
"Jadi Resty bilang gitu, Tom?"
Eyang Asih sedikit kaget saat Tommy memberitahu masalah saat bertelponan dengan Resty tadi.
"Iya, Bu. Malah yang nggak aku habis pikir, dia mengeluh ada disana cuma ngerawat orang sakit." Tommy semakin menjelaskannya.
Eyang Asih terdiam sejenak. Kebetulan yang sekarang sedang sakit hanya si Deden. Apakah saat ini Resty mengeluhkan pria itu?
"Trus dia bilang apa lagi, Tom?"
"Cuma itu sih, Bu. Selebihnya aku nyinggung masalah perjodohan itu sama dia." ujar Tommy.
"Apa Resty masih tetap tidak mau sama calon pilihanmu itu?"
"Tetap, Bu. Sepertinya aku memang harus pasrah saja sama pilihannya sendiri entar. Kalau aku sih, asal pilihannya itu baik dan bertangggung jawab ya nggak papa."
"Sementara mungkin seperti itu yang lebih baik, Tom. Sambil kita pantau seperti apa pilihannya nanti. Selagi yang dipilih ternyata bisa ditangguhkan, kenapa harus tidak setuju?"
Tommy hanya bergeming. Apa yang dikatakan eyang Asih ada benarnya. Tetapi rasa penasaran terhadap pria yang disukai Resty belum terjawab. Padahal saat Zayn menyampaikan alasan batalnya perjodohan ini sahabatnya itu berkata dengan sangat yakin.
"Eh, berhenti sebentar, Leh." seru eyang Asih kepada Saleh yang saat ini mereka sedang berada dalam perjalanan pulang.
Saleh menepikan mobilnya. Padahal saat ini mereka hanya berkisar beberapa meter saja dari rumah.
Sorot mata wanita tua itu memicing tajam ke arah rumahnya sendiri. Saleh yang penasaran kenapa majikannya itu minta berhenti mendadak, ia pun ikut memandang ke arah eyang Asih menyorot intens. Rupanya jawabannya adalah karena di gardu kecil depan rumah eyang itu ada Alex dan Resty duduk disana dengan posisi yang hampir tiada jarak.
"Itu Resty sama Deden kan, Leh?" tanya eyang Asih ingin memastikan pandangan matanya yang sedikit rabun.
Saleh hanya mengangguk.
"Deden siapa, Bu?" tanya Tommy. Karena memang sambungan telpon antara Tommy dan eyang Asih memang belum terputus.
"Deden itu pekerja di rumahku, Tom." jelasnya.
"Tapi--" Wanita tua itu semakin membulatkan bola matanya saat menyadari jika dua anak manusia itu saling bergenggaman tangan.
"Tom, aku sudah dulu ya? Nanti aku telpon lagi."
Tiba-tiba eyang Asih memutus sambungan telponnya dengan Tommy. Lalu setelah itu eyang kembali menyorot tak percaya atas apa yang dilihatnya itu.
"Saleh, coba kau perhatikan mereka." ucap eyang Asih, yang kemudian Saleh mengikuti perintahnya itu.
"Memang mereka kenapa, Bu?" Saleh pura-pura tak mengerti. Padahal ia juga melihat kalau saat ini Alex dan Resty seperti sedang pacaran.
__ADS_1
"Perasaanku jadi nggak enak sama Deden."
Setelah melihat ini eyang Asih sedikit curiga kepada Deden. Ia takut Deden adalah tipekal buaya darat yang saat ini Resty sudah masuk dalam perangkap ketampanannya itu.
Sedangkan Saleh mulai ikut cemas. Pada akhirnya identitas anak majikannya itu akan terbongkar juga, andai ia tak bisa menahan diri setelah ada Resty di rumah ini.
"Hei, Saleh! Deden itu bagaimana orangnya? Maksudku latar belakang keluarganya seperti apa? Tolong jawab yang sebenarnya, Leh. Aku tidak suka ada kebohongan sedikit pun."
Eyang Asih berujar begitu bukan tanpa sebab. Ia menganggap Deden termasuk pria nekat dengan mendekati cucu majikannya sendiri. Padahal setahunya mereka masih kemarin bertemu, dan sekarang sudah main pegangan tangan seperti itu.
Saleh bertambah panik. Semua ini bagai simalakama menurutnya. Jika jujur, ia takut eyang kecewa dan akan menimbulkan rasa canggung entar. Jika berbohong, maka nanti harus menutupi kebohongan itu dengan kebohongan lainnya lagi.
"Kok malah diam, Leh? Atau apa kamu memang menyembunyikan sesuatu dariku, hem?" Eyang Asih semakin curiga dengan diamnya Saleh.
"Maafkan bapak, Den. Sungguh bapak nggak maksud bongkar rahasia Den Alex." batin Saleh bersuara.
"Dia sebenarnya anak majikan saya di Jakarta, Buk." jelas Saleh pada akhirnya.
