Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 159


__ADS_3

Selama perjalanan pulang Ika lebih banyak diam, tak cerewet seperti biasanya. Entah apa yang sedang mengganggu pikirannya itu. Semoga saja tidak salah paham setelah mendengar gaya bicara Sisil kepada Tommy tadi. Begitulah harapan Tommy yang melihat jelas perubahan pada mimik wajah istrinya itu.


"By, ada yang mau di beli nggak, mumpung masih di luar?" tawar Tommy saat mereka melewati area jalan yang banyak membuka stand jajanan khas kota.


Ika menggeleng, tetapi mulutnya tetap bungkam.


"Yakin? Tadi aku perhatikan kamu makannya cuma sedikit."


Kemudian wanita itu melirik singkat kepada Tommy yang terlihat fokus menyetir ke depan.


"Aku masih agak lapar loh, By," ucap Tommy lagi begitu mengetahui istrinya itu baru saja melirik kepadanya.


"Mas saja yang beli sana. Aku tidak lapar, kenyang!" sahutnya mulai ketus.


Tommy hanya bisa menghela nafasnya. Istrinya itu rupanya sedang mode merajuk. Entah apa yang membuatnya demikian.


Mobil mereka yang awalnya akan menepi di depan stand pedagang terang bulan, Tommy mengurungkannya.


"Kok nggak jadi?" tanya Ika heran.


"Males!" Tommy ikut-ikutan menyahut ketus. Padahal sebenarnya tidak ada niat untuk balas ketus kepada istrinya.


"Ya udah!" Ika tak mau ambil pusing walau nada bicara suaminya terdengar bete.


"Kamu nggak nanya kenapa aku mendadak males?" Tommy mulai gemas dengan istri kecilnya itu.


Ika langsung menggeleng.


"Oke!" Tommy memasang senyum devilnya.


Lalu pria itu menghentikan mobilnya begitu melihat ada sebuah apotik di depan. Segera pria itu keluar dari mobilnya seorang diri tanpa mengatakan apa pun sebelumnya kepada Ika.


Walau sebenarnya penasaran apa yang akan di beli Tommy di apotik itu, tetapi Ika sudah malas untuk menanyakannya. Bayangan tentang Tommy dan Sisil saat berbicara tadi itu yang membuatnya lebih penasaran. Apakah dahulu mereka pernah berteman atau bagaimana, Ika harus tahu hal itu.


Cemburu! Iya, Ika memang cemburu. Tetapi ia tidak perlu cemburu buta sebelum bertanya tentang itu kepada suaminya.


Tak lama kemudian Tommy datang lagi dan segera masuk ke mobilnya. Pria itu melempar kantong kresek yang di dapatkan saat membeli sesuatu di apotik itu pada pangkuan Ika.


Wanita itu tentu kaget mengapa suaminya itu asal melempar kepadanya. Sekilas melirik kecil kepada suaminya, tetapi rupanya pria itu terlalu fokus menyetir ke depan.


Karena merasa kepo dengan isi dalam kresek itu, Ika mengintipnya samar-samar. Begitu tahu apa yang di beli suaminya itu, seketika dua bola mata Ika melotot tak percaya.


"Astaga! Mas...?"


Ika menyorot heran pada suaminya. Tetapi pria itu hanya melirik sekilas sembari tersenyum kecil melihat reaksi Ika yang sudah ia duga akan kaget seperti ini.


"Mas Tommy! Untuk apa Mas beli ini?"


Buru-buru Ika meletakkan barang yang di beli suaminya itu di atas dashboard.

__ADS_1


"Buat nambah stamina, By," sahutnya santai sekali.


Mendadak Ika mulai begidik ngeri. Membayangkan suaminya akan lebih garang di ranjang membuatnya bergetar resah. Usia suaminya yang tak lagi muda bukan jaminan akan lemah di ranjang. Tanpa obat kuat pun Ika sering di buat kewalahan dan tak berdaya, apalagi dengan mengkonsumsi obat kuat yang di beli pria itu barusan. Apa nggak tambah lemas nanti?


Wanita itu sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, hingga suaminya itu memasuki area hotel berbintang yang biasa mereka booking selama ini.


"Ayo, By."


Tommy mengulurkan sebelah tangannya kepada Ika saat pintu mobil itu sudah terbuka.


"Mas, kamu meresahkan!" ucap Ika pada akhirnya.


Tommy tersenyum tipis. "Meresahkan bagaimana?"


"Tauk, ah! Pulang aja yuk? Ngapain sih ke sini?" Ika malah menarik-narik tangan Tommy agar mengurungkan niat terselubung yang wanita itu sudah hafal apa maksudnya.


"Sudah terlanjur booking. Lagian aku masih lapar, By," seru Tommy mulai membungkukkan badannya lebih condong ke wajah Ika.


"Pingin makan kamu sampai puas," ucapnya lagi yang disambung dengan ciuman singkatnya pada bibir merah istrinya.


