Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 98


__ADS_3

Kegiatan di kampus sudah aktif kembali. Hari ini Resty tetap berangkat sendiri ke kampus, tetap menolak dengan halus walau Alex menawarkan diri akan menjemput untuk berangkat bersama. Beruntungnya Alex mau mengerti dan tidak memaksa, karena dalam menjalin hubungan juga akan butuh waktu privasi seorang diri.


"Ika..." Resty berlari kecil saat tak sengaja berpapasan dengan sahabatnya saat menuju kelas mereka.


Ika langsung menoleh, kemudian turut menyambut dengan riang pelukan kangen antara sahabat itu.


"Mm, roman-romannya ada yang senang banget nih. Ada kabar apa ya?" tanya Ika, karena memang rona Resty saat ini begitu berbinar bahagia.


"I'm happy karena bisa ketemu kamu lagi." Resty mencuil dagu Ika dengan gemas.


"Hiis... Bohong!" Ika mencebik ragu. Meski merasa senang mendengar ucapan sahabatnya itu, tetapi kali ini ekspresi Resty agak lebay menurutnya dibanding Resty sebelum liburan kemarin.


"Btw, liburan kemarin ada cerita seru nggak?" Mereka sudah jalan beriringan menuju ruang kelas.


"Big no! Semua diluar eksprktasi. Nyebelin!" tutur Ika, sudah dengan wajah semanyun mungkin.


Bila teringat dengan gagalnya janji temu dengan Tommy tempo hari kemarin, gadis itu akan selalu merasa dongkol sendiri. Sudah mencoba membuang rasa itu seperti nasehat ibunya, karena memang jarak usia mereka terpaut jauh. Tetapi yang namanya cinta, kita tidak bisa menghalau kapan itu datang dan pergi. Tidak semudah itu Ika bisa menghilangkannya, walau sang ibu sampai mengenalkannya dengan pemuda lain yang sepadan dengannya.


"Masa sih, Ka?" Resty jadi kepo dengan wajah manyun sahabatnya itu.


Ika tak menimpali. Rasanya sangat malu untuk berterus terang jika yang membuatnya galau belakangan ini adalah papanya Resty. Duda keren beranak satu, berusia matang, walau begitu masih terlihat muda dari usianya dan yang pasti tajir. Eh, poin yang terakhir hanya bonus loh. Hehe....


"Kamu sendiri gimana liburan kemarin di rumah eyang?" Ika memilih balik bertanya.


"Awalnya biasa aja. Setelah beberapa hari banyak surprise yang nggak terduga yang bikin aku happy." serunya, juga dengan rona yang berbinar.


"Tahu gitu mending aku susul kamu kemarin." sesal Ika.

__ADS_1


Resty hanya tersenyum kecil. "Lain kali kita harus bikin jadwal liburan bareng. Kayaknya seru deh kalau misalnya kita liburan semester depan sudah ada pasangan masing-masing."


Ika terhenyak sesaat sampai menghentikan langkah kakinya. Menatap sekilas pada wajah Resty, sembari sengaja menyentuh kening Resty.


"Apaan sih, Ka. Aku nggak sakit kali." Resty menangkis tangan Ika.


"Duh, ngomongin pasangan jadi pingin punya juga. Yuk lah, Res. Semester ini kita harus sudah punya pasangan. Jomlo terus lama-lama bikin ngenes. Emang kamu nggak iri apa, lihat mereka yang sudah happy sama pacar, selagi kita muda gitu loh."


"Kalau aku sih mending nikah muda aja, Ka." Resty berkata sebenarnya.


Ika melirik kepo dengan wajah penuh tanya kepada sahabatnya itu. "Serius, Res?" tanyanya, yang sebenarnya sekedar ingin memastikan kebenaran ucapannya itu.


Resty mengangguk tanpa ragu.


Ika berpikir sejenak. "Dipikir-pikir sepertinya menikah muda emang enak sih. Cuma calonnya mana dulu, Bestie?"


