Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 149


__ADS_3

Resty masih memikirkan apa yang dikatakan suaminya itu. Sebenarnya ia juga penasaran dengan apa yang terjadi dengannya. Hanya saja ia masih belum siap mendengarkan hasilnya bila tidak sesuai keinginan.


"Tuh kan, pasti nggak mau kalau diajak periksa. Kamu aneh, Yang. Bikin aku cemas aja."


Resty memilih diam saja. Berusaha cuek sambil menikmati potongan aneka buah yang dimakannya itu.


Merasa dikacangin, Alex pun ikut menyambar sepotong buah mangga pada piring Resty. Langsung saja ia masukkan ke dalam mulutnya, dan seketika....


"Mmmm...."


Alex mengeluarkan lagi mangga yang sudah dikunyahnya itu dengan membungkus menggunakan tissue.


"Masam begini kok kamu kayak enak-enak saja," seru Alex sambil lalu meminum air mineral yang kebetulan tersedia di mejanya.


Resty hanya terkekeh kecil melihat reaksi suaminya yang lucu menurutnya. Dan dalam waktu sekejap saja rujak manis yang dimakan wanita itu tandas tak tersisa. Bersih hingga tersisa bumbu kacangnya saja.


"Jangan keseringan makan kayak gini, Yang. Entar yang ada perut kamu mules," ucapnya penuh perhatian.


"Tuh kan, sekarang aku yang mules."


Pria itu meringis sambil memegangi perutnya. Mendadak mules beneran padahal tidak sampai menelannya barusan. Segera Alex pamit untuk ke toilet, sedangkan Resty memilih menunggu Alex di kelas saja.


Saat wanita itu berjalan sendiri menuju kelasnya, di sana ia bertemu dengan Ika. Mereka berdua saling bertegur sapa yang akhirnya keterusan mengobrol random.


"Sepertinya kamu agak nggak sehat?" tanya Ika, meneliti wajah Resty yang kentara pucat dan lemas.


Resty mengangguk kecil.


"Sudah dari kemarin aku mual-mual," jawabnya kemudian.


Seketika Ika menghentikan langkahnya, Resty pun begitu.


"Kamu hamil, Res?" tanyanya berbinar.


"Ssssttt... Jangan kencang-kencang ngomongnya!"


Resty celingukan ke sekitar, mendadak panik takut terdengar orang lain. Beruntung tidak banyak orang yang lewat di sana. Kemudian keduanya memilih duduk sejenak di kursi panjang yang ada tak jauh dari mereka.


"Jadi beneran hamil kan?" Ika bertanya lagi ingin memastikan.


"Belum tahu. Aku masih belum cek," aku Resty.


"Cepetan di cek lah. Masih nunggu apa?"


"Aku-- Aku nggak siap."


Wajah Resty tertunduk lemas. Ika langsung merangkul pundaknya. Mengusap lengan itu penuh perhatian.


"Coba cerita, nggak siap karena apa? Kalau aku malah pingin cepat hamil. Semoga saja bulan depan sudah isi."


"Aku nggak siap karena aku masih kuliah," ujar Resty.

__ADS_1


"Ya sama lah. Kita kan sama-sama masih kuliah."


Resty menghela nafasnya sejenak. Memang benar yang dikatakan Ika, mereka sama-sama masih kuliah dan juga sama-sama seumuran. Mungkin Ika sudah siap, tetapi mengapa rasanya Resty masih merasa entah.


"Apa kamu nggak cinta sama Alex?" tanya Ika yang seketika membuat Resty tergelak memandangnya.


"Cinta lah. Kalau nggak cinta mana mau aku nikah sama dia." Suara Resty agak nyolot, mendadak kesal mendengar pertanyaan Ika yang seperti meragukan rasa cintanya kepada Alex.


"Nah, trus kenapa kamu masih ragu mau mengandung anaknya?"


"Belum siap, bukan ragu."


"Menurutku beda tipis lah."


"Ah, cerita sama kamu kayak nggak ada dukungan."


Ika terkekeh sendiri.


"Res, serius aku nanya nih, sebagai sahabat sekaligus mamah muda kamu nih ya, kalau misalnya kamu beneran hamil, gimana?" Ika bertanya lebih serius.


Resty terdiam. Terus terang ia masih bingung harus bagaimana.


"Jangan bilang kamu nggak mau terus mau buang tuh bayi," tuduh Ika sekenanya.