Spontan Ika langsung mendorong bahu Tommy. Bukan karena tak mau, tetapi sadar tempat saat ini mereka masih berada di depan pintu masuk utama hotel itu.


"Mas, ini tempat umum!" gertak wanita itu.


Tommy hanya menyeringai, tetapi kemudian kembali menarik tangan Ika dan menuntunnya keluar dari mobilnya.


Saat ini mereka sudah bersiap akan menaiki lift menuju lantai kamar yang mereka sewa di hotel ini. Melihat kondisi lift yang kebetulan kosong dan hanya mereka berdua saja, pria itu kembali memepetkan tubuh Ika dan kembali mengambil kesempatan mencuri ciuman.


"Kenapa?" Kedua tangan Tommy mengungkung tubuh Ika menempel di dinding lift. Senyum manisnya terus terukir pada bibir pria itu.


"Lagi nggak mood aja!"


Wajah Ika berpaling ke samping, menghindari tatapan mata suaminya yang menyorot tajam.


Tommy mundur selangkah setelah mendapati pintu lift terbuka. Segera ia menarik Ika keluar sambil menggandeng tangannya dengan erat.


"Mas Tommy!"


Ika menghentak tangan Tommy, tetapi tidak juga terlepas dari genggamannya.


Lagi-lagi Tommy tersenyum devil. Ia semakin gemas saja melihat istrinya seperti ini. Lalu pria itu memilih mengangkat tubuh Ika, menggendongnya layaknya bridal style.


"Mas!" pekik Ika terkaget-kaget.


Tommy tak menghiraukan reaksi istrinya lagi. Hingga sampai mereka masuk ke kamar milik mereka, barulah Tommy menurunkan tubuh Ika.


Tommy menutup pintu kamar itu menggunakan kakinya. Lalu segera mendorong tubuh Ika hingga mepet di dinding. Mendaratkan ciuman brutalnya pada bibir istrinya.


Wanita itu sampai kesulitan mengimbangi ciuman suaminya. Terus terang baru kali ini Tommy sebringas ini. Membuat Ika tersengal-sengal kehabisan asupan oksigen akibat ciuman penuh haasrat dari suaminya itu.

__ADS_1


"Mas, kamu kenapa?" tanya Ika disaat dirinya berhasil terlepas dari pagutan pria itu.


"Kamu yang kenapa? Dari tadi terus diem, dari pulang dari rumah Resty kamu berubah."


"Aku cemburu! Puas!" Ika mengaku. Sudah tidak tahan menahan sendiri akan rasa yang menyesakkan dadanya.


"Cemburu? Jadi kamu gemesin begini karena lagi cemburu?" Tommy malah terkekeh kecil.


"Iiih... Aku serius, Mas." Ika sampai menghentak kakinya karena ungkapannya itu seperti di anggap lelucon oleh Tommy.


"Aku juga serius." Tommy mendorong tubuh Ika lagi hingga mentok di dinding.


"Aku suka kamu cemburu begini. Itu artinya kamu benar-benar mencintaiku. Asal kamu tahu, ini...."


Tommy mengambil tangan Ika lalu meletakkannya di dada kirinya.


"Ini hanya milik kamu," ucapnya sangat serius.


"Kamu berhasil buat aku kembali merasakan cinta gila seperti ini."


Seketika hati Ika mulai sejuk bagai tersiram madu kasih yang di ungkapkan suaminya itu.


"Kamu nggak mau tahu aku cemburu sama siapa?" Nada bicara Ika sudah kembali lembut.


Tommy menggeleng. Jika ia ikut kepo dengan kecemburuan istrinya itu, pasti akan menyulitkan dirinya nanti. Akan dijawab bagaimana kalau ternyata istrinya itu beneran cemburu dengan Sisil?


"Aku cemburu sama mamanya Alex loh, Mas," ungkap Ika lagi.


"Aku sudah tahu," sahut Tommy santai.


Ika berkerut kening. Kenapa suaminya itu terlihat santai sekali menanggapinya?


"Ada hubungan apa kamu sama dia?" selidik Ika.


"Besan," sahut Tommy sangat jelas.


"Bukan!" Ika menimpuk gemas lengan suaminya. Kalau jawaban yang itu semua orang sudah tahu.


"Maksudku dulu kalian ada hubungan apa? Sepertinya kalian pernah dekat sekali."


"Teman," sahut Tommy lagi.


"Teman apa mantan?"


"Duh, kamu cerewet begini bikin aku makin gemes." Lalu pria itu kembali mengangkat tubuh Ika dalam gendongannya, membawanya hingga ke ranjang.


"Kamu belum jawab pertanyaanku, Mas."


"Aku sudah jawab. Kita dulu teman yang terus jadi besan."

__ADS_1


Saat Ika akan kembali bertanya buru-buru Tommy membungkam mulut istrinya itu dengan ciumannya. Sudah tak kuat lagi menahan haasratnya yang semestinya tersalurkan.


*


__ADS_2