Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 43


__ADS_3

Ziyyan dan Alex bergegas menuju ruang IGD tempat Ziana dirawat saat ini. Kebetulan hari ini bundanya Ziana sedang ada arisan dirumah, jadi sudah pasti tidak bisa ikut menyambangi Ziana. Beruntungnya ada Ziyyan yang bisa langsung mendatangi adiknya, mengecek langsung bagaimana kondisi adik kesayangannya itu.


"Mananya yang sakit, Dek?" tanya Ziyyan, begitu mereka sudah sampai disamping Ziana berbaring.


Gadis yang masih belum genap berusia delapan belas tahun itu hanya merespon dengan menunjuk ke arah pergelangan kakinya yang diperban.


"Kok bisa? Gimana ceritanya?" cerca Ziyyan, merasa heran dengan Ziana yang bisa begitu.


"Eee... Jadi tadi Zee--"


Gadis berhijab yang kebetulan sedang menemani Ziana itu terpaksa urung bicara setelah mendapat lirikan ultimatum dari Ziana.


Ziyyan menyadari adiknya yang begitu, ia pun semakin dibuat gemas sendiri kepada adiknya yang terkesan ingin mengelak dari kronologi yang sebenarnya.


"Oh, ya sudah. Entar pasti abang tahu juga kok dari pihak sekolah." ucap Ziyyan pada akhirnya.


"Bang Alex, aku mau pulang." rengek Ziana, sengaja memilih manja kepada Alex saja dari pada kepada kakaknya sendiri yang menurutnya kurang asyik. Rupanya karena kejadian tadi pagi itu masih membuat Ziana sedikit sebal kepada kakaknya.


Alex hanya bergeming sambil melirik entah pada Ziyyan. Melihat Ziyyan yang juga mencebik entah, Alex pun kembali menatap pada gadis bar bar yang terpaksa lemah akibat insiden kecil ini.


"Memangnya sudah boleh pulang?" tanyanya kemudian.


"Tadi dokternya bilang boleh. Cuma retak ringan. Rawat dirumah sambil rajin kontrol pasti cepat sembuh."


"Kamu antar ke depan dulu, Lex. Aku urus administrasinya dulu." ujar Ziyyan sambil menyerahkan kunci mobilnya kepada Alex.


"Aku nggak mau pulang bareng bang Ziyyan." Ziana menolak ketus.


Ziyyan dan Alex sama-sama melongo heran. Entah salah apa tiba-tiba Ziana seperti ngambek dengan kakaknya itu.


"Entar bukannya aku cepat sembuh malah tambah lama, gara-gara bang Ziyyan banyak komentarnya. Sebel!" sambungnya, masih mode badmood.


Kaki yang sakit, tapi mulut bawel Ziana masih kuat untuk nyerocos seperti biasanya.


Ziyyan hanya bisa mencapit gemas hidung bangir adiknya, sebelum akhirnya pergi menuju ruang administrasi. Diladeni ikutan bawel yang ada nggak akan ada habisnya. Sebenarnya mereka saling sayang, hanya terkadang sering cekcok yang biasanya sering dimulai oleh Ziana sendiri.


Alex langsung membopong tubuh kurus Ziana dalam gendongannya, kemudian meletakkan dengan pelan ke kursi roda yang kebetulan juga disediakan diruang IGD itu. Sedangkan gadis berhijab yang diduga juga teman sekolah Ziana mulai terlihat kebingungan.


"Mayra, entar kamu baliknya minta anter sama abangku saja." usul Ziana, saat melihat teman sekelasnya itu terlihat risau.


Gadis bernama Mayra yang sejatinya tinggal disebuah asrama tak jauh dari lingkungan sekolahnya, sudah pasti takut untuk kembali sendiri. Peraturan ketat yang mengharuskan pulang tepat waktu, sedangkan sekarang sudah lewat dari jam pulang, membuat Mayra kebingungan mencari alasan yang bisa ia berikan kepada ibu penjaga asrama.


Memang saat ini Mayra sedang menemani Ziana di klinik ini, akan tetapi saat ia ikut pergi menemani Ziana tadi ia sendiri lupa menitip pesan kepada teman yang juga tinggal satu asrama dengannya. Dan karena hal itulah yang membuatnya sedikit gelisah. Sangsi membaca seribu sholawat sambil berdiri ditengah halaman asrama sudah siap menanti, andai tidak ada pihak teman atau saksi yang ikut menjelaskan mengapa Mayra bisa pulang terlambat.


"Tapi, Zee?" Mayra mulai menggaruk pipinya, masih bingung antara setuju atau menolaknya.


Kembali ke asrama bersama pria asing yang notabene sebelas dua belas aturannya mirip di pesantren, tentu membuatnya bertambah dilema. Tetapi ia butuh teman saksi juga, demi amannya dari sangsi yang pasti akan menjadi tontonan penghuni asrama itu.


Belum sempat gadis itu menyetujui usulannya, Alex malah beranjak begitu saja. Mendorong kursi roda itu menuju pintu keluar.


"Kok bisa begini, Zee? Gimana ceritanya?" tanya Alex saat ia sudah sampai diarea parkiran.

__ADS_1


"Jatuh, Bang." sahutnya singkat.


"Ya kan ada kronologinya."


"Tapi bang Alex janji nggak bocor sama ayah bunda ya?"


Alex tak menyahut. Tetapi tangannya bergerak membuka pintu mobilnya lalu membawa tubuh Ziana masuk ke dalamnya.


"Aku duduk dibelakang aja, Bang. Sekalian enak buat selonjoran."


