
"Duh, jadi nggak sabar nunggu dua minggu lagi," seru Alex, saat ia dan Resty tengah menikmati makanan ditengah acara santai acara pernikahan Tommy itu.
"Ada apa emang?" Resty sengaja pura-pura tak paham.
"Ah, Sayang. Masa nggak peka sih?" Alex pura-pura merajuk.
Resty menggeleng, tetap berpura-pura tak paham. Sebenarnya gadis itu selalu merasa grogi tiap kali membahas pernikahan. Apalagi saat itu sudah semakin dekat. Tetapi kekasihnya itu malah terkesan tak sabar menunggu waktu itu tiba, padahal setelah menikah itu ada sebuah tanggungjawab besar yang harus dipertanggungjawabkan kelak pada Sang kuasa, bila kemudian lalai dalam menjalankan kewajiban juga larangan dalam sebuah ikatan pernikahan yang bisa dibilang ibadah terpanjangnya sebuah pasangan suami istri.
"Sayang, sepertinya punya kamu enak. Ak dong..."
Mendapati Resty yang hanya bergeming, pria itu membuka mulutnya meminta disuapin rolade ayam yang ada di piring Resty.
Tanpa risih gadis itu menuruti kemauan kekasihnya itu, menyuapinya dengan sendok miliknya. Pria itu tersenyum lebar dengan mulut penuh makanan, saat gadisnya itu mau melayani kemauannya tanpa banyak ini itu.
"Coba kamu cicip ini, Yang."
Bergantian Alex menyuapi Resty dengan stik udang yang ada di piringnya. Yang akhirnya mereka malah saling menyuapi, dengan menukar menu dari piring masing-masing.
"Ceileeeh.... Calon pengantin yang ini romantis banget lihatnya." Tetiba mama dari Ika ikut nimbrung dan langsung duduk saja di kursi kosong disekitar Alex dan Resty.
Alex dan Resty sama-sama tersenyum kikuk, sembari terus melanjutkan menyantap makanannya masing-masing yang sudah tersisa satu kali suapan.
"Gimana, sudah siap dua minggu lagi merubah status masing-masing?" tanya mamanya Ika, saat Alex dan Resty sudah selesai makannya.
Walau terkesan basa basi, tetapi pertanyaan itu seakan mengingatkan duo sejoli itu jika menikah itu tidak melulu tentang ranjang dan kenikmatan lainnya. Ada banyak lika liku yang siap menghadang pada setiap perjalanan mahligai rumahtangga.
"In sya Allah siap, Tante," ucap Alex dengan mantap.
Dan Resty hanya merespon dengan senyum kecilnya. Jika calon imam dari rumah tangganya itu sudah berkata siap, tak sepantasnya ia meragukannya lagi kan?
"Resty," Mamanya Ika itu menyentuh pundak Resty sembari tersenyum hangat.
"Iya, Tante."
"Titip Ika ya? Biar bagaimana pun Ika masih terlalu muda untuk bisa menjadi ibu yang baik buat kamu. Tolong pahami, jika suatu saat nanti Ika terkadang berbuat yang seenaknya. Tetapi jika kemudian Ika berbuat hal yang diluar batas sama kamu, contohnya berubah jadi agak jahat gitu sama kamu, tolong jangan sungkan mengadu sama tante ya?" ujarnya, cukup panjang lebar tetapi penuh makna.
Resty menimpalinya hanya dengan tersenyum simpul. Sejujurnya ia telah menerima Ika sebagai ibu sambungnya. Dan jika nanti Ika ikut menegurnya jika sedang berbuat keliru, ia pun tak akan sakit hati. Usia boleh sama, tetapi sudah ada batasan yang harus diingat jika Ika sudah sah menjadi istri papanya yang harus ia hormati juga sebagai mana mestinya.
Sekilas Resty menatap dari kejauhan dimana papanya dan Ika kini sedang bersanding. Tersirat rona bahagia yang sangat jelas dari keduanya. Hingga tiada sadar gadis itu ikut tersenyum sendiri menyaksikannya.
"Aku sangat bersyukur sahabatku bisa menjadi ibu sambungku. Semoga mereka berdua bisa langgeng ya, Tante.." Resty mulai bersuara.
"Aamiin... Terimakasih ya, Res, sudah mau menerima Ika sepenuh hati kamu."
"Iya, sama-sama, Tante..."
__ADS_1
Mereka pun lantas saling berpelukan sekilas, kemudian dilepas oleh Resty begitu gadis itu teringat sesuatu.
"Eh, tapi aku tetap panggil tante nih? Ika sekarang mama aku, jadi tante--"
"Seenaknya kamu lah, Res. Mau panggil tante boleh, mau rubah panggil mbah juga boleh."
Resty dan Alex jadi terkekeh sendiri mendapati pernyataan mamanya Ika itu. Tak lama setelah itu, mamanya Ika pergi dari tempat mereka untuk berbincang dengan kerabat lain yang masih belum pulang dari acara nikahan hari ini.
