
Sisil langsung memeluk Resty dengan sangat bahagia. Sampai-sampai calon nenek itu menciumi pipi Resty saking terharunya karena tak lama lagi akan memiliki cucu.
"Mama senang sekali mendengar ini, Sayang. Terimakasih ya sudah memberi mama cucu secepat ini," ucap Sisil.
Resty hanya mengangguk ikut bahagia. Perasaan yang sebelum ini sempat galau karena hamil, tiba-tiba musnah setelah melihat wajah-wajah bahagia yang terpancar dari seluruh keluarganya.
"Ehem!" Kenzo pura-pura berdeham.
Sontak mereka semua menoleh kepadanya.
Sisil seperti paham apa arti dehaman suaminya itu. Lalu ia pun memberi kesempatan untuk Kenzo bisa berbicara dengan Resty.
"Papa." Resty menyapanya sambil lalu mencium punggung tangan papa mertuanya itu.
Kenzo hanya tersenyum hangat. Tangannya terulur untuk mengusap pucuk kepala menantunya itu.
"Baik-baik ya. Tolong di jaga sampai nanti saatnya keluar. Jangan sungkan bilang sama Alex kalau ada yang ingin kamu minta." Pesan Kenzo kepada Resty.
Resty mengangguk kecil. "Iya, Pa. InsyaAllah, aku pasti menjaganya. Do'akan saja semoga nanti lancar dan sehat."
"Jadi mau tetap ngobrol di sini?" Alex ikut menyela, karena memang saat ini mereka masih berada di luar kamar Resty.
Lalu mereka semua sama-sama beranjak ke lantai bawah untuk kemudian duduk bersama di ruang makan. Bersiap menyantap hidangan makan malam yang sudah di siapkan oleh mak Asna.
"Kamu mau makan yang mana, Yang?" tanya Alex sangat perhatian.
Resty menunjuk pada oseng-oseng sayur nangka muda yang sebelumnya memang sudah di request Resty kepada mak Asna.
"Sudah cukup, Yang," ucap Resty lagi saat Alex mengambilkan sayur itu ke piring Resty.
Walau tidak begitu berselera makan, tetapi tetap harus terisi. Demi buah hati yang sudah tumbuh di rahimnya.
Lalu mereka pun mulai menyantap sajian makan malam itu dengan khidmat. Setelah selesai, mereka memilih mengobrol santai di ruang keluarga.
"Ini hadiah buat kalian dari kami."
Kenzo meletakkan sebuah kunci rumah di meja. Alex mengambilnya meski masih tak paham dalam rangka apa papa mamanya itu memberinya hadiah.
"Sengaja mama sama papa membelikan kalian rumah. Tolong jangan di tolak," ucap Sisil juga.
Sejenak Alex dan Resty sama-sama saling melempar pandang.
"Kami lebih nyaman tinggal di sini, Ma," seru Resty kemudian.
__ADS_1
"Itu terserah kalian. Yang pasti papa dan mama ingin kalian menerima hadiah pernikahan yang kami berikan buat kalian. Terserah kalian mau menempatinya kapan."
Resty dan Alex saling bertatap lagi. Tak lama setelah itu Alex mengangguk kecil kepada Resty.
"Terimakasih, Pa, Ma."
Bersamaan keduanya mengucapkan terimakasih kepada Kenzo dan Sisil.
"Kalau kalian pindah rumah, lantas siapa yang mau menempati rumah ini?" Tommy yang sedari tadi diam saja mendadak merasa kehilangan membayangkan rumah ini akan kosong. Dirinya saja saat ini sering tinggal di rumah Ika.
"Kamu yang nempatin, Tom." Sisil ikut menyahut.
"Dari pada kamu tidak jelas mau tinggal di mana, lebih baik kamu ajak istrimu pulang ke rumah ini. Biar Alex dan Resty belajar hidup mandiri," lanjut Sisil.
Tommy hanya diam, tak mau ambil pusing ucapan Sisil. Baginya ia tidak keberatan meski harus tinggal di dua tempat. Selama istrinya itu merasa nyaman dan baik-baik saja.
Sedangkan Ika mulai menaruh sedikit curiga kepada mamanya Alex itu. Di lihat dari gaya bicaranya sepertinya mereka pernah saling mengenal lama.
Melihat istrinya yang tiba-tiba diam membisu, Tommy bisa mencium gelagat tak enak itu.
"Kamu nggak pa-pa, By?" bisiknya pada Ika.
"Mau pulang?" Tommy bertanya lagi karena istrinya itu tak segera menyahut tadi.
