
Resty tidak pernah menyangka sore ini ia akan berkumpul makan bersama dengan keluarga inti Alex. Kedua orangtua Alex terkesan sangat humble dengannya, seakan Resty juga dianggap sebagai bagian dari keluarganya.
Gadis itu hanya bisa tersenyum tiap kali melihat keluarga Alex yang masih utuh dibanding dirinya. Cemburu iya, hanya saja bentuk cemburu yang dirasa Resty itu sekedar perasaan yang mengatakan kapan ya dirumah bisa begini? Rasanya akan sangat lengkap kebahagiaannya bila nanti papanya bisa menikah lagi. Dan Resty berjanji siapapun kelak wanita pilihan papanya itu sepenuhnya akan ia anggap layaknya mamanya sendiri.
Sesekali gadis itu menyahut singkat bila sedang ditanyakan oleh papa dan mama Alex. Sungguh obrolan sore ini terasa hangat sampai Resty sendiri lupa dengan waktu.
Hingga pada saat dering ponsel Resty memekik, maka saat itu Resty pamit untuk menjawab panggilan telponnya yang rupanya dari papanya.
"Iya, Pa." sapa Resty, saat dirinya sudah sedikit berjarak dengan orang rumah Alex.
"Kenapa belum pulang?"
"E-- ini masih dirumah teman. Setelah ini aku langsung pulang, Pa."
"Teman? Teman siapa?"
Resty berpikir sejenak. Tidak mungkin ia berterus terang kepada papanya jika saat ini ia sedang dirumah Alex.
"Resty sayang.." sapa Tommy, karena dari seberang sana anaknya itu hanya terdiam.
"Aku dirumah Ika, Pa."
Terpaksa berbohong karena sudah buntu mencari alasan lainnya. Baru kali ini Resty begitu kepada papanya. Dalam hati ia hanya berdo'a semoga Tuhan mengampuni perbuatannya itu.
"Ooh.." Tommy hanya ber-oh saja.
"Papa, sudah ya? Aku mau langsung pulang. Papa sudah dirumah?"
"Iya. Hati-hati dijalan ya..."
"Iya, Pa." Lalu setelah itu Resty menyudahi sambungan telponnya.
"Papa kamu?" tiba tiba Alex sudah berdiri dibelakang Resty.
Gadis itu membalikkan badan berhadapan dengan Alex, lalu mengangguk mengiyakan.
"Aku mau pulang. Mana kunci mobilku?"
Alex merogoh saku celananya, lalu ia memberikan kunci mobil milik Resty.
__ADS_1
"Maaf ya.." ucap Alex.
"Hem.." Resty hanya bergumam.
"Aku juga minta maaf karena sudah lancang cium kamu tadi."
Bluuussss....
"Kenapa harus bahas itu sih? Jadi merinding kan kalo ingat kejadian itu?" gumam Resty hanya dalam hati.
Rona pipi Resty seketika bersemu merah. Memang kejadian tadi adalah yang pertama baginya. Maka wajar jika ia merasa gelenyar aneh itu tiba tiba menyertainya tiap teringat kejadian itu.
"Resty.." Alex menjentikkan jarinya didepan wajah Resty.
"Aah..?" Resty tergagap sendiri.
"Ngelamun?" Alex terkekeh sendiri. Ia yakin jika Resty sedang melamunkan kejadian yang tadi.
"Aku pulang." sahut Resty, lalu mulai beranjak dari tempatnya.
"Eh, kamu masih belum jawab pertanyaanku. Kamu maafin aku nggak soal itu?" Alex terus mengekori Resty.
"Nggak usah bahas itu lagi bisa?" Resty menoleh sejenak pada Alex yang sudah bersejajar dengannya.
Resty hanya mendengus kasar. "Lupakan saja. Anggap aku nggak pernah main kesini, nggak ada apapun yang terjadi sebelumnya. Urusan mobil sudah beres. Jadi nggak ada alasan lain lagi buat aku dan kamu bertemu lagi. Bisa kan?"
Kening Alex berkerut, mencoba menelaah tiap kata yang keluar dari mulut Resty. Fix! Resty benar marah kepadanya. Atau mungkin saja memang Resty ingin menghindarinya, atau bahkan tak mau mengenalnya.
Ah, jangan sampai itu benar. Jika hanya masalah marah karena dicium tadi, Alex masih bisa memahaminya, itu memang salahnya sendiri. Tapi jika Resty meminta ia untuk tidak saling mengenal, Alex rasa ada sesuatu yang teriris dari lubuk hatinya. Patah hati sebelum memulainya.
