
Alex berpapasan dengan Ziyyan saat ia sedang melewati kamar Ziana. Terlihat rona abangnya itu hari ini begitu sumringah, sambil serius bermain jari di ponselnya hingga tidak menyadari jika Alex sedang memperhatikannya.
"Eh, Lex. Mau ke kampus?"
Ziyyan sedikit terhenyak saat tahu kalau Alex berada didepannya saat ini.
Alex hanya menggeleng. Ia memilih bolos hari ini karena sudah berencana akan segera menyusul pak Saleh secepatnya. Meski nanti ia harus berbohong mengenai ijinnya kepada tante Ara, namun terpaksa itu harus dilakukan. Demi bisa segera pergi dari rumah ini yang mendadak tak nyaman buatnya.
"Bolos?" Ziyyan bertanya asal.
"Nggak ada makul, Bang." jawabnya dusta.
"Eh, sini deh." Ziyyan menggiring Alex untuk duduk santai di sofa panjang yang tak jauh dari tempat mereka.
"Semalam kamu pulang jam berapa? Aku pulang kamu masih belum balik. Masih main kemana?"
"Nggak main kemana-mana. Cuma muter-muter aja." Berdusta lagi.
"Lagi galau?" goda Ziyyan.
Alex hanya tersenyum getir.
"Eh, gimana Bang sama calon tunangannya?" Alex sengaja ingin membahas hal ini dengan Ziyyan, dengan berpura-pura tidak tahu tentang siapa calon tunangan abangnya itu.
"Ssssttt.... Jangan rame-rame ngomongnya." Ziyyan langsung celingukan ke sekeliling, takut tiba-tiba bundanya muncul begitu saja.
"Santai, Bang. Tante Ara sudah tahu kok masalah ini." ucap Alex, berlagak ikut santai meski hati terasa berdenyut nyeri lagi.
"Oh, iya? Dari mana kamu tahu kalau bunda sudah tahu hal ini?"
"Semalam pas pulang nggak sengaja dengar om Zayn lagi ngomongin itu sama tante Ara. Ya sorry aja, kalau aku ngupingnya sampe selesai."
"Heh, nggak sopan kau."
Ziyyan terkekeh kecil mendengar pengakuan Alex yang begitu gamblang.
"Jadi-- boleh dong aku tahu seperti apa calon tunangan Abang?"
Alex sengaja meminta hal itu, demi bisa memastikan kalau itu Resty yang sama dengan Resty pemilik hatinya.
"Mm, pingin tahu saja apa pingin tahu sekali?"
"Pingin tahu sekali. Kepo maksimal pokoknya."
Lantas Ziyyan pun menunjukkan foto Resty dari profil yang terpajang di WhatsApp Resty.
Deg.
Kesekian kalinya hati itu terasa bagai dihujam batu besar yang mengenai tepat dilubuk hati terdalamnya. Saat melihat bahwa Aradilla Resty yang benar-benar menjadi calon tunangan abangnya itu.
Netra Alex masih menatap lekat pada foto gadis itu. Semakin merasakan entah dan sulit dijabarkan bagaimana luka hatinya saat ini. Hingga kemudian tangan itu mengembalikan ponsel Ziyyan lagi, dan kembali harus memasang senyumnya agar tidak nampak bahwa sedang menahan kecewa yang teramat dalam.
"Cantik, Bang." ujarnya kemudian.
__ADS_1
Dan Ziyyan hanya merespon dengan ikut tersenyum. Cantik itu relatif. Dan entah mengapa meski ia juga tak menampik jika calonnya itu memang cantik, masih tak ada rasa yang berubah darinya. Tetap biasa-biasa saja.
"Abang sendiri bagaimana? Pasti langsung suka dong dijodohin sama cewek cantik kayak dia?"
"Suka dari mana? Ketemu saja masih belum." aku Ziyyan pada akhirnya.
"Iya kah?" Alex terlonjak kaget.
"Jadi abang sama dia masih belum saling kenal, begitu maksudnya?" selidik Alex.
Ziyyan hanya mengangguk.
Alex berpikir cukup lama. Ia pasti akan mundur jika nanti Ziyyan dan Resty memutuskan untuk saling suka. Akan tetapi ia pasti tidak terima jika nanti melihat Resty kecewa bahkan tersakiti walaupun oleh pria didepannya itu.
"Rencananya hari ini aku sama dia mau ketemuan." jelas Ziyyan.
"Semoga sukses, Bang."
Alex beranjak berdiri sambil menepuk semangat dipundak Ziyyan. Lalu setelah itu ia pergi untuk menemui tantenya, guna meminta ijin agar diperbolehkan pergi liburan bersama teman-temannya. Tentunya semua itu sekedar tipuan buat Ara, padahal yang benar pergi mencari cuan tambahan di kampung pak Saleh.
Rupanya Ziyyan mengikuti kemana Alex pergi. Hingga terpaksa langkah itu tertahan disaat ayahnya menyeru memanggilnya.
