Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 66


__ADS_3

"Mbak,"


Tetiba Ayu sudah datang dan langsung menyapa Resty. Gadis berkulit kuning langsat itu sebenarnya mulai menaruh curiga terhadap cucu majikan dan juga kepada mas Deden nya itu. Tatapan mata keduanya sempat ditangkap olehnya, yang sekarang keduanya menjadi gelagapan sendiri karena kemunculannya yang tiba-tiba.


"Sudah datang, Yu?" Resty segera menyapa Ayu.


"Iya, Mbak." Ayu mendekat. Tangannya terulur untuk memberikan obat yang dibelinya di apotik.


Resty tak menerimanya. Ia malah melirik lagi kepada Alex yang belum beranjak dari tempatnya.


"Kamu kasi langsung ke dia." Resty menunjuk dengan dagunya.


Ayu menoleh lagi kepada mas Dedennya. Kali ini pria itu kembali menundukkan wajah di meja, sedang kedua matanya mulai terpejam. Suhu tubuh yang semakin panas membuatnya merasa lemas membuka mata.


"Tadi eyang nyuruh beli itu buat dia."


Setelah berkata itu, Resty segera beranjak dari sana. Sebelumnya ia meletakkan air hangat yang diminta Alex tepat di meja yang saat ini pria itu tertunduk lemah. Seperti sengaja meletakkannya dengan kasar, hingga menimbulkan bunyi ketukan nyaring yang membuat Alex kembali mengangkat wajahnya.


Alex meraih gelas berisi air hangat itu, lalu segera meminumnya dengan perlahan. Kejadian itu disaksikan sendiri oleh Ayu. Gadis itu menjadi bertanya-tanya sendiri, tentang apa yang telah terjadi antara Deden dan Resty saat dirinya tidak ada barusan.


"Ini obatnya jangan lupa diminum, Mas." Ayu menyerahkan obat yang dibelinya kepada Alex.


Alex mengambilnya tak bergairah. Sebelumnya ia meneliti obat itu dan meletakkan kembali ke atas meja setelah tahu jika obat itu tidak untuk sakit demam yang ia rasa. Karena rupanya obat yang dibeli Ayu ialah untuk penderita sakit tenggorokan, yang kemungkinan Ayu membelinya itu atas suruhan eyang Asih yang menurutnya pria itu sedang sakit tenggorokan.


"Kenapa, Mas?" tanya Ayu curiga.


Alex hanya menggeleng lemah. Kemudian ia beranjak berdiri, sempat tertegun karena Resty muncul lagi.


Rupanya gadis itu mengambil sebotol kecil air dingin dari dalam kulkas. Ia masih pura-pura cuek kepada Alex, walau sebenarnya matanya terkadang curi-curi pandang kepada Alex yang mulai beranjak dengan langkah sedikit sempoyongan.


Terlihat Ayu turut bersejajar disebelah Alex. Tanpa sungkan Ayu ikut membantu memapahnya dan ternyata Alex tak menolak itu. Entah disengaja atau tidak, tangan Alex melingkar begitu saja dipinggang Ayu. Yang sukses memancing gemuruh kecil didada Resty.


"Ayu mau kemana?" tanyanya, dengan nada sedikit meninggi. Padahal sudah tahu jika Ayu pasti mau mengantar Alex ke kamarnya.


Ayu dan Alex sama-sama menoleh.


"Mau antar mas Deden ke kamarnya, Mbak." jelas Ayu.


"Awas jangan berani mesum kamu ya?" sergahnya, merasa perlu mengingatkan agar Ayu tidak berlama-lama berada di kamar Alex.


"Me-mesum?" Ayu berkerut kening penasaran.


"Ck!" Resty tak menimpalinya lagi. Mulutnya hanya bisa berdecak, merasa kesal Ayu tidak langsung peka dengan maksudnya.


"Eeh.... Eeh..."


Ayu sedikit oleng. Tubuh kecilnya tentu tak kuat berlama-lama menopang tubuh tinggi Alex.


"Mbak, bantuin.." pintanya seketika.


Resty tak segera beranjak. Antara ingin membantu tapi gengsinya masih menggunung. Jika tidak dibantu kasihan Ayu.

__ADS_1


"Iish... Taunya cuma ngerepotin!" gumamnya, tetapi akhirnya ikut membantu memapah tubuh Alex.


Baru beberapa langkah mereka beranjak, Ayu berhenti sejenak.


"Tunggu bentar, Mbak." ucapnya, yang seketika melipir begitu saja ke arah kamar mandi.


"Hah? Ayu, mau kemana sih?" Resty meneriakinya, tetapi Ayu terus saja masuk dan menutup pintu kamar mandinya cukup keras.


"Sialan tuh anak!" umpatnya kesal sendiri.


Ia melepas rangkulan tangannya dari tubuh Alex. Sesaat netra mereka kembali bersirobok, tetapi Resty memilih berpaling lebih dulu.


"Badan aja gede, tapi cuma demam gini aja pake dipapah segala. Kamu pura-pura apa gimana?" omel Resty kepada Alex.


"Nggak usah ngomel. Aku juga nggak minta bantuan kamu kok." balas Alex, lalu melangkah lagi dengan pelan karena memang kali ini ia sangat ingin merebah saja di kamar.


Resty hanya melihat pria itu melangkah. Sebenarnya sedikit tak tega membiarkan Alex berjalan tertatih dengan tubuh yang demam begitu, yang pada akhirnya gadis itu beranjak mendekat lagi kepada Alex untuk membantu memegangi lengannya hingga sampai ke kamarnya.


Secepatnya Alex merebahkan diri di kasur kecil yang hanya muat untuk satu orang saja. Badannya meringkuk seperti orang kedinginan tetapi kulitnya terasa panas.


