
"Mas, enaknya Resty kita bawain oleh-oleh apa ya?"
Ika mendadak rempong ketika ia sedang menunggu Tommy selesai mengenakan pakaiannya. Bila biasanya lelaki yang sering menunggu perempuan berdandan, ini terbalik. Itu karena Tommy memang baru pulang dari kantor, sedangkan Ika sudah bersiap-siap lebih dulu sebelumnya.
"Kamu nggak nanya dulu sana," seru Tommy memberi solusi agar buah tangan yang dibawanya nanti cocok untuk selera Resty.
"Rencananya itu aku pingin ngasih surprise gitu loh, Mas."
"Kalau begitu ya terserah kamu mau dibelikan apa."
Tommy sudah siap berangkat. Sekali lagi ia menatap pantulan dirinya di cermin memastikan agar lebih rapi. Tetapi Ika malah mendekat dengan melingkarkan tangannya di pinggang Tommy, memeluk dari belakang tubuh Tommy.
"Aku kapan ya bisa hamil?" ucapnya dengan sendu.
Tommy membalik tubuhnya. Kali ini posisi mereka saling berhadapan, masih saling memeluk mesra.
"InsyaAllah secepatnya," jawab Tommy menenangkan.
Ika hanya tersenyum tipis mendengarnya. Semua itu memang kembali kepada rencana Tuhan. Dalam hal ini memang Ika lah yang sangat menggebu menginginkan adanya buah cinta diantara mereka. Sedangkan Tommy tetap dengan mode santainya. Di beri secepatnya alhamdulillah, tidak pun ia tidak akan putus asa berusaha.
"Apa kita perlu ikut promil ya, Mas?"
Ika semakin berambisi ingin segera hamil, setelah mengetahui sahabatnya itu hamil. Itu karena wanita itu menginginkan anaknya nanti bisa sebestie dengan anak Resty, seperti halnya dirinya.
"Tidak perlu. Ini masih sebulan lebih dari pernikahan kita. Mungkin bulan depan giliran kamu yang hamil."
"Aamiin... Semoga saja."
Wanita itu semakin mengeratkan pelukannya. Seakan lupa kalau malam ini mereka akan berkunjung ke rumah Resty.
"Jadi berangkat nggak nih?" tanya Tommy, mulai gemas dengan tingkah istrinya yang mulai bermanja-manja.
Ika melerai pelukannya dengan agak malas. Seandainya malam ini tidak ada acara khusus di rumah Resty, mungkin saat ini pula Ika akan membuat suaminya menikmati nikmatnya surga dunia. Jujur saja, hasrat wanita itu sedikit terpancing hanya karena berpelukan. Apalagi belakangan ini suaminya itu sering pulang larut dari bekerja. Itu pun belum termasuk yang ditinggal pergi ke luar kota. Rasanya sangat sangat kangen sekali. Tetapi tetap harus ditahan agar tidak merusak rencana kunjungannya ke rumah Resty malam ini.
"Cium dulu," pinta Ika tanpa malu, sambil memajukan wajahnya kepada Tommy.
Lalu pria itu mencium pipinya.
Mmmuach...
"Bukan di pipi," protes Ika.
__ADS_1
Cup.
Tommy berpindah mengecup kening Ika.
"Bukan, Sayang." Ika mendelik gemas.
Belum juga Tommy akan mencium bibir yang terus mengoceh itu, tetapi Ika lebih cepat mendaratkan kecupannya di bibir suaminya.
Wanita itu ******* bibir kenyal itu sedikit rakus. Dan Tommy hanya bisa mengimbangi permainan istrinya yang semakin meningkat level ke hot-annya. Hingga sampai keduanya terpaksa melepas pagutannya karena sudah kehabisan oksigen.
"Lanjut nanti, By," seru Tommy dengan tatapannya yang mengerling.
Ika hanya tersenyum simpul.
"Lipstik nya habis," Tommy sedikit tergelak sambil mengusap sisa salivanya pada bibir istrinya.
Sekilas wanita itu berkaca di cermin riasnya.
"Waktunya sudah agak telat nih." Tommy memperingatkan Ika yang masih betah berkaca.
"Aku pasang di mobil saja. Yuk, Mas."
Sambil menggandeng lengan Tommy, mereka akhirnya keluar dari kamarnya untuk kemudian segera berangkat menuju rumah Resty.
"Minggu depan Alex ulang tahun, Ken," ucap Sisil saat mereka sedang berada dalam perjalanan menuju rumah Resty.
"Hem," Kenzo menyahut dengan bergumam. Pria itu terlihat sangat fokus mengemudi, tetapi juga mendengarkan apa yang dibicarakan istrinya.
