
Meski Alex sedikit kaget saat mendengar Ziyyan sudah memiliki calon tunangan, tetapi ia tak mau terkesan terlalu mengurusi siapa bakal calonnya itu. Rasa penasaran pasti ada, cuma tunggu nanti saja hingga sampai Ziyyan mengenalkan calonnya itu padanya. Apalagi hal ini masih menjadi rahasia buat mama dan adiknya Ziyyan.
Pria itu melangkah semangat menuju ruang kelasnya. Hanya ada nama Resty yang saat ini ingin ia temui. Walau gadis itu masih belum menjawab rasa cintanya kemarin, tetap membuatnya tak patah arang untuk mendekatinya. Hingga sampai nanti Resty memberinya jawaban dari ungkapan cintanya itu.
Langkah kaki itu terhenti disaat tak sengaja berpapasan dengan Donita. Wanita itu hanya menatap sengit tanpa mau menyapanya lagi. Satu decihan mengejek sepintas keluar dari mulutnya yang mendadak pedas kepada Alex.
Pria itu tak mau kalah menatap juga dengan rasa entah. Ingin tertawa tetapi masih kasihan juga. Seandainya ia mau berterus terang bahwa dari awal ia tak pernah menyukai Donita, mungkin wanita itu akan malu sendiri. Kondisi ini seperti sedang memojokkan Alex. Seakan dirinya menjadi pria paling mengenaskan saat dicampakkan oleh Donita, padahal sebenarnya merasa sangat merdeka telah terbebas dari wanita arogan itu.
Rupanya hal itu juga dilihat oleh Resty yang kebetulan sedang melintas disana. Ia sempat tertegun melihat dua mantan kekasih yang berubah saling membenci setelah tiada ikatan lagi. Meski ia tak tahu apa penyebab putusnya Alex dengan Donita, tetapi dari yang dilihatnya sepertinya Donita sudah benar benar mantap untuk meninggalkan Alex.
"Hai, Res..." sapa Alex, begitu pria itu menyadari keberadaan gadis yang dicarinya.
Resty hanya melempar senyum kecilnya. Sekuat hati ia mencoba biasa saja saat pria itu semakin mendekat kepadanya. Padahal degup jantung sudah meletup-letup bagai ingin melompat dari tempatnya.
"Mau ke kelas? Bareng yuk?" ajak Alex seketika.
"Nggak, masih mau ke kantin dulu beli minum." ujarnya pelan.
"Ooh... Aku temani ya?" Alex sangat berantusias sekali.
"Eh, nggak usah."
"Ayo lah..." Tiba-tiba saja Alex menggandeng tangan Resty tanpa permisi.
Resty terdiam ditempat. Matanya menatap tangan Alex yang menggenggam tangannya dengan erat. Mungkin pria itu bisa tahu kalau saat ini tangannya terasa dingin karena perbuatannya itu.
"Kenapa?" tanya Alex, pura-pura tidak paham, padahal sebenarnya ia tahu gadis itu begitu gugup dibegitukan olehnya.
Resty menarik pelan tangan Alex dari tangannya.
"Eh, maaf, Res. Beneran nggak nyadar, refleks aja tadi."
Pria itu hanya nyengir sebagai penutup dari jurus modusnya barusan.
__ADS_1
Tanpa berkata apapun Resty kembali melangkah menuju kantin. Sedangkan Alex terus mengekorinya dan kini berjalan bersejajar dengannya.
"Ika kemana, Res?" Alex memulai percakapannya lagi, walau sebenarnya ia tak peduli ada dimana Ika sekarang.
"Mungkin belum datang." sahut Resty, karena memang belum bertemu dengan besty nya itu.
"Liburan entar mau kemana?"
Resty hanya mengangkat kedua bahunya.
"Aku recomin tempat bagus mau nggak?"
"Nggak minat." sahutnya singkat.
Seketika Alex berhenti melangkah. Dalam hati sebenarnya sedikit mencelos saat Resty hanya menyahut tanpa minat.
Resty ikutan berhenti. Menatap sekilas pada pria yang rupanya juga sedang menatapnya dengan reaksi seperti dibuat-buat mellow.
"Duh, belum apa-apa sudah patah hati duluan." ucapnya sambil memegang dadanya sok dramatis.
"Jangan bicara ketus lagi ya? Aku lagi galau gini masa udah mau diketusin." ujar Alex sok manja.
"Ya itu derita kamu lah.." Resty kembali melanjutkan langkahnya.
