Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 85


__ADS_3

"Bagaimana, Bu?"


Tommy menyapa eyang Asih disaat wanita itu akan mengetuk pintu kamar Resty.


"Mereka mau bertemu Resty dulu." jawabnya, tetapi raut wajahnya seketika masam.


"Ada apa, Bu? Sepertinya Ibu tidak begitu senang?" Tommy mulai curiga.


"Sepertinya Alex punya perempuan lain di rumahnya. Tapi-- Aah, sudahlah! Sudah terlanjur begini."


Meski kecewa tetapi eyang Asih tetap berusaha akan mempertemukan Resty dengan kedua orangtua Alex.


"Dari awal aku memang tidak begitu suka dengan anak itu. Entah dari apa Resty bisa suka dengannya." batin Tommy ikut dongkol teringat kesan pertamanya saat bertemu dengan Alex dulu.


"Bu, biar aku saja yang temui mereka." Tommy mencegah lengan eyang Asih yang bersiap membuka handle pintu kamar Resty.


"Jangan! Kamu bisa merusak rencanaku." tolaknya tegas.


"Tapi aku papanya Resty. Aku yang lebih berhak berbicara dengan mereka." Tommy sudah mulai emosi.


"Iya, aku tahu. Tapi apa kamu bisa jamin, setelah mereka bertemu kamu, mereka akan merestui Resty sama Alex?"


Tommy terdiam seakan tak bisa menjawab. Kisah masalalunya yang berakhir tidak baik-baik saja dengan Sisil, seakan menjadi ganjalan hubungan Resty dan Alex.


Melihat Tommy yang hanya terdiam, eyang Asih lantas masuk ke kamar Resty dan menemukan gadis itu sedang rebahan sambil bermain ponselnya.


"Ada apa, Eyang?" Resty bertanya.


"Ada orang yang ingin bertemu sama kamu." jelas eyang Asih.


"Siapa?"


"Ayo, ikut eyang saja."


Sekilas Resty melirik kepada papanya, dan Tommy mengangguk kecil mengiyakan. Maka gadis itu pun akhirnya beranjak untuk menemui orang yang dikatakan oleh eyangnya itu.


Sesampai di ruang tamu, Resty dan Sisil sama-sama tertegun tak percaya. Tetapi tak lama setelah itu keduanya sama-sama melempar senyum dan saling mendekat untuk kemudian Resty menyalimi tangannya.

__ADS_1


"Tante kapan datang?" tanya Resty, mulai mengakrabkan diri dengan mama sang pacar.


"Baru saja." sahut Sisil sambil membelai lembut lengan Resty.


Setelah itu Resty mengulurkan tangannya kepada Kenzo, lalu ia segera mencium tangannya dengan takdzim setelah Kenzo membalas uluran tangannya.


Eyang Asih sendiri sudah tercengang tak percaya. Sama sekali ia tidak menyangka kalau Resty sudah kenal dengan kedua orangtua Alex.


"Jadi Resty cucu Ibu?" tanya Sisil.


"Iya. Dia cucu saya." balasnya, masih dengan raut sedikit kaget.


Sisil menghembus nafas lega, sambil terus mengulas senyumnya. Sesekali ia melirik kepada suaminya untuk meminta pendapat bagaimana selanjutnya, rupanya Kenzo balik tersenyum kemudian membisikkan sesuatu kepada Sisil.


"Apakah kalian sudah saling kenal?" Wanita tua itu bertanya lagi.


Sisil mengangguk.


"Iya, Bu. Perempuan ini yang pernah Alex bawa ke rumah. Selain Resty, Alex tidak pernah membawa perempuan lain main ke rumah."


Sedangkan Tommy yang sengaja menguping pembicaraan mereka hampir tidak percaya kalau anaknya sudah sejauh ini mengenal keluarga Alex. Jika sudah begini, Tommy hanya pasrah kepada takdir saja. Tersemat doa kebaikan untuk anaknya semoga nasib percintaannya tidak seburuk seperti nasib percintaan yang dialaminya.


Sebenarnya eyang Asih tahu masalalu Tommy itu baru tadi, setelah Tommy menceritakan kepadanya. Meski awalnya sedikit kesal karena baru tahu siapa perempuan yang membuat Tommy susah move on sehingga mengabaikan Bella di masa dahulu, Tetapi kemudian ia bisa menerima cerita masalalu itu setelah Tommy meyakinkan tidak akan menghalang-halangi kebahagiaan Resty.