"Baik-baik ya, Nak. Papa pulang dulu," ucap Tommy saat Resty ikut mengantarnya hingga teras depan.
Resty mengangguk terharu. Lalu mereka berdua saling berpelukan. Rasanya masih tak percaya jika anak semata wayangnya itu setelah ini akan memberinya seorang cucu. Hingga tiada sadar Tommy mulai menitikkan air matanya, menangis terharu dan bahagia.
Ika yang melihatnya hanya bisa mengusap punggung suaminya. Jadi ikut baper melihat ayah dan anak itu saling menumpahkan tangis bahagia.
Setelah itu Tommy dan Ika masuk ke mobilnya, lalu segera pergi dari rumah itu. Tak lama setelah itu Kenzo dan Sisil ikut pamit pulang, karena merasa Resty butuh istirahat yang banyak agar esok bisa tetap fit.
Saat rumah itu kembali sepi, segera Alex menuntun Resty kembali ke kamar.
"Sayang, apa masih ngerasa nggak enak?" tanya Alex memastikan kondisi istrinya. Saat ini mereka berdua sudah berbaring di kasurnya.
"Lebih mending dari pada sebelum periksa kemarin," jawab Resty apa adanya. Karena setelah mengkonsumsi obat pereda mual yang diberikan oleh dokter kandungan tadi, rupanya cukup ampuh mengurangi rasa mual yang sering tiba-tiba muncul pada Resty.
Alex tersenyum lega mendengarnya. Pria itu menuntun kepala Resty untuk bisa merebah dengan nyaman di dadanya. Kecupan hangat itu terus saja bertandang pada kening mulus Resty. Rasa bahagia itu terpancar sekali dari aura wajahnya.
"Kira-kira anak kita cewek apa cowok ya, Yang?" tanya Alex mulai penasaran akan jenis kelamin bayi mereka.
"Kamu pinginnya apa?" Resty balik bertanya, membuat Alex berpikir sejenak.
__ADS_1
"Aku pingin anak perempuan yang cantik dan manis seperti kamu," ucap Alex sambil mencapit gemas hidung Resty.
"Kenapa perempuan?"
"Karena kalau laki entar bandelnya kayak aku gimana?"
"Itu kan anak kamu. Masa iya mau mirip orang lain alimnya," Resty mencubit gemas pipi Alex.
Pria itu membalas mencium pipi Resty.
"Sebenarnya aku sih terserah mau dikasi cowok apa cewek. Yang terpenting bagi aku, kamu sama anak kita sehat dan selamat." Alex mengusap pelan pada perut rata Resty.
Beranjak pria itu merubah posisinya, dan seketika mencium perut Resty.
"Sayang, jangan begini, geli." Resty sedikit mendorong kepala Alex dari perutnya.
"Apa kabar anak papa?" Pria itu malah mengajak bicara janinnya yang masih berupa darah.
"Kabarku baik, Pa." Resty menyahut dengan merubah suaranya mirip suara anak kecil.
Alex terseyum menatap Resty.
"Anakku, kangen nggak sama papa?" ucap Alex lagi yang seketika Resty paham akan modus di balik perkataannya itu.
"Sayangnya aku nggak kangen, Pa," sahut Resty yang membuat Alex langsung menatapnya gemas.
"Kenapa nggak kangen? Padahal papa kangen pingin nengokin kamu."
Lagi-lagi Alex mengusak nakal pada perut Resty, membuat tubuh wanita itu menggeliat kegelian karena ulahnya.
"Sayang..." Suara Alex mulai berat.
"Hem..." Resty menyahut paham.
"Boleh ya... ya..." Sorot mata Alex mengerling.
"Nggak boleh! Ingat kata dokter tadi apa?"
Sepertinya Resty ingin menguji kesabaran suaminya. Tetapi sebenarnya dalam hati ia sudah tak kuat menahan tawa. Karena melihat wajah suaminya yang memelas, mirip bocil yang permintaannya nggak keturutan.
"Aku mainnya pelan kan? Lagian ini tuh harus sering di cicil. Tadi saja masih belum bentuk apa-apa. Belum ada kuping, mata, tangan, kaki, dan semua itu buatnya harus di cicil, Yang," seloroh nya ngadi-ngadi sekali.
Resty sudah tak kuat menahan tawanya. Akhirnya wanita itu mulai cekikikan sendiri. Dan Alex tidak mau membuang kesempatan. Maka pria itu segera membungkam mulut istrinya dengan ciumannya yang lembut. Menyesap manis madu bibir itu, sehingga istrinya itu ikut terlena akan pagutannya yang begitu nikmat.
__ADS_1
*