Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 148


__ADS_3

Suasana pagi yang seharusnya penuh semangat untuk kembali beraktivitas mendadak tak bergairah buat Resty. Setelah baru saja memuntahkan isi perutnya lagi, tentu badan terasa lemas dan malas untuk beraktivitas apapun.


Alex yang sudah kepalang panik dan cemas sudah tidak bisa berpikir jernih. Hari ini ia harus berhasil membujuk Resty agar mau memeriksakan kondisinya. Sudah dua hari ini Resty mengalami gejala yang sama. Pria itu jadi takut sesuatu yang membahayakan terlambat diketahui olehnya.


Melihat kondisi Resty sudah membaik lagi, Alex memapah Resty untuk masuk ke mobilnya lagi.


"Nggak mau!" tolak Resty saat Alex akan membukakan pintu mobilnya.


"Mau ambil libur lagi?" tanya Alex yang sesungguhnya bukan hal itu yang dimaksud Resty.


Resty langsung menggeleng cepat. Kalau selalu mengambil cuti libur kuliah, kapan kelarnya coba?


"Nggak mau naik mobil. Baunya nggak enak. Kamu ganti parfumnya ya?" ucap Resty yang mendadak tidak suka dengan aroma wangi mobilnya yang membuatnya merasa eneg.


"Nggak kok. Malah ini belum sempat ganti dari bulan kemarin."


Resty menghindar sedikit menjauh dari mobilnya. Lalu wanita itu melangkah lebih cepat menuju motor Alex yang terparkir tak jauh dari sana.


"Ayo naik motor saja, Yang." ajaknya mulai semangat.


Alex mendekat. Pria itu memandang Resty sedikit haru. Aura wajah istrinya itu tidak begitu baik, cuma seperti dipaksakan biasa saja oleh Resty.


"Kalau memang masih nggak enak, mending nggak usah masuk, Yang. Nanti aku ijinin." Alex membelai pipi Resty penuh kasih.


"Aku sudah nggak pa-pa, asal jangan naik mobil saja. Aneh! Kenapa perutku eneg terus sih?" Resty mengusap perutnya, merasa aneh dengan kondisi dirinya yang tidak seperti biasanya.


"Makanya kamu harus periksa, biar tahu kondisi kamu sebenarnya kenapa."


Resty memilih diam. Ia yakin rasa mual yang kerap muncul itu bukan seperti gejala asam lambung. Suhu tubuhnya biasa saja. Tetapi yang mengherankan ialah ia selalu ingin makan makanan yang masam. Jika meneliti lebih dalam, ini mirip gejala orang lagi ngidam.


Mendadak Resty tercengang ditempat. Ia jadi ingat kalau bulan ini tamu rutinnya itu belum berkunjung. Seharusnya dalam minggu ini ia sudah datang bulan. Apakah ini semacam perubahan hormon tubuh setelah ia mengkonsumsi pil KB? Semoga saja jawabannya seperti itu. Karena jika jawabannya ia tengah berbadan dua, terus terang Resty masih tidak siap dan belum bersedia.


"Sayang, kenapa bengong? Mikirin apa sih?" tanya Alex, saat ini pria itu sudah mengenakan helmnya dan bersiap akan memakaikan helm milik Resty.

__ADS_1


Resty hanya menggeleng, tak mau berucap apa-apa. Ia meraih helm dari tangan Alex kemudian memakainya sendiri. Setelah itu mereka berdua segera naik ke atas motornya dan kemudian Alex segera melajukannya keluar rumah. Menyusuri keramaian jalanan ibu kota yang mulai padat oleh beberapa kendaraan lain yang melintas.


Selama perjalanan itu Resty hanya diam. Pikirannya terus mengarah kepada tamu bulanannya. Hatinya mulai resah sendiri. Apa sebaiknya ia periksa saja agar semua jawabannya jelas.


Tapi tunggu? Ini masih telat lima hari dari tanggal yang semestinya. Mungkin jika sampai seminggu belum kunjung datang, maka Resty akan memeriksakan diri ke dokter. Sesuatu yang terjadi selepas mengkonsumsi pil KB siapa yang tahu coba?


Tak lama kemudian mereka telah tiba di halaman kampus tercinta. Alex segera memarkirkan motornya pada tempat parkir yang khusus disediakan untuk mahasiswa. Segera keduanya menuju kelas mereka.


