
Alex terpaksa pergi ke kampus seorang diri hari ini. Karena kondisi Resty yang kembali lemah pagi ini membuat pria itu sama sekali tidak bisa konsentrasi mengikuti kelas seharian ini. Bahkan setelah kelas usai rencananya pria itu akan segera pulang, tetapi tiba-tiba dering ponselnya berbunyi pada saat pria itu sudah bersiap akan melajukan motornya.
Menyempatkan diri untuk melihat siapa yang menelponnya itu, rupanya kali ini mamanya yang menelpon. Segera pria itu menggulir tombol hijau untuk menjawab panggilan telepon dari mamanya.
"Hai, Sayang," sapa Sisil begitu telponnya itu dijawab oleh Alex.
"Hai juga, Ma. Tumben nelpon siang-siang begini?"
"Hari ini ke rumah ya?"
"Hari ini, Ma?"
"Iya."
"Mm... Nggak bisa besok saja gitu?"
"Hari ini, Sayang. Mama sama papa ada yang mau dibicarakan penting sama kamu dan Resty," jelas Sisil.
"Masalahnya Resty hari ini sakit, Ma. Sebenarnya sudah dari kemarin sih," seru Alex menjelaskan.
"Sakit? Sudah kamu bawa periksa belum?" Sisil juga ikut khawatir mendengar berita itu.
"Resty selalu nolak. Selalu aja alasan kalau mau aku bawa periksa."
"Mm... Tetap jangan dibiarkan, Lex. Kamu gimana sih?"
Alex hanya terdiam. Memang salahnya juga yang tak bisa tegas membawa Resty periksa ke dokter. Merajuk nya itu yang ingin Alex hindari dari Resty.
"Resty sakit apa, Lex?" tanya Sisil lagi.
"Yang sering aku lihat Resty sering muntah-muntah, Ma. Paling sering itu kalau pagi. Makannya juga rewel, bikin aku khawatir."
"Jangan-jangan Resty hamil, Lex!" tebak Sisil.
Alex hanya terperangah di tempat. Kenapa mamanya itu bisa menebak seperti itu?
"Mama yakin Resty itu lagi hamil."
Kali ini suara Sisil lebih riang. Sudah yakin jika menantunya itu sedang mengandung cucunya.
"Masa iya sih, Ma?" Alex masih tak percaya.
"Bisa jadi. Tapi mama sudah yakin sekali. Apalagi sebelumya mama mimpiin kamu sama Resty gendong bayi. Itu mungkin pertanda yang datang di mimpi mama." Sisil mengatakannya begitu menggebu.
"Kalau bener iya, nggak pa-pa. Aku malah bersyukur sekali, Ma. Dengan begitu berarti sakit yang diderita Resty itu bukan penyakit bahaya," ucap Alex pada akhirnya.
__ADS_1
"Sekarang lebih baik kamu cepat pulang. Tanyakan sama Resty, ngomong baik-baik, ajak dia periksa sampai mau." pesan Sisil.
"Iya, Ma." Alex menyahut semangat.
"Jangan lupa kasi dia oleh-oleh. Atau tawari dulu hari ini dia mau makan apa. Orang hamil itu bawaannya suka rewel, Lex. Jadi kamu harus banyak-banyak stok sabar ngadepinnya."
"Iya, Ma."
"Cepat kabari mama kalau Resty beneran hamil. Duh... Mama nggak sabar pingin segera gendong cucu."
"Siap, Mama. Mama orang pertama yang aku kabari kalau Resty beneran hamil."
"Nggak hamil pun mama tetap kabari juga, Lex. Mama nggak mau di PHPin."
"Iya mama sayang."
Lalu setelah itu mereka menyudahi sambungan telponnya. Buru-buru Alex menstart motornya untuk kemudian keluar dari area kampus.
Pria itu melajukan motornya dengan senyum yang begitu riang. Dugaan dari mamanya itu telah membuat hatinya merasa senang, walau itu pun masih belum pasti juga. Saat di tengah perjalanan itu Alex menjumpai pedagang penjual rujak manis. Pria itu segera menepikan diri, mengingat istrinya itu dari kemarin doyan makan makanan itu.
Sebelum membeli Alex lebih dulu mencoba menelpon Resty, tetapi hingga sampai panggilannya yang ke tiga, telponnya itu tidak di jawab oleh Resty. Tentu pria itu kembali cemas, tetapi segera ditangkis dari benaknya setelah menganggap kemungkinan istrinya itu lagi tidur atau lupa meninggalkan ponselnya di kamar.
Tak putus asa pria itu mencoba menelpon melalui telpon rumah. Begitu tersambung, rupanya mak Asna yang mengangkat telponnya.
"Mak Asna, Resty di mana?" tanya Alex.
"Apa dia masih nggak mau makan?"
