Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 144


__ADS_3

Suara alarm yang sengaja dipasang oleh Alex memekik nyaring, tetapi tidak juga membangunkan pria itu dari tidurnya yang begitu lelap. Berbalik dengan Resty tentunya. Wanita itu sebelumnya sudah terbangun satu jam sebelum alarm itu berbunyi. Kondisi tubuhnya yang mendadak meriang juga sedikit nyut-nyutan di kepala, membuatnya terbangun sebelum waktu yang diinginkan.


Tangan Resty terulur mengambil benda pipih yang masih berbunyi itu yang teronggok diatas nakas samping suaminya tidur, lalu mematikannya agar tak lagi berisik. Ia melirik jamnya menunjukkan pada angka satu dini hari. Walau sedikit malas tetapi Resty tetap bangun karena memang masih belum menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim.


Wanita itu berjalan terseok-seok menuju kamar mandi. Kepalanya terasa bertambah cenat-cenut saat dibuat melangkah. Mungkin saja ini pertanda kalau ia akan jatuh sakit. Tetapi meski begitu Resty masih berusaha kuat selagi bisa.


Cukup lama Resty masih berdiri didepan cermin wastafel walau sudah selesai mengambil wudhu. Rasanya sakit yang ia rasa kali ini tidak main-main. Karena tak lama setelah itu deritanya bertambah setelah merasa perutnya tiba-tiba bergejolak.


Suara Resty yang muntah-muntah rupanya mengusik tidur Alex. Spontan pria itu beranjak dari kasurnya begitu menyadari istrinya sudah tidak disampingnya. Sedikit sempoyongan berlari ke kamar mandi, menemui asal suara itu.


"Sayang!" Alex langsung mendekat kepada Resty sambil kemudian memijit pelan pada tengkuknya.


"Kenapa bisa muntah-muntah begini?" tanyanya tetapi tiada respon balik dari Resty yang masih saja mengeluarkan hampir seluruh isi perutnya.


"Tunggu bentar, aku ambilkan air minum dulu."


Lalu Alex pergi untuk mengambilkannya air minum hangat untuk kemudian ia memberikannya kepada Resty.


"Diminum dulu, Yang, biar nyaman perutnya," titah Alex dan Resty pun mengambil air itu lalu meminumnya separuh saja.


"Gimana, masih nggak enak?"


"Sedikit, tapi sudah lumayan dari pada tadi," jawab Resty.


"Besok periksa ya? Sepertinya kamu demam." Alex menempelkan punggung tangannya di kening dan pipi Resty.


Resty hanya mengangguk lemah, karena jika menolak suaminya itu pasti akan protes dan sedikit cerewet. Sakit ini mungkin karena Resty kelelahan saja, begitulah yang Resty pikir saat ini.


"Aku mau wudhu lagi."


Resty melangkah masuk lagi ke bilik kamar mandi untuk berwudhu karena sudah batal bersentuhan dengan suaminya barusan.


"Kuat nggak?" tanya Alex begitu mendapati istrinya melangkah cukup pelan menuju hamparan sajadah yang sebelumnya sudah Resty siapkan tadi.


Resty hanya mengangguk lagi. Tak lama setelah itu wanita itu menunaikan empat rakaatnya dengan pelan dan khusyuk, sambil diperhatikan oleh Alex tentunya.


Salam terakhir sebagai pertanda jika ibadahnya itu telah selesai dilaksanakan. Segera Alex mendekat dan ikut duduk disampingnya.


Resty mengulurkan tangannya untuk kemudian bisa mencium tangan suaminya itu dengan takdzim.


"Ini pasti karena kamu kecapean makanya sampe begini." Sekali lagi Alex menyentuh pipi Resty mengecek suhunya.


"Bisa jadi," sahut Resty lemah.


"Ayo tidur lagi. Besok pokoknya harus periksa. Aku perhatikan belakangan ini kamu kayak kurang fit."


Resty hanya bisa menurut, lalu kembali merebah di kasur setelah sebelumnya melepas mukenahnya terlebih dulu. Pria itu langsung membawa masuk tubuh Resty ke dalam pelukannya. Tidur dengan posisi seperti ini terasa begitu nyaman untuk Resty. Sebelumnya pria itu selalu mencium lembut di kening Resty sebelum kemudian mereka sama-sama kembali terbuai dalam alam mimpi mereka.


Alex dan Resty kembali terbangun saat sudah memasuki subuh. Dan lagi, mereka berdua menunaikan kewajiban dua rakaat itu bersama-sama.


"Kita keluar yuk, Yang?" ajak Resty beberapa saat setelah mereka selesai sholatnya.


"Kemana? Emang kamu udah baikan?" Alex menempelkan tangannya lagi di pipimu Resty.

__ADS_1


"Aku lapar. Ayuk kita cari makan diluar," seru Resty.


"Sepagi ini?"


Bahkan sinar pagi matahari pun masih belum muncul.


"Aku pingin makan soto. Semalam habis muntah-muntah perutku rasanya kosong."


Alex menghela nafasnya begitu saja. Sepagi ini mana ada penjual soto yang buka coba?


"Ayok, Yang... Berdiri!" Resty sampai menarik tangan Alex agar suaminya itu segera beranjak.


"Sepagi ini mau cari soto dimana?"


"Kali aja ada. Yuk ah!"


Setelah mereka mengganti pakaiannya dengan yang lebih santai, kemudian mereka pun keluar dari kamar hotel itu. Jogging pagi sekitaran taman hotel itu hingga sampai terik matahari pagi menyapa.


