Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 31


__ADS_3

Sedang dari ruang makan yang terhubung ke arah taman belakang, terlihat Tommy yang berdiri dengan betah memandangi gerak gerik anaknya dengan pria bernama Alex. Mungkin Resty tidak menyangka papanya akan seposesif begini dengannya. Karena memang setelah tahu dari mak Asna bahwa pria itu yang menjemput Resty kapan hari, tentu membuat Tommy sedikit gusar. Rencana tentang perjodohannya dengan Ziyyan takut terhalangi oleh Alex. Karena dilihat dari sesama mata pria, Tommy bisa menebak jika Alex sedang naksir dengan anak gadisnya.


"Ngapain, Om?" sapa Ika, yang tiba tiba saja sudah berdiri disamping Tommy.


"Ehem.." Tommy berdeham sejenak. Lalu beranjak duduk di kursi makan.


Ika masih mematung di tempat. Ia ikutan melongo ke arah Tommy memandang. Rupanya papa sahabatnya itu sedang memperhatikan Resty dan Alex dari sini.


"Mereka memang dekat seperti itu?" selidik Tommy kepada Ika.


"Nggak juga sih. Tapi kita bertiga memang teman satu kelas, Om." jelas Ika, turut menarik kursi kosong di sebelah Tommy lalu ikut duduk menemani lelaki berumur yang terlihat awet muda dari pria seumurannya.


"Kamu tidak ikut kerjakan tugas?" tentu Tommy menanyainya, karena sepertinya sahabat anaknya itu terlihat lebih santai, duduk tenang sambil memandanginya.


"Mmmm..... Om satu ini kenapa cakep bener sih? Kalau seandainya bukan papanya Resty? Aduuuuh.... Jadi meleyot lama-lama menatap Om duda ini." batin Ika meronta-ronta.


"Eh, Om mau kemana?" tanya Ika, saat melihat Tommy beranjak berdiri.


"Ambil kopi." Tommy menunjuk ke arah secangkir kopi yang masih berasap hangat yang berada di meja dapur.


"Biar aku bantu ambil, Om." Dengan cepat Ika mendorong kursinya ke belakang lalu melangkah gesit mengambil kopi itu.


"Ini Om kopinya." Ika menyuguhkan kopi itu kepada Tommy, dan Tommy menerimanya dengan rasa sedikit heran dengan tingkah gadis asing yang masih seumuran dengan anaknya.


"Terimakasih," sahut Tommy, lalu meletakkan kopi itu di meja didepannya.


Ika kembali beranjak ke arah dapur. Gadis itu dengan cekatan menaruh beberapa potong cake yang dibawa Alex ke dalam piring.


"Kurang banyak, Mbak. Mbak kan bertiga." mak Asna menyapa Ika.


"Eh, Emmak." Ika hanya nyengir melihat kedatangan mak Asna.


"Sepertinya rasanya mantap ya, Mak?" Ika sedikit mencuil potongan kecil dari cake itu. Dilihat dari ekspresi wajahnya saat sedang mengincip, sepertinya memang enak dan recomended abis.


Lalu dengan santainya melangkah menuju Tommy yang terlihat sedang menikmati kopi hitam itu.


Lagi lagi Tommy dibuat heran dengan tingkah Ika yang dirasa sedikit berlebihan kepadanya yang berstatus sebagai papa dari sahabatnya.


"Coba deh, Om. Dijamin bakal nagih deh.." Ika menyodorkan cake itu didepan Tommy.


Dengan sedikit ragu Tommy pun mengambil sepotong cake itu karena memang bentuknya menggoda selera.

__ADS_1


"Emm, kamu yang buat?" tanya Tommy, dengan sorot mata yang berbinar setelah merasakan enaknya rasa cake itu.


Ika menggeleng nyengir.


"Alex yang bawa. Katanya sih yang buat mamanya." terang Ika. Dan dari penjelasannya itu cukup membuat Tommy kembali merasa gundah.


Jika sampai mama Alex membawakan kue atau cake itu untuk Resty, itu berarti hubungan mereka sebenarnya sudah diketahui oleh orangtua Alex juga. Dan hal itu bisa berakibat fatal, andai karena hal itu Resty jadi menolak dengan niat perjodohannya itu.


