Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 124


__ADS_3

"Kenapa, Yang? Kamu mau bicara apa?"


Alex sedikit tak sabar menunggu jawaban dari Resty. Ia pun kembali mencumbunya dengan kecupan nakalnya diarea gunung kembar milik istrinya itu. Akan tetapi Resty malah mendorong pelan bahu Alex, sambil berkata sesuatu yang membuat Alex seketika menghentikan aksinya.


"Aku tidak mau hamil dulu, aku belum siap," ucapnya sedikit pelan tetapi penuh keyakinan.


Alex menyeringai lagi. Ia pun mulai merogoh kantong celananya kemudian menunjukkan benda kecil yang memang disiapkannya itu kepada Resty.


"Tenang, ada ini, Sayang," ujarnya.


Resty terhenyak sesaat. Merasa heran sejak kapan suaminya itu menyiapkan benda itu, lebih tepatnya sejak kapan yang membelinya.


"Aku rela mau pake ini, meski kata sebagian orang rasanya kurang mantap," jelasnya lagi.


Resty masih terdiam. Tetapi sebenarnya ia tidak masalah dengan itu asal tidak membuatnya hamil dalam waktu dekat ini. Sejujurnya gadis itu masih sangat ingin menikmati waktu indah berdua saja dengan Alex. Dan masalah momongan sendiri itu bisa diprogramkan dikemudian hari kan?


Sesaat mereka saling terdiam dengan tatapan mata yang saling mengunci. Alex yang tentu sudah dikuasai oleh kabut gairah, dan Resty yang sebenarnya sudah siap lanjut setelah melihat Alex memiliki balon ajaib itu.


Perlahan Resty menarik pelan leher Alex dengan mengalungkan tangannya. Mencoba menjadi wanita agresif dengan mencium bibir suaminya lebih dulu dengan gigitannya yang sedikit nakal. Alex pun langsung menyambutnya dengan sangat antusias, merasa sangat senang mendapati sambutan baik yang artinya istrinya itu mau untuk diajak lanjut ke tahap lebih hot.


Setelah puas menikmati benda kenyal nan mungil itu, Alex melepas pagutannya. Sorot matanya semakin sulit diartikan, karena sebenarnya pria itu sudah tidak tahan dan ingin segera melepas sesuatu yang ingin keluar dari dirinya.


Tanpa mengulur waktu lagi Alex melepas celananya lalu melemparnya ke sembarang tempat. Memamerkan benda pusaka miliknya yang sudah siap meluncur pada tempatnya. Membuat Resty seketika memejamkan matanya karena merasa kaget melihat tongkat kehidupan milik suaminya itu.


Alex tidak peduli lagi meski Resty berpaling wajah sambil merapatkan kedua matanya. Pria itu langsung memakaikan balon ajaibnya itu sebelum kemudian resmi mendarat ditempatnya.


Sebagai pengenalan agar tidak kaget dan tegang, Alex sengaja memainkannya lebih dulu pusakanya itu diarea inti milik Resty. Membuat Resty seketika meliuk menggoda, merasakan sensasi yang berbeda dengan tahap pengenalan yang dilakukan suaminya itu. Kembali mendesah tanpa disengaja, membuat Alex perlahan meneroboskan benda pusakanya itu ditempat yang masih sangat sempit belum pernah tersentuh sama sekali.

__ADS_1


Resty menjerit tertahan saat sesuatu yang baru itu memaksa masuk pada inti miliknya. Tangannya mencengkram kuat di punggung Alex, nyaris sedikit melukainya, tetapi Alex tidak patah arang untuk terus mencobanya walau ia melihat dengan jelas ada setitik buliran bening yang keluar dari sudut mata Resty saat ini.


Masih separuh perjalanan, pria itu pun terpaksa menarik keluar lagi dari sarangnya. Muncul rasa tak tega melihat Resty yang meneteskan airmatanya walau itu tidak banyak. Kemudian kembali mencoba mengatur deru nafasnya yang masih tergopoh-gopoh, dan melihat sekilas pada miliknya yang diujungnya rupanya ada sebercak darah yang pasti berasal dari milik Resty.


Lagi-lagi pria itu tersenyum tipis, sebab hanya dirinyalah satu-satunya orang yang berhasil membobol gawang pertahanan yang sudah tentu kesuciannya itu dijaga Resty selama ini. Peelahan jemarinya mengusap lembut airmata Resty, sambil menciumi keningnya cukup lama.