"Duh, capek juga ya lama-lama pake hells." Resty duduk lagi sambil memijiti kakinya yang mulai terasa pegal.
Alex duduk menjongkok didepannya. Tanpa permisi pria itu melepas hells itu dari kaki Resty.
"Eh, mau apa, Yang?"
"Mananya yang pegal? Sini?" Bukan menjawab, Alex malah memijit pelan tumit kaki Resty dengan telaten.
"Eh, jangan, Yang." Resty menarik mundur kakinya.
"Kenapa?"
"Nggak usah."
"Tadi katanya pegal, makanya aku bantu pijitin." Alex menarik lagi sebelah kaki Resty untuk kemudian dipijitnya lagi.
"Nggak usah pedulikan tatapan orang. Biar saja mereka lihat kita begini. Aku yang mau manjain kamu, nanti setelah kita nikah, servis lebih dari ini aku kasi juga buat kamu," selorohnya tiba-tiba.
"Tapi aku malu." Resty mulai menundukkan wajahnya.
"Kalau malu, ayo kita pindah tempat." Alex berdiri lagi, sambil menarik tangan Resty dalam genggamannya.
"Kemana?" tanya Resty polos amat.
"Ke suatu tempat yang aman dari penglihatan orang-orang." Alex sedikit berbisik ditelinga Resty, yang otomatis membuat bulu kuduk gadis itu seketika meremang geli terkena hembusan nafas hangat kekasihnya.
Sesaat mereka saling bertatapan cukup lama. Pria itu mulai tersenyum menyeringai dengan tatapan matanya yang sedikit mengerling nakal kepada Resty.
"Apaan sih natapnya kayak gitu? Meresahkan!" Resty sengaja menimpuk kecil pada bahu Alex.
"Meresahkan? Meresahkan dari mana?"
"Tauk ah!" Resty duduk lagi. Tangannya dengan lihai memasang tali pengait hells nya.
"Sayang, pipi kamu kok merona gitu? Ish... Ish.... Ish..."
Alex duduk jongkok lagi, sambil menumpukan kedua tangannya di paha Resty. Menatap lekat pada wajah Resty yang memang sedikit merona tak seperti biasanya.
__ADS_1
"Duh, jadi tambah gemes lihat kamu merona begini." Alex sengaja mengelus lembut pipi Resty dengan jemarinya.
"Berhenti, Lex. Malu tahu dilihatin banyak orang." Resty menarik tangan Alex yang membelai pipinya, kemudian membiarkannya dalam genggamannya saja.
"Sayang, pulang yuk?" Tetiba Alex mengajaknya pulang.
Kebetulan hari sudah merambat sore. Sudah waktunya berpamitan juga. Biarkan saja Tommy tetap disini.
Kemudian Resty mengangguk setuju. Segera mereka mendekati Tommy untuk berpamitan pulang dulu. Sedangkan eyang Asih sendiri sudah pulang lebih awal sekitar satu jam yang lalu.
Setelah mereka berdua mendapatkan ijin dari Tommy, mereka pun segera beranjak menaiki mobil yang mereka naiki tadi.
Saat masih dalam perjalanan pulang itu, tetiba Alex menepikan mobilnya di pinggir jalan yang cukup sepi pengendara melintas di sana.
"Ada apa, Yang? Kok berhenti?" tanya Resty.
Alex hanya menatap intens pada netra kekasihnya itu.
"Kangen," serunya kemudian dengan nada sedikit manja.
Resty berkerut kening, sama sekali merasa nggak nyambung antara pertanyaan dan pernyataan kekasihnya itu.
"Boleh ya?" serunya lagi semakin ambigu.
"Boleh apanya?"
Tanpa mengulur waktu dengan cekatan pria itu berhasil mendaratkan kecupannya dibibir Resty. Seakan tak mau terlepas, dengan liarnya menuntun bibir ranum itu terbuka sehingga bisa mengeksplor indra perasa mereka bertaut semakin dalam. Suara decapan itu berbunyi erotis, semakin menimbulkan hasrat pria itu untuk meminum madu manisnya benda kenyal itu yang menjadi candu ternikmat.
Sesaat pagutan itu terlepas sejenak untuk mengambil oksigen yang mulai tersengal-sengal. Dan terulang lagi pagutan berikutnya, setelah merasa memiliki stok oksigen lagi dari mereka.
"Terimakasih, Sayang." Alex mengusap lembut sisa salivanya dibibir Resty.
Gadis itu hanya terdiam, tepatnya merasa malu tetapi mau.
"Tapi kok agak pedas ya?" seloroh Alex, saat tiba-tiba menyadari bibirnya agak kepedesan sedikit.
"Tadi kan habis makan sambel matta," Resty menimpali.
"Tapi sumpah, pedas-pedas nikmat."
"Boleh lagi ya?"
Waduh!
*
__ADS_1