"Kamu yakin, Resty sama Alex nggak ada hubungan lebih?" Tommy kembali menyelidik.


"Yakin seribu persen, Om. Eh, setriliyun persen kalo perlu," Ika menyahut semangat penuh keyakinan.


Lantas senyum tipis itu kembali tertarik dari sudut bibir Tommy. Paling tidak itu sedikit mengurangi kecemasannya mengenai hubungan Resty dengan pria itu.


"Emang kenapa, Om? Om sepertinya agak nggak suka ya lihat Resty sama Alex?" tebak Ika. Rasanya gadis itu menjadi ingin semakin akrab dengan pria berumur hampir setengah abad itu.


"Ah, nggak kenapa-napa sih." Tommy kembali menyeruput kopi hitamnya yang mulai menghangat.


"Om tenang saja, di kampus atau dimana pun Om nggak usah khawatir sama Resty. Aku akan menjaga Resty seperti aku menjaga anakku sendiri." tutur Ika, seketika membuat Tommy tersedak minumannya sendiri saat mendengar omongan Ika yang keluar begitu lossdoll.


"Om, nggak pa-pa?" Ika beranjak ingin mengambilkan tissue untuk Tommy, untuk mengelap bibirnya yang sedikit belepotan karena kopi yang muncrat.


"Terimakasih," Tommy segera meraih tissue itu dari tangan Ika. Andai dibiarkan bisa jadi gadis nekat itu akan membersihkan sendiri dengan tanpa sungkan.


Sedangkan mak Asna hanya bisa memandang geli melihat kelakuan anak gadis yang sangat kentara ingin lebih dekat dengan majikannya. Dicintai atau disukai oleh gadis sepertinya menurut mak Asna masih wajar. Karena memang aura tuan majikannya itu masih terlihat menawan dan nyaris seperti pria berumur tiga puluhan.


"Mungkinkah tuan Tommy disukai dia? Masa iya tuan nggak tergoda entar? Tapi sepertinya tuan nggak mudah tergoda deh." mak Asna bermonolog sendiri.


"Ehem! Tuan," sapa mak Asna.


"Iya, Mak."


"Setelah ini mau dimasakkan apa?"


"Tanyakan sama Resty. Sekalian masak lebih banyak, Mak. Biar mereka ikut gabung makan malam."


Seperti biasa Tommy akan menyuruh mak Asna untuk bertanya kepada Resty dulu sebelum mengolah masakan.


"Baik, Tuan." mak Asna terlihat melangkah perlahan menuju taman belakang untuk menemui Resty.


"Om sukanya makan apa?" Ika masih betah tak beranjak dari tempatnya.

__ADS_1


"Om sih terserah. Yang penting nikmat dan mengenyangkan." sahut Tommy apa adanya.


Ika tersenyum tipis.


"Kalau begitu biar nanti aku bantu si Emmak masak."


"Loh, bukannya kamu lebih baik kerjakan tugas kelompokmu saja?"


"Lagi mode malas mikir, Om. Hehe...." Ika menggaruk garuk kepalanya yang tak gatal.


"Ooh..." Dan Tommy hanya bisa ber-oh saja.


"Om,"


"Iya,"


"Om nggak mau cari istri lagi?"


"Hah? Apa?"


"Hehe... nggak usah dimasukin hati, Om. Aku cuma gurau." Ika mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V.


"Kamu tidak punya orang tua?" tanya Tommy, yang seketika membuat Ika berhenti cengengesan.


"Punya lah, Om. Ayah ibuku masih sehat wal afiat." aku Ika, tanpa merasa curiga ditanya seperti itu.


"Kenapa malah menggodaku?" Tommy sudah tambah gemas dengan sahabat anaknya itu.


"Memangnya Om tergoda?" Ika sengaja balik bertanya.


"Memangnya kamu mau jadi istriku?"


Deg.


Mauuuuuuuuu.....


Sayangnya jawaban itu hanya sorakan dari hati Ika.


*


Ayo dong dukung terus karya othor...

__ADS_1


Like dan komentar ya..


Biar othor semangat up lagi.


__ADS_2