Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 21


__ADS_3

Happy birth day, Mama...


Happy birth day, Mama...


Happy birth day, happy birth day, happy birth day, Mama....


Wanita yang semula fokus meracik olahan yang akan dimasaknya mendadak kaget dengan surprise yang direncanakan Alex.


Ia mendekat ke arah Alex yang berdiri tak jauh dibelakangnya, dengan senyum riang yang memenuhi wajahnya.


"Selamat ulang tahun, Mama." ucap Alex, begitu mamanya sudah berada didepannya.


Mama Alex hanya mengangguk kecil sembari tetap tersenyum haru. Sudut matanya sedikit mengembun, merasa bahagia ternyata anak semata wayangnya itu selalu mengingat akan hari lahirnya.


Berbeda dengan pria yang masih lengkap dengan pakaian kerjanya yang berdiri disamping kanan Alex, dia adalah papanya Alex. Mungkin pria itu sudah lupa kapan terakhir kali mengucapkan selamat ulangtahun untuk istrinya. Biduk rumahtangga yang dibina dengan atas dasar perjodohan, membuat kedua orangtua Alex menjalani pernikahan itu hanya sebatas menjalani saja.


Meski keduanya tak pernah mengungkapkan saling cinta, rupanya sampai detik ini mereka masih bersama. Sama sama bertahan demi apa yang sudah terlanjur terjadi.


Alex sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi diantara kedua orangtuanya. Ia tak sengaja tahu itu karena mendengar saat mamanya curhat dengan tantenya, yang rupanya semua ini bermula dari mama Alex yang belum move on dengan mantan kekasihnya yang dahulu.


Sedangkan papa Alex memilih bertahan itu semata demi kemajuan dua bisnis keluarga. Yang buktinya setelah keluarga mereka bersatu, bisnis keluarga itu semakin melesat hingga sampai kini memiliki dua perusahaan besar setelah dikelola oleh papa Alex.


Pria penuh ambisi. Ungkapan itu memang pantas disanding papa Alex. Penggila kerja demi kesejahteraan generasi berikutnya. Hingga sampai mengharuskan ia memiliki seorang keturunan atau pewaris.


Lahirnya seorang anak dalam rumahtangga seharusnya menjadi daya pikat keharmonisan keluarga itu. Ibarat kata anak adalah buah hati cinta. Sayangnya Alex terlahir bukan karena rasa cinta yang tumbuh dari kedua orangtuanya. Melainkan hanya sebagai tuntutan adanya pewaris atau penerus yang harus mereka miliki.


"Tiup lilinnya dong, Ma." ucap Alex, setelah hanya mendapati mamanya yang termenung dengan buliran bening yang mulai menetes di pipinya. Terharu bahagia.


Mama Alex langsung menyeka airmatanya. Senyum hangat masih terukir dari sudut bibirnya.


Hingga sampai pada mama Alex selesai meniup lilin itu, ruang dapur itu mendadak riuh dengan suara tepukan tangan dari mereka, termasuk bibi Siti yang juga berada disana.


"Terimakasih, Sayang." Mama Alex berhambur memeluk anaknya, begitu kue itu sudah diambil alih oleh bibi Siti.


"Iya, Mama. Semoga mama sehat selalu, bahagia, dan semakin dicinta sama papa." Alex berucap sambil melirik sekilas pada papanya yang terlihat sangat datar.


Mereka melepas pelukannya. Terlihat papa Alex turut mengikis jaraknya memeluk juga pada istrinya.

__ADS_1


"Selamat ulang tahun." ucapnya singkat, tanpa embel embel kata puitis maupun romantis yang keluar dari mulutnya.


Mama Alex hanya mengangguk pelan. Usapan tangannya mengelus punggung kekar suaminya dengan begitu lembut.


"Aku juga punya hadiah buat kamu."


Seketika mama Alex terhenyak saat mendengar kata ajaib yang sangat langka keluar dari mulut suaminya. Ia pun perlahan melepas pelukannya, dan hanya berakhir dengan saling tatap.


"Nanti dikamar aku kasi hadiahnya." ucapnya lagi.


"Ciye... Ciye..." Alex malah menggoda kedua orangtuanya. Tentu ia sangat bahagia melihat papanya yang bisa romantis juga dengan mamanya.


Papa Alex hanya melirik sambil tersenyum tipis kepada Alex. Lalu akhirnya pria itu memisahkan diri sembari menuju kamarnya.


