
"Sayang, aku pergi beli obat dulu ya?" pamit Alex segera setelah mamanya keluar dari kamarnya.
Resty mencekal lengan suaminya itu untuk tidak pergi, karena ada sesuatu yang perlu ditegaskan kepadanya mengenai keinginan mama Sisil.
"Ada apa? Mau nitip makanan?" tanyanya sekenanya.
Resty menggeleng, lalu wanita itu memilih duduk berselonjor dengan menyandarkan tubuhnya pada heardboard ranjang.
Alex duduk lagi didekat Resty. Melihat mimik wajah istrinya yang kentara gelisah membuatnya sedikit kepikiran jika harus meninggalkannya sekarang.
"Soal keinginan mama--" Resty tak jadi meneruskan perkataannya, sebab suaminya itu langsung menggeleng kepala kepadanya.
"Nggak usah dipikirin," serunya sedikit memberi solusi untuk kegelisahan yang dirasa Resty saat ini.
"Gimana aku nggak mikir, mama kamu ingin kita segera punya anak. Sedangkan kita saja masih separuh lagi lulus kuliahnya. Apalagi aku sendiri tidak siap kalau harus punya anak secepat ini. Kita pernah membahas ini kemarin kan?"
Alex mengangguk. Pria itu ingat betul akan keinginan istrinya untuk menunda memiliki momongan dalam waktu dekat ini.
"Tapi kenapa tadi kamu diem aja? Kenapa nggak coba terus terang sama mama soal kesepakatan kita kemarin?"
"Nanti aku pasti bilang."
"Kapan?"
"Kalau mama nanya cucu lagi sama kita," ujarnya sangat santai.
Resty mendengus kesal pada suaminya itu. "Itu sama saja kamu PHPin mama."
Alex menggaruk-garuk kepalanya sendiri. Sejujurnya pria itu jadi dilema sendiri antara mau jujur atau tidak kepada mamanya. Ia tidak mau mengecewakan perasaan mamanya andai nanti tahu tentang itu. Tetapi ia juga tak mau memaksa Resty untuk siap hamil dalam waktu dekat ini.
"Sudah lah!" Resty segera menyingkap selimutnya mencoba beranjak dari kasur.
"Mau kemana, Yang?" Alex sedikit ragu takut istrinya itu ngambek demi melihat wajahnya yang terlihat bete.
"Mau pipis," sahutnya agak ketus.
"Sini aku bantu jalan, Yang. Bukannya kamu masih pusing?" Alex lekas merangkul bahu Resty, tetapi wanita itu melepasnya perlahan.
"Aku bisa sendiri," ujarnya tanpa mau menoleh pada wajah suaminya yang terlihat sedikit frustasi akibat istrinya yang suka moodian.
"Fix! Jelas ngambek nih." batin Alex mengumpat.
"Yakin bisa, Yang?"
Resty tak menyahut. Ia terus saja melangkah pelan ke arah kamar mandi.
Tok tok tok
"Sayang..."
Alex mengetuk pintu kamar mandi itu setelah Resty berada didalam.
"Aku pergi beli obat dulu ya?" pamitnya lagi.
"Hem." Resty hanya berdeham dari dalam.
Setelah itu pria itu pun akhirnya keluar kamar sembari mengelus dada menekan kesabarannya. Sebisa mungkin ia harus tetap sabar untuk menghadapi kaum PMS seperti Resty.
Wanita itu keluar dari kamar mandi dengan wajah yang terlihat segar oleh air wudhu, karena ia berencana menunaikan empat rokaatnya setelah ini. Sembari menunggu Alex datang, Resty menunaikan kewajibannya itu seorang diri. Terlihat sangat tenang hingga kegiatannya itu usai sampai salam.
Mendadak ia menjadi galau dan terus kepikiran keinginan mama mertuanya lagi. Apakah lebih baik ia memasrahkan semuanya pada kehendak Tuhan, yang pasti akan bertolak belakang dengan hati kecilnya sendiri.
__ADS_1
Dalam diam itu tiba-tiba ia jadi kangen papa Tommy. Sebelumnya ia selalu mencurahkan segala uneg-unegnya itu kepadanya. Merasa butuh teman curhat seperti sosok papanya, ia pun segera mendial nomor handphone papanya.
Tak menunggu lama sambungan telponnya dijawab juga oleh Tommy.
"Iya, Sayang," sapa Tommy.
"Papa sibuk nggak?"
"Kebetulan nggak. Ini papa baru nyampe di hotel. Kamu gimana kabarnya? Kok suaranya papa dengar agak serak. Sakit?"
"Cuma masuk angin aja, Pa," akunya tanpa mau menutup-nutupi dari papanya.
"Jangan bilang cuma masuk angin. Kalau dibiarin bisa keterusan sakitnya. Sudah minum obat belum?"
"Alex lagi berangkat beli di apotik."
"Duh, pengantin baru kok malah sakit sih!" goda Tommy pada anaknya.
"Papa sendiri pengantin baru juga kok malah tega ninggalin istrinya sendiri di sini." Resty balas menggodanya juga.
Tommy terkekeh seketika.
"Papa tuh disini lagi ngurusin kerjaan. Bersyukurnya papa punya istri yang pengertian sekali kayak mama Ika," ujarnya sangat jumawa memiliki istri yang bisa mengerti kesibukannya.
"Iya, aku percaya. Semoga papa senantiasa bahagia sama mama Ika."
"Aamiin. Sayang papa juga semoga selalu bahagia sama Alex."
"Papa ada rencana mau kasi aku adek nggak?" tanya Resty langsung blak-blakan.
"Kamu mau?" Tommy sengaja balik bertanya. Sejujurnya pria itu juga dilema, karena masih belum membahas masalah momongan dengan istri kecilnya itu.