"Sakit banget ya, Yang?" tanyanya merasa tak tega.


Resty hanya mengangguk kecil sebagai jawabannya.


"Tapi masih bisa ditahan kan? Aku akan pelan-pelan, Yang?"


Resty mengangguk. Hal seperti ini sudah lumrah akan dirasakan pada semua wanita yang mau pecah perawan. Sakit diawal, tetapi akan menjadi candu yang tak berkesudahan begitu hal itu sudah biasa dilakukan.


Alex kembali mengulang dari awal. Rasanya sangat sempit dan sulit untuk menelusurinya hingga sampai mentok ke ujung. Hingga kemudian pusakanya itu berhasil masuk dengan sempurna, barulah pria itu merubuhkan diri diatas tubuh Resty. Mengecup keningnya berulang-ulang, merasa sangat puas telah berhasil membobol gawang itu dengan perjuangan yang sangat melelahkan.


Gerakan tarik ulur pria itu masih begitu kalem, namun perlahan semakin cepat setelah mendengar ******* Resty yang seakan memenuhi seluruh ruang kamar itu.


"Keluarkan, Sayang. Nggak usah malu. Aku suka dengarnya," ucapnya masih sambil memompa pergerakannya dengan sedikit cepat.


"A-aku--"


Entah apa yang akan Resty katakan, tetapi semua itu terjeda disaat dirinya merasa ada sesuatu yang pecah dan meluap nikmat dari miliknya. Membuatnya seketika bergetar menggelinjang, baru merasakan bagaimana nikmatnya permainan surgawi bagi pasangan pengantin seperti mereka.


Deru nafas Resty berangsur lebih pelan. Merasa lemas tetapi sangat membuatnya bisa melambung tinggi ke nirwana. Sedangkan Alex hanya menatapnya dengan penuh kepuasan. Inilah tujuan utama permainannya. Membuat istrinya merasa nyaman lebih dulu, barulah kemudian dirinya yang akan ikut terbawa terbang oleh nikmatnya penyatuan tubuh itu.


"Kamu sangat cantik kalau lagi on, Yang."

__ADS_1


Sumpah! Mulut pria itu senang sekali meracau tanpa filter. Membuat rona pipi Resty seketika memerah malu. Tanpa segan Resty menimpuk bahu Alex sedikit keras, merasa gemas sendiri. Ingin membalasnya juga tetapi Resty masih terlalu dikuasai rasa malu pada pria yang berhasil membuka segel pertahanannya itu.


"Kamu bilang ya kalau entar ngerasa nggak nyaman."


"Ngilu, perih, sakit!" Resty hanya menyahut sesuai apa yang dirasanya saat ini.


"Tapi itu memang proses awalnya saja, Yang. Setelah ini pasti nggak sakit lagi kok." Pria itu kembali mencium sekilas pada bibir Resty.


"Aku lanjut ya, Yang?" Tanpa menunggu jawabannya, Alex kembali bergerak dengan lincah pada lembah kenikmatan itu.


Tetapi reaksi Resty kembali meringis perih, sebab miliknya itu terasa penuh dan sesak oleh pusaka milik suaminya itu.


"Duh, Yang, ini nikmat sekali," racaunya saat merasakan ada sesuatu yang mau keluar dari dirinya.


Pria itu semakin mempercepat gerakannya, seperti tak memberi jeda sama sekali. Menghentak dengan cukup keras hingga sesuatu itu menyembur keluar dari pusakanya dengan sangat nikmat.


"Aaaargh......"


******* panjang keluar dari mulut Alex. Merasa puas karena sama-sana merasakan kenikmatan itu dengan sempurna. Seketika merobohkan diri diatas tubuh Resty, setelah sebelumnya menghujani wajah istrinya itu dengan ciumannya.


"Terimakasih, Sayang," ucapnya kemudian. Lalu membenamkan wajahnya pada dua benda kenyal milik Resty yang mulai saat ini akan menjadi mainan kesukaannya.


Wanita itu hanya tersenyum tipis juga dengan anggukan kepalanya. Benar-benar ikhlas telah menyerahkan kesuciannya itu pada orang tercintanya. Walau sebenarnya harus meringis lagi saat tak sengaja menggerakkan kakinya.


"Gini amat rasanya pecah perawan," gumamnya, tetapi syarat tiada penyesalan apapun darinya.


*

__ADS_1


Ehem... Ehem... Tinggal siapa nih yang belum bobol gawang?


__ADS_2