Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 77


__ADS_3

Tepat saat kumandang adzan ashar selesai dilantunkan Alex baru tiba di rumah. Pria itu lekas masuk ke rumah untuk menyerahkan yang dibelinya itu kepada eyang Asih. Kebetulan kondisi rumah sedang hening, sedangkan Resty sendiri kemungkinan berada di kamarnya. Pria itu pun melangkah lebih leluasa hingga menemukan eyang Asih rupanya tengah menunaikan ibadah.


Merasa takut yang dibelinya itu sudah ditunggu sama Resty, maka Alex pun memberanikan diri mengetuk pintu kamar Resty demi menyerahkan barang yang dibutuhkannya itu.


Setelah ketukan ketiga berbunyi barulah Resty membuka pintu kamarnya. Gadis itu langsung mengulas senyum kecilnya begitu tahu yang datang adalah sang kekasih yang hampir seharian bikin cemas orang rumah.


"Sorry..." ujar Alex, dan langsung memberikan dua kantong kresek berisikan aneka snack dan pembalut yang dibelinya kepada Resty.


Resty meraihnya. Saat ini posisi mereka hanya saling berdiri diambang pintu kamar Resty.


"Kok baru datang? Beli dimana sih?" tanya Resty.


"Di kota." sahutnya singkat.


"Kerajinan amat! Di warung sebelah kan ada?"


"Demi kamu semuanya harus maksimal."


"Dih! Hampir mulai deh gombalnya," Resty mencibir gemas pada Alex.


"Ini lagi, kok belinya banyak banget? Dalam rangka apa nih? Mau bikin aku gendut harus ngemil sebanyak ini?" Resty menatap heran pada sekantong kresek penuh snack yang dipegangnya, dan sekantong lagi berisi tiga pack pembalut yang ternyata Alex tepat pilihan membelinya.


"Dalam rangka mau nyenengin pacar. Hehe..." Pria itu mengapit gemas pipi Resty, lengkap dengan cengirannya.


"Bukan sedang nyogok kan?"


"Tepat sekali. Lewat itu aku mau membeli hati kamu agar tetap jadi milik aku." ucap Alex dengan tingkat kepedean yang melambung tinggi.


"Dih, sogokannya receh amat! Masa kamu nyogokin aku pake makanan ringan begini?" Resty terkekeh kecil, merasa lucu dengan bayolan Alex yang sebenarnya demi menghiburnya saja.


"Ya nanti kalau aku kaya lagi aku langsung todong kamu pake cincin berlian, langsung aku lamar jadi nyonya Alex." balas Alex sekenanya, namun apa yang diucapkannya itu adalah keseriusan yang dibungkus dengan candaan.


Mulut Resty manyun seketika. Tiba-tiba ia jadi tak enak sendiri saat kekasihnya itu menyinggung masalah kekayaan. Padahal sebenarnya tadi ia hanya niat bercanda, walau apa yang keluar dari mulut Alex sebenarnya membuat hatinya merasa berbunga-bunga.


"Eh, kok manyun gitu? Ada yang salah sama omonganku?" Alex bertanya curiga.


Resty langsung menggeleng pelan. Secepatnya ia mengulas senyumnya lagi dan berhambur memeluk tubuh Alex dengan erat.


"Makasih ya... Sudah perhatian gini sama aku. Kamu tahu aja kalau aku suka jajan." Lalu Resty lekas melepas pelukannya.


Senyum Alex terulas riang. Jemarinya mengusap lembut pipi Resty.


"Gimana, masih sakit perutnya?" tanyanya kemudian.

__ADS_1


Resty menggeleng kecil. "Sudah baikan."


Alex menghela nafas lega. "Emang sering gitu ya?"


"Biasanya satu dua hari saja, setelah itu biasa lagi." jelasnya tanpa sungkan.


Alex menatapnya dengan sendu. Sungguh baru kali ini ia tahu kalau ada perempuan yang harus tersiksa seperti Resty tiap kali kedatangan tamu bulanan. Sebelumnya ia menganggap masa period wanita itu biasa saja, hanya sering menjumpai berubah mood menjadi uring-uringan. Setelah tahu sendiri jika ada yang sakit perut seperti Resty tadi, ia jadi lebih paham dengan perjuangan wanita menjalani kodrat bulanannya.


"Boleh peluk lagi nggak?" seru Alex tiba-tiba. Bahkan tangannya sudah membentang begitu saja, menunggu Resty menyambut pelukannya.


Resty hanya bergeming. Rona pipinya memerah malu mendapati perlakuan manis dari pria itu.


"Peluk! Peluk! Nggak ada peluk-pelukan!"


Tiba-tiba eyang Asih muncul, sambil menyorot gemas pada Alex yang seharian ini membuatnya cemas.


