
Saat yang ditunggu-tunggu sudah tiba. Acara pernikahan Alex dan Resty akan digelar beberapa jam lagi. Saat ini Resty masih berada di kamarnya, belum juga usai dirias oleh MUA kenamaan rekomendasi dari Ika.
Setelah melewati proses make up yang cukup memakan waktu, akhirnya Resty telah selesai dirias lengkap dengan baju kebaya modern berwarna gading yang melekat sempurna ditubuh rampingnya itu. Sedangkan gaun pengantin yang sebelumnya telah dipesan oleh Resty, itu tetap akan dipakai saat acara resepsi nanti. Karena setelah melewati rembug ulang antara kedua pihak keluarga, mereka sepakat tetap akan menggelar pesta resepsi pernikahan anak mereka tepat di hari yang sudah ditetapkan sebelumnya.
"Duh, cantik sekali sih kamu." Ika menatap kagum pada Resty yang sudah duduk tenang menghadap kaca rias memandangi wajah sendiri yang berubah pangling.
Dan calon pengantin perempuan itu hanya menimpali dengan senyum kecilnya. Merasa puas menatap pantulan diri di cermin atas rekomendasi Ika mengenai MUA yang dipilihnya itu.
"Makasih ya mbak Yani, lain kali bisa aku panggil lagi kalau ada acara penting." ucap Ika.
"Siap, Kak. Selalu ready kalau Kakak butuh."
Dan MUA itu pun akhirnya beranjak dari kamar Resty sambil diantar Ika. Hingga sampai MUA itu sudah pulang, barulah Ika kembali ke kamar Resty untuk menemaninya di sana.
Sedangkan keadaan di rumah Resty sedikit lebih ramai. Beberapa kerabat dekat yang diundang agar bisa menjadi saksi pernikahan Resty, turut hadir dengan sangat bahagia. Tak lupa dengan eyang Asih juga. Wanita tua itu tentu bisa hadir juga demi menyaksikan acara sakral pernikahan cucu tersayangnya itu.
Waktu merambat semakin cepat. Tibalah rombongan keluarga dari calon pengantin pria sudah sampai di kediaman Resty. Alex turun dari mobilnya dengan wajah yang seketika berubah gugup, padahal sebelumnya sudah berusaha biasa-biasa saja walau nyatanya itu sulit dilakukan.
"Sudah siap, Lex?" Kenzo bertanya, diikuti anggukan kepala Alex, mantap.
Kenzo tersenyum lega. Pun demikian dengan Sisil juga. Tetapi tidak dengan yang dirasa oleh satu grup rombongan yang ikut datang dari keluarga Alex, yaitu Ara. Wanita itu memang baru tahu jika Sisil akan berbesanan dengan orang dari masa lalunya setelah tiba ditempat ini. Merasa sedikit heran pastinya, tetapi mungkin sudah garis jodoh juga.
"Kenapa, Bun?" tanya Ziyyan, yang saat ini juga ikut hadir.
"Ah, nggak papa Ziyyan." kilahnya.
"Pasti Bunda penasaran, kenapa bisa Alex nikah sama Resty?" tebak Ziyyan, yang nyatanya memang sangat tepat Ara penasaran tentang itu.
"Jadi kamu sudah tahu?" Ara sedikit memelankan suaranya, takut-takut terdengar dan akan ketahuan Sisil dan Kenzo, jika sebelumnya Ziyyan pernah mau dijodohkan dengan Resty oleh Zayn.
__ADS_1
Ziyyan hanya mengangguk. Dari raut wajahnya pria itu terlihat sangat tenang. Apalagi tak jauh darinya berdiri sudah ada wanita pemilik hatinya yang terlihat seru saling mengobrol dengan Ziana. Jadi buat apa lagi Ziyyan harus merasa tak nyaman dengan situasi ini?
Zayn pun juga sama terlihat tenang. Paling tidak ia juga merasa senang jika sahabat karibnya, yaitu Tommy, bisa menemukan menantu yang tepat walau harus berbesanan dengan mantan terindah.
"Kalau begitu, mari kita buat kesepakatan agar mereka tetap tidak tahu kalau kamu pernah dijodohkan sama Resty," pinta Ara, tetapi bola matanya melirik sinis pada suaminya. Karena rencana perjodohan itu memang karena idenya.
Bersamaan Ziyyan dan Zayn mengangguk kompak.
"Kalian lagi bahas apaan sih?" Tiba-tiba Ziana mendekat, pun juga dengan Mayra.