"Aku menderita begini kan juga karena lagi nungguin jawaban yang kemarin." Alex mensejajarkan langkahnya lagi bersama Resty.
Gadis itu memilih tak menyahut lagi. Sebenarnya ia sudah tahu kalau dirinya pasti akan ditagih jawaban oleh Alex. Cepat atau lambat ia harus memberinya jawaban, walau kenyataannya ia masih sulit mengaku kalau dirinya sudah dijodohkan oleh papanya.
"Kira-kira kapan, Res, jawabannya?"
Dengan pelan Alex mencoba meraih tangan Resty lagi. Begitu tangan itu berhasil diraihnya, ia menggenggamnya dengan begitu yakin.
"Alex!" Resty terhenyak sambil celingukan ke sekitar, karena saat ini mereka sudah berada di kantin kampus.
__ADS_1
"Biarkan begini sebentar. Pasti mereka nggak bakal berani ganggu kamu lagi." ucapnya, saat kebetulan Alex melihat ketiga temannya sedang menyorotnya dari jarak yang tidak begitu jauh.
"Aku nggak mau nanti mereka salah paham melihat begini." Resty melirik lagi pada tangannya yang masih digenggam oleh Alex.
"Salah paham nggak papa, yang penting kamu aman selama nggak ada aku nanti."
Kening Resty berkerut tipis saat mendengar ucapan Alex yang sedikit aneh.
"Ayuk, katanya mau beli minum." Alex menarik tangan itu hingga menuju lemari pendingin tempat minuman instan yang berada di kantin itu.
Tak sedikit dari pengunjung kantin yang melihat keduanya bergandengan tangan menyorakinya dengan nada menggoda. Varo, Cello dan juga Ryan pun turut menyemaraki sambil bercuit-cuit. Mendadak kondisi kantin siang ini menjadi riuh gegara melihat Alex menggandeng cewek lain. Padahal saat masih berpacaran dengan Donita tidak seheboh ini keadaannya.
Gadis itu hanya bisa tertunduk malu. Walau telah berusaha melepas genggaman itu, akan tetapi Alex semakin mengeratkan genggamannya.
Kejadian itu juga ditangkap oleh Ziyyan yang kebetulan masih stay di kantin sambil menikmati minuman dingin yang dipesannya. Pria itu hanya bisa senyum-senyum sendiri melihat aksi adik sepupunya itu. Diam-diam ia pun mencuri foto keduanya, dan berencana mengusutnya nanti saat Alex sudah kembali pulang.
"Seleranya imut juga." gumam Ziyyan, saat mencermati hasil foto tangkapannya.
Hingga sampai Alex dan Resty sudah pergi dari kantin itu, suasana kembali seperti semula. Sungguh Alex tidak menyadari kalau abangnya itu juga berada disana.
Lima menit kemudian, saat Ziyyan berencana mengirim pesan singkat kepada gadis bernama Resty yang ia sendiri masih tidak tahu bagaimana wajahnya, ia lebih dulu mendapat kabar dari bundanya kalau Ziana habis jatuh dan pergelangan kakinya sedikit retak.
Maka dengan terpaksa Ziyyan membatalkan pertemuannya itu dengan mengirim pesan singkat kepada Resty. Kemudian segera beranjak menuju mobilnya yang diparkir, untuk menuju sebuah klinik yang tak jauh dari sekolah Ziana.
Sedangkan Resty yang sudah menerima pesan dari Ziyyan itu akhirnya bisa menarik nafas lega. Siapa yang tak gugup dan nervous saat harus bertemu dengan orang yang sudah dicalonkan untuknya. Maka dengan pembatalan pertemuan perdana kali ini sudah pasti sangat membuat Resty seketika seperti lepas beban. Merasa kembali lega walau tak ditampik akan ada pertemuan kedua yang sudah menantinya disuatu hari nanti.
"Chattingan sama siapa?" tanya Alex, setelah beberapa saat lalu hanya dicueki oleh Resty yang lagi serius berbalas pesan singkat.
"Kepo deh!"
"Oh, ya sudah."
Gantian Alex yang sibuk berbalas pesan dengan abangnya. Kabar mengenai kejadian yang menimpa Ziana juga sampai kepadanya. Dan tentu membuat Alex merasa khawatir hingga terpaksa titip absen kepada Resty demi untuk melihat kondisi Ziana saat ini.
__ADS_1
Dan tanpa mengulur waktu lagi, pria itu melangkah pesat keluar dari kampus. Dan segera menaiki mobil Ziyyan yang ternyata masih menunggunya di pinggir jalan depan kampus.
*