Mama Alex tak lekas menyusulnya, ia malah memandang kepada Resty yang hanya terdiam sedari tadi.


"Itu apa?" tunjuknya pada sebuah kado yang dipegang Resty.


"Eh, ini-- ini dari.."


"Ah, bukan Tante." sorot mata Resty menyorot tajam pada Alex.


"Iya, maksud aku ini memang dari aku, cuma kamu kan ikut milih kemarin, jadinya ini atas dasar pilihan kita." Alex menyeringai bertambah pede.


"Dasar cowok gaje! (*Gak jelas). Apaan sih maksudnya dia? Duh... Kapan pulangnya kalau banyak drama kayak gini. Awas saja ya, aku bersumpah semoga ini yang terakhir aku berurusan sama orang macam Alex." Kesal sendiri. Resty pun hanya berani mengumpat saja dalam hati.


"Wah, terimakasih ya, sudah bantu memilihkan kado buat Tante. Kira kira isinya apa nih, Lex?" ucapnya sumringah, ketika kado itu telah berpindah tangan.


"Bukanya dikamar saja, Ma. Lagian mama kan juga ditungguin papa disana." suruh Alex.


"Ah, iya Tante. Om pasti sudah menunggu Tante sedari tadi." Resty ikut-ikutan mendrama.


Baginya dengan mama Alex lekas masuk kamar, ia bisa leluasa meminta kunci mobilnya kepada Alex.


Mama Alex tersenyum hangat, ia semakin mendekat ke arah Resty. "Sini, tante ingin peluk kamu dulu." ucapnya, seketika langsung memeluk tubuh Resty.


Gadis itu terpaku, serasa terkena magnet yang sulit terlepas bahkan untuk sekedar menolak pelukan dari mama Alex. Entahlah, tiba tiba saja hati kecilnya merasa nyaman begitu dipeluk oleh seorang mama, yang memang tak pernah ia merasakannya dari wanita manapun.

__ADS_1


"Terimakasih sudah mau berteman dengan Alex." ucapnya. Terasa ambigu sekali di telinga Resty. Memangnya selama ini Alex tidak memiliki teman? Apa mamanya ini tidak tahu kalau Alex menjadi ketua geng menyebalkan di kampus yang memiliki para kacung yang tak kalah menyebalkan juga?


Entahlah, Resty tak mau ambil pusing dan apalagi memang bukan urusannya. Ia pun hanya memilih diam tanpa menggubris apa-apa.


Mama Alex melepas pelukannya. Lalu kemudian ia pergi menyusul suaminya ke kamar, setelah sebelumnya meminta bibi Siti untuk melanjutkan acara memasaknya, dan tentu juga berpesan agar Resty tak keburu pulang.


"Sekarang mana kuncinya?" Resty segera menodong Alex dengan menengadahkan sebelah tangannya, begitu melihat kondisi sudah mendukung.


"Sudah ku bilang ada di kamar."


"Ya cepet ambil sana!"


"Tunggu dulu, keburu amat! Nggak ingat pesan mama apa?"


"Aku nggak peduli itu." ucapan Resty penuh penekanan.


"Sudah lah, sekarang mana kunci mobilku? Buruan ambil!"


"Kalau nggak sabar silahkan ambil sendiri dikamar." Alex hanya menggertak. Sebenarnya ia tak yakin juga Resty akan mengambilnya ke kamar Alex.


"Hiiih! Nyebelin!" umpat Resty, lengkap dengan hentakan kakinya sebelum akhirnya beranjak pergi.


Langkah kaki Resty keluar dengan cepat, disusul Alex yang membuntutinya tak kalah cepat.


"Mau kemana kamu?" tanyanya, begitu tangan Resty berhasil ia cekal.


Resty berusaha melepas cekalan tangan Alex, tapi tenaganya kalah kuat dengan pria itu. Yang akhirnya ia hanya mendengus kesal dengan tatapannya yang saling beradu pandang.


"Lepasin nggak?" Resty masih berusaha menekan kesabarannya.


"Iya, tapi kamu ini mau kemana?"


Resty tak menyahut. Disaat mereka masih sibuk saling melempar tatapan sengit, saat itu pula Resty mengambil kesempatan untuk menginjak kaki Alex cukup keras dan kuat.


"Auww... Auww...."


*

__ADS_1


__ADS_2