Wanita tua itu seketika tercengang. Pantas saja saat pertama kali datang ke rumah ini tampilan pria itu sedikit berbeda, tak seperti pria biasa pada umumnya.
Tetapi jika melihat status Deden yang sebenarnya begitu, itu berarti Deden termasuk seorang pekerja keras dan bukan pemilih pekerjaan juga. Dari hal ini eyang Asih bisa menilai, jika pria itu tidak masuk di kategori jenis manusia angkuh dan sombong.
"Jadi yang kamu cerita kalau majikan kamu sedang bermasalah itu orangtuanya Deden?" Eyang Asih bertanya untuk lebih meyakinkan.
"Sebenarnya namanya bukan Deden, Buk. Tapi Alex. Saya biasa manggilnya Den, jadi Ayu salah paham. Dan nggak tahu juga kok ibu jadi ikut-ikutan panggilnya kayak gitu, ya saya diem saja. Lagian Den Alex juga setuju dipanggil begitu."
Eyang Asih tidak begitu mempermasalahkan soal nama asli Deden. Satu hal yang menjadi pertanyaannya kali ini ialah tentang kedekatan Resty padanya yang terlihat sudah saling lama kenal.
"Apa jangan-jangan mereka itu sudah saling kenal, Leh?"
"Setahu saya Den Alex sama mbak Resty teman satu kampus, Buk."
"Pantas saja mereka akrab begitu." Eyang manggut-manggut paham.
"Tapi kalau cuma teman, kenapa mereka pake pegangan tangan begitu?"
"Kalau masalah itu lebih baik ditanyakan langsung ke mereka, Buk." Saleh memberinya solusi.
Eyang mengangguk paham. Mungkin saat makan malam nanti ia bisa menanyakan rasa yang mengganjal itu pada keduanya. Tak lama setelah itu mobil yang mereka tumpangi kembali melaju pelan.
Disaat tahu kalau eyang Asih sudah datang, secepatnya Resty menarik tangannya dari genggaman tangan Alex. Bersamaan mereka berdiri untuk menyambut kedatangan eyang Asih, yang kemudian Alex berlari kecil mendekat ke arah mobil itu demi membukakan pintunya untuk eyang Asih.
"Terimakasih," ujar eyang Asih.
__ADS_1
Alex tersenyum tipis saat wanita tua itu menyapanya ramah, begitu pun sebaliknya. Sedangkan Resty mulai melangkah mendekat untuk menyapa sang eyang.
"Kamu sudah mendingan?" Eyang Asih langsung bertanya kepada Alex begitu melihat wajah pria itu sedikit berbinar.
"Sedikit lebih baik, Buk, dari pada tadi pagi." balas Alex dengan ramah.
"Jangan sakit lagi ya? Entar Resty kewalahan ngerawatnya gimana?" Sorot mata eyang sedikit mengerling.
Alex tercengang sendiri. Bagaimana eyang tahu kalau Resty sempat merawatnya tadi.
"Eyang kok lama sekali dari kebun?" Resty menyapa.
Gadis itu sudah berdiri beriringan dengan eyang Asih dan saat ini mereka sedang berjalan masuk ke rumah.
"Iya. Itu pun besok eyang harus balik lagi ke sana." ujarnya.
"Mm-- Aku besok ikut eyang boleh nggak? Bete nih terus-terusan diam di rumah nggak ada yang dikerjain."
Eyang Asih langsung menggeleng menolak.
"Pliiis... Sekali saja, Eyang. Boleh ya?"
"Nggak boleh, Resty."
"Aah, Eyang nggak asyik mah.."
Mulut resty mulai mengerucut kesal.
Eyang menoleh kepada Resty. Sekilas mereka hanya saling beradu pandang. Hingga sampai Alex masuk lagi ke rumah, dan senyum tipis eyang seketika mengembang.
"Dari pada kamu disini cuma mager terusan, mending besok kamu jalan-jalan putar ke sekeliling kampung. Atau ke wisata air terjun di kampung sebelah."
"Mau sih main-main air di air terjun itu. Tapi kesananya entar sama siapa, Eyang?"
"Ya sama Alex dong, Res."
Seketika Alex tercengang saat eyang Asih menyebut nama aslinya. Pikirnya, dari mana eyang itu tahu?
Dan Resty ikut menoleh kepada Alex. Terlihat pria itu masih tertegun ditempat. Sebuah kerlingan mata Resty membuat pria itu berhenti tercengang. Senyum kecilnya kembali terbit seiring senyum Resty yang ikut merekah kepadanya.
Eyang Asih yang juga melihat mereka begitu, semakin tak sabar untuk segera menginterogasi keduanya nanti.
"Oh, iya. Kalian berdua, nanti malam ada yang ingin eyang bicarakan sama kalian." ujarnya, kemudian berlalu begitu saja dan masuk ke kamarnya.
__ADS_1
*