Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 59


__ADS_3

Hari ini Resty sudah siap berangkat berlibur ke rumah eyang Asih, walau sedikit tak bergairah karena Ika tak bisa ikut. Meski sebenarnya hatinya masih dilema meninggalkan papanya hanya bersama asisten rumah, tetapi karena eyang Asih bolak balik telpon menanyakannya, maka Resty pun pergi juga.


Dengan diantar pak Benny, gadis itu sudah menyusuri jalan menuju perkampungan tempat eyang Asih tinggal. Lama perjalanan memakan waktu lebih dari setengah hari, hingga akhirnya gadis itu sudah tiba menjelang sore di kediaman eyang Asih yang terkenal sebagai saudagar dermawan di kampung itu.


Resty langsung disambut hangat oleh wanita tua yang sudah berusia lebih dari enam puluh tahunan, walau begitu tubuhnya masih terlihat bugar. Segera ia digiring untuk duduk diruang tengah oleh eyang Asih, sambil merangkul penuh kasih kepada cucu keponakannya itu.


"Eyang gimana kabarnya? Tiga tahun nggak kesini Eyang masih tetap kayak dulu, tetap jadi Neli. Hehehe..."


Eyang Asih hanya terkekeh saat Resty masih menjulukinya sebagai Neli alias nenek lincah.


"Eyang baik, sehat, dan seperti yang kamu lihat sekarang." sahutnya, sambil membentangkan kedua tangan lalu Resty seketika berhambur memeluknya.


"Aku kangen Eyang.." ucap Resty, masih dalam usapan lembut dari eyang Asih dikepalanya.


"Eyang juga kangen sama Resty. Papamu bilang katanya kamu disini mau sampe selesai liburan kan?"


Resty mengangguk saja.


"Syukurlah, jadi rumah eyang tidak akan sepi lagi kalau ada kamu."


Resty melerai pelukannya karena seseorang masuk ke ruangan itu sambil menenteng semua barang bawaan Resty.


"Langsung bawa masuk ke kamar yang kemarin diberesin itu ya?" sapa eyang Asih pada orang tersebut.


"Baik, Buk."


Dan orang itu pun langsung masuk ke sebuah kamar yang diduga kamar itu yang akan Resty tempati selama berada disini.


"Pekerja baru, Yang?" tanya Resty, karena seingat dia pekerja yang bertugas membantu menjaga rumah ini masih muda. Sedangkan orang barusan itu sudah berkisar empat puluh tahunan.


"Iya. Sementara jadi gantinya Usman." jelas eyang Asih.

__ADS_1


"Ooh..." Resty manggut-manggut.


Orang itu lewat lagi didepan Resty dan eyang Asih. Ia menganggukkan kepala sambil tersenyum sungkan, sebelum akhirnya kembali lagi ke pos jaga didepan. Resty tak sengaja mencermati wajahnya, dan seketika tertegun sendiri karena merasa seperti pernah bertemu tetapi lupa dimana.


"Kenapa lihatin Saleh kayak gitu, Res? Pernah kenal?" tanya eyang Asih.


"Nggak kenal sih, cuma kayak pernah ketemu tapi lupa dimana ketemunya."


"Memang sebelum ini Saleh kerja di Jakarta. Berhubung majikannya lagi kena musibah, jadi ia terpaksa cari kerja lagi. Cuma katanya Saleh dia disini cuma sementara sampe kondisi majikannya normal lagi."


Resty hanya diam tanpa menimpali apa-apa, walau sebenarnya perasaannya masih penasaran dengan wajah familiar pria bernama Saleh itu.


Sejenak gadis itu menggeliatkan badan karena memang merasa pegal-pegal efek sudah lama tidak pernah pergi perjalanan jauh.


"Nanti biar nggak tambah pegal, eyang nyuruh Ayu biar bantu mijitin kamu." ucap eyang Asih, seakan paham jika saat ini Resty butuh memanjakan tubuhnya.


"Ayu?"


"Terserah Eyang lah. Aku masuk kamar dulu, Yang, mau mandi sekalian mau rebahan sebentar."