Sesekali mata Resty menatap ke sekeliling. Mencari keberadaan Ika tentunya. Karena subuh tadi mama sambungnya itu mengabari jika hari ini ia akan masuk kelas. Walau agak telat-telat dikit, karena harus berangkat dari hotel yang ia dan Tommy bermalam di sana semalam.


Melihat wajah istrinya yang kentara lesu dan sedikit pucat, Alex berinisiatif mengajak Resty ke kantin dulu. Barang kali ada sesuatu yang mau dimakan oleh Resty di sana, mengingat pagi ini isi perutnya keluar semua setelah dimuntahkan tadi.


"Mau makan apa? Meski nggak enak harus tetap dipaksa makan loh, Yang," ucap Alex saat mereka sudah sama-sama duduk ditempat yang dianggap nyaman karena langsung terhubung ke arah luar. Jadi bisa sekalian makan sambil menunggu Ika.


"Males, Yang. Nggak selera," jawab Resty.


"Eh, nggak boleh males. Kalau begini yang ada kamu tambah lemas."


"Oke! Terserah kamu." Nada bicara Resty syarat keterpaksaan.


Ah, iya. Rujak manis. Alex langsung melihat ke stand penjual rujak manis yang juga ada di kantin itu. Beruntungnya dagangannya ready. Apa beli rujak manis saja ya biar tidak memiliki hutang janji lagi kepada Resty?


"Sayang..."


Alex menuntun Resty untuk melihat ke arah penjual rujak manis itu.


"Mau itu?"


Resty langsung mengangguk semangat. Lalu secepatnya Alex beranjak ke stand penjual itu. Binar wajah Resty kembali ceria. Sudah tidak tahan menahan dari kemarin untuk memakan yang diinginkannya itu.


Saat Alex mengantri itu, ia tak sengaja berpapasan dengan Ryan yang kebetulan baru datang.


"Masih pagi sudah antri begituan. Ngidam, Lex?" seloroh Ryan yang membuat Alex seketika kepikiran dengan perkataan sahabatnya itu.

__ADS_1


"Mau tau aja!" Alex memilih tak menjawabnya.


"Eh, tapi nggak pa-pa sih kalo beneran ngidam. Ehem... Ehem... Otw bakal punya ponakan kalo gitu."


Alex tak mau menimpali omongan Ryan, meski sebenarnya hatinya mulai terusik dengan kata ngidam dari Ryan itu.


"Eh, dosen masih lama kan masuknya?"


"Kabarnya sih gitu. Sans aja, Lex. Nikmati dulu, nggak usah terburu-buru."


Jadwal kelas yang seharusnya masuk pagi berubah ada keterlambatan sekitar setengah jam. Dan itu lumayan lah buat isi perut dulu sebelum masuk kelas.


"Aku pergi dulu, Lex. Mau susul Cello. Biasa... Ada mangsa empuk dibelakang." pamit Ryan sambil setengah memberi tahu kalau ia sedang menjaili seseorang yang menjadi target keusilannya kali ini.


"Yoi, Yan. Hati-hati!" Alex tergelak sesaat.


"Aku mau insaf dulu. Takut entar anakku sama kayak aku."


"Sama-sama gila! Hahaha...."


Setelah beradu tos tangan, duo sahabat itu terpisah lagi. Pesanan Alex sudah selesai dibuat. Segera pria itu kembali kepada Resty yang menunggunya sedikit tak sabar.


"Berdoa dulu. Makannya pelan-pelan, Yang." intrupsi Alex saat melihat Resty melahap buah yang sedikit masam itu dengan nikmatnya.


"Sudah, bacanya dalam hati barusan," sahutnya dengan mulut yang penuh dengan makanan.


"Sampai belepotan begini."


Jemari Alex mengusap bersih pada ujung bibir Resty yang ternodai bumbu kacang dicampur gula merah itu.


"Pokoknya aku mau makan seperti ini tiap hari," seru Resty merasa selalu kurang, bila perlu ingin nambah lagi.


"Boleh," sahut Alex tanpa banyak protes.

__ADS_1


"Asal setelah ini kamu harus mau periksa ke dokter. Gimana? Setuju?"


*


__ADS_2