
"Kita ke sana yuk..."
Alex menggenggam tangan Resty lalu menuntunnya menuju sebuah gubuk yang tak jauh dari keberadaan mereka. Derasnya guyuran air hujan mengharuskan mereka berlari agar tubuh mereka tidak semakin basah kuyup.
Pintu kayu yang sudah usang itu Alex ketuk berulang-ulang, tetapi tak ada tanda-tanda gubuk itu berpenghuni. Dan ternyata pintu itu tidak terkunci. Alex memberanikan diri mengintip ke dalam, sambil menggemakan salam berharap ada seseorang yang menempati gubuk itu.
"Kayaknya emang nggak ada orangnya deh, atau jangan-jangan memang sudah nggak ditempatin lagi." seru Resty.
"Bisa jadi. Padahal aku ngarepnya bakal nemu minuman hangat disini. Hehe..."
"Iish, ngarep amat!" Resty menimpuk gemas lengan Alex.
Karena tidak ada satu orang pun yang menghuni gubuk itu, mereka berdua memutuskan tetap berdiri disitu sambil menunggu hujan reda. Tetapi sepertinya hujan akan mengguyur semalaman, karena mendung di langit semakin hitam pekat.
Resty mengusap-usap lengannya sendiri. Baju yang sebagian basah, ditambah hujan deras beserta anginnya membuat cuaca bertambah dingin.
Sama halnya dengan yang dirasa Alex. Akan tetapi pria itu mencoba biasa saja didepan Resty agar tidak terlihat lemah, apalagi dirinya adalah lelaki yang semestinya bisa melindungi Resty saat cuaca tidak mendukung begini.
"Kalau dingin didalam saja, Yang." ujar Alex, demi melihat bibir Resty yang sedikit pucat.
"Aku takut," Resty menolaknya.
"Nggak usah takut, aku nggak kemana-mana."
"Tapi didalam gelap."
Alex mendengus nafasnya. Saat ini sedang tidak mati lampu, sebab dari kejauhan masih ada sinar lampu dari rumah penduduk sekitar. Dengan kondisi gubuk yang tetap gelap begini itu tandanya gubuk ini benar-benar kosong tak berpenghuni.
"Ayo aku antar ke dalam." Alex menggandeng tangan Resty.
Mereka berdua sudah berada didalam gubuk itu. Kondisi didalam gubuk itu lumayan berdebu.
"Kamu diem disini dulu. Aku coba cari saklar lampunya."
"Yakin ada?" Resty terlihat ragu.
Alex tak menyahut. Ia terus berjalan pelan sambil meraba disekitar, mencoba mencari sesuatu yang bisa untuk dijadikan penerangan.
"Sayang, pinjem hapenya buat nyalain senter." serunya kepada Resty.
Gadis itu langsung merogoh sakunya untuk mengambil ponselnya, akan tetapi mereka harus sial lagi karena ponsel milik Resty tiba-tiba lowbet.
__ADS_1
"Yaah... Mati, Yang."
Sumpah demi apapun saat ini Resty benar-benar merasa seperti mendapat karma yang nyata. Tiba-tiba ia jadi kepikiran eyang Asih. Pasti di sana eyangnya itu sedang kebingungan mencari mereka yang pergi tiada kabar.
"Yes!" Tetiba Alex bersorak girang.
Pria itu menemukan lilin dan korek api di gubuk itu. Sepertinya gubuk ini pernah ada yang menempati sebelumnya. Ditambah juga ada sehelai selimut yang juga Alex temukan tak jauh dari tempat ia menemukan lilin itu.
Lekas Alex menyalakan lilinnya dan suasana pun menjadi temaram. Sebelumnya Alex menyoroti sinar lilin itu ke sekitar, demi memastikan gubuk ini dalam keadaan aman. Setelah tidak menemukan tanda-tanda bahaya di gubuk tersebut, ia meletakkan lilin itu ditempat yang dirasa aman.
"Syukurlah, jadi nggak takut kalau sudah terang begini." ucap Resty.
Alex tersenyum kecil. Pria itu segera membersihkan lantai tanah yang dirasa pas untuk duduk. Lalu setelahnya memberikan selimut yang ia temukan itu kepada Resty.
Gadis itu tak langsung meraihnya. Sejujurnya ia sedikit was was memakai selimut yang ia tak tahu milik siapa.
"Pake aja. Lumayan buat hangatin badan." ujar Alex, masih menyodorkan selimut itu kepada Resty.
"Kok bisa ada selimut disini?"