"Iya, Mas. Mak sampe bawa ke kamar biar bisa makan di kamar. Belum mak cek lagi, apa sudah dimakan apa belum."
Alex mendengus nafasnya begitu saja. Dengan ini ia semakin yakin jika dugaan mamanya itu bisa benar.
"Baiklah, Mak. Aku sekarang lagi otw pulang. Ini lagi mampir mau beliin Resty makanan. Siapa tahu entar suka."
"Iya, Mas."
Lalu sambungan telepon itu selesai.
Alex segera memesan dua bungkus rujak manis untuk Resty. Satu porsi pedas, dan yang satunya tidak. Begitu pesanannya itu selesai, pria itu segera mengeluarkan uang lembaran berwarna merah kepada abang pedagang itu.
"Wah, kembaliannya nggak cukup, Dek," ucap pedagang itu.
"Buat Abang saja. Sekalian sambung doa ya, Bang. Istriku kayaknya lagi ngidam, semoga beneran lagi hamil," tutur Alex membagi kebahagiaannya kepada pedagang itu.
"Iya, Dek. Aamiin... Semoga istri Adek beneran hamil."
__ADS_1
"Aamiin...." Alex mengamini nya sepenuh hati.
"Kirain abang, Adek masih bujang. Ternyata sudah menikah toh?"
Alex hanya mengangguk dengan riang. Rasanya saat ini pria itu ingin segera tiba di rumah untuk kemudian segera menemui Resty.
Setelah bercakap-cakap sebentar, Alex kembali melajukan motornya. Wajah pria itu kentara sangat senang, sudah tak bisa menyembunyikan kebahagiannya itu andai itu benar.
Beberapa menit kemudian Alex sudah tiba di rumahnya. Segera pria itu masuk ke rumahnya dan langsung meluncur ke kamarnya.
Saat membuka kamarnya kondisinya sedikit redup, itu karena Resty sengaja tidak membuka tirai kamarnya. Sedangkan wanita itu terlihat tengah tidur nyenyak di kasurnya.
Perlahan pria itu masuk dan menutup pintunya sepelan mungkin. Rupanya meski sudah mengendap-ngendap masuk, wanita itu terbangun karena mendadak indra penciuman nya menjadi tajam mencium aroma khas tubuh suaminya yang datang.
Tetapi meski sudah terbangun, Resty sengaja tidak menyambut kedatangan suaminya itu. Malah memilih pura-pura tidur lagi.
Tepi ranjang didekat Resty sedikit bergerak, menandakan jika suaminya itu saat ini sedang duduk disebelahnya. Tangan pria itu mulai membelai mahkota Resty, kemudian pindah ke pipi dan tak lupa meninggalkan jejak sayang itu di sana.
"Aku belikan rujak manis, mau?" bisik Alex tepat di telinga Resty. Karena sepintas ia sempat melihat istrinya itu membuka mata sekejap.
Resty masih betah bergeming. Walau sejujurnya aroma rujak manis itu begitu menggelitik seleranya.
"Kamu pura-pura tidur kan?" Alex mulai mencapit hidung Resty.
Berulang-ulang pria itu mulai merusuh, membuat Resty spontan menangkis tangan Alex dari wajahnya.
Alex terhenyak sesaat. Kenapa istrinya itu seperti sedang marah kepadanya? Salah apa coba?
"Sayang, kalau aku ada salah, aku minta maaf. Tapi plis jangan diemin aku kayak gini. Aku nggak bisa, Yang," ucap Alex sambil menopang kan dagunya di lengan Resty yang tidur miring memunggunginya.
Melihat Resty yang betah diam, Alex hanya bisa menghela nafas sepenuh dada. Pria itu perlahan beranjak menggeser tubuhnya. Menatap entah pada istrinya yang terus mendiaminya tanpa tahu penyebabnya apa.
"Tidurlah. Maaf kalau aku ganggu barusan," ucap Alex pada akhirnya.
Sebelum beranjak pria itu mengusap lembut lengan Resty. Lalu setelah itu mulai beranjak akan ke kamar mandi untuk membersihkan badan yang lengket karena keringat.
Saat ini Alex sudah berada di kamar mandi. Ia mulai melepaskan pakaiannya, tetapi pandangan matanya seketika tersita pada sebuah keranjang sampah yang ada di kamar mandi itu.
Sebuah bungkus kosong testpack terbuang di tempat sampah itu, tetapi isinya tidak tahu kemana. Segera pria itu keluar lagi dari kamar mandi sambil bertelanjang dada. Kembali mendekat kepada istrinya itu sambil membawa bungkus kosong testpack yang kemungkinan isinya itu sudah dipakai Resty sebelumnya.
"Sayang..." Alex mengguncang lengan Resty agar mau membuka matanya.
Merasa terusik terus-terusan di guncang lengannya oleh Alex, Resty pun akhirnya membuka mata.
"Ini apa?"
__ADS_1
"Kemana isinya?"
*