Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 46


__ADS_3

Resty membuka pintu mobil dengan pelan. Sebelumnya ia sudah merasa was was dulu mengapa Alex mengajaknya keluar dari mobil. Tetapi karena statusnya kini yang sedang nebeng tumpangan, membuatnya harus pandai menjaga sikap walau sebenarnya hatinya sudah merasa gamang.


Terlihat Alex tersenyum manis kepadanya. Sorot matanya mengomando dengan lirikan kecil menunjuk pada wanita dewasa yang berdiri tak jauh didekatnya. Resty pun turut menatap pada wanita itu yang dari pandangan pertama antara mereka sama-sama tertegun, bagai pernah bertemu, atau mungkin hanya alibi mereka saja. Maklum, wajah-wajah Asia kan memang hampir-hampir ada kemiripan. Iya nggak sih?


Meski sempat tertegun begitu, namun Resty segera mengulas senyum kecilnya pada wanita yang belum dikenalnya itu.


Dan wanita itu pun sama-sama saling melempar senyum. Sejenak menghilangkan pikirannya yang merasa familiar dengan Resty.


"Kamu temannya Alex?" sapa Ara, memulai percakapannya.


Resty mengangguk kecil dengan sahutannya yang lembut. "Iya.."


"Mari ke dalam dulu. Sudah nyampe juga, kan nggak elok kalau nggak sekalian masuk." ajak Ara.


Resty hanya bisa tersenyum kikuk. Sebenarnya ia sungkan menolaknya, tetapi ia juga terburu ingin segera sampai rumah. Gadis itu sadar diri dengan status dirinya yang sudah dijodohkan dengan orang lain, dan itu membuatnya harus berhenti memberi harapan pada orang terdekat Alex ini. Sebab dari cara bicaranya sudah pasti wanita ini menyangkanya sebagai teman terdekat Alex saat ini.


"Lain kali saja, Tante. Soalnya kita masih ada acara lain."


Alex yang seakan mengerti kondisi Resty terpaksa berdusta.


"Ooh... Begitu ya? Sayang sekali, padahal tante pingin kenal lebih dekat sama teman kamu, Lex."


Saat menyebut kata teman, Ara menyentuh lengan Resty sambil mengusapnya lembut.


"Maaf, Tante. Beneran nggak bisa mampir." Resty pun ikut berkata semakin menguatkan.


"Baiklah. Tapi janji loh, lain kali bawa teman kamu ini kesini lagi."


Alex langsung mengangguk.


"Oh iya, siapa namamu?" tanya Ara, hampir lupa kalau masih belum tahu nama masing-masing.


"Resty, Tante." sahutnya kalem.


"Hmm.... Nama yang bagus." puji Ara.


Belum sempat Ara mengenalkan namanya juga, seorang asisten rumahnya menyeru memanggilnya.


"Maaf, Nyonya, Tuan telpon. Sebenarnya sudah dari tadi. Mm... Takut ada yang penting, Nya. Ini..." asisten perempuan itu langsung memberikan ponsel Ara yang kebetulan tertinggal diruang tamu.


Ara lekas meraihnya. Ponselnya berdering lagi, dan ia pun segera menjawab panggilan dari suaminya itu. Hingga terpaksa Ara pergi dari situ karena merasa butuh tempat privasi untuk mengobrol bersama suaminya.


Resty menghela nafas lega, saat melihat tantenya Alex sudah beranjak jauh.


"Dia tanteku. Masih sepupu dengan mamaku. Namanya tante Ara." ujar Alex, memperkenalkan nama tantenya yang belum sempat disebutkan tadi.

__ADS_1


"Siapa?" Resty bertanya lagi.


Bukannya tidak mendengar, hanya nama itu terasa familiar ditelinga Resty, bahkan wajahnya pun tadi juga berasa tidak asing lagi.


"Aurora." sahut Alex, menyebut nama asli Ara.


"Bukan. Kamu tadi nggak sebut itu."


Alex hanya menyeringai tipis. Pria itu memilih tidak menjawabnya. Melihat wajah Resty yang sudah mengerucut tentu Alex bertambah gemas saja. Ia pun mulai terkekeh sendiri.


"Ada yang lucu?" tanya Resty, belum sadar kalau dirinya yang ditertawakan.


"Kamu cantik. Makin gemmeeees deh..."


Kali ini kedua tangan Alex turut mencubit gemas pipi Resty. Cubitan manja yang tidak menimbulkan rasa sakit.


Seketika gadis itu mematung. Perlakuan Alex yang seperti itu tentu membuatnya merasa terbang ke awan. Sudah tahu itu gombal, cuma entah mengapa Resty suka digombalin pria didepannya itu.


"Ayuk..?" ajak Alex, lagi lagi mengambil kesempatan menggenggam tangan Resty.


Terlampau sering digandeng tangan olehnya, membuat Resty perlahan merasa nyaman berada dalam genggamannya. Hingga sampai Alex sudah membukakan pintu mobil itu lagi, kemudian dengan senyum hangatnya Resty masuk dan duduk didepan, bersebelahan dengan Alex yang bertugas mengendarainya.


Mobil itu sudah melaju lagi di perjalanan kota yang ramai. Waktu sudah beranjak senja. Langitnya pun perlahan berubah warna menjadi jingga. Keadaan jalan yang sedikit macet itu tentu membuat keduanya memiliki kesempatan berdua berlama-lama.


