
Kabar kehamilan Resty santer terdengar hampir ke seluruh teman-teman di kampusnya. Apalagi pasangan pasutri muda itu juga satu kelas, tentulah hal itu langsung menyebar luas. Kebanyakan dari mereka mengucapkan selamat dan ikut bahagia. Apalagi setelah Resty hamil itu kelakuan Alex berubah drastis. Roman-roman calon bapak terpancar jelas pada sikapnya. Nyaris hilang predikat sebagai ketua geng di kampusnya.
Cello dan juga Ryan juga tak kalah bahagia turut antusias menyambut calon penerus dari geng The Fly yang nyaris punah. Setelah Varo masih belum jelas kabarnya di mana, sejak saat itulah geng mereka seperti telah vakum dari kebiasaannya.
Saat ini Resty, Alex, dan juga dua temannya yaitu Cello dan Ryan tengah duduk santai sambil ngemil di resto langganan mereka nongkrong. Mereka asyik mengobrol hal random. Apalagi setelah Alex memutuskan ikut bekerja di kantor papanya, baru kali inilah mereka memiliki waktu kumpul bareng lagi. Hingga tak terasa saking serunya waktu sudah semakin petang, yang semestinya Alex dan Resty sudah kembali pulang.
"Jangan lupa minggu depan wajib datang semua. Nggak ada alasan. Kalo bisa bawa calon juga sekalian," ucap Alex memperingatkan kedua temannya agar datang pada acara tasyakuran empat bulan kehamilan Resty, juga tasyakuran rumah baru mereka.
"Beres, insyaAllah, Bro. Kita usahakan datang," jawab Cello.
"Duh, jangan ada syarat bawa pasangan napa? Iya Cello ada Ratu, nah aku? Masih jones aja," seru Ryan yang seketika Alex dan Cello tertawa kecil.
"Makanya cari pasangan sana," ujar Cello sedikit jumawa karena kebetulan sudah punya pasangan.
"Aku itu pinginnya kayak Alex. Sekali suka, nggak pacaran lama, trus nikah, halal deh."
"Nyindir nih," Cello sedikit tersinggung dengan perkataan Ryan.
"Ngapain nyindir? Kamu aja baperan," seru Ryan.
"Eh, nggak kebalik?"
Alex dan Resty hanya bisa terkekeh saja mendengar obrolan mereka yang tak ubahnya kaum cewek, yang tak mau kalah ngomong.
"Eh, tapi kalau kamu mau sama Donita sana," ucap Cello yang langsung membuat suasana terdiam.
"Maksud kamu apa?" Giliran Ryan yang mulai tersinggung.
Sedangkan Alex langsung melirik kepada Resty. Bisa-bisanya dua temannya itu bahas Donita saat ada Resty. Dan benar saja, ekspresi wajah Resty seketika bertekuk masam mendengar nama itu di sebut.
Melihat semua sorot mata menatap tajam kepadanya, Cello pun hanya nyengir sambil menggaruk-garuk kepalanya. Pria itu akui ada sedikit keceplosan menyebut nama Donita, tetapi dirinya yang memang selalu update mengenai kabar mantan kekasih Alex itu saat ini memang sedang punya hot news tentang Donita.
"Ehem!" Cello berdeham sebagai pembukaan sebelum ia menceritakan yang sebenarnya tentang Donita.
"E... Sebenarnya aku ada kabar tentang--"
"Varo?" Alex bertanya cepat.
__ADS_1
Cello menggeleng.
"Tentang Donita."
"Fuh! Nggak penting!" sahut Ryan langsung jengah untuk kepoin kabar wanita itu.
Sedangkan Alex memilih diam saja. Tak tahu harus berekspresi seperti apa. Satu hal yang ia khawatirkan saat ini adalah istrinya. Sejujurnya ia takut istrinya itu akan membalasnya nanti saat di rumah. Memang saat ini Resty terlihat tenang tetapi dingin. Tetapi setelah Resty hamil, wanita itu penuh misteri menurit Alex. Kadang ngambek nggak jelas, dan pernah juga pria itu bernasib sial karena Resty menolak tidur dengannya. Satu hal itulah yang sangat Alex ingin hindari. Karena mood bumil memang susah di tebak.
"Kalian denger nggak kalo Donita keguguran?" Cello membuka bicaranya dengan melempar pertanyaan kepada Alex, Ryan, atau pun Resty.
Mereka bertiga tak merespon apa-apa. Tetapi menunggu pria itu melanjutkan bicaranya. Sudah kepalang kepo juga.
"Aku tahu kabar ini dari Mawar," jelasnya. Karena kebetulan sepupu Cello itu juga ada yang berkecimpung di dunia modelling yang juga tahu dengan Donita.
"Ooh...." Reaksi Ryan hanya ber-oh saja.