Alex hanya nyengir sambil mengusap-usap tengkuknya sendiri. Sedangkan Resty malah cekikikan merasa lucu melihat wajah merasa bersalah Alex.


"Sudah sholat ashar?" tanyanya kepada Alex.


Alex hanya menggeleng. Sejak datang tadi ia langsung menemui Resty.


"Sana mandi, trus sholat. Setelah itu aku tunggu di sini. Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu."


"Eyang mau bicara apa sama Alex? Kayanya serius sekali?" Resty mulai kepo.


"Bicara urusan nenek-nenek." jawab Eyang sekenanya, lalu beranjak pergi menuju kamarnya.


"Hah?"


Resty hanya melongo tak percaya. Ia yakin jika sahutan eyangnya itu hanya bualan. Dilihat dari sorot mata tuanya, sudah pasti itu sesuatu yang penting yang ingin dibicarakan hanya berdua dengan Alex.


***


Tommy terdiam tak percaya saat orang kepercayaannya memberi info tentang siapa Alex sebenarnya. Pria itu tak habis pikir jika anaknya akan terlibat cinta dengan anak mantan kekasihnya. Sejujurnya Tommy tidak begitu mempermasalahkan rasa cinta Resty yang jatuh kepada Alex. Hanya saja pria itu mendadak was was, takut kemudian cinta keduanya terhalang restu dari Sisil, mamanya Alex.


Mendadak Tommy jadi kepikiran Resty. Ia takut anaknya itu akan dikecewakan oleh kenyataan itu dikemudian hari. Ia pun termenung gelisah, antara membiarkan saja hubungan anaknya itu, tetapi pasti akan kecewa bila nanti tahu masa lalu yang terjadi antara dirinya dan Sisil.


Drrrrt.... Drrrrrrt.....


Ponsel Tommy bergetar. Muncul nama Ika yang sedang menghubunginya.


"Hallo, Om. Lagi sibuk nggak?" sapa Ika, begitu Tommy mengangkat telpon darinya.

__ADS_1


"Kebetulan lagi santai. Ada apa?" tanyanya, sedikit tak bergairah.


"Mm.. Mau ngasi tahu info tentang yang Om minta itu."


"Hem," Pria itu hanya bergumam. Bahkan saat ini tangannya sedang memijit pelipisnya sendiri karena mendadak pening memikirkan bagaimana nasib percintaan Resty ke depannya.


"Aku sudah tahu nama kedua orangtua Alex, Om." serunya penuh semangat.


"Hem, aku juga sudah tahu." balas Tommy.


"Hah? Jadi Om sudah tahu duluan? Yaaaah.... Nggak jadi dong ketemuannya."


Tommy terhenyak kaget saat mendengar ucapan Ika yang keluar tanpa filter. Sebelum-sebelumnya pria itu tidak mau geer mendapati perlakuan serta ucapan menggoda dari gadis yang masih seusia anaknya itu. Tetapi makin kesini rupanya gadis itu semakin tak sungkan lagi menunjukkan perhatiannya itu kepadanya. Dan alhasil membuat pria itu bertambah pusing memikirkan semuanya.


"Terimakasih ya... Sudah mau membantuku sebelumnya." ujar Tommy, masih memberi batasan padanya.


Tetapi gadis yang diseberang sana hanya terdiam, tak merespon apa-apa.


"Hallo, Ika..." sapa Tommy lagi, setelah sekian detik tak ada sahutan dari Ika, padahal sambungan telponnya masih on.


"Sebenarnya bukan tentang Alex saja yang mau aku bicarakan," ucap Ika, sudah dengan nada bicaranya yang mellow.


Tommy terdiam, menunggu apa yang ingin disampaikan olehnya lagi.


"Jadi sudah nggak bisa ketemuan lagi ya, Om?" tawar Ika. Terkesan sedikit memaksa karena sebenarnya dirinya sudah terus-terusan ditodong oleh mamanya demi ingin bertemu dengan om pujaan hatinya itu.


"Kamu bisa bicara lewat telpon saja. Untuk bertemu sepertinya tidak bisa. Maaf ya.." Tommy berkata sejujurnya. Jadwal pekerjaannya memang begitu sibuk. Terlebih hanya untuk bertemu dengan Ika, itu tidak begitu penting dibanding dengan meeting penting dengan klien bisnisnya.


Terdengar helaan nafas panjang Ika diseberang sana.


"Om Tommy.." Ika bersuara sedikit serak.


"Iya,"


"Aku-- Aku-- Aku kangen om Tommy!"


Lalu, tut.... tut.... tut....


Sambungan telpon itu diakhiri sepihak oleh Ika.


"Astaga!"


*

__ADS_1


__ADS_2