"Kamu nggak haus, Res?" tanya Alex, disela-sela menyusuri jalanan kota yang padat merayap.


"Aku sih lapar, tapi juga haus. Kita menepi dulu yuk?"


"Boleh." Resty langsung menyetujui tanpa banyak berpikir lagi.


Alex segera mencari celah agar bisa menepikan mobilnya. Kebetulan jalan yang dilaluinya itu tidak begitu jauh dengan area penjual kulineran dipinggir jalan. Walau sebenarnya ingin mengajak Resty makan di restoran mewah nan romantis, karena ini bisa dikatakan sebagai kencan pertama mereka, tetapi apalah daya, isi kantong pria itu menuntutnya untuk bisa menghemat.


Begitu menemukan celah kosong, Alex pun segera menepikan mobilnya. Pria itu lekas membuka seatbelt nya, dan menoleh kepada Resty yang juga melakukan hal yang sama dengannya.


"Maaf ya, cuma bisa ngajak kamu makan disini." ujar Alex, merasa tak enak sendiri.


Resty mengulas senyum tipisnya. Sama sekali tak ada raut keberatan diajak melipir ditempat ramai nan merakyat seperti ini.


Andai itu Donita, sudah pasti akan protes dan minta balik arah. Gayanya yang sudah dikenal sebagai model itu, membuatnya besar gengsi. Padahal bila diukur dari segi materi dan finansial, Resty lah pemenangnya jika dibanding dengan Donita yang notabene berasal dari keluarga sederhana.


Aah... Kenapa jadi ingat Donita sih!


Alex menggeleng kepalanya sejenak. Berharap otaknya kembali normal agar memori tentang mantan kekasihnya itu segera sirna, bila perlu pergi jauh ke planet Mars.


"Kenapa?" tanya Resty, keheranan melihat Alex yang begitu.

__ADS_1


"Tiba-tiba agak pusing." Dusta Alex.


"Pasti karena belum makan tuh." ucap Resty.


Kemudian Resty terlebih dulu keluar dari mobil itu, disusul Alex yang langsung mensejajarkan diri disamping Resty.


"Mau makan apa, Res?"


Mereka berdua sudah berjalan perlahan melihat macam-macam kuliner yang dijual. Selain menjual makanan berat yang pastinya mengenyangkan, juga ada beberapa penjual yang mendagangkan jajanan khas daerah masing-masing.


Resty menunjuk gerobak penjual es buah. Ia berjalan mendekat, dan Alex terus mengekorinya bagai pengawal.


"Hmm... Seger nih kayaknya." ujar Alex, seketika ngences melihat beberapa orang yang sedang menikmati es buah itu.


"Beli ini yuk?" usul Resty, ikutan ngiler melihat macam-macam buah segar yang menjadi isi es itu.


Alex langsung mengangguk. Mereka berdua segera menempati bangku kosong. Sambil menunggu pesanannya datang, Alex tak mau membuang kesempatan langka dengan mengajak Resty foto bersama.


Tak lama kemudian pesanan pun datang. Gadis itu dibuat tercengang dengan porsi es di mangkuk itu.


"Hah, banyak banget! Segini perutku mana muat."


"Emang kamu nggak nyadar kalo yang kita beli ini es buah jumbo?"


Kemudian Resty meneliti lagi tulisan di banner pedagang es buah ini. Dan ternyata memang ada tulisan seperti itu.


"Gini deh, biar nggak mubazir." Alex menyingkirkan satu mangkuk es milik Resty.


"Pak, yang ini dibungkus saja." serunya pada penjualnya.


Kang penjual pun mengambil mangkuk itu dan segera menuang ke dalam wadah plastik. Tak lupa sebelumnya Alex mengambil sendoknya dari mangkuk itu.


"Yuk, kita makannya berdua." Alex mencelupkan sendoknya ke dalam mangkuk es milik Resty.


Resty hanya bergeming. Mau menolak tapi sayang es nya. Tidak ditolak, rasanya malu harus makan semangkuk berdua bersama Alex.


"Hmm... Seger loh, Res." ujarnya, saat sudah mencicipi satu sendok es buahnya.


"Ini solusi yang tepat. Antara haus dan lapar, jawabannya ya makan ini. Segernya dapat, kenyangnya juga dapat. Yakin bisa tahan?"


Kedua kalinya Alex menyendokkan es nya ke dalam mulutnya.


"Atau mau aku suapin nih?" goda Alex, sambil meletakkan sendok berisi buah itu tepat didepan mulut Resty.


Resty menggeleng. Mungkin sementara kesampingkan dulu gengsinya, dari pada harus menahan lapar dan haus juga.

__ADS_1


Maka akhirnya dengan ragu Resty ikut makan satu mangkuk bersama Alex. Pria itu langsung menyeringai tipis. Merasa sangat bahagia bisa berdua seromantis ini bersama Resty. Bagi orang yang tak tahu, mereka pasti menduga Alex dan Resty adalah pasangan kekasih. Sebab keduanya sama sama saling melempar tatapan yang berbinar, bagai dua pasang anak manusia yang sedang dilanda kasmaran.


*


__ADS_2