Sebenarnya Resty sudah sedikit curiga dengan gubuk ini, setelah kekasihnya itu menemukan selimut yang masih lumayan bersih dan wangi.
"Kamu nggak ada curiga nggak sama tempat ini?"
Resty mengedarkan pandangannya ke sekitar. Selebihnya tidak ada sesuatu yang mencurigakan selain penemuan selimut juga lilin dan korek apinya. Ini bukan suatu kebetulan yang menjadi keberuntungan buat mereka yang memang sangat butuh selimut demi menghangatkan badan. Tidak salah kan jika gadis itu beranggapan gubuk ini pernah ditempati oleh seseorang yang memanfaatkan gubuk tak berpenghuni ini sebagai ladang bercocok tanam ilegal.
Resty menggelengkan kepalanya tanpa sadar, disaat prasangkanya itu terus menari dibenaknya.
"Sayang, kenapa?" tanya Alex curiga.
"Ah, nggak papa." kilahnya.
Alex mengambil selimut itu lagi. Lalu menyelimutinya ke tubuh Resty tanpa permisi.
"Biar nggak dingin." cegahnya, saat gadis itu ingin melepas selimutnya.
"Tapi aku--"
"Jijik? Karena bekas orang?" terka Alex sekenanya.
"Bukan." Resty menyahut manyun.
__ADS_1
"Kalau nggak mau pake, apa mau menerima kehangatan yang lain?"
Resty terdiam. Ia benar-benar tak paham atas kata pancingan dari kekasihnya itu.
"Kamu diem berarti setuju." ujarnya, yang kemudian langsung membawa tubuh gadisnya itu ke dalam pelukan hangatnya.
Sesaat Resty terhenyak menerima kelakuan Alex. Berpelukan seperti ini memang terasa hangat apalagi pelukannya dengan sang kekasih. Tetapi ini tidak bisa dibiarkan berlama-lama, karena tiba-tiba Resty merasa tangan pria itu menjalar kemana-mana dipunggungnya.
"Diem sebentar, Sayang. Aku dingin banget." serunya, saat Resty mencoba melepas pelukannya.
"Tapi tangan kamu jangan nakal dong."
Alex melonggarkan pelukannya untuk menatap wajah Resty yang berubah cemberut.
"Maaf, habisnya tubuh kamu memang menghangatkan sekali."
Resty langsung menimpuk lengan Alex dengan kepalan tangannya. Pria itu berpura-pura meringis, padahal tak terasa sakit sama sekali.
"Sayang, jangan kasar dong sama pacar."
"Mau lagi, hem?" Resty mengangkat kepalan tangannya lagi kepada Alex. Ia semakin gemas pada kekasihnya itu yang hanya cengengesan tanpa merasa bersalah apa-apa.
"Emang berani?" Alex menantangnya, tetapi sebenarnya itu sekedar taktiknya demi bisa mengelabuhi Resty.
Satu kepalan tangan itu siap melayang, akan tetapi Alex sigap menangkap tangan itu dalam cengkraman tangannya yang erat.
Sesaat sepasang netra itu saling menatap dalam-dalam. Disaat dirasa gadis itu sudah terlena dengan tatapan tajamnya, Alex tak mau membuang kesempatan itu. Tetiba bibir itu menyambangi bibir Resty dengan kecupan hangatnya. Menuntunnya untuk menyambut indra perasanya dengan nikmat.
Alex terus memimpin menyusuri rongga mulut itu dengan lidahnya. Awalnya gadis itu memang teramat kaku, tetapi berkat ciuman lembut kekasihnya itu akhirnya Resty bisa mendominasinya dengan seimbang.
Indra perasa itu saling membelit dan menimbulkan bunyi decahan yang membuat semakin bergairah. Mereka masih tak puas untuk mengakhiri rasa nikmat yang mereka ciptakan. Hujan yang belum kunjung reda semakin membuat suasana keduanya terasa romantis.
Perlahan Alex melepas pagutannya demi memberikan asupan oksigen kepada Resty. Mata mereka saling beradu kembali, hingga kemudian ciuman itu kembali bertandang semakin brutal.
Posisi mereka yang saling berpelukan membuat keduanya merasa semakin nikmat melancarkan ciumannya. Kedua tangan Resty melingkar dileher Alex, sedangkan tangan Alex semakin melingkar erat dipinggang seksi gadisnya itu.
Mendapat sambutan seduktif dari Resty, Alex mencoba mencicipi area lainnya. Pria itu seketika menurunkan wajahnya dan langsung menyesap lembut pada leher Resty.
"Aaaah......"
*
__ADS_1