
Dua minggu berlalu. Tiba saatnya resepsi pernikahan Alex dan Resty digelar. Acara itu berlangsung sangat meriah. Banyak kerabat dan juga tamu undangan penting dari beberapa kolega bisnis Tommy dan Kenzo turut hadir dalam pesta pernikahan yang digadang-gadang mengundang dua ribu tamu undangan dalam pesta tersebut.
Ditambah lagi beberapa teman dari Alex dan Resty juga ikut hadir menyemarakkan gelaran pesta pernikahan yang semua orang mengharapnya terjadi cukup sekali seumur hidup. Beberapa diantaranya menjadi bridesmaid nya, termasuk Cello dan Ryan. Terkecuali Varo yang sampai saat ini belum ada kabar sama sekali.
Pesta resepsi itu berjalan dengan lancar hingga acara itu usai. Satu persatu kerabat dari kedua pihak keluarga Tommy dan Kenzo mulai berpamitan pulang. Pun juga dengan beberapa teman yang juga menjadi bridesmaid nya tadi.
"Selamat, Bro. Semoga samara. Cepat dapat momongan. Biar enak bisa jadi papa muda," seloroh Cello saat akan berpamitan kepada pasangan pengantin yang sudah tak lagi duduk di pelaminan, beralih duduk-duduk santai di kursi khusus tamu tadi.
"Makasih doanya," jawab Alex, sedikit takut mengamini doa sahabatnya itu perihal cepat dapat momongan, setelah sempat melirik kepada Resty yang kebetulan juga sedang meliriknya.
Walau sebenarnya dalam hati Alex tak keberatan sama sekali andai akan memiliki momongan secepatnya, tetapi ia akan terus menghargai keputusan yang telah disepakati bersama Resty untuk menundanya terlebih dahulu.
"Duh, masih nggak percaya aja kalo kamu sudah nikah. Perasaan masih kemarin tuh kita baru masuk ngampus," ucap Ryan. Seketika berwajah sedikit mellow karena setelah ini akan terbatas waktu untuk bisa terus bersama seperti biasanya.
Seseorang yang sudah menikah dan tidak, sedikit banyak akan ada batasan tersendiri dalam bergaul. Walau pun mereka tidak akan putus pertemanan hanya karena menikah, tetapi semua itu tetap akan ada yang berbeda. Tak lagi bisa bebas seperti sebelumnya. Dan itu sungguh membuat Ryan merasa sangat kehilangan.
Cello langsung menepuk punggung Ryan, mendukungnya agar tak lagi sedih. Alex pun melakukan hal yang sama. Lalu bergantian mereka saling berpelukan.
"Kalian cepat nyusul ya? Pertemanan kita harus terus sampai anak cucu. Kalau kalian nggak segera nyusul nikah, mustahil anak-anak kita bisa satu kelas dan satu frekuensi," ucap Alex sekenanya.
Bersamaan Cello dan Ryan tertawa cekikikan. Dipikir-pikir benar juga kata Alex. Hanya sayangnya yang akan menjadi jodoh mereka itu siapa? Hilalnya saja masih belum muncul. Sedari tadi melirik salah satu bridesmaid cewek belum ada yang nyantol ke hati.
"Biar Cello aja yang nyusul duluan." Ryan langsung melemparnya kepada Cello.
"Woi nggak bisa! Aku sudah diwanti-wanti lanjut S2," balas Cello, yang memang benar tengah dituntut mengejar pendidikan lebih tinggi oleh keluarganya demi sebuah perusahaan yang akan diwariskan kepadanya nanti.
__ADS_1
"Buh! Masih lama itu." Ryan terkekeh lagi.
"Apa kita mesti bikin skandal dulu seperti kalian biar bisa cepet nikah ya?"
Ucapan Ryan itu langsung mendapati lirikan sengit dari Alex dan Resty.
"Eh, dasar!" Alex menoyor kepala Ryan.
"Bilang aja kalo kamu juga kebelet pingin nikah. Dah cepat bilang sana sama mamakmu." Alex langsung protes sekenanya.
Tetapi Ryan hanya bisa nyengir. Tidak mungkin ia berani mengatakan itu pada mamanya. Sudah pasti akan kena semprot panjang dari mamanya.
"Sayang, aku ke kamar dulu," sapa Resty sekaligus berpamitan.
