Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 45


__ADS_3

Lain cerita Alex, lain pula dengan yang dialami Ziyyan sekarang. Setelah tadi ia bernekat mengantar Mayra pulang ke asrama, bukan malah bisa langsung pulang, tetapi masih melewati beberapa pertanyaan intens dari ibu penjaga asrama itu.


"Kamu kan bisa telpon dulu, Mayra. Dengan kamu begini, itu sama saja kamu sengaja melanggar aturan asrama ini."


Ibu penjaga itu masih tak puas hati meski Mayra sudah menjelaskan tentang telatnya ia pulang. Padahal Ziyyan sendiri sudah ikut membantu tadi.


"Masalahnya hape saya ketinggalan di tas, Bu. Tadi nggak sempat bawanya, keadaan sudah genting begitu." terang Mayra, apa adanya.


"Sekarang tas kamu mana?" ibu penjaga itu menyorot tangan Mayra yang tidak sedang membawa apa-apa.


"Ketinggalan di sekolah, Bu. Nanti saya ambilkan ke sekolahnya." Ziyyan ikut menimpali.


"Jangan, Kak. Tidak usah." tolak Mayra, merasa merepotkan.


"Nggak papa, Dek. Siapa tahu di tas kamu ada yang penting. Hape kamu kan? PR mungkin?"


Setelah sempat berkenalan panjang lebar saat di mobil tadi, maka Ziyyan memutuskan memanggil Mayra dengan sebutan adik. Selain karena masih seumuran dengan adiknya, juga dirasa lucu saja memanggil adik pada gadis imut seperti Mayra.


"Sungguh tidak usah, Kak. Lagian besok aku nggak ada PR kok." Dusta Mayra.


"Beneran?" Ziyyan masih tidak yakin.


Mayra pun mengangguk ragu.


"Ehem!" suara dehaman ibu penjaga menggema lagi.


Ziyyan dan Mayra sama-sama menoleh kepadanya.


"Mayra, kamu masuk!" serunya, yang kemudian Mayra hanya bisa menurut tanpa berani protes lagi.


Ziyyan menatap iba pada gadis yang mendapat masalah akibat menolong adiknya. Hingga sampai gadis itu sudah hilang dari pandangan, Ziyyan masih menatap jejak kepergian gadis itu.


"Ehem!" Kedua kalinya ibu penjaga itu berdeham lagi. Apa jangan-jangan lagi sakit tenggorokan kali ya😆


"Kamu siapanya Mayra?" tanyanya lagi. Padahal tadi diawal sudah dijelaskan kalau ia kakak dari orang yang ditolong Mayra.


"Saya--"


"Pacarnya Mayra ya?"


"Hah?"


Ziyyan tergelak saat ditebak seperti itu oleh ibu penjaga yang bertubuh sedikit berisi itu.

__ADS_1


Ibu itu menuntun Ziyyan untuk duduk di kursi kayu yang berada tak jauh dari pintu utama masuk asrama.


Lalu mereka berdua duduk, masih dengan tatapan mengintimidasi dari ibu penjaga itu.


"Mayra itu yatim piatu. Dia anaknya cerdas dan penurut. Makanya saya tadi kaget pas lihat Mayra yang tidak seperti biasanya. Apalagi pulang bareng teman cowok."


"Iya, sekali lagi maaf, Bu."


"Jadi kamu memang bukan pacarnya Mayra?"


"Bukan, Bu."


"Padahal kalau kamu bilang iya, saya sedikit lega."


"Hah? Maksud Ibu apa?" Ziyyan semakin penasaran dengan ucapan ibu itu yang tiba tiba saja berubah lebih intern.


"Sepintas ibu lihat kamu cukup dewasa dan bertanggung jawab. Jika Mayra dapat calon pendamping seperti kamu, apa saya tidak merasa bahagia? Hidup Mayra sudah cukup menyedihkan sedari kecil. Semua saudara terdekatnya sama-sama orang tak mampu. Beruntungnya Mayra masih dapat beasiswa. Jadi sekolahnya jadi ringan. Lagian dia berada disini sambil nyambi jadi guru prifat adik-adik bawahnya yang nggak pinter kayak dia."


Ibu itu menceritakan tentang Mayra kepada Ziyyan. Entah apa tujuannya selain tadi sempat menyangka Ziyyan sebagai pacar Mayra. Yang pasti hati Ziyyan sedikit tersentuh saat mendengar kisah hidup gadis itu.


"Mmm, bukannya aturan di asrama tidak boleh pacaran ya, Bu?" tanya Ziyyan, mulai lebih akrab dengan ibu itu.