"Kamu sendiri kapan mau kasi papa cucu?"
"Aku--" Resty tak jadi meneruskan perkataannya. Dari nada bicara Tommy saat bertanya barusan terdengar begitu menggebu, seakan papanya itu memang sedang menunggu kehadiran buah hati dari pernikahannya ini.
"Hallo, Sayang..." Tommy menyapa lagi begitu Resty hanya terdiam saja.
"Iya, Pa."
"Kok diem lama. Lagi mikirin apa?"
"Mikirin masalah papa nanya cucu."
Tommy tergelak lagi.
"Resty sayang, seperti itu jangan terlalu dipikirkan. Tadi tuh papa hanya iseng nanya. Masa iya baru kemarin nikah sudah mau langsung hamil."
Resty hanya terdiam saat mendengar omongan papanya itu.
"Papa sih sedikasihnya saja. Mau kamu hamil cepat atau nggak, papa sabar menunggu. Asal kamu sama Alex juga bisa sabar menunggu, nggak ada masalah kan?"
Resty merasa sedikit lega mendengar ucapan dari papanya. Ada kalanya seseorang diberi kepercayaan momongan dengan cepat, ada kalanya juga butuh proses yang lama juga hingga bertahun-tahun. Dari itu Resty seperti telah menemukan sebuah jawaban bila nanti mama mertuanya itu bertanya "sudah isi belum?" Asal Alex bisa diajak kompromi, tentu semua bisa teratasi dengan mudah.
"Papa," sapa Resty lagi.
"Iya, Nak."
"Papa cepat pulang. Jangan lama-lama ninggalin mama Ika, nggak kasihan apa?"
"Iya. Sebisa mungkin papa akan mempercepat yang disini biar bisa cepat pulang. Titip mama Ika ya?"
__ADS_1
Resty jadi tertawa kecil. Rasanya lucu sekali mendengar papanya menjadi agak bucin.
"Siap, Papa."
Setelah saling mengakhiri sambungan telponnya itu, Resty akhirnya bisa menghela nafasnya dengan lega.
"Dari papa ya, Yang?" tetiba suara Alex menyapanya dari belakangnya. Saking asyiknya bertelponan dengan papa Tommy, Resty jadi tidak sadar kalau suaminya itu sudah datang.
"Iya." Kemudian Resty melepas mukenah yang masih dipakainya sedari tadi, melipatnya dengan rapih dan mengembalikan ke tempat asal.
"Aku tadi beliin kamu bubur ayam. Dimakan ya, setelah itu minum obatnya," ujar Alex sambil meletakkan sebungkus bubur ayam yang dibelinya ke atas meja dekat sofa di kamar.
Resty mengangguk patuh. Wanita itu juga duduk di sofa bersebelahan dengan Alex.
"Tapi suapin," pintanya mendadak manja.
Alex hanya tersenyum manis. Pria itu membuka bungkusan bubur ayam yang masih cukup hangat, lalu menyendokkan dengan sabar suapan demi suapan ke mulut Resty.
Tak lama kemudian bubur ayam itu akhirnya tandas. Rasanya yang cocok dengan selera lidah Resty membuatnya tak butuh waktu lama untuk mengeksekusinya. Segera wanita itu meminum obat yang sudah disiapkan oleh Alex. Mendadak wanita itu teringat sesuatu yang lain saat sedang meminum obat itu.
"Sayang," sapanya sedikit bersemangat.
"Gimana kalau aku minum pil KB aja? Kata kamu bukannya nggak enak pake kon*dom."
Alex masih berpikir sejenak.
"Gimana?" Resty sampai mengguncang pelan lengan Alex.
"Boleh," sahutnya setuju wae lah.
Resty menyeringai tipis.
"Tapi kalau nanti mama Sisil nanya-nanya aku kok nggak hamil, kamu bantu jawab ya?"
Alex mengangguk. "Iya, Sayang. Kamu tenang aja, aku pasti bantu jawab. Yang nggak ikut KB saja ada juga yang lama hamilnya. Jadi kamu tenang ya, jangan dijadikan beban."
"Tapi aku juga nggak enak terus-terusan bohong sama mama Sisil kalau kita sengaja menundanya. Dosa nggak sih?"
"Aku malah merasa sangat bersalah kalau memaksa kamu untuk hamil, padahal aku tahu kamu nggak siap."
Resty mengulas senyumnya begitu sumringah. Suaminya itu rupanya mau mengerti dan memaklumi dengan keinginannya itu. Berhambur ia memeluk erat tubuh Alex. Rasanya jadi tambah sayang kepadanya.
"Tidur yuk, Yang?" ajak Alex tiba-tiba.
Keduanya pun segera beranjak ke kasur. Lalu merebah diri ditempatnya masing-masing. Segera Alex memeluk erat tubuh istrinya begitu saja.
"Cepat sembuh ya? Jangan kelamaan sakitnya. Melukin kamu gini aja aku jadi kangen."
"Emang kamu tega mau minta jatah pas aku sakit begini?"
"Ya nggak mungkin lah, Yang. Makanya cepat sembuh, biar aku liburnya nggak nunggu lama."
"Iih... Baru cuma sekarang doang liburnya."
"Berarti besok pagi boleh minta dong?" tanyanya sedikit mengerling nakal.
"Dah, tidur, Lex!" Resty sampai meraup gemas wajah Alex dengan jemarinya.
Tetapi yang ada pria itu malah menggelitiki pinggang Resty hingga istrinya itu jadi terpingkal-pingkal kegelian. Seperti sejenak lupa jika kepalanya masih agak nyut-nyutan. Terasa seketika hilang setelah bersenda gurau dengan suami tersayang.
*
__ADS_1