"Sepertinya kamu sudah baikan," ucap Alex memperhatikan gerak istrinya kembali lincah dan riang seperti biasanya.


Resty tidak begitu merespon ucapan suaminya. Mendadak mood nya kembali murung karena tak kunjung menemukan adanya tanda-tanda rumah makan yang menjual soto.


"Eh, mukanya kok manyun gitu?" Alex sengaja mencubit gemas di pipi Resty.


"Pingin soto," jawabnya mulai merengek nggak jelas.


"Pagi-pagi dah bikin gemas suami. Ngidam kamu, Yang?"


"Loh?"


Alex masih bengong ditempat sambil menggaruki tengkuknya sendiri, saat melihat Resty pergi meninggalkanya begitu saja.


"Cuma masalah soto aja dah ngambek dia?" gumamnya terheran-heran dengan tingkah istrinya yang tak seperti biasanya.


Lekas Alex berlari menyusul istrinya saat wanita itu menoleh lagi kepadanya.


Saat sudah kembali tiba di kamar hotel, Resty langsung berkemas.


"Ayo kita pulang, Yang," ajaknya tiba-tiba.


"Mandi dulu lah, biar badan kita segar."


"Ya udah, sana kamu duluan. Nggak pake lama loh, Yang."


"Kalau nggak mau lama nunggu, mandi bareng aja."


Seketika Resty menatap sengit pada pria yang langsung bungkam melihat tatapannya yang horor. Langsung saja pria itu melipir masuk ke kamar mandi tanpa berani protes apa-apa lagi. Sungguh tidak sesuai ekspektasi. Bukannya malah romantis setelah resepsi, tetapi mendapati sambutan mood jelek yang dipasang istrinya sepagi ini.


Beberapa saat setelah keduanya selesai mandi dan juga sudah mengganti pakaian bersiap untuk chek out dari hotel itu. Tepat jam tujuh pagi keduanya keluar dari pintu hotel. Dengan keadaan perut kosong belum terisi sarapan apapun, Alex melajukan mobilnya menuju rumah.


"Berhenti didepan, Yang," pinta Resty saat ditengah perjalanan menjumpai seorang pedagang bubur ayam keliling tengah dikerubuti para pembeli disekelilingnya.


Alex menepikan mobilnya tak jauh dari bapak penjual buryam itu. Lekas Resty ikut mengantri dengan sangat antusias.

__ADS_1


"Nggak jadi makan soto?" tanya Alex saat dua kotak makan berisi buryam yang masih panas itu sudah selesai dibuatkan.


"Jadi lah. Aku sudah WA mak Asna suruh buatin di rumah," jawabnya sangat semangat.


"Oooh..." Dan Alex hanya ber-oh panjang.


"Ya udah, ayo masuk."


Resty segera masuk ke mobilnya setelah Alex membukakan pintunya terlebih dulu.


"Jangan keburu pulang. Kayaknya enak nih makan ini disini selagi hangat," ujar Resty yang kemudian membuka kotak buryam itu dengan menghirup aromanya yang menggugah selera.


Alex setuju saja. Lagi pula perutnya juga mulai berisik minta diisi. Pria itu memakannya dengan lahap, tetapi tidak dengan Resty yang hanya mengaduk-aduk saja padahal baru sesendok yang masuk ke mulutnya.


"Kenapa, Yang? Nggak enak? Tapi menurutku ini enak kok, lezat dan gurih," ucap Alex.


"Ini buat kamu aja." Resty memberikan bubur miliknya kepada Alex.


"Jadi beneran nggak enak? Perasaan enak deh." Alex menerimanya, tetapi bukan untuk memakannya. Ya kali sepagi ini mau ngabisin dua porsi buryam yang lumayan banyak tiap porsinya.


"Masih pingin soto."


"Kirain sudah nggak pingin. Ngapain beli ini tadi kalau akhirnya nggak kemakan? Jadi mubadzir kan akhirnya?"


"Ya kamu dong yang habisin."


"Astaga! Jangan ngadi-ngadi deh, Yang. Perutku bisa meledak kalau sampai ngabisin dua porsi begini."


"Nggak bakalan meledak. Drama banget! Sini aku suapin, Yang?"


Resty mengambil alih kotak buryam itu dari tangan Alex, lalu menyuapinya dengan sabar.


"Tadi kenapa beli kalau akhirnya aku harus menanggung ini?" Alex masih sempat protes dengan kondisi mulutnya yang penuh dengan buryam.


"Tadi emang lagi pingin, tapi sekarang nggak lagi."


Tinggal beberapa sendok lagi Alex menutup mulutnya rapat-rapat.


"Sudah cukup, Yang. Kenyang banget!" ucapnya dengan gelengan kepalanya, sudah tidak kuat jika dipaksakan menghabiskan dua porsi buryam itu.


"Duh, anak mommy kan pinter, yuk dihabisin ya? Anak mommy harus makan yang banyak biar tumbuh sehat."


Resty masih memaksa Alex membuka mulutnya, sedikit mendrama menjadi sosok ibu yang menyuapi anaknya.


"Baiklah aku habisin, Mom. Tapi entar mimik cucu ya, Mom. Haus... "


Seketika Resty membulatkan matanya saat suaminya itu menatap nakal pada dua bukit kembar miliknya.


"Dasar mesum!"


Tetapi Alex hanya nyengir, juga sengaja mengerlingkan matanya kepada Resty. Baru semalam libur nggak dapat jatah, sudah pasang kode sepagi ini.


*

__ADS_1


__ADS_2