Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 68


__ADS_3

Resty hanya bisa terdiam tanpa bisa merespon apa-apa setelah tahu kabar yang sebenarnya terjadi dengan Alex dari Ika. Bahkan kabar itu kini sudah viral di kalangan kampus mereka walau saat ini masih dalam masa libur, karena saat ini juga kabar itu sangat ramai dibicarakan melalui grup whatsApp kelasnya.


Gadis itu sungguh tidak menyangka jika Alex akan mendapat cobaan berat dari keluarganya seperti ini. Hingga sampai dicabut semua fasilitas miliknya untuk mencukupi segala kepentingan lainnya demi kelancaran urusan keluarganya.


Dan yang membuatnya semakin tak tega adalah saat membaca beberapa cibiran dari anggota teman di grup kelasnya yang menganggap Alex sedang mendapat karma dari tingkahnya sendiri. Beberapa orang yang pernah menjadi korban keusilannya dulu banyak yang bersorak puas, tetapi tidak sedikit pula yang turut merasa iba kepadanya.


Dari sekian cibiran tak enak itu rupanya yang dibicarakan tak ada muncul untuk berkomentar. Atau bisa jadi Alex sengaja membisukan notif pesan itu dari ponselnya.


Pantas saja Alex sempat menghilang tiada kabar walau hanya beberapa hari saja. Dan sangat tidak menyangka ternyata pria itu sekarang berada satu tempat dengannya, meski statusnya kini sebagai pekerja di rumah ini.


Jika bukan karena keadaan yang mendesak, Resty yakin Alex tak akan sampai ditempat ini. Demi mencari tambahan pemasukan, pria itu rela turun derajat dari anak majikan menjadi seorang pembantu.


Waktu merambat semakin naik menjadi siang, tetapi Resty masih betah terdiam dengan lamunannya, masih sambil duduk di tepi jendela kamarnya. Ia tak tahu harus berkata apa andai kejadian itu juga menimpanya. Sungguh tak ada satu orang pun yang mau mendapat ujian berat seperti ini, bersyukurnya Alex masih bisa bertahan dengan tanpa melakukan hal negatif pada dirinya sendiri.


Resty ingat jika Alex berkata akan menceritakan mengapa ia bisa berada disini. Tetapi setelah tahu semuanya ini, Resty rasa ia tak perlu mengungkit itu lagi. Biarlah pria itu tetap begini, tetap terlihat tegar, walau tanpa menceritakan itu padanya.


Kali ini gadis itu penasaran lagi, akankah eyang Asih juga sudah tahu hal ini? Tetapi bila ingat dengan panggilan Ayu kepada Alex, Resty rasa sang eyang masih belum tahu kejadian sebenarnya. Bisa jadi Alex sengaja menyembunyikan identitasnya itu dari orang-orang rumah ini.


Kalau sudah tahu begini, rasanya akan sangat tega kalau Resty tetap jutek padanya. Sebab mendapat cobaan hidup seperti ini tentunya sangat membutuhkan dukungan moril dari orang-orang terdekat disekitarnya.


"Ah, pantas saja Alex terus ngigau manggil-manggil mamanya." Resty berbicara sendiri.


Bisa jadi sakit yang diderita Alex bukan hanya karena masuk angin atau demam, bisa jadi karena tersiksa batin tak kuat menahan rindu kepada keluarganya yang Resty dengar dari Ika kalau kedua orangtua Alex pergi untuk menghilangkan jejak.


"Tapi bukannya Alex ada saudara lainnya? Kenapa nggak coba diam disana saja dari pada harus cari kerja sampe kesini? Pasti tantenya itu bisa bantu juga kan?"


Resty tiba-tiba teringat kalau Alex pernah mengajaknya mampir ke rumah tantenya. Ia pun kembali sibuk dengan segala asumsinya tentang Alex, tetapi akhirnya memilih tak ambil pusing dan lebih baik keluar mencari udara segar diluar rumah.


Hari sudah semakin terik dan cukup panas. Gadis itu sengaja mencari kesibukan lain dengan memetik daun-daun kering dari beberapa tanaman bunga yang ada di halaman samping rumah. Sesekali mulutnya menggumamkan sebuah lagu kesukaan, sebagai pengalihan dari rasa panas yang mendera.


Merasa jenuh lagi, Resty mengambil ponselnya dan kemudian mencoba menghubungi papanya. Beruntung panggilannya langsung segera terjawab oleh papanya, karena memang jam segini saatnya papanya rehat makan siang.