Meski Resty bukanlah cucu kandungnya, hanya sebatas cucu keponakan, tetapi eyang Asih sangat menyayanginya. Bahkan rela melakukan apapun demi kebahagiaannya, walau dalam masalah percintaannya juga.


Wanita tua itu tidak mau kalau Resty akan bernasib sama dengan almarhum Bella. Yang mencintai seorang diri kepada lelaki yang masih memendam rasa kepada wanita lain. Melihat lampu hijau hubungan Resty dan Alex terang benderang, maka eyang Asih semakin mantap untuk membahas masalah pernikahan keduanya.


"Berhubung saya sudah tahu dan kenal gadis mana yang harus dinikahi Alex, maka saya dan istri setuju saja. Tetapi hal ini saya perlu bicara dengan Alex." tutur Kenzo.


Mendengar kata pernikahan tiba-tiba rona pipi Resty memerah. Rasanya pipinya seketika memanas, hampir tak percaya hubungannya akan melangkah secepat ini. Gemetar dihatinya begitu mendominasi. Suatu hal yang wajar dialami para gadia saat membahas masalah pernikahan.


"Resty," sapa eyang Asih.


"Ah.. i-iya, Eyang." Resty sampai tergagap saking gugupnya.


Eyang Asih hanya tersenyum. Ia dapat melihat jelas rasa gugup cucunya dari raut wajahnya yang terus tertunduk malu. Saat Resty mengangkat wajahnya, eyang Asih melirik ke arah meja yang rupanya tamu mereka masih belum dibuatkan minuman.

__ADS_1


Resty langsung paham kode lirikan eyangnya itu, maka gadis itu pun segera beranjak untuk membuatkan minuman bagi kedua orangtua Alex.


Saat gadis itu berada di dapur, Tommy mendekatinya. Pria itu diam-diam memperhatikan wajah anaknya yang selalu tersenyum, kentara sangat bahagia yang ia rasa.


"Kamu bahagia, Nak?" sapa Tommy, yang seketika membuat Resty terjengkit kaget karena kebetulan gadis itu sedang melamunkan sesuatu.


"Papa," Gadis itu langsung memalingkan wajahnya ke arah lain, demi menyembunyikan wajah malunya dari sang papa.


"Kamu siap nikah sama Alex?" tanya Tommy, lebih intens.


Resty memberanikan diri saling bertatapan dengan papanya. "Papa merestui kami?" Gadis itu balik bertanya.


Tommy langsung mengangguk. Berhambur Resty memeluk erat tubuh papanya. Tidak ada yang lebih membahagiakan selain mendapat restu dari orangtua, lebih lebih masalah lelaki pilihan hatinya yang telah disetujui oleh papanya.


"Maafkan papa, Sayang." ucap Tommy.


"Aku yang minta maaf sama papa. Karena sebelumnya aku sudah menentang perjodohan sama kak Ziyyan. Saat itu pasti papa sangat kecewa sama aku kan?" Resty melerai pelukannya.


"Memang papa kecewa, tetapi tidak usah membahas itu lagi. Ziyyan juga sudah menemukan perempuan pilihannya. Yang papa dengar mereka akan menikah juga dalam waktu dekat ini."


"Benarkah?" Rona wajah Resty kembali berbinar. Seakan terlepas dari rasa bersalahnya terhadap Ziyyan karena penolakannya itu, setelah mendengar kabar bahagia ini tentang Ziyyan.


Tommy hanya tersenyum sambil membelai penuh kasih kepada putri semata wayangnya itu.


"Apapun yang terjadi setelah ini, tolong maafkan papa." ucap Tommy, terdengar ambigu bagi Resty.


"Papa ngomong apa sih?" tanyanya langsung.


Tommy hanya menghembus nafasnya. Ia tak sampai hati menceritakan masalalunya itu kepada Resty. Bila perlu ia ingin menghapus jejak masalalu itu dan berharap tidak terdengar kepada Resty sampai kapanpun. Andai itu bisa.


"Hei, cepatlah kamu buatkan minuman untuk calon mertuamu." Tommy sengaja mengalihkannya dengan menggoda sang anak.


"Papa," rona wajah Resty kembali bersemu malu. Walau begitu gadis itu kemudian melanjutkan membuat minuman untuk kedua orangtua Alex. Dan begitu selesai dibuat, gadis itu segera membawanya ke ruang tamu lagi.


Tommy menatapnya dengan perasaan entah. Hingga sampai muncul eyang Asih yang menyapanya, yang mengatakan kalau kedua orangtua Alex ingin bertemu dengannya untuk membahas lamaran Resty saat ini juga.


*

__ADS_1


__ADS_2