"Kalian lanjut saja ngobrolnya. Santai aja, lama-lama juga nggak pa-pa."
Alex mengangguk setuju, membiarkan Resty kembali ke kamar hotel dengan ditemani Ika. Melihat wajahnya yang kentara kelelahan karena hampir seharian berdiri di pelaminan menyambut tamu undangan, akan lebih baik istrinya itu istirahat lebih awal.
Tinggal lah tiga pria satu geng itu masih bersama. Mereka kembali mengobrol hal random sembari menikmati sisa cemilan yang masih tersedia di sana. Mengenang masa-masa saat awal mereka berteman, membuatnya kembali teringat akan Varo yang sebenarnya sudah mereka cari hingga sekarang. Namun sepertinya Varo sangat apik menyembunyikan diri hingga tidak terakses oleh media sosial yang sepertinya sengaja Varo meninggalkan semua itu.
"Sumpah, aku mendadak kangen sama tuh anak. Tapi semoga saja dia baik-baik saja. Nggak tega juga melihat teman sendiri dapat cobaan berat seperti itu," ucap Cello.
"Dasar emang Donita saja yang nggak tahu diri! Obsesinya besar banget! Ambisius! Sampe rela jadi pelakor demi memperkaya diri." Ryan satu-satunya orang yang paling membenci Donita setelah tahu karena wanita itulah yang menyebabkan keluarga Varo hancur berantakan.
Tetapi Alex hanya terdiam tanpa bisa menimpali apa-apa. Sebuah keberuntungan diri yang tak harus berurusan lagi dengan Donita, tetapi harus kehilangan satu teman terdekatnya sebagai ganti dari skandal yang telah dilakukan oleh Donita.
__ADS_1
Pria itu terus saja menghela nafas beratnya. Sudah banyak cara yang dilakukan ia dan kedua sahabatnya itu demi mencari keberadaan Varo. Tetapi sepertinya Varo memang bersembunyi pada tempat yang lebih kecil dari lubang semut mungkin.
"Oke, Lex. Kita harus pulang," pamit Cello kemudian.
"Eh, keburu amat? Masih sore juga."
"Ya tahu masih sore emang. Tapi wajah kamu tuh lesu banget. Dah, istirahat sana. Tidur nyenyak. Nggak ada malam pengantin lagi kan?" Cello sengaja memainkan sebelah alisnya saat mengatakan kalimat terakhirnya itu.
"Baiklah. Hati-hati dijalan ya kalian."
Alex melihat kedua temannya itu pergi tepat pada jam tujuh lewat sedikit. Segera ia melangkah menuju kamar hotel yang sengaja disewa oleh Tommy untuk mereka.
Alex mendapati Resty sudah tertidur pulas saat ia masuk ke kamarnya. Wanita itu sudah mengganti pakaiannya, pun juga sudah selesai membersihkan diri sebelumnya. Lekas Alex juga mulai melepas satu persatu pakaian yang ia kenakan. Mandi lalu ikut tidur dengan nyenyak adalah solusi terbaik setelah seharian harus menjadi ratu dan raja.
Tak lupa sebelumnya Alex menunaikan kewajiban empat rokaatnya terlebih dahulu, sebelum kemudian menyusul istrinya ke atas ranjang.
Pria itu mengecup pada kening Resty tanpa berniat ingin mengusiknya. Lalu kemudian membawa tubuh istrinya itu dalam pelukan hangatnya.
"Tadi sebelum tidur kamu sudah sholat dulu nggak sih, Yang?" gumamnya seorang diri.
Tetapi tidak disangka istrinya itu rupanya terbangun mendengar gumaman Alex yang agak sedikit dekat dengan telinganya.
"Nanti aja, Yang. Entar kamu bangunin ya? Aku sekarang capek banget. Pingin tidur lama," ucapnya tetapi masih dengan kondisi mata yang terpejam rapat.
"Baiklah." Alex mencium lagi pada kening Resty.
__ADS_1
Pria itu kemudian memasang alarm pada pukul satu nanti, agar bisa membangunkan Resty untuk bisa beribadah. Lalu setelahnya membawa tubuh istrinya itu lebih erat dalam pelukannya. Tak butuh waktu lama keduanya lekas terbuai dalam alam mimpi indah mereka.
*