Alex menarik nafas jengah. Rupanya selain bawel, Ziana juga banyak maunya sendiri tanpa tahu repotnya orang. Maka Alex pun kembali memindah Ziana ke kursi belakang, setelah sebelumnya sudah enak duduk didepan.


"Makasih, bang Alex." serunya sambil tersenyum manis.


Dan pria itu hanya mengangguk sambil mengacak lembut rambut Ziana yang tergerai lurus.


"Tadi kamu belum cerita gimana kronologinya." Alex menagih penjelasan Ziana, saat dirinya sudah ikutan duduk didalam mobil itu.


"Kirain dah lupa. Hehehe..."


"Jangan-jangan kamu bikin ulah ya? Atau mau kabur loncat pagar sekolah tapi gagal?" tebak Alex, yang nyatanya memang betul begitu.


"Kayak bang Alex nggak pernah buat ulah aja pas sekolah." Ziana hanya menimpali dengan membandingkan Alex saat jaman sekolah dulu.


"Jadi bener kan?" Alex menyorot curiga.


Bukannya menjawab, gadis itu malah nyengir lagi. Memamerkan deretan gigi putihnya yang ada gingsulnya, menambah kesan manis saat dipandang.


"Sudah lah, ayo jalan Bang." ajaknya seketika.


"Tunggu bang Ziyyan dulu."


"Nggak usah. Nunggu bang Ziyyan entar yang ada rencanaku gatot." terangnya sedikit mencurigakan.


"Eh, kamu lagi ngerencanain apa nih?" Alex bertanya penasaran.


"Mau comblangin bang Ziyyan sama Mayra." jawabnya tegas dan yakin.


"Hah?"


Ziana hanya tersenyum sendiri.


"Bukannya tadi bang Ziyyan bilang sudah dijodohkan? Nah, sekarang Zee malah mau nyomblangin sama temannya itu?" batin Alex bermonolog.


"Jangan diterusin, Zee." ucap Alex.


Apa yang menurutnya akan gagal, lebih baik tidak diteruskan diawal.


"Kenapa? Bang Alex nggak suka aku jodohin bang Ziyyan sama Mayra?"


"Hadduuuh.... tadi bang Ziyyan kan bilang kalo orang rumah nggak ada yang tahu kecuali om Zayn." Tiba-tiba Alex teringat pesan Ziyyan padanya.

__ADS_1


"Terserah kamu lah." sahutnya kemudian. Pikirnya cepat atau lambat Ziana akan tahu sendiri masalah kakaknya yang diam-diam sudah dijodohkan lebih dulu oleh ayahnya.


"Kalo begitu lets go kita pulang, Bang." serunya girang.


Akhirnya dengan terpaksa Alex menuruti kemauan Ziana. Pergi meninggalkan Ziyyan berdua dengan Mayra di klinik itu.


"Loh, kemana mereka?"


Ziyyan hanya bisa mematung dari ambang pintu keluar saat melihat kepergian Alex dan Ziana. Ditangannya sudah memegang resep obat untuk adiknya itu.


Berulangkali ia mencoba menghubungi nomor ponsel keduanya, tetapi tak satu pun dari mereka yang meresponnya. Sepertinya mereka memang sengaja mau meninggalkan ia dan gadis berhijab itu disini hanya berdua.


Merasa lagi dikerjai, Ziyyan pun memilih tidak menelponnya lagi. Tapi awas saja pas tiba dirumah nanti.


"Kak," sapa Mayra, malu-malu.


Ziyyan menoleh, menatap cukup intens pada gadis yang sedang menundukkan pandangan darinya.


"Eh, iya. Makasih ya sudah bantu nemenin Zee." ucap Ziyyan, baru teringat kalau dari tadi belum mengucapkan terimakasih pada gadis yang sudah menemani Ziana selama di klinik ini.


Gadis itu hanya mengangguk kecil. Tanpa berani beradu tatap dengan pria dewasa seperti Ziyyan.


"Rumah kamu dimana? Kamu kesini sendirian kan?"


Mayra mengangguk lagi.


"Mm, sebagai ucapan terimakasih, biar aku antar kamu pulang. Boleh ya?"


"Tapi aku tinggal di asrama, Kak." sahutnya, sudah sedikit lebih berani menatap sekilas pada Ziyyan.


"Nggak papa, biar aku antar sampai depan saja kalau begitu." Pria itu sudah terlanjur mantap hati ingin mengantar Mayra pulang.


"Tapi, Kak--" gadis itu terlihat berpikir sejenak.


"Masalahnya kalau aku kembali ketahuan bareng cowok, aku pasti kena sangsi."


"Trus bagaimana?"


"Tapi aku juga butuh kakak buat bantu jelasin ke ibu asrama soal aku yang pulang telat."


"Oh, ya sudah. Aku pasti bantu jelasin kok." Ziyyan langsung setuju tanpa berpikir banyak.


Lalu pria itu mengajak Mayra untuk berjalan ke tepi jalan raya, demi menunggu taksi yang lewat.


"Oh, iya. Aku masih belum tahu nama kamu. Aku Ziyyan, abangnya Zee. Nama kamu siapa?"


Dengan pedenya Ziyyan mengulurkan tangannya, berharap gadis berhijab itu menyambut uluran tangannya.


"Aku Humaira, tapi teman-teman biasa panggil aku Mayra." balasnya, sambil menyatukan kedua tangannya didada, menolak berjabat tangan dengan pria yang bukan mahromnya.


Dan Ziyyan hanya bisa tersenyum garing saat tahu gadis itu tak membalas uluran tangannya.

__ADS_1


*


__ADS_2