Hingga sampai Resty kembali beranjak, Alex masih terpaku ditempatnya. Dan saat Resty sudah berpamitan kepada kedua orangtuanya, barulah ia hanya bisa menghembus nafas beratnya. Hanya bisa melihat dari dalam rumah, saat Resty sudah benar benar pulang dengan melajukan mobilnya.
***
Tommy menunggu Resty pulang sembari duduk diruang keluarga. Sekilas pria itu terlihat tenang, tetapi tidak dengan pikirannya yang mulai kalut.
Mendapati anaknya yang ketahuan berbohong kepadanya, sudah tentu membuat pria itu merasa ketakutan. Takut jika Resty mendapatkan teman yang tidak baik, yang bisa saja Resty tak mau memperkenalkan kepadanya.
Memang tadi mak Asna mengatakan jika Resty berangkat ke kampus dijemput oleh teman lelakinya. Kenyataan itu semakin diperkuat oleh sang sopir, Benny, yang turut menjelaskan secara detail bagaimana gelagat dan juga penampilan teman lelaki Resty itu.
__ADS_1
Penampilan luar seseorang memang tak patut dijadikan patokan penilaian akan bagaimana sikap dan kesehariannya. Akan tetapi mendapati Resty yang berani tak jujur setelah keluar dengan teman lelakinya itu sungguh membuat Tommy gelisah sendiri.
Pria itu berpikir keras. Mungkin lebih baik inilah saatnya. Dimana jauh-jauh hari ia berencana menjodohkan Resty dengan anak sahabatnya. Mungkin setelah lelaki calon pilihannya itu datang, bisa jadi keadaan akan baik kembali. Resty bisa segera terselamatkan dari pengaruh buruk teman lelakinya itu.
Tommy meraih ponselnya. Mencari sebuah nomor kontak telpon yang sejatinya sudah menjadi sahabat karib mulai dari jaman ia kuliah dahulu.
Setelah menunggu beberapa detik akhirnya panggilannya dijawab oleh yang diseberang sana.
"Hallo, Zayn." sapanya sedikit lesu.
"Hmm, ada apa nih?" Zayn sangat tahu jika Tommy menghubunginya kalau tidak tentang masalah kantor, pasti masalah kegalauannya.
"Ziyyan kapan pulangnya?" tanya Tommy basa basi.
"Kemarin Ziyyan telpon kalau nggak lusa mungkin akhir minggu ini." jelas Zayn.
"Iya kah?" Suara Tommy kembali bersemangat.
"Hei, ada apa nih? Tadi saja lesu, sekarang semangat sekali."
Sudut bibir Tommy tertarik tersenyum senang. Jika benar minggu ini Ziyyan kembali pulang dari menyelesaikan pendidikan gelar masternya di luar negeri, itu benar benar kabar yang baik.
"Tommy," Zayn kembali menyapa sahabatnya itu.
"Zayn, sebenarnya aku menanyakan kepulangan Ziyyan karena pembahasan kita beberapa tahun yang lalu. Mengenai anak kita." tutur Tommy, membuat Zayn yang saat itu sedang berada didekat istrinya bergeser berjarak.
"Kita bisa bicarakan itu lagi setelah Ziyyan pulang. Jujur, Tom.. Ara masih belum tahu masalah ini." suara Zayn terdengar sedikit berbisik.
Tommy hanya bisa menghela nafasnya. Rencana yang ia buat bersama Zayn sejatinya tak semudah itu akan lancar bila tidak memberitahu Ara sebagai ibu dari Ziyyan.
Meski yang ia tahu Ziyyan adalah anak penurut, nyaris tak pernah membangkang keinginan kedua orangtuanya, bukan menjadi jaminan jika rencana itu akan berhasil. Restu Ara juga perlu dipinta, meski rasanya akan sedikit sulit untuk mendapatkan restu itu.
"Baiklah, Zayn. Aku tutup dulu. Anakku sepertinya sudah datang." ucap Tommy. Mengakhiri sambungan telponnya, lalu beranjak melangkah ke depan menemui Resty yang baru tiba dirumah.
*
Yang sebelumnya pernah baca "LOVE OF AURORA" pasti tahu siapa Zayn, Ara dan Ziyyan.
Terimakasih buat readers semua yang sudah mengikuti cerita ini sampai sekarang. Tanpa dukungan kalian karya ini tidak ada apa-apanya, hanya receh😬
__ADS_1
Jangan lupa selalu tinggalkan jejak kalian tiap selesai baca. Like, komentar, juga hadiah kalau mau berbagi sih, hehehe...
See you next part😘