"Ah, nggak ada apa-apa kok." Ara langsung tanggap. Tetapi lirikan matanya syarat ultimatum kepada Ziyyan, agar juga tidak memberitahukan kesepakatan tadi kepada Mayra juga.
Ziyyan langsung paham. Sekilas pria itu mengedipkan sebelah matanya kepada Ara isyarat oke.
"Ke sini, Hubby." Ziyyan menarik tangan Mayra, menautkannya pada lengannya dengan mesra.
"Trus aku gandengannya sama siapa?" protesnya agak nyaring, yang hanya ditanggapi kekehan saja dari semua keluarga yang kebetulan ada di sana.
"Sini sama aku saja, Zee." usul Alex, yang sebenarnya memang butuh tumpuan pegangan demi menghilangkan rasa gugupnya saat ini.
Ziana langsung berhambur mendekati Alex. Tanpa sungkan gadis itu langsung meraih tangan Alex bermaksud ingin menggandengnya juga.
"Eh, tangan bang Alex dingin amat kayak lagi megang es balok," seloroh Ziana tiba-tiba.
"Makanya bantuin pegangin. Abang kayaknya mau oleng nih, gugup banget tahu nggak."
"Iya deh, paham, paham." Ziana mengabaikan telapak tangan Alex yang rasanya agak aneh, kedinginan disaat cuaca cerah begini.
Kemudian iring-iringan pengantin dari keluarga Alex itu mulai beranjak masuk ke rumah besar itu. Di sana, tepatnya diambang pintu utama masuk ke rumah, mereka telah disambut oleh keluarga dari pihak Resty. Ada Tommy dan Ika, juga eyang Asih, sebagai keluarga inti.
__ADS_1
Setelah Alex menempati tempat duduk yang telah disediakan, barulah Ika beranjak ke kamar Resty untuk membawanya keluar dari kamar. Sedangkan sang penghulu juga telah datang, selisih beberapa menit dari ketika rombongan keluarga Alex tiba.
"Resty, ayo!" Ika menuntun Resty untuk berdiri.
Gadis itu terlihat sedang mengatur ritme nafasnya berulang-ulang. Masih merasa gugup, karena setelah ini dirinya akan berganti status akan menjadi istri dari Alex.
Baru akan melangkah, seseorang masuk lagi ke kamar Resty. Ia adalah Tommy. Pria itu mendekat kepada anak gadisnya itu, kemudian berhambur memeluknya dengan erat.
"Nggak nyangka anak papa tiba-tiba sudah mau nikah aja," ucapnya dengan mengusap lembut punggung Resty, sedang matanya sudah mulai mengembun begitu saja.
Resty bergeming. Tiba-tiba ia jadi terenyuh sendiri mendapati papanya terus memeluknya seakan tak mau melepas. Seperti itulah kira-kira gambaran seorang papa yang akan melepas dan juga menyerahkan anak gadisnya pada pasangan pilihannya. Walau sudah sangat ikhlas sebelumnya, tetap saja rasa berat hati itu tak semudah itu dapat diusir dari pikirannya.
Tommy melepas pelukannya. Menatap lekat nan penuh kasih pada netra anaknya.
"Pliiis... Papa jangan sedih. Aku jadi ikut sedih lihatnya," ucap Resty.
"Papa begini karena kelewat bahagia, Nak." Tommy segera menyusut airmata bahagianya yang tumpah tiada permisi.
"Ayo, papa antar sampai bawah." Tommy mengulurkan tangannya, dan Resty langsung menyambut dengan senang hati. Ika pun juga sama melakukan seperti yang dilakukan oleh Tommy.
Resty keluar dari kamarnya dengan diapit oleh Tommy dan Ika. Hingga sampai gadis itu sudah menuruni undakan tangga penghubung lantai atas, semua sorot mata menatap kagum padanya.
Tak berbeda dengan Alex. Pria itu nyaris tak mengedipkan mata sama sekali, demi menikmati wajah ayu yang dipancarkan oleh Resty. Benar-benar cantik sempurna.
Pasangan pengantin itu sudah duduk beriringan di kursi akad yang telah disiapkan. Seorang juru fotografer sedari tadi telah mengabadikan momen indah hari ini.
"Sudah siap?" tanya penghulu itu, cukup tenang tetapi bagai menghidupkan kembali rasa gugup yang sempat hilang dari Alex saat ini.
*
__ADS_1