingga tak terasa sudah sampai dihalaman kampus Alex. Pria itu segera keluar diikuti Ziyyan yang ikutan keluar juga.

__ADS_1


"Setelah ini Abang masih mau kemana?" tanya Alex, begitu melihat Ziyyan yang sibuk dengan ponselnya.


"Aku ada janji sama teman."


"Oh, ya sudah."


"Mm.... Lex, arah kantin kemana ya?"


"Lurus terus belok kiri, Bang."


Ziyyan mengikuti arah tunjuk Alex. Merasa paham ia pun mengantongi ponselnya ke dalam saku celananya.


"Loh, katanya Abang ada janji sama temannya?" Alex menanyainya karena melihat Ziyyan yang sepertinya akan pergi ke kantin kampus.


"Iya, kebetulan temanku itu juga kuliah disini."


"Ooh...." Alex mengangguk paham.


"Cewek apa cowok, Bang? Siapa tahu aku kenal sama teman Abang itu."


"Cewek." sahutnya singkat.


"Mmm... Ngakunya nggak ada pacar, ternyata gebetannya ada disini ya?" tebak Alex, yang menduga teman cewek Ziyyan mungkin kenalannya lewat sosmed.


"Bukan gebetan, Lex. Tapi calon tunangan." akunya yang ortomatis membuat Alex terperangah kaget.


"Hah? Serius, Bang?"


Ziyyan hanya mengangguk sekilas.


"Tapi kamu jaga rahasia ya? Orang rumah nggak ada yang tahu hal ini kecuali ayah." pintanya kemudian.


Waduh!!


*


Jangan lupa budayakan like dan komentar setelah selesai membaca.

__ADS_1


__ADS_2