Tetapi tidak dengan Alex. Saat mendengar itu, Alex langsung menatap lekat kepada Resty. Tiba-tiba ia jadi galau hati saat mendengar istilah keguguran. Saat ini istrinya itu juga sedang mengandung. Rasanya tidak terbayang andai kejadian itu juga menimpa dirinya. Ah, tetapi semoga jangan.
Seketika tangan Alex terulur untuk menyentuh perut istrinya yang mulai buncit sedikit. Mengusapnya dengan lembut, sambil sesekali beradu pandang dengan Resty.
Lantas wanita itu tersenyum kecil sambil memegang tangan Alex yang masih mengusapi perutnya. Lalu mengangguk kecil, ibarat mengatakan semuanya baik-baik saja.
Sedangkan Cello yang memulai dulu pembahasan tentang Donita itu mulai merasa tak enak diri. Sesekali ia melirik kepada Ryan meminta solusi agar tidak ada kesalah pahaman yang terjadi antara Alex dan Resty, tetapi yang ada tanggapan Ryan hanya menghedikkan kedua bahunya pertanda entah.
"Apa nggak dengar kabar tentang Varo?" Alex bertanya mengalihkan topik.
Cello menggeleng. Ryan pun ikut menggeleng.
Sesaat mereka sama-sama terdiam. Rasa kangen kepada sosok Varo sangat mereka rasakan. Semoga saja nanti akan ada kabar tentang satu sahabatnya itu.
"Eh, kita harus segera pulang nih. Kalian lanjut aja kalau masih mau di sini," pamit Alex setelah melihat jam yang menujukkan hampir pukul sembilan malam.
"Oke, Lex. Kalian pulang saja, kita masih betah di sini. Sekalian nemenin Varo cari gebetan, sapa tau ada yang nyantol setelah ini," seloroh Cello.
Beruntungnya Ryan tidak merespon balik ucapan Cello itu. Hingga keduanya melihat Alex dan Resty sudah masuk ke mobilnya, barulah mereka berdua kembali mengobrol serius.
"Kamu ketemu Varo di mana?" tanya Cello kepada Ryan.
__ADS_1
"Di dekat jalan M.Tamrin sana. Tapi semoga saja aku salah lihat. Rasanya nggak mungkin kalau itu Varo," terang Ryan.
Cello hanya manggut-manggut saja. Pria itu mulai ada ide akan mengintai di sekitar daerah yang Ryan sebutkan itu. Apalagi cerita Ryan yang mengatakan tampilan Varo yang berubah drastis dari biasanya, membuatnya semakin penasaran saja.
Cello dan Ryan sebenarnya ingin jujur kepada Alex mengenai info Varo ini. Berhubung ada Resty yang ikut nimbrung, mereka berdua khawatir akan membuat bumil itu bertambah pikiran. Sedangkan untuk mengabari Alex melalui telpon atau pun chat, rasanya kurang afdol buat mereka.
Sedangkan Alex dan Resty saat ini sudah tiba di rumah barunya. Sudah tiga hari ini mereka memutuskan menempati rumah baru hadiah dari mama Sisil dan papa Kenzo. Saat ini mereka tengah bersiap untuk tidur, tetapi seperti biasa sebelum tidur mereka masih mengobrol hal kecil.
"Sayang, soal yang di katakan Cello tadi aku minta maaf ya?" ucap Alex setulus hati sambil mengusap lembut kepala Resty yang bersandar di dadanya.
"Kenapa harus minta maaf, nggak ada yang salah kok," seru Resty yang sangat membuat perasaan Alex lega seketika itu.
"Yang salah tuh kalau kamu masih kepikiran dia," ucap Resty bernada ancaman.
"Eh, mana ada aku mikir dia."
"Sapa tahu kan? Namanya juga mantan."
"Nggak ada ya, Yang. Sumpah mati aku nggak pernah ada mikirin dia sama sekali."
"Nggak usah bilang sumpah mati, ketahuan bohong mati beneran mau?"
Duh, kok jadi repot gini ya...
Alex hanya menggaruk kepalanya sendiri. Sudah buntu mau merespon seperti apa lagi. Salah bicara yang ada nanti dirinya akan terancam bobok sendiri lagi.
"Tidur yuk, Yang," ajak Alex sambil memeluk erat pada istrinya.
Wanita itu mengangguk patuh. Lalu Alex mendaratkan kecupan hangatnya di kening Resty. Perlahan wanita itu pun mulai memejamkan matanya.
"Eh, tapi kok aku belum ngantuk ya?" seru Alex yang membuat Resty membuka matanya lagi.
"Sayang, olahraga bentar yuk, biar keringetan dan tidurku bisa nyenyak," ajak Alex yang sebenarnya Resty paham maksud dari perkataannya itu.
"Libur dulu ya, Sayang. Jangan ganggu anakmu yang sudah tidur di sini," jawab Resty yang pasti membuat pria itu hanya bisa pasrah. Nasib.... Nasib....
*
__ADS_1