"Apa kita tunggu pas momen itu untuk ngasih hadiah rumah itu?"
"Menurut kamu enaknya bagaimana?" Kenzo balik bertanya.
Setahunya Alex tidak pernah mau merayakan ulang tahunnya. Terakhir mereka merayakan ulang tahun Alex saat berusia 10 tahun. Alex lebih memilih merayakannya dengan makan bersama dengan keluarganya. Karena sejak saat itu, saat Alex merayakan ulang tahunnya yang ke 10, Alex sadar jika kedua orang tuanya tidak benar-benar harmonis.
"Kamu nih, orang nanya balik nanya."
"Bukan begitu, Sil. Aku ini lebih mengutamakan pendapat perempuan." Kenzo berkata sambil mencuri lirikan kepada Sisil.
"Cih! Sejak kapan? Perasaan selama ini kamu nggak pernah butuh pendapatku."
Kenzo memilih tidak meresponnya. Selama ini keduanya memang tidak pernah sedekat ini. Bisa dikatakan, kalau saat ini Sisil dan Kenzo sedang dalam tahap pendekatan lagi. Bahkan kerap kali obrolan mereka layaknya ABG saja. Lebih tepatnya sedang masa puber kedua buat mereka.
__ADS_1
Sesaat mereka kembali saling diam. Hingga tidak terasa mereka sudah tiba di rumah Resty. Hampir bersamaan dengan mobil Tommy yang juga telah tiba.
Saat sudah sama-sama keluar dari mobilnya, dua pasangan besan itu saling menyapa. Sepintas menanyakan kabar masing-masing, sambil lalu mereka berjalan masuk ke rumah itu.
"Selamat datang, Tuan dan Nyonya," sapa mak Asna menyambut kedatangan mereka sambil mempersilahkan masuk ke ruang keluarga.
"Resty sama Alex mana, Mak?" tanya Tommy setelah tidak melihat anak dan menantunya tidak ikut menyambut barusan.
"E... Itu... Mbak Resty sama mas Alex masih di kamar," jawab mak Asna terlihat sedikit gusar.
"Heran! Mereka yang ngundang, kok belum siap," seloroh Sisil terdengar sedikit bete, akibat perdebatan kecil bersama suaminya barusan.
"Apa Resty mual lagi, Mak?" Ika langsung menebak sekenanya.
"Mual?" Kenzo yang tak paham apa-apa bertanya kaget.
Perlahan mak Asna mengangguk kecil.
"Ya ampun, kasihan sekali jadi bumil," seru Ika yang otomatis mencuri perhatian Sisil dan Kenzo yang mendengar ucapannya.
"Bumil? Maksudnya Resty beneran hamil?" Sisil sampai berdiri dari duduknya, efek kaget bercampur senang.
"Ah, lupa. Kalian pasti belum tahu kan tentang kabar ini?"
Sisil dan Kenzo sama-sama menggeleng kepala. Tetapi meski mereka tahu hal ini bukan dari Resty ataupun Alex, mereka bisa memaklumi dan tidak merasa tersinggung karena bukan menjadi orang pertama yang tahu akan hal ini.
Tanpa mengulur waktu mereka berempat memilih menemui Resty ke kamarnya. Rona bahagia terpancar dari raut calon kakek nenek itu. Belum juga mereka mengetuk pintu kamar Resty, Alex membukanya lebih dulu.
"Papa, Mama. Kok kalian ke sini, nggak nunggu di bawah saja?"
Satu persatu Alex menyalim takdzim kepada papa mamanya dan juga kepada Tommy, terkecuali Ika. Rasanya aneh saja jika mereka harus bersalaman layaknya mertua dan menantu. Terlihat damai di depan mereka saja sudah syukur sekali.
"Kamu nih ya, sudah mama bilang kalau Resty hamil lekas kasih tahu mama. Jadinya mama dengernya dari orang lain kan?"
"Hellow... Orang lain mana maksud anda?" Ika langsung sensi mendengarnya.
Buru-buru Tommy merangkum pundak istri kecilnya itu. Bila tidak di tenangkan takutnya akan berbuntut panjang. Sepertinya Sisil sendiri masih sedikit keberatan memiliki besan yang menurutnya masih bau kencur.
Dan Alex terlihat menggaruk-garuk kepalanya, mau heran tapi pada nyatanya ini terjadi didepan mata.
"Assalamu'alaikum Pa, Ma," sapa Resty, tiba-tiba sudah berdiri di belakang Alex. Membuat mereka semua sama-sama memasang wajah bahagia melihat Resty sudah baik-baik saja.
__ADS_1
*