
Alex dan Resty sama-sama tersenyum kecil saat tahu bahwa orangtuanya merencanakan akan membawa hubungannya ke jenjang yang lebih serius. Sama sekali tidak ada raut kaget maupun penolakan dari mereka meski rencana pernikahan ini terkesan mendadak. Dasar memang sedang dimabuk cinta, jadinya kabar itu menjadi sesuatu yang membahagiakan bagi mereka.
Bahkan Alex dan Resty tidak lagi menghiraukan usia mereka yang terbilang cukup muda bila harus membina mahligai rumah tangga. Mereka hanya sangat senang karena ikatan cinta mereka akan segera diakui oleh siapapun.
Sedari tadi duo sejoli itu terus melempar senyum sembari menunggu Tommy muncul. Alex yang sudah sedikit mengenal papa Resty, hanya merasa sedikit gugup. Berbeda dengan yang dirasa Sisil dan Kenzo. Mereka memang masih belum tahu siapa dan bagaimana calon besannya itu. Meski begitu mereka meyakini jika Resty adalah keturunan dari orang baik-baik. Melihat Resty berperilaku lembut, mereka yakin kedua orangtua Resty pasti mendidiknya dengan sangat baik.
Suatu sikap yang kontras bila dibandingkan dengan peringai Alex di kampus. Tetapi akan menjadi sisi positif yang bisa melengkapi sikap Alex yang demikian.
Cukup lama Sisil dan Kenzo menunggu orangtua Resty menemui mereka. Tetapi mereka tetap bersabar demi niat baik yang akan mereka sampaikan.
Sedangkan Tommy sendiri sedari tadi terus mengatur alur nafasnya yang tiba-tiba menjadi gugup. Bukan masalah karena akan bertemu lagi dengan Sisil, melainkan perasaan takut akan batal semuanya setelah Sisil tahu siapa yang akan menjadi besannya.
Meski begitu tetaplah harus dihadapi. Sebagai orangtua tentu harus bersikap bijak demi kebaikan anak. Dan akhirnya dengan langkah pasti, Tommy pun beranjak menemui mereka.
"Assalamu'alaikum.." sapa Tommy, bersamaan munculnya dirinya diruang tamu itu.
"Wa'alaik--"
Sisil tak lagi melanjutkan jawaban salamnya. Wanita itu sangat kaget saat tahu yang muncul adalah Tommy. Sedangkan Kenzo cepat terlihat biasa lagi dan menjawab salam dari Tommy, meski awalnya juga sama-sama merasa kaget dengan kedatangan Tommy yang ikut duduk diruangan itu.
"Dia papanya Resty." Eyang Asih memperkenalkan Tommy kepada kedua orangtua Alex.
Sisil tetap bergeming. Tubuhnya seakan tiba-tiba kaku untuk digerakkan. Lidahnya terasa kelu untuk sekedar membalas sapaannya. Sorot matanya kentara masih shocked dengan pertemuan perdana mereka setelah terakhir malam perpisahan beberapa tahun silam.
Kenzo mengangguk kecil dan tersenyum simpul kepada Tommy. Sejenak mereka berjabatan tangan, tetapi tidak dengan Sisil. Melihat Sisil yang masih tertegun, perlahan Kenzo meraih tangannya untuk ia genggam. Usapan lembut tangannya membuat Sisil tersadar jika ini bukanlah mimpi bertemu dengan Tommy ditempat ini.
Alex yang kebetulan memperhatikannya tentu menaruh curiga dengan gelagat mamanya yang tiba-tiba berubah begitu. Netranya menyapu ke semua orang diruangan itu untuk mencari jawabannya, tetapi ternyata hanya mamanya saja yang berekspresi kaget setelah kemunculan papanya Resty.
"Begini, maksud kedatangan--"
"Kita pulang, Ken."
__ADS_1
Tetiba Sisil memotong pembicaraan suaminya. Wanita itu kemudian beranjak berdiri. Menatap sengit kepada Tommy, lalu pergi begitu saja keluar dari ruangan itu.
"Ma." Alex ikut berdiri.
Pria itu kemudian ikut mengejar mamanya yang dengan langkah cepatnya sudah berada disamping mobilnya.
"Maafkan atas sikap istri saya." ucap Kenzo penuh rasa bersalah.
Tommy dan eyang Asih hanya bisa mengangguk kecil. Mereka sudah menduga jika hal seperti ini bisa terjadi. Makanya mereka berdua tidak begitu kaget saat melihat Sisil yang begitu.
"Saya permisi pulang. Hal yang dibahas tadi akan saya bicarakan lagi. Secepatnya saya akan memberi kabar kepada kalian." seru Kenzo sambil mengapitkan kedua tangannya, sepenuh hati meminta maaf telah membuat suasana mendadak kacau. Lalu kemudian pria itu pergi menyusul istrinya.
"Pa, ini ada apa?" Resty yang sedari tadi terdiam, menanyakannya kepada papanya. Raut wajahnya kentara bingung dengan situasi yang diluar dugaan sama sekali.