Eyang Asih mengangguk paham. Ia pun ikut mengantar Resty hingga ke pintu kamar. Sebelum Resty benar-benar masuk ia menjumpai perempuan muda yang sedang lewat sambil membawa macam-macam sayur ditangannya.


"Dia yang namanya Ayu." tutur eyang Asih.


"Sepertinya masih muda sekali, Yang."


"Ayu memang putus sekolah. Seharusnya sekarang dia masih SMA, mau lulus. Ayu kerja disini sebagai gantinya Darmi."


Begitu paham akan penjelasan dari eyang Asih, Resty pun akhirnya masuk ke kamar. Berendam dengan air hangat, lalu setelahnya rebahan santai, pasti akan nikmat menurutnya.


Melihat Resty sudah benar-benar masuk ke kamarnya, eyang Asih segera menghubungi Tommy. Ia pun ikut masuk ke kamarnya sendiri, agar yang akan dibicarakannya bisa aman tanpa didengar terutama oleh Resty.

__ADS_1


"Resty sudah sampai. Dia masih mandi." ucap eyang Asih, saat sambungan telponnya sudah terjawab oleh Tommy.


"Syukurlah." Terdengar helaan nafas panjang Tommy dari seberang.


"Kenapa kamu tidak tanyakan langsung saja sama Resty? Apa nanti kalau aku yang tanya, Resty nggak curiga?"


"Dicoba saja, Buk. Aku yakin Resty nggak mungkin curiga."


"Kamu ini. Makanya sama anak sendiri jangan terlalu mengekang. Sampe-sampe anak sendiri nggak terbuka masalah dia suka sama siapa." omel eyang Asih.


"Aku tidak pernah mengekangnya kok, Buk. Mau dia berteman dengan siapa pun aku nggak papa. Soal yang kemarin aku bilang yang mau jodohin Resty itu, karena aku nggak mau anakku dapat lelaki yang nggak baik buatnya."


"Iya, aku paham maksud kamu."


Memang semalam Tommy menceritakan kegundahannya itu kepada eyang Asih perkara yang katanya Resty sedang menyukai pria lain sehingga menolak rencana perjodohan dengan Ziyyan.


Karena Tommy sendiri tak yakin Resty akan berterus terang tentang siapa yang disukainya itu, maka ia pun meminta tolong kepada eyang Asih.


Bahkan Tommy sudah berjanji pada diri sendiri jika memang lelaki yang disukai Resty itu adalah lelaki yang bisa diandalkan, maka ia pun akan merestuinya. Bila perlu langsung menikah agar bisa halal andai terjadi hal yang diluar dugaan. Karena sejujurnya Tommy merasa bimbang. Teringat akan masa mudanya dulu yang berakhir harus menikahi Bella, karena sebuah kejadian one night yang tak disengaja olehnya.


Resty sudah selesai dengan kegiatan mandinya. Gadis itu beranjak ke jendela kamar untuk memastikan kalau sudah tertutup rapat, karena memang malam sudah mulai menyapa.


Sejenak ia masih berdiri di sana sambil menatap ke sekitar luar kamar. Rumah bangunan tua yang masih kokoh dan cukup besar, serta dengan halamannya yang tampak luas dengan banyaknya pepohonan rindang yang tumbuh disekitarnya, menjadi daya pikat yang berbeda bagi gadis kota sepertinya.


Samar-samar ia melihat seorang pria muda datang dan masuk ke pos jaga. Sesaat kemudian dilihatnya Saleh keluar dari pos itu dengan menaiki motor yang tadi dinaiki oleh pria yang kini bergantian menjaga di pos itu. Mungkin eyangnya itu kini mempekerjakan dua penjaga rumah, yang akan bergantian menjaga pagi dan malam.


Resty pun beranjak lagi untuk duduk didepan kaca rias yang juga tersedia di sana. Menyisir rambutnya dan membiarkannya bergerai begitu saja. Lalu kemudian beranjak lagi ke kasur untuk merebahkan tubuhnya yang lelah. Belum lima menit tubuh itu merebah manja, suara ketukan pintu kamarnya berbunyi.


Rupanya yang datang lagi adalah eyang Asih. Karena sudah saatnya makan malam, maka eyang Asih berencana mengajak Resty untuk makan bersama.


*

__ADS_1


__ADS_2