"Wa'alaikum salam, gimana di rumah eyang? Betah dong?" sapa Tommy, setelah sebelumnya menjawab ucapan salam dari Resty dulu.

__ADS_1


"Betah, tapi sedikit jenuh." adunya mulai bernada manja.


"Loh loh, jenuh kenapa?" tanya Tommy mulai penasaran.


"Pingin pulang, Pa.." Gadis itu mulai merengek kepada papanya.


"Kok tiba-tiba? Katanya mau di rumah eyang sampe selesai liburan?"


"Diem disini bukan liburan, malah jadi ngerawat orang sakit." ujarnya. Tanpa disadari atau tidak, gadis itu merasa butuh teman curhat saja.


"Siapa yang sakit, Res?" Tommy bertanya panik.


"Eh, nggak ada." Resty terkaget sendiri, sambil menepuk mulutnya sendiri yang sudah keceplosan.


"Yang sakit bukan eyang kan, Res?"


"Eyang sehat, Pa. Nggak ada yang sakit kok." kilahnya lagi.


Tommy berpikir sejenak. Walau sangat penasaran, tetapi ia akan menanyai kecurigaannya itu kepada eyang Asih saja setelah ini.


"Mm--"


"Itu tandanya kamu masih nggak pingin pulang beneran."


Resty hanya bergeming saat papanya mengatakan itu. Memang benar, gadis itu hanya sedang merasa galau saja dengan hatinya. Bayangan liburan yang akan menyenangkan seperti tak akan terjadi sesuai ekspektasinya. Apalagi masalah hatinya yang masih abu-abu kepada Alex, membuatnya masih tak bisa tenang dan senang dengan keberadaan pria itu di rumah ini.


"Atau kamu ingin segera pulang itu karena kangen seseorang ya?" Tommy malah menggoda Resty dengan embel-embel someone.


"Kangen seseorang siapa? Kangen papa iya." Gadis itu menyahut sedikit bete. Hati yang sedang galau terasa mudah sensitif walau hanya sekedar digoda papanya.


"Ya siapa tahu kangen sama Ziyyan."


Sengaja Tommy menyebut nama Ziyyan, sebab ia ingin mendengar langsung bagaimana tanggapan anaknya itu saat mendengar nama calon tunangannya yang batal jadi.

__ADS_1


"Kak Ziyyan?"


Bahkan gadis itu seperti telah lupa dengan masalahnya bersama Ziyyan. Ia jadi teringat jika ia masih belum bilang soal kesepakatan yang dibuat bersama Ziyyan kepada papanya.


"Iya, emang siapa lagi yang mau kamu kangenin selain papa sama calonmu itu?"


Tommy sengaja berkata begitu, meski sebenarnya ia sudah tahu dari Zayn kalau hubungan Resty dan Ziyyan hanya bisa sebatas kakak adik saja. Pria itu akan terus memancing omongan Resty, hingga sampai nanti anaknya itu terus terang sendiri. Bila perlu bisa terus terang juga tentang siapa pria yang saat ini disukainya itu.


"Hallo, Sayang.." Tommy kembali menyapa, setelah Resty hanya terdiam tanpa bersuara.


"Iya, Pa." Resty menyahut sedikit lemas.


"Kamu belum jujur sama papa loh?"


"Jujur? Masalah apa?"


"Coba diingat. Apa yang masih kamu rahasiakan sama papa."


"Mm-- Nggak ada." sahutnya dibuat yakin. Padahal seandainya mereka bicara berhadapan, tentu kentara sekali kalau sekarang raut Resty sedang gelisah.


"Baiklah, papa nggak akan maksa. Mungkin kamu masih belum siap. Tapi papa akan sabar kok nunggunya."


"Papa ini maksudnya apa ya? Aku beberan nggak ngeh deh, Pa." Resty akhirnya penasaran juga dengan teka teki perkataan papanya yang menurutnya masih ambigu.


"Baiklah, papa mau langsung ke intinya. Tapi setelah ini kamu janji harus jujur."


"Mm-- Baiklah." Resty memilih sepakat dari pada tetap penasaran.


"Bagaimana kamu sama Ziyyan?"


"Aduh! Beneran kan? Aku udah feeling duluan nih barusan. Gimana ngomongnya ya? Kira-kira papa akan marah nggak sih?" batin Resty mulai panik sendiri.


"Sebenarnya--"

__ADS_1


*


__ADS_2