
Hampir sesorean double date antara Alex dan Resty, Ziyyan dan juga Mayra. Mereka merasa sangat bahagia bersenda gurau bersama sambil menikmati sunset dipinggir pantai. Tak lupa mereka juga mengabadikan momen itu dengan berswafoto bersama.
Saat ini kebetulan malam minggu, jadi suasana di pantai itu lumayan ramai oleh beberapa pasangan baik muda ataupun sudah berkeluarga, untuk sekedar menghilangkan penat selepas seminggu sibuk beraktifitas.
Terlihat Ziyyan menarik tangan Mayra untuk sekedar mencari tempat yang lebih privasi buat mereka. Alex dan Resty hanya bisa menatap cemburu, terlebih Alex.
"Kapan ya kita seperti mereka?"
"Akan tiba saatnya juga. Kita hanya harus sabar dan berusaha. Tapi terus terang aku nggak mau menikah kalau seluruh keluarga kamu masih ada yang belum setuju. Terlebih mama kamu." ucap Resty dengan sendu.
Alex hanya bisa menghembus nafas panjangnya. Sebenarnya ia juga tidak mau menikah dengan tanpa restu orangtua, tetapi terkadang jika sedang buntu pria itu selalu ingin mengajak Resty kawin lari. Beruntungnya masih kuat ditahan, hingga hal itu tidak benar-benar terjadi.
Tetapi kali ini Alex tidak kehabisan akal untuk meminta restu itu dari mamanya. Walau terkesan akan sedikit memaksa dan mungkin mengagetkan, demi apapun akan Alex lakukan agar bisa bersama dengan Resty. Lihat saja nanti setelah ia kembali pulang ke rumah.
"Walau apapun yang kamu dengar nanti, kamu tetap mau kan bersamaku?" tanya Alex. Meski ia memutuskan menyimpan rahasia masalalu mamanya dengan papanya Resty, bukanlah jaminan jika suatu saat rahasia itu akan terbongkar juga.
Resty mengangguk sambil tersenyum kecil. Perlahan kepalanya ia rebahkan dipundak Alex. Dan sejenak keadaan menjadi hening, saat dari kejauhan terdengar kumandang adzan maghrib.
Alex berdiri sembari mengulurkan tangannya mengajak Resty beranjak dari sana. Terlihat Ziyyan dan Mayra juga sedang menghampirinya.
"Sudah maghrib. Ayo kita cari masjid terdekat." sapa Ziyyan kepada Alex.
Lalu kemudian mereka semua masuk lagi ke dalam mobilnya untuk mencari tempat ibadah buat mereka.
Setelah menemukan sebuah masjid yang tak jauh dari lokasi pantai itu, mereka pun segera memisahkan diri sesuai jenis kelamin. Resty dan Mayra sama-sama masuk ke dalam toilet khusus wanita.
"Nggak sholat, Kak?" sapa Mayra, saat melihat Resty hanya membersihkan muka.
Resty menggeleng. "Lagi halangan."
Mayra tersenyum kecil. Lalu setelah itu Mayra segera keluar setelah selesai mengambil air wudhu, untuk segera menunaikan tiga rokaatnya. Sedangkan Resty memutuskan menunggu mereka selesai beribadah sambil duduk diundakan teras depan masjid.
Tak lama setelah itu Alex keluar lebih dulu. Ia segera mendekati Resty dan kemudian duduk bersebelahan dengannya.
"Periodnya masih belum selesai ya?"
"Belum. Masih belum seminggu."
"Bisa lama juga ya?"
__ADS_1
Resty menatap curiga kepada Alex yang tumben-tumbenan membahas hal ini. Ada sedikit rasa geli, tetapi mungkin Alex sedang mode ingin tahu saja.
"Ada juga yang lebih lama." jelasnya kemudian.
"Kalau kita entar jadi menikah, bisa nggak ya itunya lebih diperpendek masanya. Mm.. tiga hari saja begitu."
Resty tersenyum miring menatap kekasihnya itu. Tiba-tiba merasa gemas saja ingin mencubitnya karena mendadak menjadi konyol menurutnya.
"Duh, kok malah nyubit?" Alex terjengkit kaget, saat tiba-tiba pinggangnya mendapat cubitan gemas dari gadisnya.
"Habisnya kamu sih, nanyanya nggak masuk akal."
"Ya nggak papa kan? Salah emang aku berharap seperti itu?"
Resty tak menyahut lagi. Jika melayani obrolan itu pasti jatuhnya mesum lagi menurutnya. Gadis itu meraih ponselnya, mendapati ada pesan masuk dari Ika, ia pun kemudian sibuk sendiri saling berbalas pesan hingga tak menghiraukan Alex yang tetap memperhatikannya.