"Ma..." Alex bersuara lirih menyebut mamanya.


Resty bergeming melihatnya. Awalnya ia akan segera keluar begitu selesai mengantar Alex, tetapi melihat Alex mengigau menyebut mamanya Resty pun urung pergi.


"Mama..." ucapnya lagi.


Tetapi kali ini yang mencuri perhatian Resty adalah pria itu menitikkan air matanya.


"Hape kamu mana?" tanyanya, sambil mata itu celingukan mencari telpon pintar itu.


Alex tak merespon apa-apa.


Resty duduk jongkok sambil tangan itu mengguncang pelan lengan Alex.


"Alex, hape kamu mana? Aku butuh buat telpon mama kamu. Biar tahu kalau kamu sakit begini." ucap Resty.


Alex menggeleng, tetapi tangannya malah meraih tangan Resty yang masih menyentuh lengannya.


Gadis itu terhenyak sejenak. Berada dalam genggaman tangan Alex seperti ada magnet tersendiri yang membuatnya tertahan dan seperti tak mau dilepas lagi.


"Apa yang sebenarnya terjadi sama kamu, Lex? Kenapa tiba-tiba kamu ada disini dan jadi pembantu eyang?" batin Resty mulai penasaran.


"Jangan pergi." ucap Alex kemudian, masih dengan mata yang terpejam.


Resty tetap bergeming. Sebenarnya ia mulai resah takut kemudian tiba-tiba Ayu muncul dan memergoki dirinya yang digenggam erat oleh Alex.


"Mm... Aku harus ambil obat dulu. Sepertinya demam kamu nggak main-main." sahut Resty, karena tadi ia sempat melihat obat yang dibeli Ayu itu belum diminum oleh Alex.


Alex mulai menyeringai tipis. Sedikit terhibur saat Resty berkata demam nggak main-main. Memangnya dia pikir panas tubuhnya itu dibuat-buat apa?


"Eh, kok malah senyum? Kamu beneran pura-pura sakit ya?" Resty mulai protes, saat ia juga menangkap senyum tipis itu terbit dari bibir Alex.

__ADS_1


"Tapi sepertinya tidak sih. Buktinya tubuh kamu beneran panas."


Sebelah tangan Resty mulai menyentuh kening Alex.


"Apa Alex sakit karena masuk angin ya? Semalam anginnya memang agak kencang, tapi dia nggak pake jaket karena ada di aku." pikir Resty.


Suara decitan pintu mulai menggeser terbuka. Lekas Resty menarik tangannya dari genggaman Alex dan berdiri sedikit menjauh dari tempat semula. Rupanya yang datang adalah Ayu. Gadis itu langsung mendekat begitu saja dan langsung duduk ditepi ranjang Alex sambil menyentuh lengan juga kening Alex tanpa sungkan.


"Apa mau Ayu panggilkan bu bidan saja, Mas? Kalau dibiarkan begini mana tahu mas Deden sakit apa?" ucap Ayu, terlihat begitu peduli terhadap Alex.


"Dia nggak mau melahirkan, Yu! Ngapain manggil bidan?" Resty menimpali tawaran Ayu.


"Di kampung sini yang terdekat cuma bu bidan, Mbak. Kalau mau panggil dokter ya mesti ke kota dulu." balas Ayu.


"Atau Ayu antar mas Deden ke puskesmas desa saja ya?" Ayu kembali bertanya kepada Alex.


"Nggak perlu, Yu. Makasih." tolak Alex.


"Aku mau istirahat saja." tambahnya lagi.


Resty langsung paham apa maksud Alex. Ia pun segera beranjak dan tertahan diambang pintu karena melihat Ayu masih betah ditempat.


"Ayu!"


Ayu menoleh.


Resty hanya mengkode dengan gerakan kepalanya. Beruntungnya Ayu langsung paham dan akhirnya ikut keluar dari kamar itu.


"Kasihan mas Dedenku," serunya dibuat melas, setelah selesai menutup pintu kamar Alex.


"Setahuku mas Deden kuat dan bersemangat. Tiba-tiba jadi lemah gitu pas lagi sakit. Berasa pingin memanjakan mas Deden deh."


Resty sedikit mendelik saat mendengar keinginan Ayu. Walau sebenarnya ia tak pantas cemburu kepada Ayu yang memang bukan level saingannya, tetapi dengan Ayu yang berantusias begitu apa iya nanti Alex tidak baper juga?


"Tadi kamu masih kemana, Yu? Tiba-tiba pergi gitu aja." Resty sengaja membuyarkan lamunan Ayu.


"Eh, iya. Maaf Mbak, tadi Ayu tiba-tiba kebelet. Hehe...."


Dan Resty hanya bisa menghela nafas jengah. Lalu kemudian pergi ke arah dapur, dimana ia tadi melihat obat yang dibeli Ayu masih teronggok diatas meja dapur.


Menyadari obat yang dibeli Ayu rupanya salah, Resty memilih masuk ke kamarnya. Ia ingat kalau ia membawa obat yang dibutuhkan Alex.


Setelah mengambil obat itu, Resty ke dapur lagi untuk mengambil air hangat. Matanya celingukan mencari keberadaan Ayu yang pergi lagi entah kemana. Padahal ia berencana akan menyuruh Ayu mengantar obat itu ke kamar Alex.


Merasa sudah tidak menemukan Ayu lagi ditempat itu, dengan terpaksa Resty yang mengantar obat itu ke kamar Alex.


"Hanya naruh obat kan?" gumamnya sendiri.


"Tapi kenapa malah jantungku berdebar begini?"


*

__ADS_1


__ADS_2