Meski Resty sebenarnya ingin membagi kebahagiaan itu, tetapi ia sengaja menahannya dulu. Memberinya kejutan akan terasa lebih seru. Biarlah Resty akan memberitahunya setelah hari-H itu menjelang nanti.


Saat ini mereka sudah masuk ke dalam kelasnya. Suasana didalam kelas itu sedikit riuh. Banyak dari teman-teman mereka saling ngobrol bareng sembari menceritakan kisah liburan kemarin. Ada juga yang hanya duduk sambil sibuk baca buku, sebagian lagi sibuk ngevlog untuk diunggah ke sosmed pribadi mereka. Sungguh hal yang random, tetapi memang seru. Apalagi kabarnya dosen masih akan datang sejam lagi.


Resty mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas. Rupanya kekasihnya itu belum datang. Dilihatnya ponsel miliknya, tidak ada kabar lagi selain chat tadi pagi sebelum berangkat ngampus.


Gadis itu mengirim pesan lagi kepada Alex, sekedar menanyakan kabar masih dimana. Sekian menit ditunggu tetap tidak ada balasan, hanya dua centang abu-abu pertanda pesan itu belum terbaca.


"Ngelamunin apa sih, Res?" Ika sudah duduk disampingnya, setelah tadi saat masuk kelas sahabatnya itu bergabung dengan yang lain sekedar saling sapa.


Resty buru-buru mematikan ponselnya dan memasukkannya ke dalam tas. Sedikit gelagapan pastinya, karena takut ketahuan sedang memandangi foto dirinya dengan Alex.

__ADS_1


"Ee... Nggak ngelamun kok." balasnya, kemudian berpura-pura membaca buku yang dipegangnya.


Terdengar Ika menghela nafas beratnya dengan kasar. Hingga siapapun yang duduk didekatnya pasti mendengar hembusan nafasnya yang mirip seperti sedang mengeluh.


"Bete banget! Mereka pada cerita pacarnya. Duh, nasib jomlo emang." serunya sok dramatis.


Resty hanya bergeming. Pikirannya sedang gelisah menanti kedatangan Alex. Apakah Alex ngambek karena ditolak berangkat bareng, padahal tadi bicaranya masih manis sama sekali tidak menunjukkan nada kesal padanya.


"Ka, aku ke toilet dulu ya?" Resty beranjak begitu saja. Pergi ke sana sudah pasti bukan untuk membuang hajat seperti umumnya, tetapi mencari tempat sepi untuk bisa menghubungi kekasihnya itu. Duh, ribet sekali rasanya. Syukur-syukur diluar sana Resty bertemu Alex, jadi tidak perlu ngumpet ke toilet untuk bisa menghubunginya.


Langkah kakinya dibuat pelan sekalian mencari keberadaan sang kekasih, tetapi hasilnya nihil. Sedangkan ketiga teman Alex, Varo, Cello dan Ryan, juga tidak nampak disekitaran jalan yang dilewatinya.


"Apa Alex bolos lagi?" gumamnya curiga.


Hingga sampai Resty akan masuk ke toilet, ia dibuat kaget setelah tak sengaja berpapasan dengan Donita.


Resty langsung melempar senyum kecilnya sekilas dan mencoba masuk tetapi sengaja dihalangi oleh mantan kekasih Alex itu.


"Mm, permisi ya.. Aku mau masuk." ucapnya masih berusaha ramah, walau sebenarnya sudah menekan kesabarannya pada wanita yang menatapnya sengit bak bertemu dengan musuh bebuyutan saja.


Resty membalas tatapan matanya, walau masih kalah sengit dengan tatapan mata Donita. Entah apa tujuannya menghalangi Resty masuk ke toilet itu. Apalagi saat melihat Donita tersenyum mengejek kepadanya.


"Sayang." Sorot mata Donita seketika berbinar saat menyerukan kata sayang itu. Hingga tak lagi menghiraukan Resty yang sempat ditatapnya penuh ancaman.


Resty menoleh ke arah Donita pergi. Matanya seketika membulat tak percaya saat melihat siapa yang dipanggil sayang oleh Donita itu.


"Alex!"

__ADS_1


*


__ADS_2