Resty menatap entah kepada Ika. Meski lubuk hati kecilnya belum siap jika hamil secepat ini, tetapi untuk melenyapkannya tentu Resty tidak mau. Selain beresiko dengan dirinya sendiri, juga suatu dosa besar yang siap menanti jika itu nekat dilakukan.


"Resty, ditanya diem aja!"


"Aku bingung, Ka," serunya kemudian.


Lalu wanita itu memilih beranjak dari tempatnya duduk, disusul kemudian Ika juga ikut beranjak dan jalan beriringan menuju kelas.


"Sudah, nggak usah bingung." Ika menepuk bahu Resty, mencoba menyemangati agar sahabatnya itu tidak terlalu stress memikirkannya.


"Apapun yang terjadi, yakinlah itu sudah yang terbaik buat kamu dari Tuhan," ucap Ika.


Resty menatap lagi pada Ika. Senyum kecilnya terbit seiring anggukan kepalanya. Pasrah adalah jalan terakhir dan satu-satunya, agar hati tidak selalu gundah oleh hal yang belum tentu pasti.


"Nah, gitu dong. Anak mama tuh nggak boleh banyak mikir. Ada apa-apa cerita saja sama mama. Papa kamu pasti seneng banget kalau dengar kamu hamil."


"Jangan menduga-duga dulu."


"Tapi semoga saja beneran isi."


Resty melirik jengah kepada Ika.


"Aamiin...." Ika dengan sengaja mengamini didepan Resty.


"Res, aku ada ide." cegah Ika saat mereka sudah akan masuk ke dalam kelas.


"Apaan?" Resty terpancing kepo.

__ADS_1


"Habis kelas kita keluar yuk?"


"Kemana?"


"Kemana pun, yang penting kita keluar berdua saja. Oke? Kangen nih sudah lama nggak keluar bareng. Setuju ya? Baiklah, aku akan telpon mas Tommy mau minta ijin," ucap Ika semangat sekali.


"Eh, kapan aku bilang setuju?"


Tetapi Ika tidak menghiraukan protes Resty. Wanita itu terlalu asyik mengobrol berpamitan kepada Tommy.


Dan Resty kemudian memilih masuk kelas. Didalam sana ia tidak menemukan keberadaan Alex. Masa iya dari toilet sedari tadi belum selesai.


Segera wanita itu duduk di kursinya. Sambil menunggu Alex, Resty meraih ponselnya dari dalam tas kecilnya. Ia baru tahu jika ternyata ada tiga panggilan tak terjawab dari Alex. Segera wanita itu mendial ulang nomor Alex.


"Kamu dimana, Yang?" tanya Alex seketika, begitu sambungan telepon itu dijawab olehnya.


"Aku sudah di kelas," aku Resty.


"Ooh, baiklah! Aku akan ke sana."


Lalu secepatnya Alex menyusul Resty, melangkah dengan lebar agar bisa segera masuk kelas.


"Sudah dari tadi ya?" tanya Alex sambil membelai pipi istrinya.


"Baru saja. Tuh..." Resty menunjuk ke arah Ika yang masih betah bertelponan dengan papanya.


Lalu Alex memilih duduk disebelah Resty. Tangannya langsung mengambil tangan istrinya itu untuk ia genggam.


"Selesai kelas kamu sudah janji mau periksa," ujar Alex memperingatkan.


"Besok saja lah, Yang," balas Resty agak lesu jika menyangkut tentang periksa dan periksa.


"Sekalian aku mau ijin, habis kelas entar aku mau keluar bareng mama Ika," lanjutnya.


"Keluar kemana?"


Resty hanya menghedikkan kedua bahunya pertanda belum tahu ke mana tujuan. Yang pasti dalam benaknya seketika muncul ide untuk membeli testpack nanti. Sengaja tidak mengajak Alex karena takut dengan dua kemungkinan. Yang pertama, ia takut hanya jadi PHP buat Alex jika nanti hasilnya nihil. Yang kedua, andai benar nanti ia hamil, ia masih ingin merahasiakannya sebelum benar-benar siap dengan semuanya.


"Boleh nggak?" tanyanya lagi.


Terlihat Ika berjalan mendekati mereka.


"Baiklah. Hati-hati ya, jaga kesehatan. Jangan jajan sembarangan biar nggak eneg lagi. Jujur aku cemas biarin kamu kemana-kemana dengan kondisi kamu yang begini."


Resty tersenyum tipis mendengar ungkapan bernada perhatian dari suaminya itu.


"Gimana, Res?" tanya Ika memastikan.


Resty hanya mengangguk sambil Mengerlingkan sebelah matanya isyarat oke.


*

__ADS_1


__ADS_2