Hingga sampai Mayra juga telah selesai beribadah dan ikut duduk disebelah Resty, barulah gadis itu menjeda sejenak dengan ponselnya.
"Kak, kamu bawa kerudung cadangan nggak?" Tetiba Alex bertanya kepada Mayra.
Gadis muda itu awalnya sedikit malu saat pria yang lebih tua darinya memanggilnya kakak. Berhubung dirinya memang sudah menjadi istrinya Ziyyan, jadi wajar saja Alex akan memanggilnya begitu.
Alex tak menyahut. Ia segera meraih kerudung panjang yang diberikan Mayra kepadanya. Gadis itu memang selalu membawa kerudung cadangan dalam tasnya, sebagai antisipasi bila terkena kotoran atau hal lainnya yang memungkinkan harus mengganti kerudungnya.
Tak mengulur waktu Alex memasangkan kerudung itu kepada Resty, membuat dua gadis itu terhenyak kaget dengan kelakuannya.
"Sip. Cantik, Yang." Alex mengacungkan jempolnya kepada Resty.
Resty masih terdiam sejenak. Pikirannya sedang dibuat bingung dengan tingkah kekasihnya itu. Mungkinkah Alex menginginkannya untuk berhijrah ke jalan yang lebih baik.
"Kak, minta tolong fotokan kita." Tanpa sungkan Alex memberikan ponsel milik Resty kepada Mayra.
Gadis itu segera berdiri dan memposisikan ditempat yang pas untuk mengambil gambar mereka.
Alex menuntun Resty untuk mengikuti gaya berfotonya. Walau dirasa aneh mengapa tiba-tiba Alex bersemangat mengajaknya foto mengenakan hijab, tetapi sebenarnya Resty merasa senang melihat sang kekasih berbinar senang.
"Wiih... Keren. Makasih, Kak." ujar Alex, saat hasil foto itu ia teliti satu persatu.
Secepatnya Alex mengirim foto itu ke hapenya juga. Senyumnya menyeringai tipis, membayangkan bagaimana reaksi kedua orangtuanya setelah tahu foto itu.
__ADS_1
"Kalian lagi ngapain, kayaknya seru sekali?" Tetiba Ziyyan ikut muncul didekat mereka.
Resty dan Alex tak menimpali, tetapi senyum kecilnya menandakan jika saat ini mereka sedang happy.
Saat mereka sudah siap masuk lagi ke mobilnya, tiba-tiba ponsel milik Resty berdering. Tertera nama papanya yang menelponnya.
"Iya, Pa," sapa Resty.
"Dimana Alex? Papa ingin bicara sama dia." ujarnya, yang kemudian Resty memberikan ponselnya kepada Alex.
"Iya, Om. Ada apa?"
"Lekas pulang. Antar kembali anakku dengan utuh." seru Tommy, terdengar menyeramkan bagi Alex.
"I-iya, Om. Segera." Alex menyudahi telponnya.
"Bang, maaf aku nggak bisa ikut Abang lagi pulangnya." sapanya kepada Ziyyan.
"Kenapa, Lex?"
"Ada urusan lain yang mendesak." sahutnya, lalu menarik tangan Resty untuk ikut masuk ke dalam taksi yang kebetulan sekali sedang melintas didepannya.
Ziyyan dan Mayra hanya bisa menatap entah kepada Alex yang tiba-tiba pergi seperti itu. Lalu kemudian mereka ikut masuk ke mobilnya untuk segera mengantar Mayra ke asrama, tetapi sebelum itu mereka mampir dulu ke sebuah restoran untuk makan malam bersama.
Taksi yang membawa Alex dan Resty melaju pesat dan lancar. Hingga tak lama setelah itu mereka pun telah tiba di rumah Resty lagi. Lantas mereka segera turun. Sebelumnya Alex berpesan kepada sopir taksi itu untuk menunggunya sebentar.
"Maaf, Om. Kalau pulangnya sampai malam." seru Alex, saat Tommy menyambut kedatangan mereka.
"Hem," Tommy hanya bergumam.
Sekilas sorot matanya meneliti tubuh Resty, membuat Alex jadi tak enak sendiri kepada papa pacarnya itu.
"Resty tetap utuh kok, Om. Hehe...."
"Mm, kalau begitu aku pamit pulang, Om."
Dan Alex pun segera pulang setelah sebelumnya bersalaman dengan calon bapak mertua, kalau jadi hehe....
Ia meminta sopir taksi itu mengantarnya ke apartemen Ziyyan, karena motor miliknya ada di sana. Setelah itu ia berencana akan pulang ke rumah, dan memberikan surprise yang telah ia rencanakan kepada orangtuanya.
__ADS_1
*