Tommy tak menyahut. Lantas pria itu hanya merangkul anaknya, kemudian ikut pergi beranjak ke kamarnya.
Beralih Resty menatap kepada eyang Asih, tetapi eyangnya sama terdiam dengan tatapannya yang sendu. Mendapati semuanya bungkam pantaslah jika sudut kecil hati Resty bertanya-tanya sendiri. Tiba-tiba saja ia merasa hubungannya dengan Alex tidak baik-baik lagi untuk ke depannya.
Sisil menoleh tak minat. Hembusan nafasnya keluar kasar, membuat perasaan Alex mendadak tidak enak.
"Lekas kemasi barang-barangmu. Saat ini juga kamu pulang." ucapnya dingin.
"Ta-tapi, Ma?" Alex tercengang tak percaya. Semenit lalu mamanya masih biasa saja, tetapi mendadak ketus dan dingin setelah bertemu dengan papanya Resty.
Kenzo sudah berdiri disamping Alex. Tangan pria itu memegang pundak anaknya dengan usapannya yang lembut. Ia pun juga menyuruh Alex untuk pulang bersama mereka saat ini juga.
"Tapi kenapa mendadak begini? Baru saja mama papa senang membahas aku dan Resty. Kalau mama sama papa tiba-tiba pergi begini, bagaimana dengan kami? Bagaimana dengan Resty, Pa, Ma?"
"Alex, kita akan bahas itu setelah kita di rumah." seru Kenzo, tetapi Alex tetap menggeleng tak setuju.
"Ma, ini ada apa?" Alex kembali menanyakan kepada mamanya. Sebab masalah ini muncul bermula dari mamanya.
__ADS_1
Sisil tetap bungkam. Bahkan ia memilih masuk lebih dulu ke mobilnya, lalu duduk dengan mode dinginnya. Seperti enggan untuk sekedar melihat wajah anaknya yang bersedih hati.
"Sekarang kamu pamit sama ibu tadi. Papa tunggu disini, Lex."
Alex tetap tak beranjak. Pria itu terus menatap entah kepada mamanya.
"Papa janji akan kembali kesini demi kamu. Tetapi kita perlu bahas ini di rumah."
"Bukankah rumah kita sedang disita Bank?" Alex semakin bingung mendapati kedua orangtuanya memaksanya ikut pulang.
Kenzo menggeleng pelan. "Sudah tidak lagi. Ayo, Lex! Segera berkemas. Papa tunggu."
Kemudian pria itu ikut masuk ke mobilnya dan duduk tenang disebelah istrinya yang terus berpaling muka ke luar kaca mobil.
Walau terasa berat hati, tetapi Alex harus pulang saat ini juga. Demi ingin tahu masalah apa yang sebenarnya, yang membuat semuanya terjadi diluar ekspektasi.
Alex segera pergi untuk menemui eyang Asih. Setelah berhasil menemuinya, pria itu langsung berpamitan tanpa banyak drama lagi. Sengaja pria itu tidak membawa pakaiannya untuk dibawa pulang, hanya membawa beberapa hal penting yang perlu dibawa saja.
Setelah itu Alex sengaja lewat didepan kamar Resty. Perlahan tangannya mengetuk pintu kamar itu, yang tak lama kemudian Resty membukakan pintunya.
Berhambur Alex langsung memeluk erat tubuh Resty, gadis itu langsung menyambutnya juga.
"Aku pulang, Res." serunya, sudah dengan suara beratnya.
Resty melerai pelukannya. Tatapan matanya menyorot tajam tepat di netra kekasihnya itu.
"Aku janji akan memperjuangkan cinta kita, sampai rencana indah tadi bisa terwujud. Aku mohon kamu bersabar ya? Tolong titip hati aku disini." Tangan Alex menyentuh dada Resty.
Kemudian gadis itu mengangguk, tetapi derai airmatanya tiba-tiba keluar tanpa permisi. Alex menghapus linangan airmata itu di pipi Resty, lalu kembali membawanya masuk ke dalam pelukan hangatnya, yang mereka tidak tahu kapan mereka akan bisa berpelukan seperti ini lagi. Setelah mereka berdua meyakini jika hubungan mereka terhalang restu dari mama Alex, yang sama-sama mereka telah berjanji akan saling menguatkan dan memperjuangkan cinta mereka, hingga restu itu bisa kembali diraih dalam genggaman tangan mereka.
Sedangkan Tommy yang sedari tadi diam-diam mengintainya, mendadak merasa ada yang sesak didadanya. Rasa sakit keduanya Tommy bisa merasakannya juga. Dalam hati ia selalu menyematkan doa, semoga saja nasib percintaan mereka akan segera baik kembali. Dan jika kemudian hari mereka tahu kisah yang sebenarnya, semoga mereka bisa memaklumi sebagai sebatas cerita masalalu saja.
__ADS_1
*