"Ya nggak boleh memang." sahutnya, dengan nada ketus lagi.


"Trus kenapa Ibu menyangka saya pacarnya Mayra? Ibu mau menghukum Mayra yang lebih, karena pulang bareng cowok?"


"Alasan kamu tadi sebenarnya saya sudah maklum. Cuma kalau nggak kayak tadi nanti yang ada banyak penghuni asrama ini ikut-ikutan kayak yang Mayra lakukan ini."


"Jangan hukum Mayra yang berat-berat, Bu. Kalau pun sudah tidak bisa ditawar, biar saya ikut bertanggung jawab."


"Bertanggung jawab dengan cara apa dulu nih, hem?"


Ziyyan terdiam. Lebih tepatnya sudah buntu pikiran. Intinya ia tidak mau Mayra terkena hukuman berat. Itu saja.


"Kalau saya menuntut kamu untuk menikahi Mayra, bagaimana?" ucap ibu itu seketika.


"Hah?"


Ziyyan teeperangah kaget. Sedangkan ibu itu hanya menatapnya cukup tajam.


"Ngawur! Salahku apa? Habis meleceehkan?" protes Ziyyan dalam hati.


"Tapi dipikir-pikir nggak buruk juga Mayra jadi calon istriku. Sudah cantik, imut, sholeha pula." monolognya lagi. Seakan lupa dengan rencana ayahnya yang sudah menjodohkannya dengan perempuan bernama Resty.

__ADS_1


***


Sebelum Alex mengantar Resty ke rumahnya, pria itu lebih mengantar Ziana terlebih dahulu. Dengan kondisi kaki yang begitu, sudah pasti akan kasihan jika Ziana ikut mengantar Resty pulang.


Mobil yang dilajukan Alex sudah masuk ke halaman dalam rumah Ziana. Begitu mendengar deru mobil dari arah luar, Ara bergegas keluar untuk melihat langsung bagaimana kondisi Ziana.


Ibu dua anak itu hanya bisa menatap sedih melihat kondisi putri kesayangannya digendong oleh Alex. Mata tajamnya mulai celingukan karena tidak melihat putra sulungnya ikut pulang bersama.


"Ziyyan kemana?" tanya Ara, sambil jalan beriringan bersama Alex yang sedang membawa tubuh Ziana untuk masuk ke kamarnya.


"Masih nganterin temanku, Bunda. Teman yang tadi bantu jaga di klinik." jelas Ziana.


Ara mengangguk paham.


Alex merebahkan pelan tubuh Ziana diatas kasurnya. Kemudian pria itu lekas pamit lagi untuk segera mengantar Resty pulang.


"Eh, jadi kamu ada teman yang ikut?" tanya Ara, saat Alex sudah menceritakannya.


"Iya, Tante."


"Kok nggak sekalian suruh masuk, Lex. Tante juga pingin kenal sama teman kamu."


"Lain kali saja, Tan." tolak Alex.


"Bukan teman biasa, Bun. Tapi sudah jadi calon kakak ipar." Ziana ikut menimpali.


Alex hanya bisa meremmmas jari tangannya sendiri persis didepan wajah Ziana. Rasanya sangat gemas melihat Ziana yang hanya nyengir. Tapi untungnya perkataannya itu menjadi doa baik bagi Alex.


"Iya kah? Benar itu, Lex?" sorot mata Ara ikut berbinar.


"Doakan saja lah, Tante." ucap Alex pada akhirnya.


Pria itu hanya bisa menggaruk tengkuknya sendiri saat Ara menanggapinya dengan senyum bahagia.


"Sekarang dia dimana? Boleh dong tante dikenalin juga?" Ara bersiap beranjak dari kamar Ziana.


Dan Alex pun hanya bisa tersenyum serba salah. Mau dicegah sudah terlanjur sampai rumah, tidak dicegah rasanya akan malu. Apalagi nanti Resty bakal kaget pastinya.


Dengan langkah gontai akhirnya Alex keluar juga, diikuti Ara yang turut mengekor dibelakangnya.


Terlihat Resty masih betah berdiam diri didalam mobil itu. Sebenarnya ia sendiri merasa tidak asing dengan bangunan rumah ini. Seperti pernah berkunjung tetapi sudah lupa itu kapan.


Hingga sampai menyadari ada seseorang yang mengetuk kaca mobilnya berulang-ulang, gadis itu mulai tersadar dari lamunannya sendiri.

__ADS_1


Terlihat rupanya Alex yang sedang mengetuk kaca mobilnya. Maka Resty pun kemudian membuka pintu mobil itu.


*


__ADS_2