"Ada yang ingin ayah bicarakan berdua sama kamu, Ziyyan." berkata Zayn serius.
Meski sedikit curiga tetapi Ziyyan langsung mengangguk dan berbelok mengikuti langkah kaki ayahnya yang menuju ruang kerja.
"Pasti mengenai perjodohan itu lagi." batin Alex menerka-nerka sendiri.
"Nggak ke kampus, Lex?" Ara menepuk pundak Alex.
"Mm, Tante, sebenarnya aku mau pamit sama tante."
"Pamit mau kemana?"
"Rencananya liburan ini aku sama teman-teman mau healing ke puncak."
"Boleh." Ara langsung setuju.
"Tapi agak lama, Tante. Mungkin selama liburan itu berlangsung."
"Hah, lama sekali, Lex?"
"Ya mau gimana lagi, Tan. Liburan ini sudah kita planning jauh-jauh hari. Jadi, tante tinggal ijinin saja. Masalah penginapan sudah diatur sama teman-temanku."
Meski sedikit cemas tapi akhirnya Ara hanya bisa pasrah dan mengijinkan Alex.
"Tapi kamu sudah ngasi tahu ini ke mamamu juga kan?" tanya Ara, memastikan.
"Sudah dong, Tante." Lagi-lagi berbohong.
Meski yang dilakukannya jelas salah karena harus memupuk kebohongan diatas kebohongan lagi, tetapi Alex tak peduli itu. Yang terpenting saat ini Alex sudah dapat ijin. Dan bila nanti tantenya itu memberitahu kepada mamanya, itu akan dipikirkannya nanti saja.
"Kalau begitu aku mau langsung packing, Tan."
__ADS_1
"Secepat ini?"
"Iya, karena rencananya kita mau berangkat nanti malam. Kumpul di rumah Cello dulu."
"Ooh..." Ara hanya bisa ber-oh saja.
Mau protes lagi rasanya percuma. Karena restunya sudah terlanjur keluar dari mulutnya.
"Maaf, Tante. Kalau aku ngabarinnya mendadak begini." seru Alex, merasa tak enak sendiri.
"Hem. Lain kali jangan mendadak begini lagi." sahut Ara.
"Hehehe... Sorry, Tante." Alex hanya nyengir.
Setelah itu Alex lekas menuju kamarnya lagi untuk segera berkemas diri. Rasanya sangat senang karena rencananya itu berjalan mulus tanpa hambatan apa-apa.
Setelah selesai berkemas ia pun langsung keluar dari kamarnya dengan menggendong ransel cukup gede dipunggungnya. Sebelum itu ia mampir ke kamar Ziana untuk berpamitan juga.
"Eh, bang Alex." sapa Ziana, yang saat ini duduk selonjoran diatas kasurnya.
"Gimana? Masih sakit apa sudah terasa mendingan?" tanya Alex, sambil mendudukkan diri ditepi ranjang itu.
"Ho-oh, masih suka berdenyut pas nggak sengaja gerak."
"Lekas sembuh ya? Semangat dong...." Alex mencubit gemas dipipi Ziana.
Gadis itu melirik heran pada tas ransel yang dibawa Alex. "Bang Alex mau kemana?" tanyanya kemudian.
"Mau healing ke puncak dong.." Alex berkata sambil memainkan kedua alisnya.
"Waah... serunya. Pasti asyik tuh. Coba kakiku sekarang nggak begini, aku mau ikut bang Alex. Duh, jadi ngiri deh."
"Mana bisa. Biarpun kamu sembuh juga tetap nggak boleh ikut. Sekolah kamu gimana entar?"
"Gampang lah, tinggal atur ijinnya saja."
Alex hanya terkekeh gemas mendengar ucapan Ziana.
"Eh, iya Bang. Aku mau kasi kabar seger nih." Gadis itu mulai berbinar senang.
"Kabar apa?"
"Kayaknya rencanaku mau comblangin bang Ziyyan sama Mayra ada kemajuan."
Alex masih mencermati ucapan Ziana.
"Tadi pagi aja bang Ziyyan kesini, kirain peduli sama kondisi aku, nggak tahunya cuma mau minta nomor telponnya Mayra."
"Kamu kasi nopenya?"
"Ya iya lah. Kalo nggak aku kasi mana sukses misi aku. Hahaha...."
Alex terdiam lagi. Meski tak sepatutnya ia mencurigai hal yang tidak pasti, tetapi setelah mendengar ucapan Ziana ia pun merasa sepertinya perjodohan itu akan batal sebelum terjadi pertunangan.
__ADS_1
Apalagi jika mengingat obrolan Ara semalam, yang menyuruh Zayn untuk membatalkan saja perjodohan itu. Satu hal yang tiba-tiba muncul sebagai harapannya saat ini, yaitu semoga nanti Resty tidak menyukai Ziyyan dan pertunangan itu gagal. Agar ia bisa kembali memperjuangkan cintanya kepada gadis pujaannya tanpa hambatan apapun.
*